61

1751 Kata
Perasaan Arthur masih campur aduk mengingat jalannya sidang kemarin. Dia berusaha mempercayai upaya yang dilakukan team lawyernya. Tapi hati kecilnya seperti melihat mereka tidak melakukannya dengan benar. Arthur kesal sampai keubun-ubun ketika sidang sedang berlangsung. Hanya saja pikirannya seperti menampik rasa was-was bahwa team lawyernya melakukan hal sebaliknya. Arthur berencana kerumah ibunya lagi hari ini, karena dia masih penasaran dengan cerita ayahnya. Arthur berusaha bangkit sekuat tenaga dari tempat tidur yang seolah-olah mengelem tubuhnya. Dia hanya ingin berada didalam selimut seharian ini. Ingin menenggelamkan segala keresahan. Enggan untuk bangun menghadapi hari esok. Persidangan yang harus dia lewati masih panjang. Arthur bahkan tidak sanggup untuk mengingat harus berapa kali lagi dia harus masuk keruangan itu. “Damn!!!” Arthur menggerutu “Harusnya dari awal aku dan ibu lari saja ke luar negeri!” Arthur kembali menggerutu. “Damn!!! Damn!!! Bahkan setelah tidur semalaman pun, aku masih belum bisa melupakan sidang sialan itu” gumam Arthur semakin emosi. Arthur duduk ditepi tempat tidur dan melempar selimutnya ke lantai dengan kasar. Sambil masih menggerutu, Arthur berjalan kekamar mandi untuk bersiap-siap kerumah ibunya. Sesampai dirumah ibunya, Arthur langsung mencari ibunya dikamar. Tapi dia tidak menemukannya. Akhirnya Arthur keruang kerja ibunya, sambil disusuli oleh salah satu pembantu ibunya yang berlari lari mengikuti langkah Arthur, “Tuan Arthur Nyonya sedang ada tamu tuan” kata perempuan yang bernama Juanita tersebut “Siapa tamunya Juan?” Tanya Arthur penasaran “Sekretaris barunya tuan” jawan Juanita “Hooo dia punya sekretaris baru lagi? Yang kemarin kemana?” Tanya Arthur “Yang kemarin mengundurkan diri tuan” jawab Juanita dengan nafas tersengal-sengal. Wajar saja dia kewalahan mengikuti langkah Arthur. Arthur seorang pria dengan tinggi badan 190cm, sedangkan Juanita wanita mungil dengan tinggi badan 150 cm. Panjang satu langkah kaki Arthur 2x langkah kaki Juanita. Arthur berhenti untuk menanyai Juanita, tap dia berhenti terlalu mendadak, sehingga Juanita menabrak Arthur dari belakang. GUBRAKKK Juanita terjengkang kebelakang. “Hei Juan… are you okay? Kenapa kau menabrakku?” Tanya Arthur bingung “Maafkan saya tuan, saya tidak sengaja… apakah tuan terluka?” Tanya Juanita ketakutan “No… no… aku baik-baik saja. Kamulah yang terluka. Kepalamu tidak apa-apa Juan? kelihatannya kepalamu menghantam lantai cukup keras” Tanya Arthur lagi. “Saya baik-baik saja tuan.” Jawab Juanita sambil mengelus kepala belakangnya. “Kalau nanti kamu muntah-muntah, segeralah ke dokter ya. Aku takut kamu geger otak” kata Arthur “Baik Tuan. Tapi tolong tunggu saja di raung tamu. nanti nyonya akan saya kebari mengenai kedatangan anda “ Juanita tetap berkeras “Nope Juan.. kemballah ke dapur. Tenang saja, aku akan bilang ke ibu, bahwa kamu sudah melarangku. “ Arthur mengedipkan sebelah mata kepada Juanita. Juanita berdiri sambil memegang kepalanya. “Baiklah kalau begitu tuan, saya pamit dulu” Juanita mengundurkan tubuhnya dengan sopan Arthur kembali menyusuri selasar panjang kearah ruang kerja ibunya. Tanpa mengetuk pintu, dia langsung menerobos masuk kedalam. “Mom…. Apakah aku harus selalu menggunakan protocol ketika mau bertemu denganmu??” Tanya Arthur dengan kesal “Oh.. hai big boy….kapan kamu datang?” “Aku sudah sampai dari tadi, tapi semua pembantumu menghalangi aku untuk masuk keruangan ini” kata Arthur masih dengan nada kesal “Ah Arthur…. Mereka kan hanya tidak mau aku marahi, makanya bertindak seperti itu. Sudahlah….. toh kamu sudah disini… “ jawab ibunya cuek “Yeah Mom…tapi setiap aku datang, aku diperlakukan seperti pencuri” Arthur merengek “Ahahaha… Arthur…. Mereka hanya tidak tau menempatkan peraturan yg aku berikan… jadi mereka memperlakukan semua yang datang kesini seperti itu… “ ibu menjawab dengan nada geli “Ohya… perkenalkan ini sekretaridku yang baru… namanya Amber. Dia sudah berjanji untuk tidak akan mengundurkan diri selama-lamanya… is it right Amber?” sambung ibunya lagi dengan nada licik “Yes Ma’am” jawab Amber sambil tersenyum tulus Arthur agak kaget, dia baru menyadari bahwa di ruangan itu ada satu orang lagi selain mereka berdua “Amber this is my baby boy Arthur. He’s a real man. But I like to call him baby. Because he always a baby for me” ibu Arthur mengenalkan Arthur kepada Amber “Selamat siang Sir, nama saya Amber. Mulai hari ini saya bekerja membantu nyonya untuk meringankan pekerjaannya. Mohon bimbingan anda Sir Arthur” Amber memperkenalkan diri kepada Arthur Arthur melihat Amber sekilas. Dia adalah wanita yang cantik dan elegan. Kelihatannya dia juga pintar. Semoga saja mom tidak terlalu menyulitkan dia dlm pekerjaan, agar dia tidak mengundurkan diri juga. Pikir Arthur “Hai Amber nice to meet you” kata Arthur “Nice to meet you Sir Arthur” jawab Amber sopan “heeiii,, please stop call me sir. Just Arthur, okay?” Arthur berkata gemes “Allrite Arthur” jawab amber sambil tersenyum ramah “So… what is going on??? Ada apa lagi kamu pagi-pagi kesini.. sungguh aneh” Ibu Arthur menyela perkenalan mereka. Amber sudah duduk kembali didepan laptopnya di meja yang berada di pojokan rruangan. Sedangkan Arthur dan ibunya duduk berhadapan di sofa. “Mom… kemarin aku baru saja melangsungkan sidang yang pertama… dakwaan dari jaksa sangat banyak. Aku kesal sekali terhadap mr Gilbert. Dia dan team hanya duduk saja, tidak membantah sedikitpun. Apakah ibu sudah memastikan kredibilitas mereka yang sebenarnya??? Aku memilih mereka kan atas saran dari ibu” Arthur menyerocos. “and what they did yesterday?” Tanya ibu “Mereka hanya duduk diam” jawab Arthur kesal “hei come on… itu sidang pertama. Sidang pertama adalah pembacaan dakwaan. Tidak ada satu orang oun boleh membantah atau berbuat sesuau disidang pembacaan dakwaan.” Jawab ibu santai “Tapi mom, hal itu berbeda dengan yang mereka sampaikan kepadaku sehari seblum sidang” Arthur masih ngotot “Mungkin yang mereka sampaikan adalah rencana jangka panjang. kamu yang tidak menyimak mungkin Arthur. Lagipula, aku hanya mengenalkan kepadamu beberapa pengacara, kau sendiri yang memilih mereka.” Jawab ibu lagi Amber menyimak pembicaraan mereka. Walaupun matanya ke layar computer, tapi kuping dan otaknya mendengar kan pembicaraan ibu dan anak itu dengan serius “mom, aku bukan orang yang baru sekali ini ikut sidang…” Arthur belum selessai berbicara, ibunya memotong “yes Aku tau kamu professional Arthur. Tapi itu barusidang pertama dan agenda sidang pertma adalah pembacaan dakwaan. Aku sangat yakin itu. Apakah kamu pernah mendengarnya Amber?” Tanya ibu Arthur tiba-tiba kepada Amber “My apologies Ma’am… saya tidak menymak pembicaraan anda, ada yang bisa sayan bantu? “ Tanya Amber berpura-pura tidak tahu “yes please Amber, jelaskan kepadaku, apakah benar sidang pertama adalah pambacaan dakwaan? Dan tidak ada yang bolej menyela arau membantah?” Tanya Arthur juga kepada Amber Amber tersenyum kepada keduanya. “Baiklah nyonya dan tuan, saya bukan seorang professional dan berpengalaman dalam hal sidang dan dakwaan. Tapi saya pernah beberapakali menghadiri sidang, dan di sidang pertama memang benar adalah pembacaan dakwaan. Dan sebagian hakim tidak memperkenan kan untuk pengacara ataupun tersangka membela diri. Tapi ada juga sebahagian hakim yang lain yang memperkenankan tersangka dan team kuasa hukumnya untuk berbicara beberapa patah kata dan boleh melakukan persiapan pembelaan diri disidang berikutnya” “You see??” Arthur tertawa penuh kemenangan “Please Amber… kamu berpihak kepada siapa sebenarnya? Siapa yang menggajimu? “ Tanya ibu Arthur dengan nada bercanda sekaligus menyindir “I’m sorry Ma’am.. aku tidak berada di pihak manapun.. aku PBB” jawab Amber benar-benar bercanda “Ah, aku salah memilih sekretaris sepertinya…” Ibu Arthur tertawa terkekeh. Walaupun ini hari pertama Amber bekerja disini, tapi Amber pintar mencuri hati Ibu Arthur. Ibu Arthur sudah menganggapnya tangan kanan. Karena memang Amber mampu memposisikan diri sebagai orang yang dapat dipercaya. “Mom… tapi apakah ibu benar-benar tau kredibilitas Mr Gilbert? Aku sangant kuatir melihat dia di sidang tadi.” Arthur masih kekeuh dengan pendiriannya “Arthur, aku sudah memberikan beberapa Alternatif team kuasa hokum terbaik yang ada di London untuk mendampingimu. Dan Mr Gilbert is one of them. Kamu udah melihat sendiri berapa puluh kasus yang sudah dia dan teamnya menangkan.kamu tidak perlu meragukan itu Arthur” jawab ibunya juga bersikeras “Aku ragu-ragu karena melihat dia tidak ada sedikitpun merasa keberatan padahal dia seharusnya membelaku” Arthur masih ngotot “Ah Arthur… sudahlah besok-besok ajaklah Amber untuk menemanimu sidang. Agar Amber juga bisa menilai kamu apakah dia kuasa hokum yang tepat untukmu atau tidak” kata ibunya mengabaikan Arthur “apakah kamu keberatan Amber menemani Arthur sidang suatu hari nantia?” sambung ibu Arthur lagi “baik Ma’am… as you wish… nanti kabarkan kepadaku saja Arthur jika anda ada panggilan sidang selanjutnya” jawab Amber “Well, Im fine with that… dont worry Amber.. I can make it by my self” jawab Arthur menolak secara halus “Hey Boy,, Amber sudah berbaik hati, jangan ditolak lagi… pergilah lain waktu bersamanya… Amber wanita yang Cerdas. Dia pasti bisa memberikan saran yang baik untukmu..” ibunya terus memaksa Amber merasa ini kesempatan yang baik untuknya mendalami kasus ini. “Its Okay Ma’am, jika Arthur merasa tidak nyaman bersamaku, tidak apa-apa tidak usah memaksanya”amber menimpali sambil tersenyum bijaksana “heiii miss… aku tidak merasa tidak nyaman denganmu… baiklah kalau kalian berdua memaksa… aku bisa apa? Amber apa kau tidak takut ke persidangan?” jawab Arthur pasrah “Aku tadi sudah bilang kan, bahwa aku pernah menghadiri beberapa sidang? Itu hal biasa bagiku. Mantan-mantan atasanku juga kadang-kadang punya masalah hokum. Dan sebagai sekretarisnya aku harus iiku menghadiri persidangan untuk mengupdate hasilnya. Dan ikut meeting Bersama team kuasa hukumnya untuk mengambil langkah-langkah selannjutnya.” Amber menjawab dengan penuh percaya diri “Lihat kan Arthur… pilihanku tdak salah kaan?” Ibu masih menggoda Arthur “Baiklah. Aku punya team bari sekarang. Amber welcome to my life” Arthur menjawab dengan berpura-pura antusias. Dia tetap merasa tidak puas dengan team Kuasa hukumnya yaitu Mr Gilbert. Tapi semua omongannya dipatahkan oleh ibunya. Sebagai anak yang penurut Arthur biasanya tidak mau membantah ibunya. Makanya dia mengiyakan saja kemauan ibunya. Dia pikir setidaknya dia punya partner untuk memikirkan langkah kedepannya akan berjalan seperti apa kasus ini. Setidaknya ada teman untuk dia berdiskusi mengenai hal ini. Karena ibunya sudah terlalu tua dan sudah tidak tanggap diajak berdiskusi tentang ini. Sedangkan karyawannya hanya iya dan manut-manut saja dengan semua keputusannya. Tidak ada satupun yang memberi pandangan. Arthur merasa seperti menghadapi ini seorang diri. =========Bersambung========
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN