7

1075 Kata
Sementara itu, di sebuah kafe yang terletak di pinggir Kota London. Kimberly menyeruput minuman di dalam cangkir. Satu upaya yang ia lakukan, untuk menutupi rasa canggungnya ketika bersama Arthur. "Jadi kamu tidak punya tempat tinggal?" tanya Arthur dengan sebelah alis terangkat. Kimberly mengangguk, sambil menundukkan pandangan. Jemarinya memilin-milin ujung bajunya, "Tadi saya ke kantor, dari tempat kita 'bersama'." "Hotel?" Suara Arthur terdengar cukup jelas, hingga menarik perhatian orang-orang di sekitar. Sebagian ada yang menggeleng, sebagian yang lain ada yang tertawa kecil. Menyadari kecerobohannya, buru-buru Arthur kembali berkata, "Maaf ... ayo kutemani mencari tempat tinggal sementara. Besok seusai jam kantor, kamu bisa mencari tempat tinggal tetap." "Ta-tapi saya tidak memiliki u—" "Jangan kamu pikirkan hal itu," jawab Arthur, seraya beranjak, dan berjalan ke arah pintu. "Apa yang kamu tunggu, Kim?" "I-iya." Kimberly berkata gugup, lalu beranjak, mengikuti Arthur. *** Mobil yang mereka kendarai melintasi jalanan London, yang saat itu cukup lengang .... "Hotel ini berada cukup dekat dari kantor." tukas Arthur, sembari membawa mobil menepi. "Maaf, saya merepotkan Anda, Sir," ucap Kimberly lirih. "Saya tidak ingin merepotkan, kalau boleh bisakah nanti dipotong dari gaji pertama?" Mendengar kesungguhan Kimberly, kedua ujung bibir Arthur setengah terangkat. "Well, kalau itu maumu, tidak masalah." Arthur memarkir mobil, di samping jalan yang berada di dekat sebuah hotel. "Kita sampai." "Terima kasih, Sir," ujar Kim sembari turun dari mobil, tetapi tiba-tiba ia menjerit saat kakinya tergelincir di tepi trotoar. Arthur segera turun, dan menghampiri Kimberly. "Kamu tidak apa-apa?" Alih-alih menjawab, kening Kimberly mengernyit, peluh mulai membasahinya. Arthur menghela napas, kemudian meletakkan sebelah lengan Kimberly di pundaknya. "Biar kuantar." "Ja-ja—" "Aku memaksa," sergah Arthur. Ia memapah Kimberly memasuki hotel. Setibanya di dalam, Kimberly didudukkan di sebuah sofa. "Tunggulah di sini, akan kupesankan kamar," ucapnya, kemudian berlalu menuju resepsionis. Kimberly menunggu selama beberapa menit. Pikiran, dan perasaan tidak enak hati mendominasi di dalam dirinya. Meskipun baru mengenalnya, tetapi Arthur bersikap sangat baik kepadanya. Bahkan ketika memiliki kesempatan untuk merenggut harga dirinya sebagai perempuan, Arthur pun tak mengambilnya. Lima belas menit berlalu, Arthur telah kembali ke tempat Kimberly berada. "Kuantarkan ke atas." Kimberly mengangguk. Kali ini ia tidak berusaha menampik, karena tahu Arthur tak akan menghiraukannya. Arthur kembali memapah Kimberly. "Tolong bawakan tasnya," kata Arthur pada salah seorang petugas hotel. "Baik, Sir." Mereka masuk ke dalam lift, yang tak lama kemudian bergerak naik, dan berhenti di lantai 5. Arthur memapah Kimberly sampai tiba di depan kamar bernomor 513. "Biar saya bantu," tukas petugas hotel, memasukkan kartu ke dalam lubang di tuas pintu. "Silakan," ujarnya, mempersilakan Arthur dan Kimberly agar segera masuk. "Terima kasih." Arthur mengeluarkan selembar uang dari dalam kantung baju. "Ini, ambillah." "Terima kasih, Sir." Petugas berkata, sebelum berlalu pergi. Arthur membawa Kimberly ke ranjang. "Kakimu memar." Arthur melirik pergelangan kaki Kimberly. "Lain kali berhati-hatilah. Aku akan memanggil dokter untuk mengobatimu. Beristirahatlah di sini sampai kamu bisa kembali bekerja," tukasnya, sembari berdiri. "Kali ini jangan anggap utang." Ia pun keluar dari dalam kamar. Sementara itu di dalam sebuah unit apartemen, sepasang kekasih baru saja usai b******u. Keduanya masih dalam keadaan tanpa busana. "Sayang, bagaimana menurutmu karyawan baru itu?" tanya Clive, pada Tammy yang tengah mengenakan kaus. Tammy mengerling sesaat, sebelum membuang muka. "Kenapa kamu bertanya soal dia? Karena dia cantik, dan kamu mengincarnya?" Mendengar kecemburuan Tammy, Clive pun tergelak. "Ah, bagiku kamu perempuan paling cantik, dan paling liar di atas ranjang. Jadi, kenapa aku harus mengincar perempuan lain?!" "Kamu memang pandai merayu," tukas Tammy, duduk menyejajari Clive. "Entahlah, ia pendiam, tetapi ada sesuatu yang membuatku tidak menyukainya, tapi aku tak tahu sebabnya." Kedua ujung bibir Clive terangkat. "Aku tahu." "Lalu menurutmu karena apa?" "Karena kamu khawatir aku jatuh hati padanya. Benar, kan?!" Meskipun benar ucapan Clive, tetapi Tammy berusaha menutupinya. "Seharusnya bukan aku yang khawatir." "Siapa yang kamu maksud?" tanya Clive, mengangkat sebelah alis. "Siapa lagi kalau bukan Ashley," jawab Tammy singkat. "Ashley?" Tammy mengangguk. "Tidak tahukah kamu kalau selama ini Ashley menyimpan perasaan pada Arthur?" Mendengar ucapan Tammy, Clive menjadi semakin penasaran. "Kamu tidak pernah menceritakan ini padaku." Ashley menghela napas. "Memang. Untuk apa aku bercerita?! Tapi daripada kamu menyangkaku yang tidak-tidak, lebih baik aku ceritakan sekarang." "Ah, menarik." Clive mencerna pikiran sesaat. "Dari mana kamu tahu, kalau Ashley menyukai Arthur?" "Tentu saja dari sikapnya. Ia sering memandang Arthur diam-diam. Ketika aku menggodanya, ia tersipu-sipu, tanpa sanggup menyangkal," terang Tammy, "Tapi menurutku, ia terobsesi pada Arthur." "Oh, iya?" Ashley mengangguk. "Aku pernah memergokinya tengah mengambil foto Arthur dengan ponselnya. Bukan itu bisa dikatakan terobsesi?!" "Hmm ...." Clive diam sejenak, memikirkan kata-kata sang kekasih. "Bisa jadi, tapi aku ingin kamu memastikan dugaanmu." "Tidak, Clive. Ashley adalah teman baikku. Aku tidak mungkin melakukannya," ujar Tammy, menolak. "Terserah kamu. Besok Lamborgini pesananku akan tiba di garasimu. Dan tadinya aku berniat memberikan kejutan kecil dengan cincin berlian. Tapi rupanya aku harus mengurungkan niat." Clive mengancam, halus. Ashley pun terhenyak. "Apa katamu?" "Kamu mendengarnya dengan jelas, kan?!" Ashley mencerna pikiran sejenak. "Untuk apa kamu ingin mengetahui hal itu lebih dalam?" Kedua ujung bibir Clive terangkat. "Kamu tahu kalau Arthur adalah sahabatku. Aku khawatir jika obsesi Ashley, terlalu berlebihan, dan mengancam Arthur. Apalagi sampai kapan pun Arthur tidak akan membalas perasaannya. Hanya Louise satu-satunya perempuan di hati Arthur. Jadi—" "Ya, ya ... aku sudah menangkap maksudmu," sergah Tammy. "Lalu?" Ashley menghela napas. "Baiklah, aku akan membantumu. Apa yang harus aku lakukan?" Clive tersenyum. "Terserah bagaimana caramu memastikannya. Lakukan sebisamu, dan jangan lupa aku meminta bukti kalau Ashley memang benar-benar terobsesi pada Arthur." Tammy kembali berpikir sejenak. "Kuharap kamu tidak akan menyakitinya, dan mengeluarkan Ashley dari Axton. Clive, ia adalah sahabat baikku." "Tentu saja tidak. Aku hanya akan meminta Arthur waspada. Kamu tidak perlu khawatir, Sayang." Clive merebahkan sang kekasih, kemudian mengulum bibirnya. *** Di tempat lain, Ashley tengah menyeka rambutnya dengan handuk, kemudian memandang bayangannya di cermin. Tubuhnya yang elok bak gelas bertangkai hanya tertutup kain tipis, yang mempertontonkan keindahannya. Ia tampak mengagumi dirinya sendiri. "Bagaimana menurutmu, Sayang?" Ia mengambil foto Arthur dari atas nakas. "Apakah malam ini, aku berhasil membuatmu b*******h?" Ia ke atas ranjang, lalu masuk ke dalam selimut. "Ayo, sekarang, akan kuberikan kehangatan sekali lagi," ujarnya menenggelamkan foto Arthur di balik selimut. Obsesi memang dapat mengubah seseorang yang polos, menjadi mengerikan. Namun, bukan tanpa alasan Ashley menjadi demikian. Trauma masa lalunya menyebabkan Ashley menjadi sosok yang sangat obsesif. Sayang, hal ini sebentar lagi akan menjadi bumerang yang akan membuatnya merana. Tapi ia tidak akan dapat menghindari ancaman yang tengah membidiknya. Hanya sebentar lagi, semua nestapa akan dimulai,dan membuatnya merana. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN