Tahu kalau Alan diam-diam mencuri pandang, Amber menjadi salah tingkah, lalu mendekapkan kedua lengannya hingga menutupi dadanya.
Selama kurang lebih satu jam, akhirnya ada mobil yang lewat di jalan tempat mereka berhenti. Lalu Alan pun meminta orang tersebut untuk membantu mereka.
“Sekarang coba di starter,” kata penolong mereka dengan ramah. Benar saja apa yang ia ucapkan, akhirnya mobil dapat dinyalakan kembali.
“Terima kasih banyak. Oh iya Anda orang sini ya?” Tanya Alan.
“Iya. Memangnya kenapa ya?”
“Saya mau bertanya, apakah ada penginapan di dekat sini?”
“Ada. Lurus saja sampai ujung jalan, lalu belok ke kiri. Nanti di sebelah kiri jalan ada penginapan.” terang orang tersebut.
“Wah terima kasih sekali lagi.”
“Iya sama-sama. Sudah ya saya mau melanjutkan perjalanan.” tukas orang tersebut kemudian berlalu pergi. Alan dan Amber kembali masuk ke dalam mobil.
“Penginapan? Memangnya kita mau menginap?” tanya Amber heran.
“Semalam saja, besok pagi kita pulang. Aku sudah lelah sekali. Bahaya kalau malam-malam seperti ini mengemudi dalam keadaan lelah.”
Amber diam selama beberapa saat, kemudian kembali berkata “Ya sudah, harus berbeda kamar. Aku tidak mau sekamar dengan kamu!”
“Siapa yang ingin sekamar dengan kamu?!” kata Alan sambil memacu mobil menuju penginapan yang dimaksud oleh orang tadi.
Letak penginapan tersebut tidak jauh, sehingga hanya dalam waktu lima menit mereka sudah tiba di sana.
“Kami pesan dua kamar,” ucap Alan pada resepsionis.
“Maaf Sir, tinggal sisa satu kamar.” terang resepsionis.
“Single atau double bed ya?” tanya Amber.
“Single Miss.”
“Kita cari penginapan lain saja,” ajak Alan pada Amber.
“Tidak usah, di sini saja Al. Risiko mencari penginapan malam-malam seperti ini. Belum tentu dapat, malah bisa-bisa kita tersesat. Masalah tidur, nanti kita atur,” jawab Amber yang tampak lelah.
Penginapan tersebut adalah penginapan kecil, mungkin karena hujan lebat sehingga banyak pengendara yang memutuskan menginap di sana. Sesampainya di dalam kamar, resepsionis mohon diri dan berlalu meninggalkan mereka.
“Aduh, kamarnya kecil sekali dan bocor,” keluh Amber sambil memandang ke langit ruangan.
“Ya sudah, keadaan terpaksa. Mau bagaimana lagi?!”
,“Aku mandi dulu.” kata Amber sambil berjalan ke kamar mandi.
“Sial. Sebenarnya Alan sudah menahan buang air kecil dari tadi, tapi Amber malah lebih dulu masuk ke kamar mandi,” gumam Alan.
“Amber. Masih lama tidak? Aku ingin buang air, sudah tidak tahan,” tanya Alan sambil mengetuk pintu kamar mandi.
“Sebentar. Aku lagi berganti baju,” jawabnya.
Tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Amber keluar dan masih mengenakan kaus Alan. Tapi ujung dadanya yang mungil mendesak bagian d**a pada kaus tipis yang ia kenakan. Sepertinya karena bra miliknya masih basah, ia tidak memakainya. Padahal sedang menahan buang air seperti ini masih sempat-sempatnya Alan berpikir tidak-tidak.
Dugaan Alan ternyata memang benar. Alan melihat bra berwarna biru tergantung di balik pintu kamar mandi.
“Amber, kamu menggantung bra sembarangan. Apa kamu tidak mengaggap aku pria sampai berani tidak memakai bra?” tanya Alan yang baru keluar dari kamar mandi seraya merebahkan diri di tempat tidur, di sebelah Amber.
“Kamu itu pria, tapi bukan berarti pria sejati. Malah tidur di sini! Sana, sana!” kata Amber sambil menendang Alan hingga terjatuh dari tempat tidur.
“Aduh duh, sialan,” gerutu Alan sambil mengerang kesakitan.
“Benarkan dugaanku. Kamu memang bukan pria sejati. Ditendang seperti itu saja sudah sakitan,” ujar Amber semakin membuat Alan kesal.
“Sembarangan. Aku ini pria tulen!”
“Aku ragu. Buktinya tadi saat aku berganti baju di mobil kamu diam sa—kyaaa!”
Alan yang merasa kesal, langsung menerjang Amber dan memegangi kedua tangannya.
“Kamu pikir dari tadi aku tidak berusaha menahan diri melihat kamu berganti baju, melihat badan kamu dari balik baju yang basah, dan sekarang liat kamu tidak memakai bra?” tanya Alan sambil berbuat semakin menjadi-jadi.
“Apa-apaan kamu! Lepaskan tanganku!” bentak Amber sambil berusaha berontak.
Suara gaduh dan teriakan Amber teredam oleh suara derasnya hujan, sehingga Alan semakin berani berbuat lebih. Ia selipkan tangan ke balik baju Amber, kemudian jemarinya menggelitik pinggang Amber. Sontak Amber tidak bisa menahan geli.
“Aaah ha ha, geli. Lepaskan!”
“Aku tidak mau berhenti sampai kamu mengaku kalau aku pria sejati.”
“Aha ha ha. Iya kamu tuh pria … aha ha lepasin. Iya, iya, kamu bukan pria sejati.”
Amber memang keras kepala, bukannya mengikuti kemauannya, ia justru semakin membuatnya kesal. Amber tertawa-tawa sambil terus berontak, sehingga tanpa sengaja dadanya menyenggol tangan Alan. Kejadian itu menyebabkan milik Alan mulai bereaksi.
“Kamu mau bukti?”
“Aha ha ha, tidak perlu. Aku sudah tahu kalau kamu ti—aah apa-apaan kamu!” Amber menjerit, ketika tiba-tiba tangan Aln menggenggam kedua dadanya dan meremas-remas. “Lepas! Jangan kurang ajar!”
Kini bukan hanya dadanya yang Alan remas, jemarinya juga turut berbuat nakal dan memilin-milin ujung d**a mungil Amber dengan gemas. Amber terus berontak sambil memaki, tapi lama-kelamaan perlawanannya semakin melemah. Suara jeritannya berubah menjadi suara desahan tertahan.
Alan yang hanya berniat membalasnya sedikit, tidak ingin melanjutkan perbuatannya, meski harus dengan sekuat tekad menahan hasrat yang bergolak.
“Makanya, kalau bicara jangan sembarangan. Maaf kalau aku tadi sudah keterlaluan,” ucap Alan, menyesal.
Sambil mengatur napasnya yang terengah-engah, Amber bicara kembali “Kalau cuma itu, sama sekali tidak membuktikan kalau kamu pria sejati.”
“Tadi minta kuhentikan, sekarang malah minta dibuktikan. Memangnya kamu mau?” tanya Alan dengan heran.
“Mau apa memangnya? Kan aku sudah bilang tidak perlu bukti. Aku sudah tahu kamu memang seperti gitu.”
Kali ini Alan ssudah benar-benar tidak bisa menahan diri. Segera saja ia singkap baju Amber ke atas, namun kali ini Amber hanya diam dan tidak memberontak.
“Terus kalau kamu sudah liat, kamu bisa apa?” Amber menantang.
Selain karena kata-katanya, pemandangan di hadapan telah membuat hasrat Alan semakin tidak terkendali. Tubuh Amber memang elok, tapi ketika Alan hendak mencumbu dadanya, tiba-tiba Amber menarik wajah Alan.
“Kalau memang pria sejati, harus mulai dari sini,” bisiknya seraya menempelkan telunjuknya pada bibir Alan.
Alan tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulutnya. Mungkin hasratnya telah terpancing ketika tadi Alan meremas-remas dadanya, atau mungkin karena suhu yang dingin. Entah apa alasannya, saat ini Alan tidak mau ambil pusing. Yang jelas, sekarang saatnya menikmati cumbuan dengan gadis cantik di hadapannya.
Rupanya Amber mahir b******u. Ia menyambut kecupan Alan, lalu mereka saling mengulum, menghisap, dan mengigit kecil, sementara lidah mereka merekat dan menari-nari. Di saat yang sama, tangan Alan meremas-remas d**a kiri Amber, sambil menyelingi dengan memilin, mengusap, serta mencubit ujung d**a kiri Amber.
Tapi rasa penasaran Alan belum tuntas. Sedari tadi bibirnya belum mencumbu d**a Amber. Perlahan lepaskan kaus Amber, lalu lidah Alan menyisir membasahi kulit wajah Amber yang mulus, dan terus bergerak ke bawah melintasi leher jenjang, pundak anggun, hingga akhirnya tiba pada kontur menanjak di dadanya yang menghantarkan pada d**a milik Amber. Alan menikmat asset Amber itu, dengan menggigit dan menghisapnya sambil lidahnya terus menari membasahi setiap inchi d**a kiri, hingga akhirnya tiba pada ujung d**a perayu yang sudah berdiri anggun. Alan menggerakkan lidah ke atas, ke bawah, ke kiri dan ke kanan, lalu menghisap, dan mengigit kecil ujung d**a Amber. Berulang kali ia cumbu kedua d**a dan ujungnya secara bergantian, hingga terdengar desahan lirih keluar dari mulut Amber.
“Mmm…, kamu sudah pengalaman ya?” Tanya Amber lirih.
“Tidak juga. Cuma beberapa kali dulu.” Jawab Alan.
“Itu sih namanya sudah pengalaman. Mmm, tapi aku malah suka kalau sudah pengalaman.” ucapnya seraya menuntun tangan Alan yang lain ke bawah.
“Sampai penetrasi?” tanya Alan.
“Iya, sudah telanjur.”
Alan diam sejenak seraya berpikir. Alan tidak mau melakukannya dengan perempuan yang ia tidak tahu perasaannya padanya. Karena sebelumnya Alan selalu melakukan atas dasar saling menyukai. Kendati berat menahan hasrat, hal ini sudah menjadi prinsipnya.
“Kenapa diam?” tanya Amber heran.
“Aku tidak mau kalau kamu tidak jawab pertanyaanku. Dan kalau jawabannya tidak seperti yang aku harapkan, lebih baik berhenti sampai di sini.”
“Yakin berhenti?” tanya Amber heran.
“Tergantung jawaban kamu. Buat aku berhubungan intim itu penting dan harus ada hal ini.”
“Apa yang mau kamu tanyakan?”
“Kenapa tiba-tiba sikap kamu berubah? Bukankah dari dulu kamu benci sama aku?” Tanya Alan.
“Benci? Mmmm, mungkin. Awalnya aku memang tidak suka dengan kamu. Sampai-sampai aku selalu menunjukkan sikap yang pasti membuat kamu kesal. Tapi kamu berbeda dari pria-priaku dulu yang selalu mengalah. Terus terang, aku tidak suka kalau aku dominan, dan tidak suka laki-laki punya sikap loyo. Tapi kamu beda, kamu bisa mengimbangi sikapku. Bukan cuma itu, dalam hal prestasi kita selalu bersaing, jadinya bisa saling memacu untuk berprestasi lebih. Akhirnya lama kelamaan aku jadi suka dengan kamu. Buat aku sikap dan kecerdasan kamu itu seksi, malah lebih seksi daripada six packs. Tapi karena aku perempuan, tidak mungkin aku duluan yang menunjukkan perasaan. Meski aku suka pada kamu, tadi aku memang benar-benar marah kamu remas-remas dadaku. Perempuan sukanya cara yang lembut. Dimulai dari kissing dulu, baru ke situ. Selain itu, harga diri jugalah, masak aku mau langsung kamu begitukan.”
“Iya, tadi kan aku sudah minta maaf. Walau kamu suka padaku, belum tentu aku juga suka padamu. Kenapa kamu sepertinya yakin kalau aku juga suka kamu? Sampai-sampai kamu menyatakan perasaan lebih dulu, padahal tadi kamu bilang kalau kamu tidak mau menunjukkan perasaan terlebih dulu. Memangnya tidak takut aku menolak kamu?” tanya Alan memancing.
“Aku memang menyatakan perasaan lebih dulu, tapi kamu kan yang pertama kali menunjukkan perasaan dengan kepedulian kamu?! Contohnya tadi saat aku kehujanan, kamu suruh aku masuk mobil dan meminjamkanku kaus. Bukan cuma itu, dari dulu aku tahu kalau kamu diam-diam perhatiin aku. Tapi aku tahu gengimu tinggi. Jangankan mengaku sama orang lain, mengaku pada diri sendiri saja tidak mau. Benarkan?”
Alan diam setelah mendengar penjelasannya. Mmemang sebenarnya dari dulu Alan menaruh perhatian pada Amber. Sampai-sampai kekasihnya dulu cemburu karena Alan sering bercerita tentang Amber yang membuat Alan kesal. Biarpun kesal, diam-diam Alan juga kagum dengan sikap dan keuletannya dalam memperjuangkan sesuatu.