13

1037 Kata
Mobil SUV putih berhenti di dalam rumah yang berukuran lebih kecil, tetapi tampak megah dan mewah. Tak lama kemudian, Arthur dan Louise turun dari dalamnya. "Arthie, Louise," sambut perempuan senja menyambut di teras rumah. "Bu, maaf seharusnya hari sabtu lalu aku ke sini, tetapi ada pekerjaan yang harus kuselesaikan." Arthur mengecup pipi perempuan senja yang ternyata adalah sang ibunda. "Proyek Gloucester yang kuceritakan kemarin, Bu," terang Louise, tersenyum. "Tidak ... tidak ... aku harus tetap memberikan hukuman. Kalian tidak boleh pulang sebelum petang," tukas sang ibunda yang bernama Agatha. "Well, aku sama sekali tidal keberatan dengan hukuman itu, asalkan masakan Ibu disajikan." Arthur mengangkat kedua ujung bibirnya tinggi. Agatha tertawa kecil. "Sudah ada di dalam," ujar Agatha berjalan masuk ke dalam rumah. "Ini menu favorit kalian." "Nyonya memasaknya dari pagi," sahut perempuan gemuk, baru muncul dari dapur. "Setiap ibu pasti melakukan hal yang sama ketika anaknya berkunjung." Agatha membuka tutup saji. Keluarga kecil pengusaha besar tersebut berkumpul, dan menghabiskan waktu bersama. Kedekatan mereka sangat terasa dari nuansa hangat di sana. Begitulah rutinitas akhir pekan yang seharusnya mereka lewati. Sayang, belakangan ini Proyek Gloucester mengganggu kebiasaan keluarga itu. Sementara itu, di sebuah unit apartemen.Kondisi kaki Kimberly telah sembuh. Saat itu Kimberly menyeka keringat usai menggosok perabotan yang berada di sana. Pandangannya menyapu sekeliling, seraya tersenyum lebar. "Bagus, sudah bersih," gumam Kimberly, melihat perabotan hunian barunya berkilatan. "Tapi i—" Tiba-tiba suara perutnya menginterupsi, ia pun menghela napas. "Sepertinya aku harus beli makanan di luar." Kimberly pun membasuh wajah, dan tangannya, kemudian turun dari unit tersebut. Ia bergegas masuk ke dalam kafe di samping apartemennya, dan langsung memesan. "Satu Roast Meats, dan segelas jus stroberi." Kasir menghitung total harga makanan yang dipesan, yang segera dibayar oleh Kimberly. "Silakan ditunggu," ucap Kasir tersebut, seraya memberikan nomor meja pada Kimberly. Setelah menunggu beberapa menit, pesanan yang baru saja tiba pun disantap dengan lahap olehnya. Maklum, perutnya kosong usai membersihkan seluruh ruangan yang menghabiskan energinya. "Ah ... akhirnya." Kimberly menyandarkan diri di kursi, tetapi tiba-tiba ia terhenyak mendengar suara yang sudah sangat ia kenal, baru saja datang ke kafe itu. Ia pun melirik, dan menemukan Perry Smith bersama seorang laki-laki bertato. Buru-buru ia menyembunyikan wajah di balik buku menu. "Jadi gadis Staffin itu melarikan diri darimu, dan sampai sekarang kamu belum berhasil menemukannya?" tanya laki-laki bertato. "Nanti akan aku ceritakan lebih lengkap," ujar Perry, lalu memesan makanan. "Ayo, kita cari tempat duduk di smoking area. Keduanya keluar ke smoking area yang berada di belakang kafe. Kesempatan itu dipergunakan Kimberly untuk meninggalkan kafe. Ia berjalan tergesa-gesa sampai menabrak seorang laki-laki. "Hei, lihat-lihat kalau ja—Kimberly!" Laki-laki itu tersentak ketika mengetahui yang menabraknya adalah Kimberly. "Mr. Bostock." Kimberly tak kalah terkejut bertemu dengan salah satu pimpinan Axton Group—Ronald Bostock. Ronald menyelisik sesaat, melihat Kimberly gemetaran. "Ada apa?" Bibir Kimberly seperti terkunci. Ia tak tahu harus menceritakan kejadian itu dari mana. "Cobalah tenangkan dirimu, Kim. Kamu bisa menceritakannya padaku di kafe itu." "Ti-tidak, Sir. Saya tidak apa-apa. Maaf saya terburu-buru," ucap Kimberly, bergegas meninggalkan Ronald, kemudian masuk ke dalam apartemen. Ronald yang mencium adanya kejanggalan, segera menghubungi Arthur yang saat itu tengah bercengkerama dengan Agatha. "Begitulah, Bu. Aku harus berangkat ke Glouchester besok bersama Ro—sebentar ..." Dering ponsel menginterupsi pembicaraan mereka. "Halo, Ron ... dari mana kamu tahu? Oke ... terima kasih sudah memberitahu ... ya, sampai besok di bandara," tukas Arthur, menutup pembicaraan. "Ada masalah?" tanya Agatha. Arthur mengangguk. "Maaf, Bu. Aku harus segera pergi. Ada urusan penting mendadak." Ia mengalihkan pandangan pada Louise. "Nanti aku akan kembali untuk menjemputmu." Louise menggeleng. "Kamu tidak usah pikirkan aku. Selesaikan saja masalah Axton. Nanti aku bisa diantar Harry." "Louise benar. Biar nanti Supir Ibu yang mengantarnya," timpal Agatha. "Baiklah, kalau begitu aku berangkat sekarang." Arthur bergegas ke luar dari dalam rumah. *** Kimberly memeluk bantal erat-erat. Ia memandang karpet dengan tatapan kosong, seiring pikirannya melayang. Sekelumit penyesalan menyeruak: Andai saja ia tidak pernah bekerja pada Perry, mungkin ia tak mengalami ketakutan ini, tetapi jika bukan karena itu, ia tidak bertemu Arthur, dan bekerja di Axton. Tatkala berbagai pikiran berkecamuk, tiba-tiba bel unitnya berbunyi. Ia menoleh ke arah pintu. Sekilas kekhawatiran kalau Perry dan temannya berhasil menemukannya melintas. "Kim. Ini aku," seru Arthur dari balik pintu. Mendengar suara Arthur, Kimberly menghela napas lega. Ia segera membukakan pintu. "Sir," sapanya semringah. Arthur menyelisik wajah Kimberly sesaat. "Boleh aku masuk?" "Te-tentu saja." Kimberly mempersilakan Arthur masuk. "Ditunggu sebentar, Sir. Saya buatkan minuman." Arthur mengangguk, seraya duduk di sofa. Selama beberapa saat ia menunggu di sana. Keningnya mengerut, menampakkan kekhawatiran di dalam pikirannya. "Maaf, Sir. Hanya ini yang saya miliki." Kimberly meletakkan cangkir, dan beberapa topless di atas meja. "Terima kasih," tukas Arthur, "Kim, apakah kamu tadi bertemu Ronald Bostock?" "Dari mana Anda tahu?" Arthur menghela napas. "Ronald menghubungiku. Ia mengatakan tadi tidak sengaja bertemu denganmu, dan melihatmu ketakutan. Benarkah?" "Ermm ... i-i ..." Arthur mengamati ekspresi wajah Kimberly. "Jadi benar rupanya. Tidak perlu menyembunyikannya dariku. Mungkin justru aku bisa membantumu." Kimberly mencerna pikiran sejenak, sebelum akhirnya mengangguk kecil. "Saya tadi tidak sengaja bertemu Perry." Arthur terhenyak. "Perry Smith?" "Iya. Perry Smith yang membawa saya bertemu dengan Anda di Pimshuei beberapa waktu lalu," terang Kimberly. "Lantas apa yang membuatmu ketakutan?" tanya Arthur. Kimberly pun menuturkan perbincangan Perry dengan temannya yang tidak sengaja didengarnya. Arthur menghela napas. "Kamu tenang saja, Kim. Belum tentu mereka mengetahui keberadaanmu di sini. London sangat luas, mencari orang seperti menjari jarum di padang rumput yang luas." "Iya," ucap Kimberly lirih. Lengkung matanya turun, menunjukkan kecemasannya belum memudar. Hal itu tidak luput dari perhatian Arthur. "Kim, aku yang mengajakmu ke Axton, dan menyebabkan kamu meninggalkan Perry. Jadi, aku tidak akan tinggal diam, dan berusaha semaksimal mungkin untuk menjagamu." "Terima kasih, Sir." Perhatian Arthur kembali menggetarkan hati Kimberly. Bahkan getaran itu semakin kuat. Sayang, Kimberly tahu, mustahil baginya membiarkan perasaan itu tumbuh, karena laki-laki di hadapannya adalah atasannya yang telah memiliki istri. "Besok aku akan ke Gloucester. Ikutlah bersamaku. Aku juga mengajak Ronald, dan Ashley," kata Arthur, tiba-tiba. "Bagaimana dengan tugas yang Anda berikan kemarin?" "Justru karena tugas itulah aku mengajakmu." Arthur beranjak, lalu berjalan ke pintu depan. "Kunci pintumu, dan jangan sembarangan mempersilakan orang masuk. Kalau ada hal mendesak, kamu bisa menghungiku kapab saja," ucapnya, kemudian keluar dari dalam unit. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN