58

2029 Kata
Matahari pagi bersinar cukup terik, sambil mengernyitkan mata, Arthur membuka jendela kamarnya dan menatap keluar. Ia melihat ke langit biru, sinar mentari yang cerah menyilaukan matanya. Arthur kembali menutup vitrage jendela agar tidak terlalu silau. Dia berjalan kearah kamar mandi dan segera membasuh tubuhnya. Dia memakai sabun dan menyikat giginya dengan cepat. Kemudian dia mengambil handuk yang selalu tergantung dibelakang pintu kamar mandi, dan segera keluar untuk berpakaian. Setelah memasukkan baju ke dalam pinggang celana dan menggulung kemejanya, dia meraih jam tangan yang ada di meja rias. Arthur melirik kearah jam tangan pemberian ibunya itu. Oohh sudah pukul 9. Aku harus segera menemui ibu. Pikir Arthur. Arthur mengambil kunci mobil yang tergantung di dinding garasi rumahnya. Kemudian dia menyalakan mesin mobil, terdengar suara mesin menggerung. Arthur mendiamkannya untuk memanaskan mesinnya. Kemudian dia mengambil rokok yang terletak di dashboard mobil, dia menyalakan korek api, dan menghirup rokok tersebut. Sebenarnya Arthur bukanlah seorang perokok, namun permasalahan persidangan yang dihadapinya membuatnya ingin merokok untuk melepas penatnya. Ketika mesin mobil sudah mulai menurun, Arthur segera masuk dan mengeluarkan mobil dari garasi. Jalan raya sudah padat dengan kendaraan bermotor. Arthur harus ikut mengantri untuk keluar dari perumahannya. Ahh.. sudah macet. Aku terlambat. Padahal aku sudah buru-buru tadi pikir Arthur kecewa dengan keadaan jalan. Bukan tidak ada alasan Arthur ingin segera sampai kerumah ibunya, mengingat besok adalah hari persidangannya. “lebih baik aku masuk tol, sepertinya tol belum terlalu padat” gumam Arthur kepada dirinya sendiri. Kemudian dia melajukan mobilnya kea rah jalan bebas hambatan. Sambil tangannya memegang kemudi, tangan satunya mengutak atik bluetooth mobil dan mengkoneksikannya dengan handphonenya. “Sirri, please call mom” ucaparthur kepada navigator Handphonenya. Telepon berdering tanda menyambungnya koneksi panggilan Arthur kepada ibunya. Selang 3 kali nada dering, terdengar suara wanita dari ujung sana. “hallo….” “hai Mom…. How are you?” Tanya Arthur “hai Arthur… im fine… where are you?” ibunya kembali bertanya “mom… posisi aku sekarang di Toll, aku menuju kerumahmu.” Jawab Arthur “oh… well, whats wrong boy? Biasanya kamu tidak pernah datang pagi-pagi” ibu Arthur agak heran dengan perubahan kebiasaan anaknya. Walaupun Arthur adalah pria dewasa, namun ibu Arthur selalu memanggil Arthur dengan panggilan Boy. Karena baginya Arthur masih kecil seperti dahulu. “no problem mom… I just miss you… are you at home?” Tanya Arthur tidak menjawab pertanyaan ibunya. “yes… baiklah aku tunggu dirumah. Jangan mengebut. Hati- dijalan okay?” jawab ibunya. “okay mom… see you soon” jawab Arthut singkat. “see you boy” ucap ibu Arthur ambil menutup teleponnya. Klik. Bunyi telpon diputuskan dari sebelah sana. ”ahh.. ibu tidak pernah berubah… dia selalu menutup telepon sebelum orang lain selesai bicara” Arthur bergumam sambil tersenyum geli. Arthur mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Dia ingin mengebut, tapi dia ingat pesan ibunya. Walaupun Arthur sudah dewasa, namun dia selalu mematuhi pesan dari ibunya. Jalanan terlihat ramai, mobil-mobil melewati Arthur dengan cepat. Sepanjang jalan pikiran Arthur melayang ke persidangan besok. Dia selalu gugup jika sudah mendekati hari persidangan. Hal ini membuat dia agak sedikit lalai akan jalanan. Dia hampir keluar jalur jalan yang seharusnya tidak di lewati. Sebuah mobil mengerem mendadak untuk menghindari menabrak mobil Arthur. Mobil tersebut membunyikan klakson panjang untuk memperingati Arthur yang sedang melamun, Arthur gugup dan segera membanting setirnya kearah kanan untuk menghindari mobil itu. Kemudian mobil tersebut segera mengebut dan melewati Arthur. Arthur membunyikan klakson pendek sebagai ucapan permintaan maafnya. “huufff hamper saja” gumam Arthur. “ah sidang sialan. Aku jadi melamun karena memikirkan sidang. “ ucap Arthur lagi. Apakah team pengacaraku sudah menerima surat pemberitahuan persidangan? Pikir Arthur. Arthur segera menekan tombol di telepon genggamnya. “sirri, please call mr Gilbert” ucap Arthur. Tidak lama telepon kembali menghubungkan ke no ponsel mr Gilbert. Terdengar nada dering dari ujung sana. “hallo…”ucap seorang wanita “hallo…. Can I speak with Mr Gilbert Please?” ucap Arthur “wait a minute “jawab wanita tersebut. Tidak lama terdengar suara dari jauh seperti orang mengobrol. Dan akhirnya suara Mr Gilber terdengar di ponsel Arthur “hallo…” ucap mr Gilbert “hallo Mr Gilbert… ini aku Arthur” kata Arthur “oh hai Arthur… how You doing?” Tanya mr Gilbert “im fine thank you mr Gilbert.” Jawab Arthur basa basi “apakah kamu sudah meneirma surat pemberitahuan bahwa besok ada persidangan?” Tanya Arthur lagi. “oh really? Aku belum enerima kabar apapun Arthur. Apakah suratnya sudah sitembuskan kepadaku oleh pengadilan?” Tanya Mr Gilbert lagi. “well.. I don’t know.. bukankah itu harusnya menjadi tugasmu mr Gilbert? Mungkin merea sudah mengirimkan ke anak buahmu. Coba kamu cek. Im waiting for your calling, okay?” jawab Arthur tegas “okay Arthur.im sorry.. I think there are miss communication in my internal.” Jawab mr Gilbert dengan nada tidak enak “baiklah Mr Gilbert. Aku harapkamu bisa mengeccek pada karyawanmu. Agar hal ini tidak terjadi lagi” kata Arthur dengan sopan. “yes of course Arthur. I’ll call you back after this” jawab mr Gilbert. “yeah… tolong sekalian update data-data, perlengkapan dan langkah-langkah yang harus kamu dan teammu lakukan untuk besok ya mr gilbert. “ pinta Arthur “sure Arthur I will. Okay Arthur.. bye” ucap mr Gilbert “bye….” Arthur memutus sambungan telepon. Dia kembali fokus melihat jalanan. Ternyata dia sudah hampir sampai. Dia mengambil jalur keluar pintu Toll terdekat. Dan membelokkan mobilnya kearah rumah ibunya. Rumah ibunya sudah berada didepan mata. Rumah megah dengan pagar tinggi. Rumah ini hampir bisa disebut istana. Arthur menghabiskan masa kecilnya dirumah ini setiap hari dengan berlari keseluruh ruangan dan selasar yang ada di dalam rumah. Tapi sampai akhirnya dia memutuskan pindah rumah sendiri agar lebih bisa mandiri, Arthur belum selesai menjelajahi setiap sudut dan ruangan di rumah ini. Terlihat banyak mobil yang parkir di tempat parkir yang memang disediakan untuk tamu. ohh pasti ibu sedang banyak tamu, Lebih baik aku masuk lewat belakang saja dan parkir didalam parkiran karyawan. Agar lebih dekat kepintu belakang rumah, kalau aku parkir di garasi pasti sulit untuk keluar nanti. Sedangkan aku harus pergi ketempat lain setelah bertemu ibu. Pikir Arthur. Sebenarnya Arthur memang agak malas kalau harus parkir di parkiran tamu. karena jika parkir disana, maka untuk mengakses pintu rumah lebih jauh, dan harus berjalan kaki ditengah terik matahari. Makanya Arthur selalu parkir di garasi atau di parkiran karyawan. Hanya krn dia buru-buru kali ini, dia merasa lebih baik parkir di parkiran karyawan. Walau bagaimanapun dia adalah tuan muda dirumah itu dan karyawan pasti akan mengalah dan memberikan space parkir terbaik untuknya. Arthur berhenti didepan gerbang belakang rumahnya. Dia memberikan kunci mobil kepada Sam. Sam adalah salah satu supir dirumah itu. “hi sam… tolong parkirkan mobilku di tempat parkir kalian ya. “ kata Arthur kepada Sam “baik Sir…” jawab Sam Sopan Arthur segera masuk ke dlam rumah. Seorang maid mengikuti Arthur berjalan “Tuan Arthur, apakah kau ingin minum sesuatu?” Tanya maid yang bernama Mae tersebut “No Mae.. thank you.. where is Mom?” Tanya Arthur “beliau sedang ada tamu.tadi beliau berpesan tunggulah sebentar, beliau akan segera menemuimu tuan.” Jawab Mae dengan sopan “okay Mae. Aku akan menunggu dikamarku kalau begitu. “ kata Arthur sambil berjalan meninggalkan Mae. Arthur berjalan menuju kamarnya. Kamr Arthur terletak di lantai 2. Tiba-tiba saat Arthur akan berhenti di lantai 2, terbersit rasa ingin tahu dibenak Arthur, apa yang ada di lantai 3 rumah itu saat ini? Arthur berhenti berkeliling rumah ketika dia menginjak usia remaja. Dia sudah asik bermain dengan temannya sehingga tidak pernah naik lagi kelantai 3. Pada waktu arhtur kecil lantai 3 rmahnya adalah surge bagi Arthur. Ibu dan ayahnya menyulap lantai 3 itu sperti taman bermain anak-anak. Segala macam mainan ada disitu. Dan Arthur sangat senang berada disana. Arthur menaiki tanggamenuju lantai 3. Dia melihat lobby kosong tanpa istana bonekanya lagi. Kemudia Arthur memasuki semua kamar yang ada disitu. satu persatu kamar dijamah oleh Arthur. Semua kamar berisikan memory ketika dia masih kecil. Potret Arthur dari sejak hari pertama dia lahir sampai dia pertama kali bekerja ada disana. Baju-baju bayi dan semua perlengkapan bayi Arthur masih tersimpan dengan rapih. Hingga tanpa sengaja Arthur menjatuhkan ebuah foto dari lemari penyimpanan baju bayinya. Arthur memungut foto tersebut dan membalik untuk melihat foto itu. Arthur melihat seorang anak kecil laki-laki berumur 3 tahun edang digendong oleh ayahnya. Arthur penasaran. Apakah ini foto salah atu sepupunya? Tapi seingat Arthur, ayahnya bukan seorang paman yang ramah untuk para keponakannya. Tidak mungkin dia sempat menggendong salah satu keponakannya. Apalagi sampai berfoto dengannya. Rasa ingin tahu Arthur berkecamuk didadanya. Dia segera keluar ruangan dengan membawa foto itu. Dia menuruni tangga dengan cepat mencari ibunya. Ternyata ibunya pun sedang mencari Arthur. “Arthur heeiii… aku mencarimu kemana-mana” kata ibunya sambil memeluk Arthur “mom…..” belum sempat Arthur menjawab, ibunya sudah memotong… “kau bilang akan kekamarmu… tapi darimana kamu? Aku piker kamu sudah pulang lagi.. apakah kamu menungguku terlalu lama?” Tanya ibunya lagi “No Mom… aku hanya penasaran ada apa di lantai 3 sekarang. Sudah lama sekali aku terakhir kesana. Mungkin kelas 1 MP?” Tanya Arthur “yes Honey… kamu meninggalkan istana bermainmu kelas 1 SMP.kamu lebih memilih bermain Bersama temanmu daripadabersama mainanmu. “ jawab ibu Arthur sambil tersenyum mengenang masa lalu “well…you know…” Ibunya kembali memotong omongan Arthur lagi… “yes I know… makanyaaku membereskan semua mainan itu…dan sudah kusumbangkan untuk panti asuhan. Tapi aku menyisakan baju-baju mu dari kecil sayang. Kalau kamu sudah lama tidak datang, tempat itu adalah penghibur hatiku. Melihat bajumu dan foto-fotkamu kecil, kadang-kadang aku menangis sendiri mengingat kamu cepatt sekali dewasa.” “he..he..he.. mom.. please…” kata Artgurr salah tingkah “by the way mom,,, I found this picture there..” Arthur menunjukkan foto tersebut kepada ibunya “what kind of picture honey? I that you? Baby Arthur?” Tanya ibunya sambil mengambil foto tersebut. Ibu Arthur tampak terkejut melihat foto itu. ada raut sedih bercampur kaget di wajahnya. “Arthur… dmana kamu menemukan ini?” Tanya ibunya “aku tidak tau tepatnya bu, tapi ketika aku membuka lemari baju-baju bayiku,foto ini tiba-tiba jatuh kebawah.” Arthur menjelaskan. “siapa ini mom? Dad menggendong anak siapa ini?” “hmmm….” Ibunya berpikir keras… “Arthur ada sesuatu tentang dad yang belum pernah aku ceritakan kepada siapapun termasuk kamu. Mungkin hal itu menjawab foto ini.” Kata Ibu Arthur. Jantung Arthur berdegup kencang. Bukan apa-apa, ayahnya adalah sosok yang sangat dipuja dan diidolakannya. Dia tidak siap mendengar bahwa ayahnya punya aib. “mom… apakah ini buruk?” Tanya Arthur “tergantung penilaianmu nak… ibu tidak bisa berkata ini buruk atau bagus” jawab ibu Arthur Lugas. “dulu… ketika kamumemutuskan untuk hidup mandiri, aku ikut menemanimu selama beberapa tahun. Aku meninggalkan ayahmu dirumah ini sendirian. Aku tidak bisa hidup jauh-darimu Arthur,makanya aku ikut kamu saat itu. Tapi ternyata kepergianku menemanimu membuat ayahmu kesepian nak. Ini semua salahku. Aku harusnya siap melepakanmu menjadi dewasa. Tapi aku ternyata tidak bisa. Ayahmu dirumah hanya ditemani staff nya, maid dan supir kita. Mungkin karena dia merindukanku, dan tidak ada yang merawat dan memberikan kasih sayang kepadanya, dia akhirnya mencari kasih sayang yang baru.” Ibu Arthur bercerita sambilmeneteskan air mata “mom.. maksudnya ayah berselingkuh?” Tanya Arthur bingung “iya.. ayahmu yang kesepian itu mencari kasih sayang dari salah satu maid kita waktu itu…” jawab ibunya sambil menyeka airmata “aku benar-benar tidak bisa menyalahkan ayahmu. Ini semua salahku. Aku pikir pulang kerumah ini sebulan sekali sudah cukup. Ternyata tidak…. Ayahmu membutuhkan orang yang care kepadanya. Dan dia dapatkan itu dari Eleanor. Mereka diam-diam bertemu setiap malam. Semua orang dirumah ini tau, dan mereka tidak berni menyampaikan kepadaku. Ketika aku tau, Eleanor telah melahirkan Liam. Anak yang dipangku ayahmu difoto ini.” Ibu melanjutkan cerita dengan hati terluka. Bersambung ke chapter berikutnya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN