14

1013 Kata
Empat orang baru saja turun dari pesawat di Bandara Gloucester. Mereka disambut seorang perempuan berusia empat puluhan tahun. "Selamat datang, Mr. Axton, Mr. Bostock." Perempuan tersebut memberi salam, kemudian menoleh pada Kimberly, dan Ashley, seraya mengangguk kecil. "Selamat datang juga, Miss." "Terima kasih sudah menjemput kami, Sally. Oh iya, bisakah kita hotel, dan makan sambil berbincang di sana?" "Tentu saja Mr. Axton. Kebetulan saya pesankan kamar di Green Glou Hotel dekat proyek kita," jawab perempuan bernama Sally. Mereka pun meninggalkan Bandara Gloucester menuju Green Glou Hotel, yang berjarak cukup jauh. Setibanya di sana, mereka meletakkan barang-barang di kamar masing-masing—Arthur dan Ronald, dipesankan masing-masing satu kamar, sedangkan Kimberly, dan Ashley berbagi kamar. Kecemburuan Ashley kian menjadi, hal itu dapar terlihat dari sikapnya pada Kimberly saat mereka berada di kamar. "Hei! Simak aku baik-baik, Kim! Kamu di sini untuk bekerja, jadi jangan pernah berpikir dan berbuat macam-macam!" Ashley berkata setengah membentak. "A-aku tahu, Ash." Sikap Ashley tersebut, tentu saja membuat Kimberly terkejut sekaligus heran. Namun, ia memilih bungkam agar tidak memperburuk suasana. "Kupegang kata-katamu!" Ashley keluar dari kamar, dan membanting pintu. Kecemburuan Ashley belum berhenti sampai di sana. Apalagi ketika mereka berkumpul di kafe lantai dasar, Arthur memilih Kimberly untuk mencatat poin-poin penting, ketimbang menyuruh Ashley yang melakukannya. "Ah, jadi begitu Sally." Arthur mengangguk repetitif. "Sudah kamu catat, Kim?" Kimberly mengangguk. "Sudah, Sir." Di sisi lain, Ashley tampak kesal. Ia meremas-remas ujung bajunya, setiap kali Arthur berbicara pada Kimberly. Obsesi Ashley memang telah berhasil disulut Tammy sejak beberapa hari lalu. Bisikan yang selalu diembuskan Tammy padanya, memperbesar harapan yang pada akhirnya memantik obsesi berlebihan. "Jadi, baru tiga puluh persen perkembangannya?" tanya Arthur pada Sally yang ditunjuk sebagai penanggung jawab lapangan. "Benar, Sir." Arthur menghela napas. "Seharusnya tidak selambat ini." "Sir, kemarin ada kecelakaan kecil di lokasi. Bukan begitu, Sally?" Ronald buru-buru menerangkan. Jelas sekali kalau ia sedang berusaha melindungi Sally. "I-iya, benar. Seminggu yang lalu salah seorang karyawan kita ada yang terjatuh, sehingga selama tiga hari proyek diliburkan untuk memeriksa lokasi agar tidak terjadi kecelakaan lagi," terang Sally. "Bagaimana keadaan karyawan itu?" tanya Arthur tampak cemas. "Kondisinya sudah membaik, Sir. Saya dengar, lusa sudah kembali bekerja." Arthur mencerna pikiran sesaat. "Oke. Kalau begitu, ayo kita melihat lokasi sekarang." Ia beranjak dari sana, dan berjalan di depan, menuju lobby. Sesampainya di lokasi, Arthur terlihat senang. Proyek Gloucester adalah proyek besar yang diincar banyak perusahaan. Bahkan untuk mendapatkan proyek tersebut, Axton harus mengeluarkan biaya tinggi. Itulah pengorbanan Arthur, yang sangat berharap protek itu dapat menjadi puncak kesuksesannya, sehingga ia merasa berhasil memenuhi harapan mendiang ayahnya. Senyum Arthur mengembang, sambil memeriksa proyek tersebut. Kimberly yang diam-diam mencuri pandang, menjadi turut senang. Sementara itu, kecurigaan Ashley kalau Arthur dan Kimberly memiliki hubungan spesial, semakin menguat, kala mendapati Kimberly sering melirik Arthur. "Usahakan proyek ini selesai tepat waktu, Sally," tukas Arthur. "Akan saya usahakan, Sir." "Minggu depan Clive yang akan meninjau lokasi. Aku harap sudah ada peningkatan sampai empat puluh persen." "Baik, Sir," jawab Sally. "Well, kurasa kita kembali saja ke hotel. Besok pagi sebelum pulang, kita ke sini lagi," ucap Arthur. "Baik, Sir." *** Pada malam harinya, seusai jam makan malam, Kimberly yang baru saja sampai di kamar, tiba-tiba menerima pesan singkat dari Arthur. 'Aku tunggu di lobby. Ada yang ingin kubicarakan mengenai proyek kita. Dan jangan sampai ada yang tahu tentang pertemuan kita.' Begitulah isi pesan Arthur. Membaca isi pesan itu, mendadak raut wajah Kimberly menjadi cerah. Hal itu tak luput dari perhatian Ashley. "Ada apa?" tanya Ashley penasaran. "Mmm ..." Kimberly berpikir sejenak. "Orang tuaku mau berkunjung ke London, besok. Jadi aku mau mencari oleh-oleh untuk mereka, sekarang," ujar Kimberly, berbohong, kemudian berlalu. Ashley tak begitu saja percaya, dan diam-diam mengikuti Kimberly dari belakang. Begitu Kimberly tiba di lobby, Arthur mengajaknya meninggalkan hotel. Ashley yang melihat kepergian mereka menjadi kian cemburu sekaligus kesal. Namun, ia tak dapat mengikuti mereka, dan menuntaskan rasa penasarannya. Saat ia hendak kembali ke kamar, tiba-tiba matanya menangkap Ronald dan Sally sedang berjalan bersama. Ashley pun mengurungkan niat dan mencoba mengikuti mereka dari belakang. Rasa penasarannya semakin terkulik, melihat Ronald dan Sally menyepi di ujung kafe, sambil meminum anggur. Pembicaraan mereka pun dapat di dengarnya dengan jelas, karena Ashley duduk di balik tembok, di dekat mereka. "Jadi, kapan kita akan berterus terang pada orang lain tentang hubungan kita?" tanya Sally, sambil merebahkan kepalanya di bahu Ronald. "Jangan sekarang, Sayang. Tunggulah setelah proyek ini selesai." Ronald membelai rambit merah, Sally. "Kenapa harus menunggu? Hubungan kita bukan sesuatu yang harus ditutupi. Kamu duda, dan aku pun telah lama menjanda, seharusnya tidak ada masalah, kan?!" Ronald menghela napas. "Kamu tahu Sally?! Arthur menduga ada yang melakukan korupsi di dalam Axton. Sementara itu, dengan jabatanku, dan posisimu sebagai pengawas di sini, kalau sampai mereka mengetahui hubungan kita, bisa jadi mereka akan mencurigai kita." "Bagaimana mungkin mereka curiga?! Kamu adalah karyawan paling loyal di sana. Kamu sudah bekerja di sana, semenjak George masih memimpin. Apakah ada indikasi Arthur mencurigaimu?" tanya Sally. Ronald menggeleng. "Sama sekali tidak. Aku hanya menjaga saja, agar tidak ada yang menuduh kita berbuat macam-macam. Selain itu, banyak yang mengincar posisiku yang strategis di Axton. Jadi kita harus berhati-hati." Sally mengangguk. "Aku paham. Baiklah, tak masalah jika aku masih harus menunggu, selama kamu tetap setia pada ucapanmu yang serius menjalin hubungan ini." "Tentu saja, Sayang." Ronald mencecap bibir Sally. "Tahu tidak kalau wine ini mendorongku untuk ke kamar?!" "Bersamaku?" tanya Sally, menggoda. "Dengan siapa lagi?!" Ronald bangkit, seraya menarik tangan Sally. "Ayo, ke kamarku." "Kamu memang tidak sabaran, Sayang," ujar Sally menggandeng Ronald. "Bagaimana kalau nanti kita terlihat oleh mereka?" "Well, kalau begitu kita jangan bergandengan," tukas Ronald, melepaskan tangan Sally. Sally menghela napas. "Aku sangat tidak nyaman dengan hubungan yang ditutup-tutupi seperti ini." "Bersabarlah. Setidaknya malam ini aku akan menghiburmu." Ronald berjalan beriringan dengan Sally. "Benarkah? Aku tidak percaya. Mungkin hanya bualanmu saja," goda Sally. "Kamu akan lihat nanti di kamarku." Ronald tertawa kecil. Ashley yang mendengar percakapan mereka menjadi menduga-duga. Namun, kecemburuannya pada Kimberly menyulut prasangka buruk. Ia berpikir kalau Kimberly adalah orang yang sengaja disusupkan pesaing Axton, untuk menggerogoti Axton dari dalam. Absurd, tetapi begitulah saat kecemburuan membutakan akal. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN