9

1031 Kata
"Kurasa ini cocok untukmu, Ash." Tammy menarik pakaian dalam merah muda dan berenda. "Oke, aku akan mencobanya," tukas Ashley, mengambil dari tangan Tammy, dan menumpuknya di atas beberapa baju lain. Kedua ujung bibir Tammy setengah terangkat. "Coba saja di Ruang Ganti." Ashley mengangguk, kemudian masuk ke dalam Ruang Ganti. Selama beberapa menit ia berada di dalam. Pandangannya menyelisik bayangan dirinya di cermin. Pakaian-pakaian pilihan Tammy memang cocok ia gunakan, dan mengekspos keelokan tubuh Ashley. Namun, ia perlu mengonfirmasi pendapat Tammy sekali lagi, sebelum membayar. "Bagaimana menurutmu, Tam?" tanya Ashley dari balik pintu yang setengah terbuka. "Wow! Mr. Handsome akan benar-benar bertekuk lutut sekarang!!" ujar Tammy, kagum menyaksikan kecantikan Ashley. "Well, kurasa sudah cukup. Aku akan membayarnya, lalu kita bisa mencari makan malam." Ashley berkata, seraya menutup pintu. Usai membayar semua pakaian tersebut, kini keduanya berada di suatu kafe, yang berada di Mal yang sama. Mereka duduk di pojok ruangan—jauh dari para pengunjung lain, yang memadati area di tengah. "Silakan." Pramusaji memberikan buku menu. Ashley membuka lembar demi lembar menu tersebut. "Mmm ... Bubble and Squeak, dan ... Ice Chocola—" "Tidak, tidak ... Ash. Jangan makan yang berlemak. Nanti tubuhmu tak akan bisa menaklukkannya," larang Tammy. Ashley mengangguk, lantas kembali membuka menu. "Orang juice, please." Pramusaji mencatat pesanan Ashley, lalu menoleh pada Tammy. "Apakah ada lagi, Miss?" "Aku memesan yang sama," sahut Tammy. "Silakan, ditunggu pesanannya." Pramusaji pun berlalu meninggalkan mereka. Tammy mengalihkan pandangan pada Ashley. "Pakaian-pakaian tadi memang seksi, tapi bukan itu yang utama." "Apa maksudmu? Kalau pakaian kantor, bukankah tadi aku juga membelinya?!" tanya Ashley, heran. Tammy tertawa kecil. "Maksudku bukan itu. Kamu harus bersikap seksi dan berkelas." Ashley mencerna kata-kata Tammy. "Dengan menggodanya?" "Exactly! Tapi jangan bergaya murahan. Ingat kamu harus elegan!" "Bagaimana caranya?" Pramusaji datang membawa pesanan mereka, dan menginterupsi perbincangan. "Silakan, Miss." Ashley tersenyum. "Terima kasih." Pramusaji mengangguk, kemudian berlalu pergi. Ashley kembali menoleh pada Tammy. "Jadi bagaimana?" "Seperti ini ...." Tammy mulai mengajarkan trik yang biasa ia gunakan untuk menaklukkan lelaki. Ashley yang tak terbiasa menggoda lelaki dengan sengaja, menyimak kata demi kata yang diajakan sahabat baiknya. Sesekali ia memraktikkan gerakan mimik, mengikuti sahabatnya tersebut. "Nah, kalau kamu sudah berhasil menaklukkannya, kamu akan bebas menggunakan kartu kredit tanpa batas!" Ashley menggeleng. "Tidak, Tam. Aku sama sekali tidak menginginkan hartanya. Aku hanya ingin cintanya. Itu saja sudah lebih dari cukup." Tammy menghela napas. "Tak kusangka masih ada perempuan senaif kamu di dunia ini. Well, tapi itu pilihan." Ashley tersenyum. "Oh iya, bagaimana hubunganmu dengan Mr. Grissham?" Kedua ujung bibir Tammy terangkat. "Panas, dan membuatku meleleh." Ia memasukkan potongan makanan di hadaoannya ke dalam mulut. "Lamborgini yang ia janjikan, sekarang sedang terparkir di apartemen-mu." "Lalu kenapa tadi kita tidak mengendarainya ke sini?" "Tidak perlu. Mal ini sangat dekat dengan apartemen-mu, kan?!" tukas Tammy, lantas menyeruput minuman. "Dan ia menjanjikan akan memberi berlian." "Oh iya?! Dengan syarat?" tanya Ashley, yang sebetulnya tidak tertarik, dan sekadar mencari bahan pembicaraan. Tammy mengangkat kedua ujung bibirnya, seraya menatap Ashley penuh arti. "Rahasia, Ash. Oh iya, jika akhirnya Mr. Handsome bertekuk lutut, lalu memberikanmu seperti yang Clive