Tammy membuka kotak kecil di tangannya. Dua berlian yang berkilau di dalam kotak, membuat matanya melebar mengagumi keanggunannya. Namun, sesaat kemudian ia menutup kotak itu seraya tersungging.
"Kamu boleh mengambil kembali berlian ini, jika tidak mau berkata jujur padaku." Tammy menatap mata Clive.
"Apa maksudmu?" Clive setengah membentak.
"Clive, mungkin aku tidak bertitel tinggi sepertimu, tetapi aku tidak bodoh." Tammy mengangkat sebelah alisnya. "Katakan apa tujuan sebenarnya memintaku menyelidiki Ashley?"
"Sudah kukatakan karena aku khawatir obsesi Ashley dapat membahayakan sahabatku!" bentak Clive, berusaha menutupi kecemasan yang tiba-tiba menyeruak.
Mendengar jawaban itu, Tammy memberi seringai miring. "Well, simpanlah berlian-berlian itu, Clive." Ia berjalan ke arah pintu, lalu membukanya. "Hari ini sudah terlalu larut, aku tak ingin terjaga hanya untuk mendengar kebohonganmu."
"Tu-tunggu! Baiklah aku akan berkata jujur."
Tammy menengarai kejanggalan dari alasan yang dikemukakan Clive. Namun, untuk memastikannya, ia menguji Clive: jika Clive bersikukuh ingin informasi darinya, maka informasi tersebut lebih bernilai ketimbang dua berlian itu.
"Kalau begitu, aku ingin menyimakmu baik-baik," tukas Tammy, kembali menutup pintu. "Jadi, apa tujuanmu Clive?" Tammy pun menghampiri Clive.
Clive mulai membeberkan tujuannya pada Tammy. Namun, Tammy sama sekali tidak terkejut. Ia memang sudah menduga tujuan Clive sejak semula, tetapi ia merasa perlu memastikan dugaannya.
Usai mendengarkan penuturan Clive, Tammy kembali bersuara. "Kalau saja kamu berkata jujur sejak awal, sudah dari dulu aku membantumu."
"Itu berarti?" Kecemasan Clive yang semula tampak pun surut.
"Sudah kukatakan, aku tak ingin sahabatku terluka. Jika aku bisa membantunya mendapatkan laki-laki pujaannya, tentu saja akan aku lakukan. Dan itu berarti sejalam dengan rencanamu, Sayang. Tadi aku mengunjunginya ...." Kemudian Tammy menceritakan keseluruhan cerita secara mendetail. "Ia mau mengikuti saranku. Hal itu menunjukkan kalau ia tergila-gila pada Arthur."
"Bagus. Sekarang kita harus menunggu hasilnya." Clive tergelak.
Dua tujuan yang bertemu pada satu gagasan, memantik kolaborasi makar. Kini ancaman tengah mengintai sang Pemuncak Takhta.
***
Keesokan harinya, penampilan baru Ashley mengundang banyak mata memandang, sekaligus memantik hasrat yang bersembunyi. Namun, bukan untuk mereka Ashley mengekspos sebagian keelokan tubuhnya. Meskipun semburat merah terlihat tipis di wajahnya yang putih, tetapi Ashley mencoba tak menghiraukan pandangan amoral laki-laki yang melihatnya. Semua itu demi satu tujuan: Menaklukkan sang Penguasa Relung.
"Hai, Ash!" sapa Tammy, dengan senyum mengembang.
"Oh, ha-hai, Tam," Ashley menjawab gugup, "Apakah aku terlihat konyol dengan pakaian ini?"
Tammy tertawa geli mendengar pertanyaan sahabatnya. "Kamu ini lucu sekali, Ash!"
"Ternyata benar. Penampilanku sekarang benar-benar konyol."
"Bukan itu maksudku. Kamu sangat cantik, tetapi sikapmu yang malu-malu, sangat lucu!"
"Ja-jadi, aku harus bagaimana?" tanya Ashley.
"Semua laki-laki di dunia ini tak ada yang dapat menyangkal kecantikanmu! Seharusnya kamu menjadi percaya diri." Tammy menegakkan tubuh Ashley. "Berdiri tegak, dan busungkan dadamu seperti ini." Ia mengamati sahabatnya sesaat. "Sudah lumayan. Nah, sekarang pergilah ke ruangannya!"
"Untuk apa?" tanya Ashley, heran.
"Karena ia mencarimu dari tadi." Tammy tersenyum. "Cepat ke sanaaa. Jangan lupa yang semalam kuajarkan!"
Ashley mengangguk, lantas berjalan menuju ruangan Arthur. Sesampainya di depan ruangan Arthur, ia berhenti dan mengambil napas dalam-dalam. "Ingat kata-kata Tammy," gumamnya, lalu membuka pintu ruangan.
Di dalam ruangan, Arthur menoleh ke arahnya. "Ash, dari tadi aku mencarimu."
"Ada apa mencari saya, Sir?" Ashley berjalan menghampiri, tetapi ketika sudah berada dekat dengan Arthur, ia menjatuhkan kertas-kertas di tangannya. "Ma-maaf." Dengan sengaja ia memungut kertas-kertas tersebut, dan menunjukkan belahan dadanya.
Alih-alih melirik, Arthur sama sekali tak menghiraukan. Ia melanjutkan mengamati laporan yang tersaji pada layar komputer. Pandangannya sama sekali tak teralihkan dari sana. "Coba lihat ini."
Sementara itu, Ashley berkali-kali melirik Arthur untuk melihat reaksinya. Sikap tak acuh Arthur membuatnya kecewa. Namun, ia tak menyerah begitu saja. "Ini laporan siapa?" tanyanya, seraya merapatkan diri pada Arthur. Bahkan dadanya menyentuh lengan Arthur.
Arthur terhenyak, sebelum akhirnya menarik lengannya menjauh. "Laporan Andrew. Coba kamu perbaikin bagian ini ...." Arthur menunjuk satu per satu kesalahan yang terdapat pada laporan tersebut. " Sudah berulang kali aku memintanya memperbaiki, tetapi selalu saja salah." Arthur menghela napas. "Pikirannya sedang kacau semenjak istrinya mengalami kecelakaan. Karena itulah tadi pagi aku mengizinkannya mengambil cuti. Bagaimana bisa kamu kerjakan, kan?!"
"Baik, Sir. Saya usahakan. Kapan laporan ini harus saya serahkan?" Ashley kembali merapatkan tubuh, tetapi Arthur malah beranjak, dan berjalan ke arah lemari.
"Lusa saja," tukas Arthur, sembari membuka lemarinya. "Dan tolong rapikan data-data ini." Ia mengambul beberapa kertas, lantas menyerahkannya pada Ashley.
"Baik, Sir."
"Kamu sudah boleh kembali ke mejamu, Ash."
Ashley mengangguk. "Saya mohon diri, Sir." Dengan perasaan kecewa, ia keluar dari dalam ruangan.
Melihat ekspresi kecewa Ashley, Tammy pun bertanya, "Gagal?"
Ashley menghempaskan tubuhnya di kursi kerja, kemudian menghela napas. "Sepertinya begitu. Ia sama sekali tak memedulikanku."
Tammy tertawa kecil. "Aku sudah menduganya."
"Apa maksudmu?" tanya Ashley, heran.
"Ash, dia tidak akan langsung menunjukkan kalau sebenarnya sudah merasa tertarik. Kamu perlu melakukannya secara konsisten. Aku yakin, lama-lama sikap dinginnya akan berubah," terang Tammy.
Tammy mengangguk. "Nanti selepas pulang kantor, kamu harus mencari cara agar dapat pulang bersamanya."
"Pulang bersamanya? Bagaimana caranya?" Ashley semakin bingung.
Tammy mengangkat kedua bahunya. "Entah ... semua tergantung situasinya nanti. Kamu yang bisa memikirkan cara yang tepat."
Ashley memikirkan kata-kata Tammy. Selama beberapa jam pikirannya disibukkan dengan cara-cara yang mungkin dapat ia coba agar dapat pulang bersama Arthur. Namun, dari semua cara, ada satu cara yang paling mungkin ia lakukan.
Detik berdetak, menit berlalu, jam pun berganti. Tak terasa, jam pulang kantor telah tiba. Ashley menunggu Arthur keluar dari dalam ruangan dengan penuh harap. Setengah jam kemudian, laki-laki yang dinantikan akhirnya muncul.
"Kamu belum pulang?" tanya Arthur sambil berjalan menuju lift.
Ashley buru-buru mengejarnya. "Sa-saya juga baru mau pulang."
"Oh, ya sudah."
Ketika pintu lift terbuka, mereka bergegas masuk. Ruangan lift VIP hanya berisi mereka berdua. Dalam keadaan seperti itu, Ashley diam seribu bahasa. Ia menjadi salah tingkah berada di dalam ruangan kecil bersama sang pujaan hati. Namun, tekadnya sudah bulat. Ia berencana berpura-pura terkilir agar Arthur mau mengantarnya pulang.
Sayang, rencananya tidak berjalan sesuai yang ia inginkan. Sesampainya di lantai dasar, Arthur sudah disambut beberapa rekan bisnis, dan pergi bersama mereka. Meskipun kenyataan tersebut membuatnya kecewa, tetapi harapannya belum pupus. Ia dapat berusaha mendekati Arthur di hari lain. Tanpa ia sadari, keinginannya tersebut, membuatnya semakin terobsesi pada Arthur.
***