5

1333 Kata
Darah hangat mengalir lembut, kala jari jemari berselancar di paras cantik Kimberly Wyanet Scott. Embusan napas tak beraturan, mengiringi jantungnya yang berdegup kencang. Hasratnya merayap, tetapi tergelincir oleh ketakutan yang menyeruak tiba-tiba. Air mata pun menggenang, lalu digigitlah bibirnya sendiri, seraya menutup mata rapat-rapat. Sekonyong-konyong jemari itu berhenti, urung melanjutkan tariannya. "Tidak perlu kita teruskan." Suara Arthur bertiup sejuk di telinga Kimberly Wyanet Scott. Gadis Staffin itu mengerjap. Dilihatnya Arthur mengulas senyum. Merah di wajah Arthur kini memudar—menunjukkan pengaruh alkohol telah surut. "Maaf, aku akan berusaha lebih baik," ucap Kimberly, khawatir mengacaukan pekerjaannya. Lengkung mata Arthur sedikit turun, serupa gerak bibirnya. "Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Arthur Phillip Axton, pemimpin tertinggi Axton Group. Kimberly memalingkan wajah, sementara itu mulutnya terkunci rapat. Matanya kembali digenangi air mata. Bibir bawahnya bergetar, menahan kesedihan yang merambat di kerongkongannya. Perasaan sedih yang menyelimuti gadis itu, menggetarkan hati pemimpin Axton Group tersebut. Namun ia sadar, gadis di hadapannya tidak mungkin mencurahkan isi hati pada laki-laki yang hampir memanfaatkan tubuhnya. Tanpa berkata-kata, Arthur meraih kemejanya di ranjang, tetapi tiba-tiba terdengar suara lirih yang menahannya beranjak dari sana. "Aku berasal dari Staffin." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Kimberly Wyanet Scott. Kendati baru mengenal Arthur, entah mengapa ada dorongan kuat untuk menumpahkan perasaan. Suatu hal yang tak mungkin dilakukannya pada orang lain yang baru dikenal. Sungguh sikap pria itulah yang menggetarkan hatinya. Mungkin hatinya tak sanggup lagi terbebani, ataukah disebabkan ketulusan yang ditunjukkan laki-laki asing itu. Arthur menoleh, menatap Kimberly lekat-lekat. Saat itu telinganya tersedia untuk curahan hati perempuan cantik di dekatnya. Kimberly pun menuturkan cerita, sambil menahan perih kala memori-memorinya melintas. Kisah yang terangkai ratusan kata, berakhir dengan isak tangis yang menyekat kerongkongannya. Arthur menghela napas. "Biasanya Ronald bercerita kalau ada pelamar yang diterima olehnya." Ia meletakkan kartu nama di depan Kimberly. "Datanglah lagi besok, dan temui aku di ruangan." Kimberly mengambil kartu nama itu. Matanya membesar, pupilnya pun menyapu tulisan pada kartu di tangannya. "Sir. apakah ini benar?" tanya Kimberly, tak percaya. Perry tidak menceritakan pada Kimberly, latar belakang klien yang akan dilayaninya malam itu. Jika Arthur tidak mengundangnya wawancara, mungkin ia tidak pernah tahu kalau Arthur adalah pemimpin Axton Group. Arthur berdiri, seraya mengenakan kemeja. "Kutunggu jam 8 pagi." Meskipun masih harus menjalani wawancara, namun sudah cukup mengeliminasi kesedihan Kimberly. "Saya akan datang," ucap Kimberly, menguntai senyum. Usai mengenakan pakaian, Arthur berjalan menuju pintu. "Sir." Arthur berhenti, lalu menoleh. "Terima kasih," kata Kimberly. Pemimpin Axton Group tersebut tersenyum tipis, lantas ke luar dari dalam kamar. *** Selarik cahaya matahari pagi, masuk melalui jendela unit apartemen, menyinari bagian dalamnya yang resik dan rapi. Perabotan-perabotan minimalis hitam-putih, berpadu serasi di dalam ruangan. Pada salah satu dinding, menggantung belasan foto seorang pria dalam bingkai-bingkai yang berukiran 'You are mine.'. Jelas bahwa pria tersebut sangat berarti bagi si penghuni. Pria itu memang telah lama mengisi relung, meskipun perasaannya belum bersambut. Oleh sebab itu, ia selalu memoles diri secantik mungkin, sekadar ingin menarik perhatian sang pria pujaan. Seperti saat ini, ketika ia duduk menghadap meja rias. Sambil menatap bayangannya di cermin, ia menyisir rambut brunette yang dibiarkan tergerai. Pupil matanya bergerak ke bagian lain. "Oke, kurasa harus merapikan sedikit," gumam perempuan itu, seraya berdiri dan merapikan blus merah marun yang membungkus tubuhnya. Perempuan tersebut mengambil ponselnya yang berbunyi, lalu membaca pesan singkat yang baru masuk. 'Ashley, Mr. Handsome mencarimu. Cepat ke kantor.', begitulah isi pesan tersebut. Ia tersenyum, seraya menyimpan ponsel di dalam tas, kemudian mengambil foto dari atas meja rias. "Well, aku segera bertemu denganmu, Sayang." Ashley mengecup foto Arthur, lantas berjalan ke luar unitnya. Kecantikan Ashley memang memikat banyak laki-laki. Di sepanjang jalan, ia selalu menyita perhatian mereka. Demikian pula ketika tiba di Axton Tower. Seluruh mata pria tertuju padanya saat menyusuri jalan di antara sekat-sekat. Ketika sampai di meja kerja, ia pun meletakkan tasnya. "Ada apa Mr. Axton mencariku?" "Kamu akan tahu sendiri, setelah di ruangannya. Tetapi kalau aku jadi kamu, akan kubiarkan seperti ini." Tammy membuka dua kancing atas Ashley. "Jangan sampai kamu kalah bersaing." "Maksudmu?" "Sudahlah, cepat ke sana. Kalau kamu semakin terlambat, bisa-bisa Mr. Handsome marah padamu." Walaupun masih bingung, Ashley pun menurut. Namun, tatkala sudah berada di depan pintu, ia berhenti untuk mengaitkan kedua kancingnya, lalu masuk ke dalam ruangan. Di dalam, dilihatnya tiga orang tengah berada di sana. Dua di antaranya adalah Arthur dan Ronald, sementara seorang lagi ialah gadis yang kemarin datang untuk wawancara—Kimberly. Kehadiran Kimberly membuatnya bertanya-tanya. Kata-kata Tammy kemarin, menyeruak di benaknya. Kekhawatiran pun merayap. Apalagi Kimberly tampil lebih cantik dibandingkan kemarin. Ia melirik Kimberly beberapa saat, sampai suara bariton membuatnya terhenyak. "Ash, kenalkan ini Staf Keuangan kita yang baru." Ashley tersenyum tipis, sembari menjabat tangan Kimberly. "Ashley. Kimberly, kan?! Aku masih ingat denganmu." Kimberly membalas tersenyum, seraya mengangguk kecil. "Ah, jadi kalian sudah bertemu?! Apakah kamu yang mengatakan lowongan Staf Keuangan sudah ditutup?" tanya Arthur, tajam. Ashley menjadi salah tingkah. Meskipun bukan dia yang mengatakannya, tetapi ia tak ingin Tammy berada dalam masalah. "Ma-maaf, Sir. Saya dan Tammy tidak tahu mengenai hal itu, jadi—" "Sudahlah. Sekarang antarkan Kimberly ke mejanya, dan tunjukkan ruangan-ruangan lain," tukas Arthur. "Baik." Ashley menoleh pada Kimberly. "Ayo." Setelah mereka ke luar, Ronald berkata, "Untung saja kita mendapatkan Staf Keuangan baru di saat proyek Glouchester akan dimulai. Oh iya, apakah nanti jadi rapat, Sir.?" "Nanti sore. Tetapi mendadak Clive tidak dapat hadir, karena harus menyelesaikan beberapa detail kontrak di Kantor Kementrian." "Sayang sekali." "Well, mau bagaimana lagi?! Seharusnya bisa selesai tadi pagi, namun ternyata masih banyak yang harus dibahas di sana," terang Arthur. "Mengapa bukan Anda?" "Aku percaya pada Clive. Lagipula hanya membahas detail kontrak sesuai arahanku. Setelah itu tetap aku yang akan menandatanganinya." "Ah, begitu. Baiklah, kalau begitu saya kembali ke ruangan." Ronald berpamitan, lantas kembali ke ruangannya. Arthur menghela napas panjang. "Glouchester," gumamnya, terlihat antusias. Untung saja, Louise tidak mempersoalkan ketidakhadirannya untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Arthur berbohong dengan menggunakan rapat Glouchester sebagai alasan. Apalagi, Louise juga sangat berharap pada proyek baru tersebut. Kalau Louise mempermasalahkan kekhilafan Arthur, tentu hatinya tak akan secerah sekarang. Proyek Glouchester telah digenggam, kini tinggal mengerjakannya dengan maksimal. Tahap pertama pelaksanaan proyek tersebut, menjadi pembahasan dalam Rapat Dewan Direksi. Sesudah rapat selesai, Arthur menyetir mobil menuju ke rumah. "Maaf, aku pulang terlambat lagi ... iya, memang aku mengizinkan James untuk mengambil cuti—well, istrinya harus menjalani operasi, jadi untuk sementara aku harus menyetir mobil sendiri ... jangan khawatir, nanti hujan akan reda ... oke, sampai nanti, Sayang." Arthur meletakkan ponselnya, lalu kembali mengalihkan pandangan ke jalan. Tatkala melintasi Silk Road, ia melihat Kimberly berada di pinggir jalan dalam keadaan basah kuyup. Arthur tak sampai hati melihat keadaan Kimberly, kemudian menepikan kendaraannya. "Kim," panggil Arthur dari jendela mobil yang terbuka. Kimberly terkejut, tak menyangka Arthur berada di sana. "Si-sir ..." sapanya gugup. "Ayo masuk." "Ta-tapi—" "Sudah masuk saja." Kimberly masuk ke dalam mobil, dengan perasaan tidak enak hati. Tak lama kemudian Aston Martin hitam itu melaju. Tanpa mereka ketahui, Ashley tidak sengaja melihat kejadian itu. Hatinya tersulut cemburu. Louise tidak pernah membakar hatinya seperti ini—karena jarang melihat mereka bersama. Dengan perasaan yang masih terluka, ia kembali berjalan menyusuri Silk Road, hingga masuk ke sebuah tempat. Seorang pria bongsor menyambutnya, "Hai, Ash. Maaf, pesananmu terlambat diselesaikan." "Well, hampir saja aku bosan menunggunya." "Maaf ... maaf. Tapi kamu tidak akan kecewa melihat hasilnya," tukas pria tersebut, menumpuk 5 pigura berukiran 'You are mine.' di atas meja. Ashley menyelisik satu demi satu pigura berwarna hitam-putih tersebut. "Kumaafkan keterlambatanmu, karena hasil yang sempurna," ujar Ashley tersenyum, seraya menyerahkan beberapa lembar Poundsterling. "Dari dulu aku penasaran, untuk apa kamu selalu memesan ukiran yang sama?" tanya pria tersebut. Sudut bibir Ashley terangkat. "Untuk koleksi foto dari handphone-ku." Ashley memasukkannya ke dalam tas kain. "Foto yang sangat spesial." "Ah, pacarmu?" "Belum. Tetapi akan suatu saat nanti." Ashley menjinjing tas, ke luar dari sana. Ashley Hampton memang sangat mencintai Arthur. Namun tidak ada yang tahu kalau cintanya berubah menjadi sebuah obsesi. Bagi Ashley, Arthur adalah metronom kehidupan, yang mencandu di dalam hati dan pikirannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN