10

1036 Kata
Dua belas tahun lalu, di daerah barat Kota London. Tammy bersama empat temannya sedang menari di tengah Lapangan Sepakbola. Saat itu seluruh perhatian pentonton terpusat pada mereka. Bukan hanya karena kepiawaian menari, tetapi juga sebab kecantikan Tammy dan kawan-kawan. Mereka membuka pertandingan antara dua kesebelasan sebagai Pemandu Sorak. Usai menghelat penampilan paripurna, seluruh hadirin bertepuk tangan saat mereka berjalan menuju Ruang Ganti. Mereka pun disambut para pemain kesebelasan tuan rumah, di lorong. "Well done, girls!" Tammy tersenyum lebar menerima pujian Kapten kesebelasan, tetapi pandangannya segera beralih pada laki-laki berkulit gelap bernomor punggung sepuluh yang sama sekali tidak menghiraukan mereka. "Hai, Tam! Kamu tidak ikut ke Ruang Ganti?" tanya Amber, menghenyakkannya. "Ah, i-iya." Ia pun buru-buru masuk, menyusul teman-temannya. Setibanya di dalam, para gadis cantik itu ramai membicarakan penampilan mereka. "Melihat tepuk tangan penonton, kurasa kita tadi menampilkan penampilan yang sempurna," tukas Jessica. "Kuharap bukan hanya mereka yang terpesona, tetapi juga para pemain kesebelasan, terutama Garry!" "Garry? Wah, kamu masih mengincarnya, Anna?" "Siapa sih, perempuan yang tidak suka dengan laki-laki setampan David Beckham?!" ucap Anna, lalu tertawa kecil. "Mmm ... sepertinya ada satu orang." Jane melirik pada Tammy. "Bukankah kamu menyukai Darren, Tam?!" Sebelah alisnya terangkat. Rona wajah Tammy memerah seketika. Ia pun segera menunduk, berusaha menyembunyikannya. "A-apa maksudmu?" Jane kembali tertawa. "Kamu pura-pura tidak paham ucapanku, Tam. Tapi semua orang tahu kalau kamu sering diam-diam melihatnya." "Ti-ti—" "Sudahlah ... ia memang manis. Lagipula Darren merupakan Striker terhebat di dalam tim mereka. Jadi wajar kalau banyak menyukainya. Kamu tidak perlu malu, Tam." Kali ini Tammy tak dapat menyangkal. Namun, rasa malu mengunci mulutnya rapat-rapat. Diam-diam Amber melirik ke arahnya, dan terlihat kesal. "Well, aku mau mandi dulu." "Aku juga." Ketika Tammy baru beranjak, tiba-tiba terdengar suara teriakan komentator dari layar televisi. "Darren harus dibawa ke luar lapangan. Sepertinya ia mengalami cedera serius pada kakinya." Mendengar hal tersebut, sontak membuatnya berlari ke luar ruangan. Sayang, ia tak bisa mendekati Darren karena sedang menjalani penanganan pertama. Ia pun kembali ke dalam Ruang Ganti. Sejak saat itu pikirannya tidak bisa tenang. Bahkan setelah teman-temannya pulang, Tammy bergegas menemui Petugas Medis. "Apakah kamu tahu di mana Darren dirawat?" Petugas itu menyelisik Tammy sesaat. "Dia dilarikan ke London Bridge Hospital." "Terima kasih." Tanpa pikir panjang, ia segera pergi ke London Bridge Hospital. Sesampainya di sana, Darren belum bisa dijenguk. Namun, hal tersebut tak menyurutkan niat Tammy. Ia memutuskan menunggu di sana, sampai dapat menjenguk Darren. Setelah menunggu empat jam, salah seorang perawat memberitahu kalau Darren sudah dapat dijenguk. "Miss, pasien baru saja siuman. Silakan kalau Anda ingin menjenguknya." Tammy mengangguk. "Terima kasih." Lalu bergegas ke dalam Ruang Rawat. Setibanya di dalam, ia tertegun melihat kaki Darren dibalut kain putih berlapis-lapis. Hatinya turut merasa perih, menyaksikan Darren tergeletak tidak berdaya. "Darren ...." Tammy duduk di samping ranjang. Darren mengerling ke arah Tammy, sebelum memalingkan wajah. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun. Sikap Darren memang selalu dingin, tetapi itu tak pernah menghentikan Tammy mencintainya. "Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Tammy, cemas. Darren tidak lekas menjawab selama beberapa menit. Suasana pun tetap sunyi. Kali ini sikap dingin Darren, membuat Tammy kecewa. Setidaknya satu kata yang diucapkan Darren sudah cukup bagi Tammy. "Baiklah, kalau begitu aku pulang." Tammy beranjak dari bangkunya. "Tunggu." Tiba-tiba Darren memegang tangan Tammy. Tammy pun menoleh. Selama beberapa saat pandangan mereka bertemu. Pandangan yang seakan-akan menggantikan percakapan di antara mereka. "Terima kasih, Tammy," ucap Darren singkat. Tak terkiaskan perasaan Tammy kala itu. Kata-kata singkat yang diucapkan sang laki-laki idaman, memantik senyumannya. "Beristiratlah, Darren. Kalau kamu tidak keberatan, besok aku kan mengunjungimu lagi." Tanpa menunggu jawaban Darren, Tammy bergegas ke luar ruangan. Sejak hari itu, setiap hari Tammy selalu menyempatkan diri menjenguk Darren sepulang dari sekolah. Intensitas pertemuan, membuat keduanya menjadi semakin dekat. Kehadiran Tammy mengobati luka hati Darren yang dinyatakan tidak lagi bisa bermain Sepakbola, meski ia mampu beraktivitas layaknya orang lain. Bahkan, tak lama setelah Darren ke luar dari London Bridge Hospital, keduanya resmi berpacaran. Namun, tiga bulan kemudian, satu kejadian mengubah segalanya .... Saat itu seusai jam pulang sekolah, Darren mengatakan tidak bisa pulang bersama Tammy. Bukan kali itu saja Darren mangkir dari kebiasaan mereka. Tammy sama sekali tak menaruh curiga. Hingga suatu hari, seusai jam sekolah, Tammy harus kembali ke kelas untuk mengambil buku yang tertinggal. Namun, apa yang ia saksikan saat itu, membuat hatinya hancur. Ia tak sengaja melihat dari balik jendela, sang kekasih sedang bersenggama dengan perempuan lain. Dan yang membuat hatinya semakin teriris, perempuan tersebut merupakan salah satu teman baiknya. Amber .... Kejadian itu mengubah sosok Tammy. Ia tak lagi percaya pada laki-laki. Baginya, semua laki-laki hanya ingin memanfaatkan keelokan tubuh perempuan. Memperlakukan perempuan layaknya mainan, yang digunakan sampai rasa bosan menghinggapi. Karena itu, ia tak lagi menggunakan perasaan setiap kali berhubungan dengan laki-laki. Sebenarnya materi yang ia incar dari lelaki merupakan manifestasi dari kekecewaannya pada lawan jenis. Dendam. Kata itulah yang paling tepat mendeskripsikan sikap Tammy. Demikian pula dengan hubungannya dengan Clive. Kedekatannya dengan Clive selama ini, sempat membuat hatinya terpantik untuk mencintai. Namun, ia segera menepisnya jauh-jauh. Apalagi ia tahu kalau Clive merupakan seorang playboy sejati. Sudah seringkali Tammy mengendus perselingkuhan Clive, tetapi ia memilih bungkam. Baginya, selama Clive menuruti permintaannya, ribuan kali pun Clive berselingkuh, sama sekali tidak menjadi soal. Tammy yang sekarang bukanlah perempuan naif seperti beberapa tahun lalu. Ia cerdik memanfaatkan setiap peluang yang bisa didapat. Namun, Clive juga bukan laki-laki bodoh yang tidak peka menangkap niat Tammy. Keduanya saling memanfaatkan. Sayangnya, Clive memiliki kontrol dan kecerdikan di atas kekasihnya tersebut. Setiap pemberiannya selalu bertujuan demi keuntungannya. Seperti permintaannya sekarang pada Tammy untuk mencari tahu soal perasaan Ashley pada Arthur. Karena alasan itulah Clive mendatangi kediaman sang kekasih. "Jadi, apa yang hendak kamu sampaikan, Sayang?" tanya Clive, ketika baru masuk ke dalam unit apartemen Tammy. "Well, ternyata dugaanku selama ini benar," terang Tammy, seraya mengecup bibir sang kekasih. "Maksudmu, Ashley?" Tammy mengangguk. "Siapa lagi?! Bahkan aku melakukan lebih dari yang kamu minta." Sebelah ujung bibir Clive terangkat, menampilkan setengah seringai. "Bisa kamu jelaskan?" "Tergantung. Jika kamu memenuhi janjimu lebih dulu." Tammy tersenyum, penuh arti. Paham akan maksud Tammy, Clive mengeluarkan kotak kecil dari dalam saku baju. "Well, sekarang jelaskan secara rinci." Makar kedua pasangan tersebut pada sahabat-sahabat mereka telah dirajut. Kini hanya tinggal menunggu waktu agar rencana berjalan paripurna. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN