12

1009 Kata
Seorang perempuan baru saja keluar dari dalam lift. Meskipun berpenampilan menawan, tetapi jalannya sedikit terpincang. Pergelangan kaki kanannya dibalut kain putih berlapis-lapis. Namun, tatkala baru saja memasuki ruangan, ada seseorang yang menepuk pundaknya. "Kim." Gadis yang ternyata ialah Kimbely, tersentak sebelum kemudian menoleh ke belakang. "Mr. Axton," ucapnya lirih, lalu menundukkan kepala. "Bagaimana keadaan kakimu?" "Sudah membaik, Sir." Arthur melirik kaki Kimberly, lantas menghela napas panjang. "Seharusnya kamu tidak usah memaksakan diri masuk kerja. Ya sudah, aku tunggu di ruangan. Ada laporan yang harus kamu kerjakan." Kimberly mengangguk. "Baik, Sir." Arthur pun berjalan mendahului Kimberly. Di muka umum ia tidak bisa memperlihatkan perhatian yang berlebih pada salah satu karyawannya, karena dapat memicu kecemburuan karyawan yang lain. Meski sudah berusaha menjaga sikap, tetap saja ada karyawannya yang tidak senang melihat Arthur berbincang dengan Kimberly. Dan tak lain, mereka adalah Ashley, dan Tammy. "Ash, kamu lihat dia." Tammy melempar pandangan pada Kimberly yang baru sampai di mejanya. "Karyawan baru, tapi sudah berani menggoda Mr. Handsome." Ashley melirik Kimberly. Walaupun bungkam, tetapi hatinya seperti teriris. Kebencian pada Kimberly semakin meninggi. Apalagi sekarang melihat Kimberly berjalan ke ruangan Arthur. "Kenapa kakinya?" tanya Tammy. Ashley mengangkat kedua bahu. "Entah. Dua hari lalu aku diminta mengantarkan surat ke Brit London Hotel. Dan aku lihat saat itu kakinya memang sudah dibalut perban." "Brit London Hotel? Wow! Rupanya Mr. Handsome tidak sepolos dugaan kita." Kata-kata Tammy kian menyulut bara kemarahan yang terpendam di dalam d**a Ashley. Dadanya terasa sesak, karena amarah yang hampir meluap. Namun, ia mencoba menekannya sebisa mungkin. Ekspresi kemarahan Ashley, tidak lolos dari perhatian Tammy. "Ash, tenang saja. Kamu masih berpeluang merebut hatinya, asal kamu konsisten melakukan yang aku katakan. Bahkan kalau bisa kamu bertindak lebih berani ketimbang kemarin. Dengan begitu, aku yakin Mr. Handsome akan bertekuk lutut di hadapanmu." "Benarkah?" "Tentu saja," ujar Tammy, seraya membuka dua kancing bagian atas baju Ashley. "Nah, sekarang peluangmu meningkat dua puluh persen!" Sementara itu, Kimberly baru saja tiba di dalam Ruang Kerja Arthur. Begitu melihat kedatangan Kimberly, Arthur pun berkata, "Duduklah Kim." Kimberly mengangguk, dan mengikuti perintah sang atasan. "Apa yang bisa saya kerjakan, Sir?" "Ada. Tapi sebelum aku memberikan tugas, ada sesuatu yang mau kujelaskan." Arthur meletakkan setumpuk kertas di hadapan Kimberly. "Ini adalah data-data keuangan dari dua tahun lalu. Beberapa hari belakangan aku mencermati adanya kejanggalan dalam laporan tersebut. Meskipun Axton tampak berkembang, tetapi sebetulnya keuangan Axton menurun perlahan-lahan semenjak dua tahun lalu. Aku menengarai adanya kebocoran." Kimbely mencerna pikiran sesaat. "Sir, ini merupakan tugas penting, sementara itu saya karyawan baru di si—" "Justru karena kamu karyawan baru, makanya aku memberimu tugas ini. Jika memang ada kebocoran, tentu saja ada karyawan yang terlibat. Karena itu, aku tidak bisa memberi kepercayaan ini pada mereka. Selain itu, intuisiku mengatakan kalau kamu adalah orang yang tepat untuk menjalankan tugas ini." Kimberly menunduk, dan kembali berpikir. "Maaf, Sir. Kenapa bukan Mr. Grissham saja?" Kedua ujung bibir Arthur terangkat, menunjukkan senyuman tipis. "Dia bagian pemasaran, Kim. Lagipula aku tidak bisa memercayai tugas ini, selain padamu." "Saya paham, Sir. Lantas kapan saya harus menyerahkan hasil audit?" tanya Kimberly. "Kapan saja. Tetapi lakukan sedetail mungkin, dan jangan sampai ada yang tahu mengenai tugas ini." "Baik, Sir." Kimberly mengambil kertas-kertas tersebut dari atas meja. "Kalau begitu, sa—" "Sebentar, jangan pergi dulu," tukas Arthur menahan Kimberly beranjak. "Apakah kamu sudah mendapatkan tempat menetap?" Kimberly menunduk. "Belum," jawabnya lirih. Mendengar jawaban itu, Arthur pun menghela napas. "Biar kuantarkan mencarinya pada saat jam makan siang." Kimberly terkejut. "Ta-tapi—" "Kakimu masih sakit, Kim. Aku tahu kalau kamu tidak bisa mencarinya sendiri saat ini," sergah Arthur. "Saya tidak enak, jika ada karyawan lain yang melihat," jawab Kimberly, lirih. "Mereka tidak akan tahu. Temui aku di gedung sebelah. Aku akan menjemputmu di sana." Meskipun merasa tidak enak hati, tetapi Kimberly tahu, akan percuma menolak keinginan Arthur yang terlihat bersikukuh. "Baik, Sir." *** Pada siang harinya Kimberly sudah menunggu Arthur di depan lobby gedung sebelah. Sudah lima menit ia menunggu, tetapi Arthur masih belum juga terlihat. Namun, tak lama kemudian, sebuah sedan hitam melaju, lalu berhenti tepat di depannya. "Masuk, Kim," ujar Arthur dari balik kaca jendela yang terbuka. "Iya." Selama di perjalanan, Kimberly tidak banyak berbicara, kecuali menanggapi pertanyaan Arthur. "Kita makan siang dulu." "Tapi, Sir. Bagaimana kalau nanti kita terlambat ke kantor?" tanya Kimberly, cemas. Sudut bibir Arthur terangkat. "Kamu pikir, siapa yang berani menegurku di Axton?! Mengenai kamu, aku akan mengatakan pada Ronald kalau kamu sedang menjalankan tugas yang kuberikan." Kimberly mengangguk. "Iya, Sir." "Sebenarnya aku tidak terlalu hafal jalanan London. Hanya jalan-jalan tertentu saja. Biasanya Supirku yang hafal London, bahkan sampai pelosok. Sayangnya, ia masih belum bisa masuk kerja, karena harus menjaga istrinya yang sakit. Jadi setelah kita selesai makan, aku akan mengantarmu ke daerah yang kuketahui saja." "Terima kasih, Sir. Saya tidak enak selalu merepotkan. Apalagi dua hari lalu Ashley mengantarkan surat dari Anda." "Ah, tidak usah kamu pikirkan. Uang itu kuberikan, mengingat mungkin kamu perlu membeli obat-obatan," terang Arthur, sembari memarkir mobil di pinggir jalan, di depan sebuah restoran. "Ayo." Selama empat puluh menit mereka menghabiskan waktu bersantap siang, setelah itu Arthur membawa Kimberly ke sebuah apartemen. Apartmen itu sebenarnya merupakan apartemeb kelas menengah, tetapi bagi Kimberly sudah sangat mewah. Kini keduanya sedang berada di dalam unit apartemen bersama pemilik unit. "Apakah harga itu sudah termasuk semua perabotan di sini?" tanya Arthur pada laki-laki berumur sekitar lima puluhan tahun. "Iya. Dan untuk waktu sewa selama dua tahun." "Sir. Saya rasa kita mencari apartemen lain saja. Gaji saya tidak cukup menyewa apartemen ini," ucap Kimberly lirih, agar tidak terdengar pemilik apartemen. Arthur tersenyum. "Anggap ini upahmu karena menjalankan tugas khusus dariku," tukas Arthur, sama-sama lirih. "Jadi, bagaimana?" tanya pemilik apartemen. "Aku akan mengambilnya." "Baik, kalau begitu silakan menunggu sebentar. Aku akan menyiapkan kontrak sewa terlebih dahulu," kata pemilik apartemen. "Silakan Mr. Gordon." Arthur memang sosok yang ramah pada siapa saja, termasuk juga pada Kimberly. Namun, keramahannya kerap membuat orang lain salah menduga, juga ada yang memanfaatkannya. Demikian pula dengan Kimberly, yang diam-diam merasakan getaran di hatinya, kala Arthur memberinya perhatian. Namun, ia segera meredam kuat-kuat getaran itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN