55

1678 Kata
"Well, beritamu sangat membantu untuk memojokkan laki-laki bodoh itu," ucap Clive, menyeringai. "Kalau Anda puas, tentu tidak lupa dengan upahku, 'kan?!" Clive menggeleng. "Bagus bukan berarti sudah selesai. Kamu tahu itu, 'kan?!" "Lantas apa lagi yang Anda inginkan?" Clive tersenyum, lalu mencondongkan badan. "Aku ingin kamu ungkap kebusukan Detektif Alan Pearce." "Alan? Kenapa?" "Karena dia telah mengusik kami," tukas Clive, terlihat geram. Di tempat lain, Amber kembali bertugas. Namun, sejak pagi ia tidak mendapati Alan di sisinya. Teleponnya pun tidak diangkat oleh Alan. Kekhawatirannya menyeruak. Amber berjalan cepat dari Ellenwood menuju Departemen Kepolisian London. "Al, cepat angkat ..." Amber berulangkali mencoba menghubungi Al, tetapi selalu masuk ke dalam kotak suara. Akhirnya ia menyerah, seraya memasukkan ponselnya ke dalam tas. Belasan pesannya semalam hanya dijawab sekali, dan singkat, 'Aku sibuk.' Sesibuk apa kamu sampai tidak mau membalas pesanku? Beberapa menit kemudian, Amber telah tiba di tujuan. Tatkala melewati Ruang Komisaris, ia mendengar keributan dari dalam. "Tidak seharusnya penyelidikan dihentikan!" "Aku memang sebentar lagi pindah, tetapi selama aku masih di sini, kamu wajib mematuhiku!" "Omong kosong!" "Al! Kita memang berteman, tapi aku juga atasanmu! Kalau kamu seperti ini, terpaksa aku akan men—" "Menskor? Lakukan! Tapi aku akan tetap bertindak!" Terdengar suara keras pintu yang dibanting. Alan muncul dari dalam ruangan, dan berlalu melewati Amber. "Hei, Al! Ke mana?" "Melakukan apa yang sudah seharusnya," jawab Al, tanpa menoleh. Amber berlari kecil, mengikuti Alan hingga sampai di depan mobil Fiat tua hitam. Sesaat sebelum membuka pintu mobil, Alan menoleh pada Amber. "Kamu seharusnya mempersiapkan pernikahan kita. Sebaiknya jangan ikuti aku." Amber menghela napas, kemudian ikut masuk ke dalam mobil. "Aku sudah mengingatkanmu, Amber." Meskipun diselimuti keraguan, tapi Amber cenderung mengikuti nuraninya, dan mengambil risiko sanksi yang mungkin akan dijatuhkan. Selama beberapa waktu di perjalanan, keduanya tidak berbicara, hingga akhirnya Amber membuka suara, "dr. Eubert Hudson." Al mengerling sesaat, kemudian kembali mengalihkan pandangan ke jalan. "Semalam aku menonton dr. Eubert Hudson dalam siaran berita." "Lalu?" "dr. Eubert sepertinya mengetahui banyak hal tentang bisnis Nathaniel." Al terlihat mencerna pikirannya sebentar, lantas tersenyum. "Penyataan yang menarik." "Dia sekarang sedang berada di pemakaman sahabatnya," ujar Rachel. "Ayo, kita ke sana." "Oke. Tapi berjanjilah agar tetap tenang, atau semua usaha kita akan sia-sia belaka." "Well, tentu saja. Aku sudah menjadi Detektif lebih dari lima tahun. Kamu tahu itu, 'kan?!" Al memutar setir, lantas menginjak pedal lebih dalam. *** Ratusan orang berpakaian hitam memadati sebuah komplek pemakaman. Mereka larut dalam kesedihan, bahkan tak sedikit yang berderai air mata. Jasad yang baru saja dikuburkan adalah penyebabnya. Namun ada dua orang yang terlihat berbeda dibandingkan yang lain .... "Kalau sebelum berangkat dari rumah aku tahu akan datang di pemakaman, tidak mungkin aku berpakaian konyol seperti sekarang." Amber menggumam, menunjukkan perasaan kesal bercampur malu, yang tersirat dari semburat merah di wajahnya. "Warna kuning terang cocok untukmu," ucap Alan, tersenyum geli melihat warna pakaian Amber. "Tidak untuk suasana berkabung." "Well, kita punya alasan lain untuk berada di sini, kan?!" tukas Alan, sembari menyapu pandangan pada orang-orang di sekelilingnya. Amber menghela napas. "Ya. Tapi tidak gampang mencari dr. Eubert di tengah keramaian ini." Alan tak menghiraukan kata-kata Amber. Ia berjalan, sambil menelisik orang-orang yang dilalui. "Bukan ini ... ini tidak juga ... dia dokter, tapi bukan orang yang kita cari ..." Dengan kemampuan deduksi yang tajam, Alan mengamati orang-orang yang dilalui. "Kalau kamu mau tahu dr. Eubert, aku bisa memberitahumu. Aku sudah melihatnya di televisi." Baru saja Amber usai berbicara, Al sudah berhenti di samping pria berambut pirang. "Bisakah kita berbincang beberapa menit, dr. Eubert?" Pria itu tersentak, lalu menoleh pada Alan, dan Amber. Sesaat ia memandang mereka dengan tatapan menyelidik. "Anda?" "Saya Alan Pe—" Tiba-tiba dr. Eubert membeku sedetik. Pandangannya melintasi Amber. "Maaf, aku harus pergi." dr. Eubert menginterupsi dengan terbata-bata. Ia pun menyurutkan langkah, lantas berjalan cepat di antara kerumunan orang. "Tunggu!" Alan, dan Amber berusaha mengejar, tetapi terhalang orang-orang yang berkerumun. Alan melepaskan tembakan ke atas. Orang-orang menjerit, dan berlari ketakutan. "Polisi! Cepat beri jalan!" seru Alan sambil mengangkat pistol, dan lencananya ke udara. "Kamu sudah gila!" Amber mengumpat. Keduanya berlari mengejar, namun dr. Eubert sudah masuk ke dalam mobil, kemudian meninggalkan tempat itu. Mereka tidak menyerah, dan kembali mengejar dengan mobil tua Alan. "Kamu benar-benar sudah gila! Kita tidak memiliki surat tugas! Apa yang tadi kamu lakukan benar-benar akan membuatmu batal mendaaptkan promosi!" Alan tak mengacuhkan kekasih sekaligus rekannya, seraya menginjak pedal gas lebih dalam. "Kamu benar-benar gegabah," gerutu Amber. "Ia dalam bahaya," ujar Alan, tiba-tiba. Kata-kata Alna mengejutkan Rachel. "Bagaimana kamu bisa tahu?" "Sesaat sebelum meninggalkan kita, ia melayangkan pandangan ke belakangmu. Sudah jelas kalau ia ketakutan melihatnya," terang Alan. "Lantas kenapa kita tidak menangkap orang yang membuatnya ketakutan, dan menginterogasinya?" "Memangnya kita bisa tahu siapa orang yang dimaksud, di tengah banyaknya orang?!" "Dengan kemampuan deduksimu, seharusnya—" "Aku bukan Tuhan, Amber." Amber diam mendengar kata-kata Alan, kemudian menoleh ke kaca belakang. "Alasanmu masuk akal. Tapi tidak ada yang mengejarnya selain kita." "Entahlah Amber. Sekarang yang paling penting, kita harus berhasil mengejar, lalu menanyai dr. Eubert." Mobil mereka menerobos lampu merah dengan kecepatan tinggi. Tak lama kemudian, tampak beberapa mobil Polisi membayangi di belakang. "Kita benar-benar berada dalam masa—" Ponsel Amber bergetar, menginterupsi kalimatnya. "Komisaris ...." "Tidak usah diangkat." Amber hanya bisa menggerutu. Ia terpaksa setuju dengan tindakan Alan, karena sudah terlanjur terlibat dalam kejadian itu. Saat mobil Alan berhasil mempersempit jarak, mendadak mobil dr. Eubert oleng, dan menabrak truk di depannya. "Awas!" Amber menjerit, melihat dampak yang sebentar lagi terjadi. Terlambat. Alan tak sempat menginjak rem, hingga mobilnya menabrak mobil dr. Eubert. Kepala mereka menghantam kaca mobil. Darah pun mengalir membasahi wajah mereka. Keduanya mengerang, sambil memegangi kening. Namun di saat seperti ini, mereka tidak boleh dikalahkan rasa sakit. Keduanya tergopoh-gopoh keluar dari mobil, dan menghampiri dr. Eubert. Apa yang mereka dapati, di luar dugaan. Keadaan dr. Eubert sungguh mengenaskan. Ia ditemukan tak bernyawa. Darah mengalir dari lubang yang menembus dadanya. "Oh, Tuhan! Apa yang terjadi?" Alan memicing, menjangkau tiap sudut mobil dr. Eubert. "Tidak ada bekas tembakan di mobil ini. Berarti ia ditembak pada saat berada di pemakaman." "Penembak jitu?" Alan menggeleng. "Bukan. Jika penembak jitu, tentu kepalanya sudah berlubang. Untuk apa menembak d**a jika ia ingin lekas-lekas menghabisinya?! Lagipula akan sulit menembaknya dari jauh, saat sasaran berada di tengah keramaian." "Maksudmu ia ditembak dari dekat?" "Iya. Aku yakin ia ditembak dengan peredam suara, ketika menerobos kerumunan orang." Alan meraba lubang di d**a korban. "Tembakannya tepat mengenai dua pembuluh jantung. Ia tahu kalau targetnya tak akan bertahan lama." "Pantas si pembunuh tidak mengejar mobil dr. Eubert." Alan mengangguk, lantas menoleh ke belakang. "Kamu benar. Kita berada dalam masalah." Beberapa mobil polisi sudah memblokir jalan. Suara sirine terdengar meraung-raung dengan keras. Para polisi pun sudah menodongkan pistol ke arah mereka. "Halo, Komisaris," sapa Alan, melihat seseorang yang baru saja keluar dari mobil. "Melanggar perintah, bertindak tanpa surat tugas, membuat kegaduhan, pelanggaran lalu lintas, dan ..." Komisaris memandang jasad dr. Eubert, "mungkin pembunuhan." Al menghela napas. "Aku tidak akan membunuh, dan setiap tindakanku berdasarkan alasan yang kuat. Kamu tahu itu ...." Komisaris membuang pandangan, saat Alan, dan Amber digelandang menuju mobil Polisi. "Maaf, aku tak ada pilihan." Komisaris menggumam, melayangkan pandangan pada mobil yang membawa keduanya pergi dari lokasi kejadian. *** Seorang berjaket tudung mengamati dengan lensa teleskopis, saat Perry Smith menuruni tangga menuju sedan hitam yang menjemputnya. Tak lama kemudian, mobilnya menguntit dengan kecepatan tenang, lalu bersembunyi di balik mobil-mobil yang terparkir. Ia mengangkat alat pengamat lagi, ketika Perry turun bersama pria berbadan besar, lantas masuk ke dalam sebuah bangunan. Orang berjaket tudung tersebut adalah Amber. Sudah dua hari ia mengamati Perry Smith, usai terbebas dari dugaan keterlibatannya atas kematian dr. Eubert Hudson. Skors yang diberikan, tidak menghentikan Amber untuk meneruskan penyelidikan. Alan Pearce memang masih berada di dalam sel. Tetapi pada pertemuan terakhir, ia berhasil meyakinkan Amber, jika kekasih dan rekannya tersebut pasti akan bebas, dan meminta Amber untuk melanjutkan penyelidikan—terutama pada Perry Smith. Awalnya Amber ragu, mengingat ia akan segera menikah dengan Alan Pearce.', tetapi teka-teki kematian dr. Eubert sudah menjadi candu di dalam pikirannya. Candu memang sulit dilawan, meskipun risiko yang lebih buruk ketimbang skorsing dapat terjadi. Sudah dua jam ia di sana. Rasa kantuk menyergap. Matanya pun mulai sayup. Namun suara ketukan di kaca mobil, membuat gadis tersebut terjaga. Pria berwajah angker, menatap garang dari balik kaca. "Ada apa, Sir?" tanya Amber, setelah menurunkan kaca mobil. "Aku mau keluar, tapi mobilmu menghalangi." "Ah, maaf." Amber menghela napas, lega. Semula ia mengira, kehadirannya telah diketahui oleh Perry Smith. Tidak cukup hanya sekedar maju untuk memberi ruang pada kendaraan pria itu untuk keluar, sebab parkiran di blok tersebut sudah semuanya terisi. Amber harus berputar, mencari tempat parkir di blok lain. Ketika mobilnya berada di ujung belokan, sekonyong-konyong jip hitam melintang di depannya. "Holly ..." Amber melirik kaca spion, di belakangnya mobil lain pun sudah menghalangi. Tak lama kemudian, dua pria berbadan besar, turun dari jip hitam. "Cepat turun!" Bentak salah satunya, sambil menggedor kaca mobil. Amber berpikir cepat, lantas membuka pintu hingga menabrak laki-laki angker itu. Tanpa pikir panjang, Amber berlari sekuat tenaga. Ia sudah tidak mempedulikan mobilnya, lantaran nyawanya leboh penting ketimbang itu. Akan tetapi, ia justru menarik perhatian lebih banyak orang. Mereka beramai-ramai mengejar Amber. "Berhenti! Atau kami akan menembakmu! " seru salah satu orang yang mengejarnya. Alih-alih berhenti, Amber makin berlari kencang. Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari belakang. "Argh!" jerit Amber, ketika peluru berhasil menggores lengannya. Namun, itu tidak cukup membuatnya berhenti. Amber terus berlari, sampai melihat sebuah bangunan tua dan tidak terpakai di depannya. Segera saja ia masuk ke dalam dan di balik dinding yang tertutup tumpukan barang. "Darah ini..., mereka bisa menemukanku kalau melihat tetesan darahku," gumam Amber seraya merobek lengan bajunya lantas membalut luka itu. Amber mengernyit, berusaha menahan suara lantaran perih akibat luka itu. Tak lama kemudian, sayup-sayup terdengar suara dua orang pengejarnya. "Mungkin ia bersembunyi di sini," ucap salah seorang pengejar Amber. "Mungkin saja. Mari kita cari." "Kalau kita menangkapnya apa yang akan kita lakukan?" "Tentu saja membawanya ke hadapan Mr. Nathaniel." "Bodoh!" "Apa maksudmu?" "Kita nikmati saja dulu sebelum menyerahkannya." Mendengar kata-kata itu temannya tersenyum. "Benar." Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN