Cerita itu membuat Arthur terpukul. Bagaimana mungkin setelah selama ini ia tidak tahu kalau memiliki adik? Bagaimana mungkin tidak ada yang memberitahunya sampai selama ini? Meski kecewa, ia memendamnya dalam-dalam di ujung relungnya.
Sementara itu di tempat lain, Tim yang jenuh dengan rutinitas kembali mengunjungi kelab malam. Hanya butuh waktu sebentarbaginya untuk mendapatkan teman kencan malam itu. Mereka mereguk minuman demi minuman, tetapi tampaknya Tim tak terlalu terpengaruh alkohol. Sebaliknya dengan perempuan itu. Menjelang pertengahan malam, keduanya pun telah berada di apartemen perempuan itu. Namun, melihat penampilan dan gaya bicara perempuan itu yang terlihat seorang perempuan baik-baik, Tim pun mencoba santun.
Beberapa menit kemudian perempuan itu datang dengan membawa minuman dan beberapa camilan. Sambil menikmati sajiannya, mereka berbincang-bincang hingga tidak terasa satu jam berlalu.
“Jadi kamu baru pindah ke sini ya?” tanya Tim.
“Iya. Makanya aku dari tadi angkat-angkat barang. Capek banget angkat barang sendirian. Untungnya ada barang-barang yang sempat aku beresin, tapi masih banyak juga sih yang belum.” terangnya seraya melayangkan pandangan pada tumpukan kardus yang masih tertutup.
“Yah paling enggak dipan, kasur, kulkas, sama kompor udah beres,” ujar Tim sambil memandang berkeliling.
“Iya, kayaknya aku beresin sisanya besok aja.”
“Besok panggil aja ya, biar aku bantuin.” Kata Tim menawarkan bantuan.
“Bener nih?”
“Iya bener dong. Besok hari minggu, jadi aku enggak ada kegiatan,” jawab Tim tersenyum, yang dibalas dengan senyuman oleh perempuan itu. “Eh, aku pulang ya.”
“Ok. Terima kasih ya,” ucapnya sambil berjalan mengantar Tim, namun sebelum mereka tiba di pintu, tiba-tiba listrik padam menyebabkan pintu terkunci karena sistem otomatis yang terpasang di apartemen tersebut.
“Haduh, mati lampu.” Kata Tim mengeluh.
“Sebentar, aku coba menelepon petugas apartemen. Pasti apartemen ini punya genset.”
Namun setelah bertanya, ternyata genset apartemen sedang bermasalah, dan itu artinya mereka terperangkap di dalam unit perempuan itu. Paling tidak bisa bersama perempuan yang seksi, membuat Tim merasa tidak keberatan.
Tiga jam berlalu dan hari sudah semakin siang, tetapi listrik masih belum menyala, sehingga suhu dalam ruangan terasa semakin panas. Tim melihat keringat membasahi tubuh dan pakaian perempuan itu, hingga membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas.
Diam-diam Tim mencuri pandang melihat kemolekannya. Dari balik kausnya yang basah, terlhat sepasang dadanya yang terbungkus bra merah yang ia kenakan. Pemandangan sensual itu semakin menggoda ketika wajah perempuan yang manis itu terlihat basah oleh kucuran keringat.
“Gerah sekali,” katanya dengan suara lemas.
“Iya, mati lampu tanpa AC, pasti panas.”
“Apartemen bagus seperti ini, masak tidak punya cadangan genset,” ucap perempuan itu kesal dengan suara semakin lirih.
“Mungkin karena apartemen baru, jadi belum siap semuanya. Tower sebelah aja masih dibangun.”
“Iya sih,” ujar perempuan itu kemudian diam sejenak. Wajahnya tampak ragu, sebelum akhirnya ia berkata “Mmm …, kamu bisa menghadap sana?”
“Lho kenapa?” tanya Tim bingung.
“Aku mau melonggarkan pakaian dalam, supaya tidak terlalu panas.” terangnya dengan suara nyaris tidak terdengar.
Mendengar penjelasannya, segera membalik badan. Meski tidak bisa mencuri pandang, imajinasinya menjadi liar membayangkan perempuan itu melepaskan tali bra, sehingga membuat hasratnya bergolak.
"Coba minum air dingin. Paling tidak tenggorokanmu tidak kering,” kata Tim memberi saran sekaligus mengalihkan pikiran nakal, namun perempuan itu diam tidak menjawab.
Tim memanggilnya sekali lagi, tapi ia tetap diam. Tim pun merasa cemas dan menoleh perlahan. Dilihatnya perempuan itu telentang tidak sadarkan diri. Dengan segera Tim menghampiri perempuan itu, lalu menggendong, dan merebahkannya di atas tempat tidur. Keringat dingin membasahi tubuhnya yang terkulai lemah. Tanpa pikir panjang, Tim menanggalkan baju dan celananya, lalu menyeka keringat yang membanjiri seluruh tubuh elok perempuan itu.
Sambil menyeka, Tim memandangi wajah pucat perempuan itu yang tetap telihat manis. Perlahan ia usapkan kain ke bawah menyusuri leher jenjang, pundak, d**a bagian atas, hingga tiba pada kontur menanjak yang menghantarkannya pada d**a yang masih tertutup bra merah yang telah dilonggarkan. Usapan Tim pada d**a membuat ujungnya tersingkap dan menyembul dari balik kain merah yang menutupinya.
Mata Tim terkesiap, jantungnya berdegup kencang, miliknya terusik dari tidurnya ketika melihat sepasang ujung mungil di d**a perempuan itu.
Hasrat memerintahkan otaknya berpikir nakal.
Sekali dan hanya sedikit sentuhan tidak akan membangunkannya, begitulah hasrat nakal berbisik. Tetapi tiba-tiba terlintas kekhawatiran kalau sentuhannya nanti dapat membangunkanperempuan itu. Selama beberapa saat rasa bimbang menyelimuti, namun semakin lama Tim berpikir, semakin bulat tekadnya untuk berjudi.
Setelah meletakkan kain penyeka ke samping, Tim melucuti bra yang mengganggu pemandangan, lalu perlahan-lahan menyentuhkan ujung telunjuk pada ujung d**a kanan. Tim melirik wajah perempuan itu yang tidak bereaksi, seolah pasrah menanti sentuhan berikutnya. Tanpa ragu, Tim meremas-remas d**a perempuan itu. Kemudian ia menyesap d**a perempuan itu. Tangan dan mulutnya bergantian mencumbu kedua aset indah perempuan itu.
Sentuhan demi sentuhan membuat perempuan itu bergeming. Tubuhnya bergelinjang pelan, matanya mengerjap. Sebelum perempuan itu benar-benar sadar, Tim bertekad membuatnya tidak bisa menolak dan memasrahkan diri.
Tangan Tim bergerak ke bawah, kemudian menyelinap ke balik celana dalam perempuan itu. Ia sentuhkan jemarinya pada intim perempuan itu. Perempuan itu bergeming lagi dan memegang dahinya. Waktu Tim semakin sempit, kesadarannya akan segera pulih.
“Apa yang …, jangan—” ucap perempuan itu lirih sambil menahan desahan.
“Apa?” Tanya Tim berpura-pura tidak mendengar, seraya mencumbunya semakin liar.
Perempuan itu mendesah semakin keras, tubuhnya bergelinjang, napasnya tak keruan.
“Kamu mau berhenti?” Tanya Tim berpura-pura menawarkan, tapi ia tahu tubuh perempuan itu sudah mencandu.
Perempuan itu diam tidak menjawab sambil terus mendesah.
Tim tersenyum, seraya menggodanya “Kalau begitu aku berhenti se—”
“Jangan berhenti,” pintanya, kali ini dengan jujur.
“Bagaimana? Mau dilanjutkan” goda Tim, lagi.
Rona wajah perempuan itu tersipu seraya mengangguk. Selama beberapa menit mereka saling balas mencumbu.
Tim berhenti mencumbunya sejenak, lalu memutar badan. Perempuan itu tersipu malu, sambil merapatkan kedua kakinya untuk menutupi bagian intimnya. Pelan-pelan tangan Tim mendorong kedua kakinya, hingga terlihat bagian intimnya dengan jelas. Tim terkesiap sesaat sebelum akhirnya mencumbu intim perempuan itu.
Setiap sentuhan Tim memantik hasrat perempuanitu makin tinggi. Desahannya pun terdengar jelas. Tidak ada lagi rasa malu yang tadi tampak.
Bersambung ke chapter berikutnya.