57

1782 Kata
Setelah berjalan cukup jauh, Liam menemukan Amber terduduk di jalan. Rupanya Amber terantuk hingga jatuh. “ Amber apakah kamu baik-baik saja?’ Tanya liam. “yes Liam Im fine, thank you” jawab Amber sambil meringis. “apakah kamu terluka parah?” Tanya liam lagi dengan nada khawatir. “tidak..tidak liam,, ini hanya luka kecil jangan khawatir” sahut Amber. “ayo, ku bantu kau berdiri. Aku rasa aku harus mengambilkanmu kotak P3k. maukah kau menunggu sebentar amber?” kata liam sambil menarik tangan amber untuk membantunya berdiri. “terima kasih Liam, tapi aku baik-baik saja.. its okay. Aku akan kembali kekantor. Kantorku tidak jauh darisini. Disana aku punya salep dan perban.” Kata Amber sambil membenarkan bajunya yang berantakan karena terjatuh. “baiklah amber. Aku harap kau akan segera sampai dikantor dan segera obati kaki mu okay?’ jawab liam dengan nad tegas. “baik Liam. Thank you. Kamu baik sekali. Aku jalan ya… bye liam” amber berkata sambil melambaikan tangannya “bye amber” sahut liam sambil tersenyum. Setelah berpisah dari Liam, alih-alih ke kantor Amber malah berjalan kearah penjara tempat Alan berada. Sesampai di penjara, Amber segera mengambil form registrasi. Setelah melakukan registrasi dan segala hal pendaftaran tamu pengunjung penjara, tidak berapa lama akhirnya nama Amber terdengar dipanggil untuk masuk ke dalam ruang pengunjung. Amber yang sedang terluka kakinya berjalan sambil meringis menuju ruang tunggu didalam gedung yang berbeda dengan tempat pendaftaran tadi. sial, kenapa jalan antar gedung jauh sekali pikir Amber dalam hati. Andaikan tadi tdak terjatuh, pasti aku bisa berjalan lebih cepat pikir Amber lagi. Pikiran Amber kacau dengan kejadian yang dialaminya tadi dan rasa ingin segera bertemu kekasihnya. Sesampainya diruang tunggu, tidak lama setelah Amber duduk, datanglah Alan orang yang sangat ditunggu- tunggu dan sanagt dirindukan oleh Amber. Pria itu berjalan gontai, ditemani oleh 2 orang petugas yang mengantarnya ke bilik tempat Amber menunggu. “Halo sayang” sapa Amber “hi Baby” jawab Alan sambil tersenyum sumringah. Alan mengecup kedua pipi Amber. “melihatmu membuatku jadi semangat menjalani hari-hari disini” kata Alan lagi kepada Amber. Amber tersipu, lelaki ini memang selalu bisa membuat Amber merasa dicintai. Alan mengambil tempat duduk berhadapan dengan Amber. Raut muka Amber berubah kembali menjadi serius. “Alan, aku sempat menyeldiki Perry di gudang Nathaniel” kata Amber cepat. “aku kesini untuk menceritakan itu kepadamu” sambung Amber lagi. Alan mengernyitkan keningnya. Alisnya yang tebal terlihat merapat. Dan matanya yang bulat mengerut mengikuti lekukan alis. “baby….. Are you Okay?” Tanya Alan, wajahnya menyiratkan kekhawatiran. “apakah kau pergi sendirian lagi? aku sudah mengingatkan padamu, jangan menyelidiki sebuah kasus sendirian.” “Alan, aku seorang detektif. Stop membahas hal yang sudah kita bahas berulang kali. Aku bukan anak SMA Alan” jawab Amber putus asa “yeah I know… but you are my girl. I don’t want something happen…..” belum selesai alan berkata Amber menyambar cepat. “baby, aku kesini bukan untuk berkelahi. Kita sudahi masalah konyol menyelidiki kasus sendirian. Come on….” Amber benar-benar putus asa dengan sikap posesif Alan. Walaupun dia mengakui, pekerjaannya memang beresiko. Tapi sebgai wanita independent, dia tidak bisa menunggu-nunggu seseorang untuk menemaninya dalam perjalanan menyelidiki suatu kasus. Dia selalu pergi sendirian kemanapun. Termasuk menyelidiki kasus. Karena permohonan partner perjalanan dikantornya tidak bisa didapatkan dalam waku cepat. Terlalu banyak regulasi dan tanda tangan persetujuan dr atasan-atasannya. Makanya Amber selalu berangkat sendirian. Alan terdiam. Dia tau Amber