berikan padaku, apakah kamu akan menolak?" Ashley diam, dan berpikir beberapa saat. "Entahlah ... aku belum memikirkannya." Ia menghela napas. "Perjuangan untuk mendapatkan cintanya belum usai. Aku sama sekali belum terpikir hal lain." "Kamu benar-benar menyukainya, ya?!" "Seperti yang tadi aku katakan, dia berbeda dengan laki-laki lain. Dia tidak pernah memperlakukan perempuan layaknya barang yang bisa diperlakukan sembarangan. Sikapnya itulah yang membuatku jatuh hati." Tammy memandang Ashley lamat-lamat. Lengkung matanya sedikit turun. "Ash, jangan mencintai laki-laki berlebihan. Aku tahu bagaimana rasanya dicampakkan. Sakit ... dan aku tak ingin mengulanginya. Sejak saat itu aku tidak pernah menaruh hati dengan sungguh-sungguh. Dan aku tidak ingin kamu merasakan yang kurasakan dulu." "Terima kasih atas perhatianmu, Tam. Tapi dia berbeda. Dia tidak akan menyakiti perempuan," tukas Ashley. "Semoga, Ash ... semoga ...." Tammy mengerling jam tangannya. "Well, kurasa aku harus pulang." "Katamu, kamu bersedia menginap?" tanya Ashley, kecewa. "Tadinya. Tapi karena semua sudah selesai, sebaiknya aku pulang. Mungkin lain hari saja, Ash," jawab Tammy, "Ayo ke apartemen-mu, aku memarkirnya di sana." "Oke." Ashley beranjak, lalu bersama-sama berjalan ke luar dari dalam kafe. *** Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Saat itu Tammy baru saja memarkir mobil di halaman apartemen-nya. "Hai, Babe ... bisakah kamu ke tempatku sekarang, dan bawakan berlian yang kamu janjikan? Oke ... see you soon, Honey!" Tammy menutup pembicaraan, sambil berjalan ke tower, di mana unit-nya berada. "Selamat malam, Miss," sapa penjaga apartemen. "Malam, Jeff." Tammy tersenyum sekilas, lalu masuk, dan berjalan ke arah lift. Saat menunggu pintu lift terbuka, ia memikirkan perbincangannya dengan Ashley. "Naif sekali dia ...," gumamnya, bertepatan dengan pintu lift yang baru saja terbuka. Ia pun masuk ke dalam, lantas menekan tombol lantai dua belas. "Halo, Tam," sapa seorang perempuan senja yang juga berada di dalam lift. "Oh, halo Miss. White. Bagaimana keadaanmu?" tanya Tammy, ramah. "Sudah jauh membaik. Aku sudah bisa berbelanja di mini market yang ada di lantai dasar." "Ah, baguslah. Aku senang mendengarnya." Baru saja usai berkata demikian, pintu lift terbuka. "Aku duluan, Miss. White," ujarnya, seraya berjalan ke luar. Ia berbelok ke kanan, lalu berjalan sekitar lima meter dari pintu lift, dan berhenti di unit bernomor 1215. "Aku letakkan di mana?" gumamnya, merogoh tas. "Ketemu." Diambilnya kartu dari dalam tas, lalu ia memasukkannya ke dalam celah yang ada di gagang pintu. Tak lama kemudian, lampu hijau menyala. Ia pun menarik turun tuas pintu, lantas masuk ke dalam. "Clive baru satu jam lagi, ke sini. Aku masih sempat mandi." Tammy menggumam, sambil meletakkan tas di atas meja. Ia melepaskan pakaiannya satu per satu, sembari bercermin. Matanya melebar, memandang keelokan tubuhnya yang bagai gelas bertangkai. Kulitnya yang cokelat, tampak bersih dan lembut. Sepasang aset di dadanya, sintal di dalam dekapan bra yang membungkusnya. Cukup lama ia memandangi bayangannya di cermin, tetapi perlahan-lahan bayangan masa lalu menyeruak di dalam pikirannya. Hatinya menjerit lirih kala itu. Memori buruk yang menodai ingatannya semakin jelas di dalam pikiran. Ia pun mengurungkan niat ke kamar mandi, dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang. "Darren, apa yang telah kamu perbuat padaku, telah membuatku menjadi seperti sekarang ...." Ia memejam, mengulas kenangan pahit bersama laki-laki yang pernah menjadi kekasih, dan yang meninggalkan perih di dalam hidupnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN