Jari jemari seorang laki-laki merayap lembut, seraya melepaskan gaun Ashley perlahan-lahan. Bibir pria itu menyisir pelan di tengkuk Ashley, membuai hasrat yang sedikit demi sedikit kian merasuk. Mata Ashley terpejam, merasakan darah hangat merambat naik ke wajahnya, sembari mencecap bibir laki-laki tersebut penuh gairah.
"Aku mencintaimu, Ash," bisik pria itu, setengah mendesah.
"Aku juga Ar—" Ashley membuka mata, dan tersentak manakala melihat pria di hadapannya bukan sang laki-laki idaman. "Paman ... James." Belum hilang rasa terkejutnya, sang paman terus mencumbu. Namun, Ashley berusaha berontak.
James menarik tangan Ashley dengan paksa. "Ikuti keinginanku, atau rasakan sendiri akibatnya!"
"Ja-jangan ... Paman ... hen-hentikan! HENTIKAAAAAAAN!!" Ashley menjerit, jantungnya berdebar cepat, pun matanya membulat. Selama beberapa saat ia berusaha menguasai diri. "Mimpi buruk itu lagi ...." Ia menyingkap selimut. kemudian turun dari ranjang. Sebelum menuju kamar mandi, diambilnya pigura berisi foto Arthur dari atas nakas. "Sayang, temani aku lagi berendam pagi ini," gumamnya, memeluk pigura, lantas berjalan ke kamar mandi.
Usai mengisi bak dan melucuti pakaian, ia merendam diri. Ashley mengangkat foto Arthur, dan memandangnya lamat-lamat. Senyum getir terulas di wajahnya yang cantik. "Sayang, aku tadi bermimpi buruk lagi. Laki-laki busuk itu kembali hadir ... ia tampak nya ... ta ...." Suara Ashley tercekat, air matanya mengalir, seiring bayang-bayang masa lalu yang perlahan menyeruak di dalam pikirannya ....
***
Lima belas tahun lalu, di pemakaman dekat pemukiman kumuh yang berada di Kota Bristol. Pagi itu langit begitu pekat, kilat dan suara gemuruh saling berkejaran, pun hujan deras disertai angin kencang menerjang semua yang ada di bawahnya. Tampak puluhan orang berpakaian serba hitam, baru saja meninggalkan pemakaman. Sebagian berlarian kecil mencari tempat berteduh, sementara sebagian yang lain memegang erat payung mereka. Namun, cuaca kejam tampak tak berarti bagi tiga orang di depan batu nisan. Mereka berdiri, sambil memandang nanar batu bertuliskan 'Thomas Hampton'. Dua di antara mereka menunjukkan ekspresi serupa: Lengkung mata, dan gerak bibir yang menurun. Sedangkan seorang yang lain berekspresi datar, seolah gundukan tanah di hadapannya tak meninggalkan perih di hatinya.
"Ashley ...,"—laki-laki berambut perak dan tipis, mengusap pipi gadis berusia dua belas tahun di hadapannya—"ayahmu pasti tidak ingin melihatmu seperti ini. Pulanglah bersama Paman dan bibi, Nak. Sekarang hanya kami keluargamu satu-satunya."
Ashley membisu, wajahnya basah antara hujan dan tangis yang bercampur. Kalau bukan karena mata sembab, dan bibir bawahnya yang bergetar, tidak bisa dilihat rintihan hatinya kala itu.
Laki-laki berambut putih kembali berkata, "Ashley, ayahmu tidak bisa tenang melihatmu dari atas sana. Pulanglah bersama kami, Nak."
Ashley masih tak bergeming, sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Iya, Paman James," ucapnya, nyaris tak terdengar.
Sejak hari itu Ashley tinggal bersama Paman James, dan Bibi Barbara. Kehidupan Ashley jauh dari bahagia. Setiap hari Bibi Barbara selalu memperlakukannya dengan buruk. Caci maki, dan berbagai pekerjaan rumah yang berat, menjadi hal yang biasa di keseharian Ashley. Perlakuan buruk Bibi Barbara selalu ditutupi dari Paman James yang setiap hari sibuk berdagang. Beruntung, sang paman masih membiayainya sekolah. Namun, ternyata sang paman tak lebih baik dari istrinya. Bahkan lebih buruk ketimbang binatang ....
Saat itu Ashley sudah berusia dua puluh tahun, dan baru saja pulang larut dari berkuliah. Tidak seperti biasa, tatkala baru sampai rumah, ia melihat pecahan-pecahan keramik, bangku, dan meja yang terbalik. Ia tidak melihat Bibi Barbara berada di sana, kecuali Paman James yang nduduk di lantai sambil menunduk.
"Paman, apa yang terjadi?" tanya Ashley, menghampiri pamannya. Ashley terhenyak melihat, jemari sang paman lebam, dan berdarah. "Paman ...."
Alih-alih menjawab, Paman James justru berlalu masuk ke dalam kamar, dan mengunci pintu. Ashley tak dapat menduga kejadian yang dialami pamannya. Namun, satu hal yang ia yakini, terjadi pertengkaran hebat antara sepasang suami istri tersebut.
Dugaannya semakin terbukti, manakala tiga hari kemudian, Bibi Barbara tak lagi terlihat di sana. Entah apa penyebab pertengkaran di antara mereka, Ashley sama sekali tidak dapat menerka. Namun, jawaban itu ia dapati satu minggu kemudian, tatkala tanpa sengaja ia melihat ponsel pamannya yang tergeletak di atas meja makan. Video yang masih menyala pada ponsel tersebut, memantik keingintahuan Ashley yang segera mencuri lihat diam-diam.
"Oh, Tuhan!" Ashley memekik tertahan, melihat dirinya yang tanpa busana di kamar mandi, berada dalam video tersebut. Belum hilang keterkejutan Ashley, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.
"Sial! Makan apa aku sampai perutku seperti ter—" Kata-kata Paman James terhenti, ketika melihat Ashley berada di sana dan memegang ponselnya.
"Pa-Paman ...." Ashley menyurutkan langkah menuju pintu keluar, tetapi sebelum sampai di ambang pintu, Paman James berlari dan mendorongnya hingga tersungkur.
"Mau ke mana kamu?" Paman James mengunci pintu. "Ah, kalau saja kamu tidak melihat video itu, mungkin aku tetap akan menahan hasratku," ujarnya, melepaskan ikat pinggang. "Tapi semuanya sudah terlanjur. Kenapa tidak sekalian saja kulepaskan rasa penasaranku yang membuat bibimu mengamuk?!"
"Ja-jangan ... kumohon ...." Ashley berusaha menyeret badan ke belakang, ketika Paman James sudah tak lagi mengenakan celana.
Paman James menyeringai, tak peduli gadis di hadapannya begitu ketakutan. Hasrat kotor telah membutakan nurani, dan mendorongnya untuk membekap mulut Ashley dengan pakaian. Perbuatan berikutnya sudah dapat diterka. Ashley tak kuasa berkelit dari kebiadaban laki-laki tua yang merupakan adik kandung sang ayah. Setiap cumbuan laki-laki itu, menorehkan noktah hitam di hati Ashley. Itulah kali pertama, dan bukan yang terakhir. Puluhan, bahkan mungkin ratusan kali Paman James melakukan perbuatan kotor itu. Berkali-kali Ashley berniat pergi diam-diam dari rumah, tetapi ketakutan akan hidup sendiri, membelenggu keinginannya. Sampai akhirnya, perlakuan Paman James semakin membuatnya sakit. Ia tak peduli tubuh Ashley lebam-lebam didera cambuk, asalkan hasratnya tersalurkan. Saat itulah tekad Ashley sudah bulat, dan pergi ke London dengan berbekal ijazah, lima pasang pakaian, dan beberapa lembar uang.
Ketika pertama kali berada di London, nasibnya hanya sedikit membaik. Ia diterima bekerja di sebuah kafe, dengan syarat membarternya dengan melayani nafsu sang Manajer. Namun, semua tak sia-sia, karena di situlah ia bertemu seorang pelanggan kafe yang diam-diam tertarik melihat keuletannya bekerja. Pelanggan itu hampir setiap jam makan siang selalu ke kafe bersama perempuan pucat berambut pirang. Hingga suatu hari, sang pelanggan datang sendiri ke sana ....
"Sir, apa ada lagi yang ingin dipesan?" tanya Ashley ramah.
Laki-laki itu tak menjawab beberapa saat, sembari menatap Ashley. "Tidak."
"Baik, kalau begitu silakan dinik—"
"Duduklah. Ada yang ingin kubicarakan," sergah laki-laki berambut hitam, dan berwajah tampan tersebut.
Ashley mengerling Manajer-nya yang memandangnya dari jauh.
Melihat keraguan di wajah Ashley, laki-laki itu tersenyum. "Tidak perlu khawatir, Graham Smith adalah sahabatku," ujarnya, menyebut nama pemilik kafe.
Penjelasan laki-laki tersebut mengulas ingatan Ashley, ketika pernah melihatnya berbincang dengan pemilik kafe, di bangku yang berada di pojok ruangan. Ia pun mengangguk, lalu duduk canggung di hadapan pelangan tersebut.
Laki-laki itu mengerling tulisan yang tercetak di atas kantung baju Ashley. "Ashley Hampton, sudah berapa lama kamu bekerja di sini?"
"Ha-hampir enam bulan," jawabnya gugup.
"Benarkah kamu lulusan Jurusan Sekretaris di Universitas Bristol?"
Ashley tersentak. "Bagaimana Anda bisa tahu, Sir?"
"Siapa lagi kalau bukan dari Graham?!" Pria itu kembali tersenyum. "Well, dengan ijazahmu itu kenapa kamu tetap bekerja sebagai pelayan kafe? Bukankah itu sia-sia?!"
"Belum ada yang mau menerima saya bekerja selain di sini. Lagipula semua yang bekerja di sini sangat baik, dan sudah seperti keluarga."
"Termasuk Rick, Manajer Mata Keranjang-mu itu?"
Ucapan pria tersebut kembali mengejutkan Ashley. Ia membeku sesaat, sebelum menundukkan kepala. "Ia sangat baik pada semua karyawan," ucapnya lirih.
"Ya ... ya ... terutama pada karyawan secantik kamu," sahut laki-laki itu. "Dengar. Semua orang tahu seperti apa Rick Johnson, termasuk Graham Smith. Kelakuannya pada perempuan memang memuakkan, tapi ia adalah Manajer terbaik yang pernah bekerja pada Graham. Jadi, Graham menutup mata akan kelakuan negatif Rick." Ia berhenti sejenak, seraya menghela napas. "Aku akan langsung ke intinya. Aku menawarimu bekerja di Axton Group sebagai Sekretaris-ku. Semenjak istriku berhenti bekerja, aku kerepotan mengurusi dokumen-dokumen seorang diri. Memang, bisa saja aku membuka lowongan, tapi aku tertarik melihat keuletanmu, sekaligus ...."
Meskipun tak meneruskan kalimat, tetapi Ashley tahu kalau pria di hadapannya ingin menolongnya. Namun, ia menganggap semua laki-laki sama: menolong karena ingin memanfaatkan tubuhnya. Toh, bertahan di kafe pun sama saja. Paling tidak, jika bekerja di Axton, ia mendapat upah yang jauh lebih besar ketimbang sebagai pelayan kafe. Namun, ternyata dugaan Ashley salah. Setelah bekerja di Axton, tak sekalipun laki-laki bernama Arthur tersebut mengajaknya bercinta. Bahkan ia memperlakukannya secara bermartabat sebagai seorang perempuan dan bawahan. Perlahan-lahan sikap Arthur menumbuhkan perasaan cinta yang kuat di hatinya. Sayang, di saat bersamaan ia terlanjur mencandu sentuhan laki-laki. Dua perasaan tersebut membaur dan berkecamuk di dalam dirinya. Sehingga, tanpa ia sadari kedua perasaan tersebut bermanifestasi menjadi satu rasa pada Arthur: fiksasi[1].
***
Keterangan:
[1]Fiksasi: Sinonim kata 'Obsesi'