bukan seseorang yang bisa di paksa patuh pada Alan. Dia adalah wanita pemberani yang keras kepala. Alan banyak mengalah kepada Amber. Demi mempertahankan hubungan mereka. Meskipun Amber juga merasa dia banyak mengalah kepada Alan. Mereka saling mencintai degan cara uniknya masing-masing. “baiklah, jadi kamu ke gudang Nathaniel? How is it going?” Tanya Alan “kamu tau kan, ketika aku menyelidiki Perry… aku melihat dia berhubungan dengan Nathaniel. Jadilah aku kegudang Nathaniel sekalian” cerita Amber “sayang… ini masalah serius.. kamu masuk ke kandang singa itu SENDIRIAN??” Tanya Alan Tegas “yes Baby… But im fine…. See?” kata Amber sambil memuar bola mata. “yeah memang ada beberapa kejadian. Tapi aku baik-baik saja Alan. Kamu lihat aku sampai disini tanpa kurang satu apapun?” cerocos Amber lagi “jadi coba jelaskan memar di dahimu itu Amber. Dan kakimu, ada apa dengan kakimu?” Tanya Alan lagi “ah ini aku tadi hanya terjatuh dlm perjalanan kesini. Dahiku terkena jalan. Dan kakiku tergores. Heeyyy how do you know about my leg? I sit here before you walk in” Tanya Amber bingung “aku mengenalmu tidak sehari dua hari amber… kakimu dari tadi bergoyang. Dan ketika aku lihat kebawah aku lihat goresannya.” Jawab Alan “ya kamu sudah lihat sendiri kan Alan, ini hanya luka-luka kecil.. im safe baby. Don’t worry” jawab Amber sambil tersenyum penuh kemenangan. Amber tau, dia telah memenangkan lagi episode debat kali ini. Alan menarik nafas panjang. Gadisnya memang sangat pandai dalam berargumen, dan pandai dalam bersikap dia baik-baik saja. Alan tidak mau memusingkan lagi. Karena walau bagaimanapun. Dia akan kalah dan membiarkan Amber melakukan semua yang dia inginkan. “kalau begitu lanjutkan apa yang terjadi… bagaimana kondisi gudang itu? Apakahh kamu bertemu Perry atau Nathaniel? Anya Alan ta sabar “pelan-pelan Alan. Ak akan menceritakan semuanya kepadamu” jawab Amber sambil mengambil 2 botol air mineral dari dalam tasnya. Dia membuka 1 botol untknya, dan memberikan 1 botol kepada Alan. Amber segera meneguk air mineral yang telah dia buka. Perjalanan panjang menemui Alan telah membua dia lupa dia belum minum seharian. Alan pun melakukakn hal yang sama. Dia membuka botol dan meneguknya. Kemudia dia bertanya, “kenapa hari ini kamu telihat capek dan haus sekali sayang?” “ya… itu, tadi… ketika aku digudang Nathaniel, awalnya aku hanya pura- pura bersika ramah dan melihat-lihat isi gudang.. tapi tenyata alu dicurigai alan.” Terang Amber dengan mata antusias “apakah Perry mencurigaimu?” Tanya Alan “tidak… tapi anak buah Nathaniel… dari awal aku masuk ke gudang, mereka memang tidak melepaskan pandangan sedikitpun dari ak Alan. Aku sudah siaga jika-jika mereka menangkapku” jawa Amber hati-hati “sayang… terus apa yang dilakukan oleh mereka? Apaka mereka berhasil menangkapmu?” Tanya Alan lagi “tidak sayang… kamu lupa ya im smart woman?” sahut Amber dengan muka jenaka. Tangan Alan terangkat ingin menjewer kupingnya Amber untuk meredakan kesombongan pacarnya itu. Tapi Amber berhasil menghindar dari tangan Alan sambil tersenyum terkekeh seperti anak kecil. “trus Amber.. lanjutkan ceritamu” pinta Alan kepada Amber “jadi sayang, dari awal masuk aku sudah melihat di dekat toilet ada pintu mengarah keluar, sebenarnya aku mencari Perry disana. Tapi anak buah Nathaniel terus mengikutiku. Aku akhirnya berpura-pura menelpon dan aku lihat mereka pun mengikuti aku dan mengawasi aku menelpon. Akhirnya aku berjalan ketoilet, dan aku lihat mereka ttidak mengikuti masuk kedalam toilet” terang Amber “apakah setelah itu kamu berhasil keluar dr pintu toilet baby?” sergah Alan “yeah… aku berhasil keluar.. tapi ternyata itu pintu keluar menuju bangunan lain. Bukan pintu keluar menuju jalan. Dan kamu tau sayang, ternyata itu addalah bangunan kosong. Jadi aku bersembunyi disana” lanjut Amber Alan terdiam menyimak cerita Amber. Kemudian Amber melanjutkan “aku sembunyi di dlm sebuah ruangan yang berisi barang-barang berdebu, kardus-kardus dan box-box container. Tapi aku mendengar langkah kaki anak buah Nathaniel sayang. Ternyata mereka mengejarku. Akhirnya aku pikir kalau aku tetap bersembunyi. Aku akan ketahuan. Akhirnya aku berlari keluar ruangan itu…” Amber menarik nafas dalam. Dia melanjutkan “ketika aku berlari keluar ruangan, aku bertemu lorong-lorong panjang seperti labirin. Aku pikir mereka tidak akan menemukanku didalam labirin ini. Akhirnya aku berhenti sejenak, untuk menarik nafas. Tapi aku dengar langakh-langkah mereka semakin dekat. Aku fikir, mereka tidak tau aku berada dimana. Jadi mereka hanya mencari tanpa tujuan.” “kenapa kamu sangat yakin?” Tanya Alan heran “aku tidak yakin, hanya menenangkan diri sendiri saja Alan. “ kekeh Amber Alan berusaha menjewer keeping Amber lagi. Dan seperti biasa Amber berhasil mengelak sambil tersenyum. “sayang… tapi aku akhirnya hampir ditangkap. Mereka hampir berhasil menemukanku…” kata Amber lirih “terus bagaimana kamu bisa kabur dari mereka baby?” Tanya Alan cemas “ternyata bangunan itu didiami oleh gelandangan. Dia menolongku. Namanya Liam. Dia benar-benar paham bangunan itu Alan. Dia membawa aku keluar dari bangunan itu. Kalo tanpa dia. Aku mungkin sudah tersesat didalam labirin. “ Amber menghela nafas lagi Alan semaakin mengernyitkan dahinya. “jadi….” “jadi, aku dan Liam berlari keluar bangunan. Anak buah Nahaniel mengejar dari belakang. Dan mereka terasa dekat sekali. Aku benar-bena capek Alan. Aku seperti sudah tidak sanggup lagi untuk berlari. Tapi Liam terus menyemangatiku. Dia tak hentinya berkata… c’mon Amber… c’mon Amber, we can do it. Dia tidak patah semangat walaupun para anak buah Nathaniel terdengar sangat dekat. Akhirnya kami keluar di sebuah terowongan. Didalam terowongan itu ada pintu menuju ke gorong-gorong. Liam membantuku turun ke gorong-gorong tersebut. Di gorong-gorong kami berhenti sejenak. Aku harus menarik napas panjang Alan. Disitu kami beristirahat. Kemudian liam bercerita bahwa bisnis Nathaniel bukan hanya narkoba, tetapi juga senjata illegal.” Amber berhenti untuk melihat reaksi Alan Alan tampak terkejut “sebenarnya aku sudahh menduga, ada bisnis lain selain narkoba. Hanya saja aku tidak menyangka itu adalah senjata ilegal’ Alan menimpali. “yes baby…. And you know what? berdasarkan pengakuan dari Liam, keluarga Liam adalah Axton. Tapi mereka terpisah sejak kecil. Liam itu diasuh oleh perempuan yang pernah bekerja pada keluarga Axton. Aku merasa kasian pada Liam.” Amber bercerita dengan mata menerawang. “Tapi, ibu angkat Liam tersebut tidak mau bercerita lebih jauh “ kata Amber kemudian “and then… apalagi informasi dari Liam yang j=kamu dengar Amber?” Tanya Alan lagi “nope Baby… Liam tidak punya informasi apapun lagi, karena smber informasinya hanya dari ibu angkatnya. Tapi ibu angkatnya tidak mau menjawab kalau Liam bertanya-tanya entang keluarga Axton. kemudian aku berhasil kabur dengan Liam kejalan raya.” Amber mengakhiri ceritanya. “sayang.. menurutku keluarga Liam yang sesungguhnya adalah keluarga konglomerat kondang, Axton. What do you think?? Dan bisa jadi ia bersaudara dengan Arthur Axton…. Do you think so?” Amber bertanya dengan muka penuh curiga “okay baby, bagaimana kalau kita cari tau?” Tanya Alan “yeah… sure” jawab Amber Dengan mata antusias, Alan berkata “sekarang, kamu coba dekati ibunya Arthur Axton. Kamu coba saja melamar pekerjaan padanya. Gunakan ijazahmu… dan kita lihat apa hasil penyelidikanmu….” Bersambung…..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN