Jantung Amber berdegup tak keruan. Suara dua orang laki-laki itu terdengar makin jelas. Diam-diam ia mengambil pistol dari balik pakaiannya, bersiap segala kemungkinan buruk yang dapat terjadi.
"Tapi setelah melihat bangunan ini, rasanya tidak mungkin, perempuan itu ada di dalam bangunan ini," tukas salah satu laki-laki yang mengejar Amber.
"Mungkin saja, Bodoh! Justru tempat seperti ini tepat untuk bersembunyi. Sudahlah, jangan terus menerus mengeluh. Kamu mau Mr. Nathaniel memberi hukuman pada kita?"
"Ya, ya, ya ..., kamu benar. Sebaiknya kita berpencar untuk mencari di setiap sudut bangunan ini."
Mendengar itu, Amber bersembunyi di balik tembok lain yang lebih tersembunyi dari tembok sebelumnya. Jantung Amber berdebar kencang. Setiap langkah yang terdengar mendekat, membuat ketakutan merayap makin cepat.
Kalau seperti ini terus, hanya masalah waktu dua orang itu dapat menemukan persembunyianku .... Aku harus mencari cara yang tepat untuk keluar dari tempat ini, tanpa sepengetahuan dua orang laki-laki itu, batin Amber.
"Ssst, hei, hei ....
Amber tersentak mendengar suara orang yang memanggilnya. Ia menoleh ke jendela, dan melihat seorang pemuda yang berusia sekitar akhir belasan tahun melambaikan tangan ke arahnya.
Siapa pemuda itu?
Amber menyelisik pemuda itu selama beberapa waktu lamanya. Pemuda itu berpenampilan kucel. Rambutnya hitam sebahu, dan berantakan. Pakaian yang ia kenakan sama kotornya dengan kulitnya. Menilik penampilan si pemuda, Amber yakin kalau ia bukan termasuk orang-orang yang mengejarnya.
Amber pun berjalan mengendap-endap menghampiri pemuda itu. Ketika tiba di dekatnya, ia segera bertanya, "Siapa kamu?"
"Aku tidak bisa menjelaskan sekarang. Tapi aku tahu kamu dalam bahaya kalau dua orang laki-laki itu menangkapmu. Aku tahu persis kalau mereka orang-orang yang jahat," ujar pemuda itu, setengah berbisik.
"Lalu apakah kamu bermaksud membantuku?" tanya Amber, mencoba menerka maksud pemuda di hadapannya itu.
Pemuda kucel itu menganggukkan kepala. "Iya. Tapi jendela ini tidak cukup untuk dilewati. Kamu lihat jendela di seberangmu?"
Amber menoleh, melihat jendela di seberangnya yang dimaksud oleh pemuda itu. Selama beberapa saat lamanya, ia berpikir cukup lama.
"Ah, jadi lewat sana. Tapi, aku khawatir dua orang laki-laki yang mengejarku melihatku ketika melintasi ruangan," ucap Amber dengan wajah yang tampak sangat khawatir.
"Selalu ada risiko, Miss. Bertahan di sini malah membuatmu memiliki risiko yang lebih besar lagi, 'kan?!" tukas si pemuda.
Amber mencerna kata-kata pemuda itu di dalam pikirannya selama beberapa saat lamanya, sebelum akhirnya menganggukkan kepala seraya menghela napas.
"Baiklah. Aku pikir kata-katamu benar," kata Amber, setuju.
"Bagus. Kalau begitu akan aku tunggu di balik jendela yang ada di sana," sahut si pemuda berpakaian dan berpenampilan kucel.
Amber menyelisik sekitar, memastikan keadaan aman. "Let's do this."
Amber berlari menuju jendela di seberang mereka. Suara langkah Amber menarik perhatian dua orang laki-laki yang mengejarnya.
"Itu dia perempuan yang kita cari! Cepat kejar!" teriak salah satu orang laki-laki yang mengejarnya pada laki-laki yang lain.
Beruntung, Amber tepat waktu. Amber berhasil keluar dari jendela. Si pemuda kucel telah menunggunya di sana.
"Ikut aku, Miss!"
Si pemuda kucel berlari, diikuti Amber di belakangnya. Mereka berlari sekuat tenaga menyusuri jalanan yang sunyi dan gelap.
"Siapa kamu?" tanya Amber, yang sebenarnya dari tadi merasa penasaran dengan alasan si pemuda kucel yang mau menolongnya.
Si pemuda kucel tersenyum. "Rumahku adalah bumi ini. Atapnya adalah langit, lantainya adalah semua tanah yang kupijak."
Jadi dia seorang gelandangan ..., batin Amber, memandang pemuda itu dengan tatapan iba. "Lantas kenapa kamu mau menolongku?"
Si pemuda kucel itu tertegun selama beberapa saat lamanya, sebelum akhirnya mengutarakan apa yang ia ketahui. "Aku memang orang bodoh dan tidak berpendidikan. Tapi bukan berarti aku tidak bisa membedakan orang jahat dan orang baik. Tadi aku melihatmu dikejar oleh banyak laki-laki itu. Memang aku tidak tahu ada masalah apa di antara kalian. Tapi aku tahu, semua yang mereka perbuat tidak pernah baik. Mereka menjual berbagai jenis obat-obatan terlarang, dan juga senjata ilegal."
Amber tersentak. Selama ini penyelidikannya bersama Alan hanya sebatas obat-obatan terlarang. Ia dan Alan tidak pernah menduga kalau Nathaniel memiliki bisnis gelap lain yang sama menakutkannya seperti obat-obatan terlarang. Meskipun mendapatkan keterangan dari pemuda kucel itu, ia masih memerlukan bukti yang kuat untuk menjerat Nathaniel ke dalam hukum.
"Dari mana kamu mengetahu soal itu semua?" tanya Amber, ingin semua rasa penasarannya dijawab tuntas oleh si pemuda kucel.
Si pemuda kucel mendesah kasar. "Suatu kali aku melihat beberapa mobil berwarna hitam, menurunkan peti-peti besi berwarna abu-abu. Saat kejadian itu, banyak laki-laki yang memegang senjata, menjaga peti-peti itu. Tentu saja, hal itu memancing rasa penasaranku. Akhirnya aku memutuskan untuk mencari saat yang tepat dan melihat peti itu. Beruntung, suatu kali saat itu pun tiba. Pada suatu malam, ketika penjagaan tidak seketat biasanya, aku masuk ke dalam bangunan itu. Ketika tiba di dalam aku segera melihat isi peti. Sayang, peti itu terkunci rapat. Aku kesulitan membuka peti besi itu. Namun, sekali lagi keberuntungan berpihak padaku. Aku melihat ada satu buah peti yang sedikit terbuka. Dengan segera aku melihat isinya. Dan, yaaah ..., seperti yang tadi aku katakan kepada kamu. Di dalam peti itu terdapat senjata-senjata dan obat-obatan terlarang."
"Kenapa kamu tidak melaporkannya kepada polisi?" tanya Amber.
Si pemuda mengelengkan kepala. "Kamu pikir polisi akan memercayai kata-kata pemuda seperti aku? Jangankan polisi, orang lain pun tidak akan percaya dengan apa yangaku sampaikan. Apalah aku ini di mata orang lain ...."
Amber menunduk. Ia merasa iba dengan si pemuda kucel yang telah menolongnya itu. Namun, apa yang dikatakan oleh si pemuda kucel memang benar. Di dunia ini, makin kaya dan makin tinggi status seseorang, maka makin banyak orang yang akan percaya. Sebaliknya pun demikian.
"Tidak denganku," ucap Amber, membuat si pemuda kucel yang menolongnya itu, menoleh kepadanya.
"Apa maksudmu, Miss?"
Amber tersenyum. "Well, meskipun aku seorang polisi, aku percaya dengan kata-katamu mengenai mereka. Aku tahu kalau kamu adalah seorang pemuda yang baik."
Si pemuda kucel terkejut. "Polisi? Damn!"
"Kenapa kamu tidak suka mengetahui kalau aku polisi?" tanya Amber, lagi.
"Ah, banyak polisi sebenarnya berhati busuk. Mereka berlindung di balik wewenang, walaupun sejatinya mereka sama busuknya dengan para penjahat itu." Si pemuda itu diam sejenak seraya melirik Amber. "Aku harap kamu tidak seperti para polisi busuk itu, Miss."
Amber kembali terdiam dan tercenung memikirkan kata-kata si pemuda. Meskipun seorang polisi, ia tidak bisa menyangkal kebenaran ucapan si pemuda. Pemuda itu sebenarnya cerdas. Sayang, nasibnya kurang beruntung.
"Tidak. Aku bukan seperti polisi yang kamu maksudkan," tukas Amber pada si pemuda kucel. "Aku Amber, siapa namamu?"
Ditanya seperti itu si pemuda tersenyum. "Liam."
"Apakah kamu memiliki orang tua?" tanya Amber yang merasa iba.
"Tentu saja. Bagaimana mungkin aku ada di dunia kalau tanpa orang tua?!" seloroh si pemuda kucel. "Tapi aku tidak pernah tahu siapa orang tuaku. Yang aku tahu, sejak kecil aku dirawat oleh ibu angkatku."
"Jadi kamu sekarang tinggal bersama ibu angkatmu?"
Si pemuda kucel menggelengkan kepala. "Tidak. Sejak lima tahun lalu, ibu angkatku sudah meninggal. Aku yang tidak sanggup meneruskan membayar kontrakan, akhirnya harus tinggal di jalanan seperti sekarang."
"Maaf, aku tidak bermak—"
"Tidak apa-apa, Miss."
"Apakah kamu sama sekali tidak tahu siapa orang tuamu yang sesungguhnya?" tanya Amber.
Si pemuda kucel diam sejenak seraya berpikir. "Axton. Hanya itu yang aku ketahui kalau itu adalah nama keluargaku. Ibu angkatku pernah bercerita kalah ia mengenal keluarga Axton. Namun, ketika aku bertanya kenapa aku berpisah dengan mereka, ibu angkatku bungkam dan menangis. Aku tidak tega untuk bertanya lagi."
Axton .... Jangan-jangan dia bersaudara dengan Arthur Axton? Kalau ternyata dia bagian dari Keluarga Axton, pasti ada sesuatu yang tidak diketahui oleh banyak orang. Lagi pula kalau pemuda kucel ini bagian dari keluarga itu, dan jika aku bisa mengembalikannya ke Keluarga Axton, aku dapat membayar kebaikannya yang telah menolongku. Baiklah, nanti akan kuselidiki, batin Amber.
"Kenapa diam, Miss?" tanya si pemuda kucel. "Apakah kamu tahu mengenai keluargaku?"
Amber kembali tercenung selama beberapa saat lamanya sebelum akhirnya menggelengkan kepala pelan. "Tidak. Aku tidak tahu soal keluargamu."
Jawaban Amber membuat Liam tampak kecewa. "It's okay.
Setelah cukup jauh menempuh jalanan, berangsur-angsur tenaga Amber makin melemah. Tungkainya terasa lemas, napasnya memburu, pun dadanya kembang kempis. Ia tertinggal jauh di belakang si pemuda kucel yang tidak menyadarinya.
"Miss. Amber, sepertinya mereka tidak berhasil mengejar kita. Sebaiknya sekarang kita berpisah di sini. Kurasa keadaanmu sudah aman dari orang-orang jahat it—" Liam tersentak, ketika menyadari Amber tidak ada di dekatnya. "Miss. Amber ...."
Ia menoleh ke belakang dan mengedarkan pandangan. Matanya menyapu setiap sudut jalanan dan bangunan yang ada di belakangnya. Namun, ia tidak menemukan Amber ada di sana. Bahkan jejaknya pun tidak ada sama sekali. Kekhawatirannya pun menyeruak seketika itu juga.
"Miss ..., Miss. Amber!" teriak Liam, sambil berjalan menyusuri jalan di jalan yang tadi dilaluinya. "Miss! Miss. Amber!"
Sudah ratusan meter ia berjalan, tetapi tidak juga menemukan perempuan yang ditolongnya tersebut. Liam pun menjadi makin gusar. Kekhawatiran orang-orang yang mengejarnya berhasil menangkap Amber pun terlintas.
Apakah Miss. Amber tertangkap? Tidak ..., tidak mungkin itu terjadi. Aku sangat yakin kalau tadi aku dan dia berhasil melarikan diri dari kejaran orang-orang jahat itu, batin Liam, dengan wajah cemas.
Liam terus melangkah dan mencari-cari di setiap sudut yang dilaluinya. Sayang, hasilnya tetap saja sama. Namun, ketika sudah berjalan sejauh lima ratus mete, tiba-tiba terdengar jeritan dari balik bangunan yang ada di ujung jalan. Tidak salah lagi, itulah suara Amber.
"Oh, Tuhan..., itu suara Miss. Amber ..., jangan-jangan dia telah...." Tanpa pikir panjang, Liam berlari menuju asal suara itu.
Bersambung ke episode berikutnya