Ashley memainkan pulpen di sela jemarinya. Pandangannya tertuju pada layar komputer, meskipun jelas terlihat pikirannya sedang tidak berada di sana.
"Ash."
Ashley tersentak, manakala seseorang menepuk pundaknya. Ia pun menoleh, seraya menghela napas. "Rupanya kamu," ucap Ashley, melihat Tammy berdiri di sebelahnya.
Tammy tertawa kecil melihat ekspresi terkejut Ashley. "Kamu pikir aku ...,"—ia menarik kursi, lantas duduk menyejajari Ashley—"Mr. Handsome?"
"Ah ... kenapa kamu selalu mengira aku memikirkannya?" Ashley berkata, terlihat sedikit kesal.
"Karena setiap kali ada Mr. Handsome, pandanganmu tak pernah lepas darinya. Benar, kan?!" goda Tammy, tersenyum.
"Kamu berlebihan, Tammy."
"Oh, iya?! Well, tapi kura—" Tammy tak melanjutkan kata-katanya, ketika melihat Arthur melewati mereka. Ia melirik Ashley yang pandangannya terpaku pada Arthur.
"Kamu memang bisa menyangkal, tapi tidak dengan pandanganmu, Ash."
Ashley membuang pandangan, berpura-pura tidak mendengar kata-kata Tammy. Namun, tiba-tiba ponsel-nya berbunyi. Ia buru-buru membuka pesan singkat yang baru saja masuk.
"Rupanya Mr. Handsome," Tammy melirik layar ponsel Ashley.
Ashley cepat-cepat mematikan layar ponsel, kemudian merapikan rambutnya, sebelum berdiri.
Melihat tingkah sahabatnya, Tammy tertawa kecil. "Rambutmu sudah rapi, tapi jangan lupa yang pernah kuajarkan," tukasnya menunjuk kancing baju Ashley, mengisyaratkan agar Ashley melepas kancing bagian atas.
Tanpa berkata-kata, Ashley bergegas ke ruangan Arthur. Ketika sudah berada di dalam, ia melihat Arthur tengah duduk sambil memandang layar komputer.
"Ash, tolong antarkan ini ke Hotel Brit London, kamar 513." Arthur menyerahkan amplop putih pada Ashley.
"Baik, Sir. Setelah jam kerja berakhir saya akan ke—"
"Tidak, tidak ... lekas antar sekarang."
Ashley mengangguk. "Kalau begitu, saya berangkat sekarang."
Mendapat anggukan Arthur, Ashley keluar dari ruangan. Sebelumnya, Arthur tidak pernah memberi perintah semacam ini, sehingga rasa penasaran Ashley pun terpantik. Namun, ia segera menepisnya. Toh, sebentar lagi ia akan mengetahui kepada siapa amplop tersebut diserahkan.
Lokasi Hotel Brit London sekitar satu kilometer dari Axton Tower. Hanya dalam seperempat jam saja, ia sudah tiba di sana. Ia segera ke dalam lift menuju lantai lima.
"Kamar 513 ...," gumamnya, sembari melihat nomor-nomor yang tertera pada pintu-pintu kamar yang dilalui. Tak lama kemudian, ia berhenti di depan sebuah kamar, lalu menekan bel pada dinding.
Cukup lama ia menunggu, sampai akhirnya pintu pun terbuka. Namun, ia tak menyangka melihat orang yang di hadapannya adalah Kimberly. Gadis cantik itu mengenakan pakaian tidur. Wajahnya tampak kuyu, dengan bibir pucat. Sebelah kakinya dibalut kain putih.
Melihat Kimberly berada di sana, kecemburuan Ashley pun tersulut. Berbagai skenario kejadian antara Arthur dan Kimberly, menyeruak dalam pikirannya.
"Ashley, ada apa?" tanya Kimberly, tak menyangka dengan kedatangan Ashley.
Ashley mengeluarkan amplop dari dalam tas. "Mr. Axton, memintaku memberikan ini."
"Apa ini?" tanya Kimberly heran, sembari menerima amplop tersebut.
Ashley mengangkat kedua bahu. "Lihat saja sendiri. Aku harus segera kembali ke kantor," tukas Ashley ketus, lantas berlalu menuju lift.
Di sepanjang perjalanan, pikiran dan perasaan Ashley berkecamuk. Kata-kata Tammy beberapa hari lalu kembali terngiang berkali-kali. 'Well, dia ancaman buatku, dan juga buatmu. Paham?'
"Ancaman ... ancaman ... ancaman ...." Ashley menggumam, dan mengulang kata tersebut berulang kali. Bahkan ketika sudah berada di kantor, ia masih menggumamkannya.
Hal itu tidak luput dari Tammy. "Ancaman? Siapa yang mengancammu?"
Ashley terhenyak, dan buru-buru berusaha menutupi. "Erm ... bu-bukan apa-apa ...."
Sanggahan Ashley tak cukup meyakinkan Tammy. "Benarkah?" Sebelah alis Tammy terangkat. "Ash, aku sahabatmu. Kalau ada yang mengganggu pikiranmu, aku bisa menjadi tempatmu berkeluh kesah."
Ashley terdiam beberapa saat, memikirkan kata-kata Tammy. "Maukah kamu menemaniku sesudah jam kerja usai?"
"Mau mengobrol di kafe?" tanya Tammy, dan dijawab dengan anggukan Ashley. "Kupikir lebih baik jangan di tempat umum, kalau memang kamu tidak ingin ada orang lain yang tak sengaja mendengar obrolan kita. Well, bisa saja ada orang yang kamu kenal tak sengaja bertemu kita di kafe, kan?!"
"Lalu?"
"Bagaimana kalau di apartemen-mu?" usul Tammy.
Ashley mencerna pikiran sesaat. "Boleh, tapi aku ingin mengunjungi suatu tempat, sebelum pulang. Temui saja aku di apartemen-ku. Nanti akan kukirim alamatnya melalui oesan singkat."
"Baiklah. Jangan terlalu malam, Ash. Kamu tahu kalau apartemen-ku berada jauh?! Aku takut jika harus pulang terlalu larut."
"Bisakah kamu menginap di tempatku semalam saja? Akan kupinjamkan pakaianku."
"Mmm ... oke, tidak masalah kalau hanya semalam," tukas Tammy.
Detik, menit, dan jam pun berlalu, akhirnya jam kantor usai. Ashley bergegas pulang ke apartemen. Tanpa sempat mengganti pakaian, ia menyembunyikan foto-foto Arthur ke sebuah kamar kecil, lalu menguncinya.
"Apakah masih ada lagi?" gumamnya, mengedarkan pandangan ke sekitar. "Kurasa sudah semua."
Ia segera berganti pakaian, dan menunggu kedatangan Tammy sambil menonton televisi. Namun, tiba-tiba terdengar suara bel di apartemen-nya.
"Sebentar!" Ashley bergegas membuka pintu apartemen. "Hai, Tam."
Tammy tersenyum. "Aku belum terlalu larut, kan?!"
"Tidak, Tam. Aku juga baru saja sampai," terang Ashley berbohong. "Ayo, masuk."
Tammy mengangguk, lantas melangkah masuk. Pandangannya mengedar ke sekeliling. "Wow, apartemen-mu rapi sekali!" ucapnya kagum.
Ashley tertawa kecil. "Aku tidak suka tinggal di tempat yang berantakan." Ia berjalan ke arah kulkas. "Sirup, atau jus?"
"Jus saja." Tammy tersenyum, sembari duduk di sofa.
"Oke." Usai menuangkan jus ke dalam gelas, Ashley duduk di sebelah Tammy, dan meletakkan gelas di meja.
"Jadi, ada masalah apa?" tanya Tammy, usai menyeruput jus.
Mendengar pertanyaan itu, raut muka Ashley berubah. Selama ini ia selalu memendam keresahannya sendiri. Mendapati ada sahabat yang siap mendengarkan curahan hatinya, ia pun tak lagi dapat memendamnya. Ashley menceritakan kisahnya saat pertama kali bertemu dengan Arthur, ketika ia mulai merasakan getaran di hatinya, sampai bertemu dengan Kimberly di Hotel Brit London. Air matanya tumpah, merasakan hatinya teriris, menyimpan sakit karena cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Setelah mendengar curahan Ashley, Tammy menghela napas. "Sabar, Ash. Mungkin sekarang ia belum mencintaimu, tapi bukan berarti nanti dia tidak mencintaimu, ka?!"
"Tapi ... rasanya mustahil aku mendapatkannya. Di hatinya ada Louise, dan sekarang Kimberly."
"Nah, justru itu menandakan kamu berpeluang, ka?!" sahut Tammy.
"Apa maksudmu?" tanya Ashley, heran.
Tammy tersenyum. "Coba kamu pikir. Selama ini kita tahu kalau Mr. Handsome adalah laki-laki yang setia, tetapi setelah bertemu Kimberly, kesetiaannya runtuh. Dan aku yakin, kalau Kimberly menggodanya."
"Menggodanya?"
Tammy mengangguk. "Seperti yang kuajarkan padamu. Semua laki-laki tergila-gila pada tubuh perempuan. Jadi gunakan tubuhmu untuk membuatnya bertekuk lutut." Tammy menatap Ashley dari atas ke bawah. "Tapi aku perhatikan, semua pakaian yang kamu kenakan ke kantor, masih kurang terbuka." Ia melihat jam tangannya. "Ayo kita beli beberapa baju, selagi masih belum tutup."
Ashley mengangguk. "Oke, aku ganti pakaian dulu." Ia pun bergegas masuk ke dalam kamar.
Malam itu kedua perempuan cantik tersebut menyusuri satu toko ke toko lain, mencari pakaian yang pantas dikenakan untuk menaklukan Arthur.
***