60

1676 Kata
Pertemuan Arthur dan ibunya terganggu oleh para tamu. Sang ibu merupakan sosialita kelas atas. Di mana perkumpulan mereka beranggotakan para nyonya-nyonya bangsawan Inggris. Pertemuan tersebut dilakukan setiap bulan, sebagai ketua perkumpulan, maka rumah ibu Arthur dijadikan base perkumpulan mereka. Ibu Arthur senang menjamu mereka, walaupun biaya yang dikeluarkan untuk itu tidak sedikit. Selain berkumpul dirumah, mereka juga kerap berkump di restoran-restoran mewah, hotel-hotel mewah dan setiap 2x dalam setahun mereka pergi berlibur ke luar negeri. Arthur selalu mengalah jika menyangkut urusan para ibu-ibu bangsawan ini. Bukan apa-apa, keberadaan mereka bersama ibunya sering juga melancarkan bisnisnya Arthur. Makanya ketika para tamu kehormatan ini sudah mulai gaduh karena ditinggal ibunya untuk berbicara dengannya, maka Arthur pamit pulang dan menyapa para wanita sosialita tersebut dengan sopan. Walaupun beribu tanya masih ada di kepala Arthur. Arthur kembali ke rumahnya, dalam perjalanan pulang dia sempatkan mampir ke kantor Mr. Gilbert untuk menanyakan update perihal pembicaraan mereka di telpon tadi. Mr Gilbert tergopoh-gopoh menghampiri Arthur. Dan menunjukkan secara singkat data-data yang akan dibawanya besok. Karyawan Mr Gilbert juga memberikan solusi dan langkah-langkah apa yang harus Arthur dan team lawyernya lakukan besok. Merasa agak tenang mendengar penjelasan para team lawyer, Arthur pamit pulang kerumah untuk beristirahat dan mempersiapkan hati untul menghadapi esok hari. *** Sesuai saran Alan, Amber mencoba melamar kepada ibu Arthur. Dia bertanya-tanya pada kenalannya apakah ada info mengenai lowongan di rumah Ibu Arthur. Dia mencoba menemui Larry, kenalannya yang bekerja sebagai asisten pribadi kepada salah satu keluarga bangsawan di Inggris. Mereka berjanji bertemu di sebuah cafe di London. Amber sudah sampai lebih dahulu. Sambil menunggu Larry, dia memesan teh camomile panas. Tidak lama Larry datang dengan buru-buru. Larry tidak pernah santai. Kerjaannya sangat sibuk. Karena harus mengurusi jadwal sang nyonya bangsawan yang selalu jalan-jalan dan bersosialita dengan teman-temannya, "Hai Amber.. Its good to see you" sapa Larry "Hallo Larry.. Ini sebuah kehormatan bagiku kau menyempatkan diri menemuiku ditengah jadwal padat merayapmu.." sahut Amber sambil menyalami Larry "Nevermind Amber.. Saat ini bos ku sedang berada di cafe seberang, makanya aku memintamu untuk bertemu disini. Jadi kita bisa mengobrol. Jadi.. Ada hal apa kira2 Amber. Sudah lama kita tidak bertemu" jawab Larry sambil tersenyum "Larry.. Aku punya kasus penting menyangkut salah satu teman bosmu.. Dan aku butuh bantuanmu" kata Amber "Well.. Aku pasti akan membantumu Amber jika aku tau informasinya" jawab Larry "Larry, aku harus mendekati ibu Arthur. Ketua perkumpulan sosialita bosmu. Apakah kamu punya info lowongan pekerjaan apa yang ada dirumah itu??" tanya Amber "I see Amber. Kamu tau tidak? Rumah itu selalu butuh sekretaris baru. Semua sekretaris yang pernah bekerja disitu hanya bertahan 1 atau 2 minggu. Bisa bertahan 1 bulan merupakan rekor. " Larry berkata sambil tertawa "Really?? Ohh thanks God.. " Amber menghela napas lega "Yes.. Ibu Arthur adalah wanita tua yang sangat cerewet. Hampir semua karyawan yang bekerja didekat dia tidak betah. Terutama sekretarisnya.. Kau tahu, sekretaris adalah orang terdekat dengannya. Kadang-kadang dia menyuruh sekretarisnya untuk menginap. Dan kau tahu apa yang dilakukan ketika si sekretaris menginap? Mimpi buruk Amber.. Hahaha" Larry tertawa terbahak-bahak sambil bercerita "Tapi itu posisi yang cocok untukmu Amber. Karena dia akan menerima siapapun yang melamar menjadi sekretarisnya. " lanjut Larry lagi. "Oke baiklah Larry. Dan kemana aku harus membawa surat lamarannku? Bagaimana aku bisa masuk ke dalam istana itu?" tanya Amber "Lucky you, karena posisi itu sangat langka yang berminat. Dia selalu membuka gerbang 2 diistananya untuk pelamar pekerjaan. Kau boleh mencoba ke gerbang 2. Langsung bawa surat lamaranmu dan bersiap lah disuruh kerja hari itu juga.." jawab Larry Telepon genggam Larry berbunyi. Larry segera menjawab. Terdengar suara wanita di ujung sana. Larry menutup telepon, dan terlihat bersiap2 pergi. "Amber.. Aku sungguh ingin mengobrol denganmu lebih lama.. Tapi si nenek tua sudah menelepon ku.. " Larry berkata sambil terkekeh "Ahahaha.. Baiklah Larry. Its okay. Aku sungguh senang kau menyempatkan waktu untul menemuiku.." jawab Amber "Terimakasih atas pengertianmu Amber. Hei.. The bill is on me okay? Sebagai permintaan maafku. Kamu makan lah dulu disini tidak perlu terburu2.. Im leaving Amber.. Byee" Larry mengecup pipi Amber dan segera terburu-buru ke kasir dan menyebrang jalan. Amber memperhatikan Larry memasuki salah satu cafe diseberang jalan. Amber menyelesaikan makannya dan segera pulang untuk menyiapkan surat lamaran. Keesokan harinya, Amber bersiap kerumah Ibu Arthur. Dia sudah membuat lamaran dan mengeprintnya, serta memasukkannya kedalam Amplop panjang coklat yang rapih. Dia mengenakan blazer terbaiknya. Rambutnya yg panjang di ikat dengan rapih. Dan dia menambahkan jepitan rambut yang elegan pada kuncirannya. Dikupingnya sudah tersemat anting berlian putih panjang yang serasi dengan jepitan rambutnya. Dia mengambil jam tangan dan gelang berlian pemberian Alan. Tidak lupa dia memakai kalung peninggalan ibunya.. Kalung itu merupakan jimat keberuntungan Amber yang selalu dia pakai jika dia butuh doa dari ibunya. Amber meraih sepatu hitam dengan heels tinggi yang berada di rak sepatunya. Hari ini dia memakai semua perlengkapan terbaiknya agar terlihat tidak terlalu berbeda leveldengan ibu Arthur Sesampainya dirumah Ibu Arthur, Amber mencari gerbang 2 dan menunjukkan surat lamaran kepada penjaga.. Penjaga tersebut mengangguk kepadanya dan mempersilahkan Amber masuk kedalam. Sesampainya didalam halaman, ada penjaga lain yang mengarahkan Amber dan menginstruksikan kepadanya jalan menuju ruang interview. Amber mengingat-ingat arahan penjaga tersebut sambil mencari-cari jalan agar tidak tersesat. Sesampainya diruang interview, Amber disambut oleh seorang perempuan. "Sepertinya itu adalah asisten rumah tangganya" pikir Amber. "Selamat siang, Silahkan masuk, silahkan duduk disini" kata perempuan tersebut sambil menunjuk salah satu sofa yang ada di ruangan itu "Apakah anda ingin melamar sebagai sekretaris nyonya?" tanya nya lagi. "Oh hai.. Kata Amber. Nama saya Amber, saya dengar nyonya membutuhkan sekretaris. Saya ingin melamar di posisi tersebut" jawab Amber lugas "Baiklah miss. Silahkan tunggu disini, apakah anda membawa surat lamarannya? Boleh saya minta untuk saya tunjukkan kepada nyonya?" tanya perempuan itu sopan. "Yes silahkan, ini surat lamaran saya, terimakasih" jawab Amber sambil memberikan amplop berisikan surat lamarannya kepada perempuan tersebut. Perempuan tersebut segera meninggalkan Amber sendirian. Dia membawa amplop tersebut melewati pintu diujung ruangan. Amber memperhatikan sekeliling ruangan yang sekarang ditempatinya. Ruangan itu tidak terlalu besar. Tapi ditata sangat mewah. Dengan sofa terbuat dari kulit terbaik, dan meja antik penuh ukiran. Sepertinya ruangan ini hanya dipakai untuk inteview saja. Sayang sekali ruangan yang bagus dan mewah begini fungsinya hanya untuk interview Pikir Amber. Tidak lama masuklah seorang wanita tua yang sangat cantik. Garis kecantikannya masih terlihat di balik gurat wajah usia senjanya. Dia memakai gaun putih panjang yang simpel namun elegan, dengan makeup natural dan rambut yang ditata oleh penata pribadi, serta memakai perhiasan lengkap, anting berlian berbentuk oval, kalung berlian oval yang senada dan gelang berlian yang senada, Amber mensyukuri dia tidak lupa memakai perhiasannya hari ini, karena dia tidak mau terlihat gembel dimata Ibu Arthur. Amber buru-buru berdiri menyambut kedatangan Ibu Arthur. Dengan senyum ramah namun terlihat licik ibu Arthur mempersilahkan kembali Amber duduk. “Please have a seat dear…” kata Ibu Arthur. Suaranya terdengar manis yang seolah-olah dibuat-buat. Amber kembali menduduki sofa yang tadi ditempatinya. “Thank you Ma’am” jawab Amber sopan “So.. You Are Amber? What do you want to do here?” Tanya Ibu Arthur “Perkenalkan Ma’am… nama saya Amber…. Saya dengar anda membutuhkan sekretaris. Saya mengumpulkan keberanian untuk melamar pada posisi tersebut, jika anda berkenan.” Amber menjawab dengan lugas. “Oh Dear…. Apa yang membuatmu merasa pantas mendapatkan posisi tersebut? Tanya ibu Arthur lagi dengan suara manisnya yang memuakkan. “Saya seorang pekerja keras. Saya tekun dalam bekerja, dan juga merupakan seorang yang jujur. Saya siap bekerja dengan waktu, kekuatan, jiwa dan hati saya Ma’am” jawab Amber penuh percaya diri. “Dan apakah dengan hanya bermodalkan bekerja keras, tekun dan jujur kau merasa aku akan memilihmu miss Amber? Tanya Ibu Arthur dengan nada liciknya. “Saya lulusan Universitas ternama Ma’am. Saya lulus dengan ijazah Cumlaude, untuk integritas saya tidak perlu di ragukan lagi Ma’am. Anda pasti tidak akan menyesal memilih saya sebagai sekretaris anda,” ucap Amber lagi. Amber bukanlah seorang detektif sembarangan. Dia sudah melakukan hal seperti ini berkali-kali. Jadi sudah tau apa yang harus dilakukannya untuk mendapatkan hati seorang wanita tua kaya raya. “Saya pernah bekerja sebagai personal assistant Sir Edward IV Ma’am. Saya juga pernah bekerja pada Lord Kensington sebagai sekretaris pribadinya. Saya pernah bekerja pada Lady Margareth sebagai…..” belum sempat Amber menjelaskan Ibu Arthur memotong omongannya.. “Sudahlah Miss, tidak perlu kau menyebutkan satu persatu nama orang yang dulu kau layani. Waktu ku tidak cukup banyak untuk mendengarkan itu. Lagipula orang-orang yang kau sebutkan itu semuanya adalah kenalanku...” jawab Ibu Arthur dengan tersenyum, yang entah kenapa walaupun dia tersenyum, namun senyumnya tidak tampak tulus dimata Amber. “I’m Sorry Ma’am” Ucap Amber sambil tersenyum juga “Well… kira-kira kapan kamu bisa memulainya miss?” Tanya ibu Arthur mulai tidak sabar “its Depends on you Ma’am. Im ready whenever you want to” “Allright… lets Start tomorrow. Is it okay?” jawab ibu Arthur lebih terdengar seperti kalimat perintah “Allright Ma’am…” jawab Amber “Okay, its nice to meet you” kata ibu Arthur sembari berdiri dan berjalan kearah pintu dengan wajah angkuh. “Mila, show her the door” perintahnya kepada perempuan yang tadi. “Yes Ma’am” Jawab perempuan itu dengan sopan “Lewat sini miss” katanya sambil mengantar Amber keluar “Thank you so much Mila” kata Amber ramah Mila tersenyum sambil menutup pintu. Amber berjalan keluar rumah sambil bergidik. Orang yang aneh pikir amber. At least aku sudah mendapatkan pekerjaan itu. Malam ini aku bisa tidur nyenyak pkir amber lagi. Amber berjalan kearah mobilnya. Dia menstarter mobil dan berjalan pelan-pelan melewati taman besar dan rapih, dimana air mancur bermekaran seperti sedang di kebun bunga. Air mancur untuuk menyoram tanaman menyala terus sepanjang hari. Terlihat banyak kolam ikan ditengah-tengah bundaran. Ditengah kolam ikan terlihat statue seorang anak memegang bejana. Amber melanjutkan perjalanannya meninggalkan rumah itu. “ Well See You Tomorrow All” gumam Amber sambil tersenyum puas Bersambung ke chapter berikutnya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN