Sementara itu Kimberly sedang Bersama Arthur di sebuah hotel. Kimberly memandang nanar sang kekasih yang tampak resah. Hatinya turut merasa sakit melihat Arthur seperti itu.
“Maaf, Arthur tidak bisa berbuat apa-apa,” ujar Kimberly sedih.
Arthur berusaha tersenyum. “Kehadiranmu sudah cukup, Kim.”
Arthur mencecap bibir kekasihnya tersebut. Perlahan-lahan Arthur melepaskan lingerie, bra, dan celana dalamnya. Dadanya berukuran sedang dan ideal, berbentuk bulat, kenyal, dan memiliki tekstur lembut. Ujungnya berwarna merah muda, dan mungil. Arthur segera mencumbudadanya. Setelah selesai pada d**a, menarik selimut menutupi tubuh polos Kimberly.
“Kenapa kita baru bertemu sekarang?” tanya Arthur sambil mengusap rambut Kimberly. “Mungkin kalau dari dulu, kamulah yang mendampingiku.”
“Memang begitulah takdir kita.” ucapnya seraya mengecup Arthur lalu menyentuhkan lidah pada ujung milik Arthur, dan perlahan bergerak menyusuri setiap bagian milik Arthur.
“Mmmch—suka?” tanya Kimberly seraya memasukkan milik Arthur, lalu kepalanya bergerak ke atas dan ke bawah.
“Ho—oh,” jawab Arthur mengangguk sambil mendesah, merasakan milik Arthur di dalam kehangatan mulut Kimberly.
Kepala Kimberly mengangguk-angguk semakin cepat, membuat milik Arthur merasa nikmat. Ini memang bukan pengalaman pertama bagi Kimberly, sehingga sudah barang tentu ia mahir memainkan milik Arthur. Arthur juga ingin memberikan kenikmatan padanya, sehingga ia rebahkan Kimberly, ia hampiri wajahnya, lalu mengecup bibir merah miliknya dengan lembut. Kimberly bergeming, membalas setiap kecupan, sampai hasrat menuntun mereka untuk saling mengulum dan menghisap sambil lidah mereka merekat dan menari-nari. Sementara bibir mereka saling memanjakan, tangan Arthur merayap ke bawah menyusuri kulit halus leher jenjang, pundak elok, hingga akhirnya tiba pada d**a kanan yang berukuran sedang dan ideal, lalu perlahan mulai meremas-remas, dan menyelingi dengan mengusap, mencubit, serta memilin ujungnya yang menggoda.
Kimberly mendesah, seraya mendekapkan wajah Arthur pada lehernya. Arthur tahu apa yang ia inginkan. Segera saja lidah Arthur menari, membasahi setiap jengkal lehernya, dan terus bergerak ke bawah menyisir pundak elok, d**a bagian atas, hingga tiba pada kontur menanjak yang membawa Arthur pada d**a kiri yang bulat. Arthur mencumbu d**a kiri sedikit demi sedikit, dengan membasahi dan mengigitnya lembut—sampai tidak ada satu bagian yang tersisa, kecuali ujung d**a mungil. Arthur menyambut rayuan itu dengan mengecup ujung d**a, kemudian lidahnya mulai memainkan ujung d**a ke berbagai arah. Karena gemas melihatnya Arthur memasukkan ujung d**a perayu ke dalam mulut, lalu menghisap, mengulum, dan menggigit lembut. Berulang dan semakin liar Arthur mencumbu sepasang d**a milik sang kekasih secara bergantian.
Ini juga bukan pengalaman pertama Arthur Bersama Kimberly, sehingga tidak perlu bertanya seberapa mahir Arthur mencumbunya. Hal itu terkonfirmasi dari suara Kim yang mendesah nikmat, tubuhnya bergelinjang-gelinjang, napasnya memburu cepat. Kemudian Arthur menarik wajah ke bawah, lalu menyingkap milik Kimberly yang indah. Mata Arthur terkesiap ketika memandang keindahan yang tadi tersembunyi rapat. Arthur menjulurkan lidah mengusap milik Kimberly ke atas dan ke bawah. Sesekali dan perlahan lidah Arthur bergerak mengorek, lalu maju mundur di dalam milik Kimberly.
Sensasi itu seakan-akan seperti baru pertama kali Kimberly rasakan, membuat desahannya semakin terdengar, mengiringi setiap cumbuan yang tidak henti-henti.
“Aaa—ooh! Sayang, Arthur mau kamu masukin.” pintanya di tengah desahan nikmat.
“Apakah hari ini aman?”
Kimberly tidak langsung menjawab, seraya menarik kepala Arthur, dan mengecup bibirnya. “Aman. Kamu tidak perlu khawatir.”
Arthur tersenyum mendengar kata-katanya. Kimberly menatapnya lekat-lekat “Tapi Arthur tahu, setelah segala masalah berat yang sedang dihadapi, akan ada kebahagiaan terindah sepanjang hidup kita.”
Arthur menatap wajahnya lekat-lekat penuh perasaan sayang. Arthur ingin menghapus penderitaannya yang disebabkan masalah-masalah yang bergelayut dengan memberinya kebahagiaan yang layak ia rasakan. “Pasti saat itu akan tiba suatu saat nanti.”
Kimberly menghisap bibir Arthur, seraya menarik pinggulnya, hingga membuat milik Arthur masuk ke dalam milik Kimberly. Namun baru saja milik Arthur masuk, Kimberly sudah mendesah. Arthur mendorong pinggul lebih kuat, sampai akhirnya menyeruak masuk ke dalam. Desahan Kimberly makin jelas terdengar. Perlahan dan berulang kali pinggul Arthur bergerak maju membuat Kim mendesah nikmat. Semakin lama Arthur gerakkan pinggul semakin cepat, semakin membawa mereka menuju puncak.
“Ooo … aaah … I love you.” desah Kimberly sambil melumat bibir sang kekasih.
“I love you so much.” timpal Artur seraya membalas cumbuannya.
Sementara pinggul Arthur bergerak cepat, tangannya meremas d**a dan memainkan ujungnya. Terus dan berulang cumbuan demi cumbuan membuat desahan Kimberly semakin keras, dadanya mengayun-ayun, tubuhnya bergelinjang hebat, sedetik kemudian terdengar jeritan nikmat dari mulutnya.
Napasnya terengah-engah, karena baru saja melewati puncak kenikmatan bagaikan yang pertama dalam hidupnya. Tapi hasratnya belum tuntas, ia masih ingin merasakan yang kedua untuk malam itu bersama laki-laki yang sangat dicintainya.
“Alan masih mau lagi,” bisiknya.
“Mau coba posisi lain?” tanya Arthur.
“Sure,” ucapnya seraya berdiri menghadap dinding.
“Well, ayo.” Kata Arthur sambil mengangkat kaki kirinya. “Kayak gini kan?”
“He’em.” jawabnya tersenyum.
Kemudian perlahan-lahan Arthur memasukkan miliknya ke dalam milik Kimberly. Sambil menggenggam sepasang d**a yang indah milik Kimberly, ia gerakkan pinggul maju mundur membuat miliknya menumbuk-numbuk di dalam milik Kimberly. Di saat yang bersamaan, d**a idealnya mengayun-ayun dalam genggaman Arthur yang meremas-remas, sambil sesekali ia selingi dengan memainkan ujungnya. Semakin lama pinggul Arthur bergerak semakin cepat, milik Arthur menumbuk semakin kencang, d**a idealnya mengayun liar, sedetik kemudian Kimberly menjerit nikmat.
Dengan napas terengah-engah kurebahkan Kimberly, lalu merebahkan diri di sampingnya. Mereka saling menatap dengan penuh perasaan sayang.
Di saat bersamaan, di tempat lain, penyelidikan Alan membawa mereka menunjungi kantor cabang perusahaan Nataniel di Barsley. Kali ini ia Bersama rekan kerjanya yang cantik, Amber Wood. Akan tetapi perjalanan itu terasa sangat mengesalkan. Sudah dua jam mereka berada di dalam mobil, namun mereka berdua belum bertegur sapa. Daripada terasa sunyi seperti di kuburan, Alan pun memutar lagu pop favoritnya.
“Seleramu buruk sekali. Pria tidak seharusnya suka lagu cengeng.” kata Amber sambil mengganti saluran radio. Tidak lama kemudian, ia berteriak-teriak menyanyikan lagu metal mengikuti lagu yang sedang diputar di radio.
“Berisik!” seru Alan kesal seraya mematikan radio.
“Kamu payah.”
“Aku berdebat dengan kamu,” jawab Alan ketus.
Baru saja suasana kembali sunyi, Amber mulai bertingkah lagi. Dalam keadaan jendela mobil tertutup, ia menghisap rokok dan tidak perduli dengan Alan yang terbatuk-batuk di sebelahnya.
“Uhuk… apa-apaan kamu. Mobilku ini bebas asap rokok. Kalau kamu tidak berhenti merokok, aku akan menurunkanmu di sini.”
“Turunkan aja kalo berani. Aku akan melaporkanmupada Komisaris kalau kamu rekan kerja yang sulit diajak bekerjasama” ujar Amber balas mengancam.
Alan tahu bagaimana sifat Amber. Dia bukan sekadar mengancam, dan akan melakukan apa yang ia katakan kalau tidak dituruti.
“Ya sudah, itu paru-paru kamu. Aku tidak perduli. Tapi paling tidak buka jendelanya.”
Amber diam tidak menjawab, namun ia menurut dan membuka jendela mobil.
Begitulah perjalanan mereka isi dengan pertikaian-pertikaian kecil, hingga akhirnya tak terasa mereka pun tiba di tujuan. Mereka adalah rekan kerja yang terkenal tidak akur. Namun, anehnya, semua tugas dapat diselesaikan dengan baik. Sesampainya di cabang tersebut, mereka langsung memeriksa keadaan di sana. Kurang lebih tiga jam lamanya mereka memeriksa. Hingga akhirnya mereka berhasil menemukan ada kejanggalan.
“Sepertinya dugaan kita benar. Nathan bukan hanya berjualan narkotika, tetapi penggelapan uang yang melibatkan oknum pemerintah.”
“Benar. Tapi kita masih belum memiliki bukti kuat. Untuk orang sekelas Nathaniel bukti yang kita miliki sama sekali tidak berarti.”
“Yup. Penyelidikan kita masih panjang dan tidak akan selesai sampai di sini,” kata Amber lagi.
Kali ini Alan diam dan setuju dengan pendapatnya. Mungkin inilah pertama kalinya Alan dan Amber memiliki pandangan sama, sehingga dalam perjalanan pulang, pertikaian-pertikaian kecil seperti tadi sangat jarang terjadi. Tapi ketenangan itu kembali terusik. Hujan lebat mengguyur di perjalanan. Tak lama berselang, mobilku berangsur-angsur melambat lalu berhenti.
“Aduh jam sebelas malam pas hujan lebat malah mogok.” gerutu Alan, meratapi nasib sial, kemudian keluar dari mobil dan memeriksa mesinnya.
Setelah mencoba memeriksanya, Alan yang tidak terlalu paham mengenai mesin kendaraan tidak dapat menemukan penyebab mobil mogok.
“Sial, aku tidak tahu apa sebabnya. Apalagi tidak ada orang lagi di sekitar sini.” Kata Alan kesal.
“Tidak perlu menggerutu. Kamu dorong saja mobilnya.” ujar Amber.
“Suka-suka aku. Lagi pula kamu menyuruhku yang mendorong, memangnya kamu bisa menginjak gas mobil kalau sambil didorong?! Mengemudi saja tidak bisa,” ujar Alan kesal.
“Hei! Aku perempuan, tidak mungkin aku yang mendorong mobil!”
“Ya mau bagaimana lagi, kamu tidak bisa mengemudi!” kata Alan tidak mau kalah.
Sambil memasang wajah kesal dan merasa terpaksa, Amber keluar dari mobil. Sebenarnya walaupun Alan kesal dengan Amber, tetap saja Alan merasa tidak tega melihat dia kehujanan sambil mendorong mobil. Didorong perasaan tidak tega, Alan keluar mobil dan mengajaknya masuk kembali.
“Amber, mobil ini sudah tidak usah didorong. Percuma, tidak akan bisa. Butuh dua atau tiga orang untuk mendorong mobil,” Kata Alan, yang menutupi perasaan tidak tega.
“Lantas bagaimana?” tanyanya sambil berjalan masuk ke mobil.
“Kita tunggu saja sampai ada orang yang lewat untuk meminta tolong.”
“Mmm, ya sudah,” ucap Amber sambil mendekap tubuhnya dengan kedua tangan.
Dalam keadaan basah kuyup, terang saja Amber dan Alan merasa kedinginan. Tapi keadaan Amber lebih buruk daripada Alan, bibirnya pucat dan menggigil.
“Ini pakai!” kata Alan seraya memberikan kaus padanya. “Aku selalu menyiapkan baju ganti kalau keluar kota.”
“Lantas aku harus embuka baju di depan kamu? Jangan harap!” cebik Amber.
“Ya terserah kamu. Kalau kamu sakit, bukan urusanku.” ucap Alan, tak acuh.
Amber diam tidak menjawab kemudian mengambil kaus yang Alan berikan.
“Kamu menghadap sana!”
“Aku tidak bernapsu melihatmu!” kata Alan, kesal, sambil memalingkan wajah menghadap jendela mobil.
Diam-diam dari pantulan kaca jendela, Alan melihat samar-samar Amber sedang berganti pakaian. Lekuk tubuhnya yang biasanya hanya terlihat dari pakaian ketatnya, kini tampak polos dan hanya dibalut oleh bra. Pemandangan tersebut membuat miliknya terusik.
“Sudah.” kata Amber memberitahu. “Sempit dan tipis sekali kausmu ini!”
“Bukannya berterima kasih!”
Walau Amber sudah mengganti pakaian, namun bra yang basah telah membuat kaus tipis yang dikenakannya menjadi basah sehingga menyebabkan sepasang d**a besar bulat dan padat yang dibalut ketat oleh bra biru miliknya dapat terlihat jelas.