“Kenapa diam lagi? Jawab dulu dong pertanyaanku tadi.”
Alan tersenyum dan mengangguk kecil “Iya, kamu memang benar.”
Amber tersenyum senang mendengar hal itu, kemudian ia berkata kembali “Kita sama-sama gengsian. Untung aja Komisaris menyuruh kita ke sini. Kalau tidak, mungkin kesempatan untuk bisa dekat seperti sekarang tidak akan terjadi. Aku pasti masih samar-samar dengan perasaan kamu padaku. Begitu juga sebaliknya.”
“Sekarang bukan cuma dekat, tapi sudah seperti ini,” goda Alan merujuk pada keadaan mereka yang saling menghimpit.
“Masih kurang kalau cuma sebatas ini. Aku maunya lebih dari ini,” kata Amber seraya mengecup bibir Alan dengan lembut.
“Tidak khawatir hamil?”
“Kenapa harus khawatir?! Kalau hamil ya kamu harus menikahiku, Alan. Mudah kan?! Lagi pula di umur segini, aku cari pria bukan untuk sekadar pacaran. Aku inginnya mencari pasangan hidup. Apalagi dengan prestasi kamu, aku tidak khawatir dengan masa depan rumah tanggaku nanti.” terang Amber lalu berhenti sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan “Dari cumbuan tadi, pasti kamu tahu kalau aku pernah berhubungan intim sama orang lain. Tapi jujur ya, baru kali ini aku mau pasanganku tidak memakai pengaman. Itu tandanya aku serius. Yaah, asalkan kamu juga mau siap terima risikonya dan menikah dengan aku.”
“Ini juga bukan yang pertama buatku, jadi keadaan kita sama dan tidak jadi masalah buat aku. Kalau masalah risiko, justru aku mau mengambil risiko itu. Punya anak dari kamu, mmmm…, not bad.”
“Not bad?! Dasar tidak mau mengaku.” ucap Amber seraya tertawa kecil, lalu ia kembali berkata “Kalau berani ambil risikonya, hamil atahu tidak hamil, tiga bulan lagi kamu harus lamar aku ya?!”
“Sudah hampir tidur nih milikmu. Kita sih terlalu lama berbincang,” ucap Amber dengan nada sedikit kecewa. “Tapi tenang…,” kata Amber, kemudian menggenggam milik Alan dan mulai menggerakkan tangan ke atas ke bawah.
“Kenapa harus tiga bulan lagi? Besok juga bisa.”
“Sembarangan saja kalau besok. Begini lho, ayahku selesai bertugas dari Canada tiga bulan lagi.”
“Oh begitu ya. Boleh, kalau begitu tiga bulan lagi. Jadi mulai besok Alan nabung untuk persiapan pernikahan,” tukas Alan.
Amber mengangguk sambil tersenyum “Ayo kita lanjutkan, kalau terlalu lama harus foreplay lagi dari awal.” ajak Amber, seraya melepaskan celananya. “Posisi Enam Sembilan ya, biar aku yang di atas.”
Alan mengangguk lalu merebahkan diri. Tanpa berlama-lama, Amber mengambil posisi merangkak di atas, kemudian tangannya menarik retsleting dan menurunkan celana Alan, hingga membuat milik Alan menyembul keluar.
Perlakuan Amber membuat milik Alan bereaksi kembali. Apalagi kini lidahnya memanjakan milik Alan. Cumbuan demi cumbuan lidah Amber membasahi setiap inchi milik Alan. Tidak cukup sampai di situ, perlahan ia mulai mengulum dan menghisap milik Alan sambil menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah “Mmmch…, mmmch.”
Sensasi yang dirasakan hampir saja membuat Alan terlena menjalankan tugas memanjakan Amber. Amber pandangi dengan takjub intim Amber Amber yang mempesona. Sementara lidah Alan memanjakan intim Amber, tangan kirinya meremas-remas d**a dan memilin ujung d**a kanan Amber.
“Mmmmch…, mmmch.” sambil mengulum dan mengocok milik Alan, Amber mendesah merasakan kenikmatan yang kuberikan. Di saat yang sama, Alan juga merasakan kenikmatan yang ia berikan.
“Masukkan sekarang saja Al. Kalau jari kamu tidak berhenti, aku bisa mencapai klimaks lebih dulu,” pinta Amber seraya menarik kepalanya menjauh dari milik Alan.
“Mau gaya apa?” tanya Alan.
Amber tidak menjawab, namun ia mengambil posisi duduk di atas s**********n Alan sambil memunggungi. Digenggamnya milik Alan dengan lembut, lalu mengarahkan milik Alan masuk ked lam intm miliknya itu. Perlahan ia mulai bergerak ke atas ke bawah. Semakin lama Amber bergerak semakin cepat. Alan letakkan sebelah tangan Amber di pundaknya, kemudian mengulum dadanya. Sementara tangan kirinya meremas-remas dadanya yang lain.
Tubuh Amber bergelinjang seiring desahannya. Ia memompa semakin cepat, membuat milik Alan merasakan sensasi luar biasa. Milik Alan menumbuk semakin kuat. Beberapa detik kemudian….
“Aaaaah!”
Dengan napas terengah Amber merebahkan diri di samping Alan. “Sayang, kamu belum ya?”
“Iya belum. Masih sanggup kan?” Tanya Alan sambil menatap wajah Amber lekat-lekat.
“Tentu saja masih,” jawabnya seraya mengelus-elus milik Alan, lalu mengulumnya lagi.
Setelah merasa cukup, Alan merebahkan diri, dan meminta Amber berada di atas dan menghadap kepada Alan. Kemudian Amber menggenggam lembut milik Alan lalu mengarahkannya masuk ke dalam bagian intimnya. Perlahan Amber mulai bergerak ke atas ke bawah. Lama-kelamaan ia memompa semakin cepat. Di saat bersamaan Alan mengulum, menghisap, dan menggigit d**a kiri. Sementara itu tangan Alan meremas-remas d**a Amber yang lain, sambil sesekali memilin dan mencubit ujung d**a.
Puluhan kali milik Alan menumbuk cepat dalam bagian intimnya, membuat tubuhnya bergelinjang, dan desahannya semakin keras, Amber pun memompa semakin cepat dan kuat. Beberapa detik kemudian….
“Aaaah, aaaaah!”
Inilah puncak kedua yang Amber rasakan. Terlihat rasa puas di wajahnya yang cantik.
“Sebenarnya aku masih mau lagi Sayang. Tapi besok pagi kita harus pulang ke London.” Ucap Alan sambil membelai wajah Amber yang terbaring di sebelahnya.
“Begini saja. Kita lanjukan weekend di apartemenku, bagaimana?” kata Amber memberi ide.
“Weekend? Berarti Jumat sampai minggu. Kalau tiga hari tiga malam non stop boleh juga.”
“Siapa takut?! Nanti aku beli lingerie khusus buat weekend. Kamu bantu pilihkan di online shop ya.” ucap Amber dengan mata berbinar.
Begitulah perjalanan mereka, yang diawali dengan ketidakberuntungan, tapi berakhir sempurna. Beberapa waktu berlalu sejak kejadian itu. Komisaris datang menghampiri Alan dan Amber yang tengah asik ngobrol.
“Wah sekarang kalian jadi akrab. Beda sekali tidak seperti dulu,” kata Komisaris sembari tersenyum.
Mendengar kata-kata Komisaris, Alan dan Amber tersenyum lebar dan saling bertukar pandang.
“Bukan cuma akrab Sir. Malah rencananya sebentar lagi kami menikah,” jawab Alan semringah.
“Nikah? Bagus kalau begitu. Memangnya kapan?”
“Bulan depan Sir. Nanti undangannya dikirim ke rumah. Kami mohon kehadirannya, Sir.” ucap Amber ceria.
“Iya nanti saya datang. Oh iya, saya juga ada kabar baik, mungkin bisa jadi hadiah pernikahan kalian.”
“Kabar apa itu Sir?” tanya Alan penasaran.
“Bulan depan saya dipromosikan di kantor pusat, nah salah satu di antara kalian akan menggantikan saya jadi Komisaris. Tapi saya bingung, siapa ya?”
“Alan saja Sir, karena saya mau mengambil cuti.” usul Amber seraya melirik dan tersenyum kepada Alan.
“Oh begitu ya. Baik nanti saya coba ajukan ke atasan. Pasti mereka setuju, mengingat prestasi kalian selama ini di keolisian. Ya sudah kalau begitu selamat ya.” ujar Komisaris ramah, kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka.
“Aku senang akhirnya kamu bisa naik jabatan. Tapi jangan lupa waktu kalau kerja, nanti rutinitas lima kali sehari kita terganggu.”
“Tentu saja tidak. Mana mungkin aku melewatkan rutinitas harian kita yang satu itu. Kalau begitu nanti pas jam makan siang kita mulai ronde pertama di hotel deket sini, bagaimana?”
“Ayo banget. Alan bawa lingerie super sexy kok.” bisik Amber seraya mengecup pipi Alan.
Meereka memang sedang berbahagia, tetapi tugas terpenting masih menanti. Tentu ssaja itulah tugas terberat yang pernah mereka jalani. Membongkor kebusukan Nathaniel dan antek-anteknya.
***
Sementara itu ditempat lain, Clive kembali berjanji dengan seeorang yang membantunya untuk menjatuhkan sahabatnya sendiri, yaitu Arthur. Kali ini mereka berjanji untuk bertemu di sebuah cafe yang ada di sebuah hotel mewah.
Bridge Lux Hotel yang terletak di pinggir area Shoreditch, merupakan hotel terbesar di daerah itu. Bridge Lux Hotel merupakan gedung pencakar langit salah satu yang tertinggi di Kota London, bahkan mungkin seantero Inggris Raya. Dinding-dindingnya yang penuh kaca terlihat biru karena memantulkan bayangan langit yang cerah kala itu. Kemewahannya pun tampak dari bagian muka dan dalam dari ornamen-ornamen simpel dan berbahan mahal. Lantainya terbuat dari marmer Italia yang dikenal akan kualitas dan kemewahannya. Belum lagi teknologi canggih yang disematkan pada setiap sudut bangunan, makin mengukuhkan hotel itu sebagai bangunan termegah di seluruh penjuru Inggris Raya.
Bukan hanya bangunan, taman yang terdapat pada halamannya pun berisikan tanaman mahal dan cantik, sehingga kian menambah nilai Bridge Lux Hotel. Gedung semegah itu tentu saja memiliki lapangan parkir yang memadai dan diawasi dengan sistem kontrol yang baik. Setiap sudut lapangan selalu diawasi dengan kamera CCTV.
Hari itu aktivitas di Bridge Lux Hotel menggeliat. Parkiran yang sangat luas, bahkan terlihat sesak dijejali bermacam kendaraan. Dari mulai kendaraan mewah, sampai yang standar. Namun, tak ada yang du bawah itu. ratusan karyawannya sibuk mengerjakan pekerjaan masing-masing. Hal yang sama terlihat di dalam café. Tidak heran jika Clive kembali menyembunyikan identitasnya.
Di sana, tampak Clive yang mengenakan topi, syal, kacamata hitam, dan jaket. Ia tak ingin pertemuannya diketahui orang lain. Wajar jika ia berhati-hati karena wajahnya sering muncul di berbagai media cetak maupun elektronik. Apalagi pertemuannya akan membahas persoalan yang sangat rahasia. Jika hal ini diketahui orang lain, maka pupuslah sudah semua benang makar yang telah disulam selama beberapa tahun.
Clive duduk di pojok ruangan, agak terhalang dinding. Sesekali ia melirik jam tangannya lalu menggerutu. Sudah setengah jam ia menunggu, tetapi orang yang ditunggu belum juga datang dan tidak memberi kabar. Kali terakhir ia mengecek jam tangan, kesabarannya sudah habis. Ia pun beranjak dari kursi, tetapi tiba-tiba pandangannya tertuju pada seseorang yang baru saja masuk ke dalam rumah makan.
Ia adalah seorang pria pendek dan berambut keperakan. Wajahnya tirus dan berkulit pucat. Atribut wajahnya terdiri dari: mata sipit yang berkantung hitam, hidung mancung, serta kumis tipis yang melintang di atas bibirnya yang pucat. Sambil terengah-engah ia menyalami Clive.
"Sir, maaf aku datang terlambat. Tadi mobil bututku mogok dan aku harus mengecek mesinnya sehingga suara panggilan telepon Anda tidak terdengar." Ia memberi alasan.
"Sudah setengah jam aku menunggu. Hampir saja aku pergi dari sini," ketus Clive seraya melirik sinis.
"Maaf, maaf, Sir ...," ucap pria itu meminta maaf berulang kali.
"Lupakan saja. Ayo kita berbincang, Phil," tukas Clive pada Phil Bowden, seraya duduk kembali. Ia mengangkat tanganndan menjentikkan jarinya.
Tak lama kemudian seorang pramusaji datang menghampiri. "Ada yang mau dipesan, Sir?"
Clive melemparkan pandangan pada Phil yang segera membuka buku menu. "Splash jus satu."
"Ada lagi?" tanya pramusaji.
Phil pun menjawab, "Sudah cukup, itu saja."
"Silakan ditunggu sebentar," ucap pramusaji dengan ramah, kemudian berlalu.
Phil mengalihkan pandangan pada Clive. "Jadi bagaimana tentang artikel yang akan saya tulis?"
Bersambung