*Kembali ke PoV 3
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di dalam sebuah bus menuju tengah Kota London. Hari itu langit terlihat cerah, cuaca pun sangat mendukung segala aktivitas. Namun, entah mengapa, perasaan Cherryl terasa gelisah tanpa alasan. Tak pernah sekalipun di dalam hidupnya, Cherryl merasa seperti itu. Kalaupun pernah, pasti karena suatu alasan.
Beberapa kali Cherryl mengubah posisi duduk lantaran kecemasan yang ia rasakan. Berkali-kali pula ia meremas, remas ujung pakaiannya, mengigit-gigit bibir bawahnya, dan melihat ponselnya. Meskipun perasaan itu sangat mengganggu, ia tetap memaksakan diri untuk datang bekerja. Keluarganya memang seperti itu. Mereka semua pekerja keras, walau nasib mereka tak kunjung membaik dari waktu ke waktu, dari tahun ke tahun.
Mengapa aku merasa gelisah begini? batinnya.
Rupanya kecemasan Cherryl disadari oleh orang yang duduk di hadapannya. ia adalah seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluhan tahun. Wajahnya tampan dan mengenakan pakaian kerja yang rapi dan menarik. Semula ia memperhatikan Cherryl lantaran terpikat akan kecantikannya. Namun, setelah cukup lama memperhatikan, ia menyadari kalau gadis cantik di hadapannya tersebut sedang dilanda kegelisahan.
Sebenarnya ketertarikan laki-laki itu sejak beberapa hari lalu. Ia memang sering menaiki bus yang sama dengan Cherryl karena kantor tempatnya bekerja masih satu arah dengan tujuan Cherryl. Namun, laki-laki itu bukanlah orang yang mudah bergaul dan cukup pemalu. Selama ini ia lebih memilih menjadi pengagum kecantikan Cherryl ketimbang mengajaknya berkenalan. Demikian pula yang terjadi sekarang ini, meski telah melihat kecemasan Cherryl.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, akhirnya Cherryl tiba di tempat tujuan. Firasat buruknya hari itu tidak terjawab. Bahkan pekerjaannya dipuji oleh atasan karena sigap dan gesit melayani pelanggan.
Tanpa terasa hari sudah petang, Cherryl pun telah tiba di apartemen. Namun, malam itu ia tidak mendapati Kim ada di sana. Begitu sampai di dalam unit apartemen, Cherryl meletakkan tas dan masuk ke dalam kamar.
Pekerjaan hari ini cukup melelahkan. Kurasa mandi air hangat akan menyegarkan dan mengembalikan tenagaku, batin Cherryl.
Ia mengambil handuk dan pakaian lalu masuk ke kamar mandi. Sambil berendam, kejadian ketika beberapa waktu lalu merasa ada yang menguntitnya kembali terulas.
Apakah kejadian itu berhubungan dengan kegelisahanku sekarang? Tidak! Kejadian itu pun belum tentu benar, dan mungkin hanya perasaanku saja. Tapi kalau hanya perasaanku saja, mengapa baru kali ini aku merasakannya.
Berbagai kemungkinan mengaduk-aduk pikirannya. Kendati sudah selesai berendam, pikiran-pikiran itu membuatnya lelah. Kesegaran yang ingin dirasakan pun seolah-olah tak berarti bagi Cherryl.
Beberapa menit kemudian, sambil menyeka rambut, Cherryl berjalan menuju lemari es. "Aku lupa mampir ke swalayan," keluhnya, ketika melihat hanya ada sereal dan s**u di lemari es.
Setelah mengambil dan menuangkan ke dalam mangkuk, ia duduk di sofa ruang keluarga. Meskipun baru selesai menyegarkan tubuh di dalam bak mandi, dan sedang menikmati hidangan, tetapi ekspresi wajah Cherryl masih terlihat letih. Kasus yang menimpa calon kakak iparnya tak membiarkan pikirannya beristirahat.
Ia menyandarkan diri, lantas menyalakan televisi. "Well, kasus itu pasti masih hangat diberitakan," gumam Cherryl, mengubah ke saluran berita.
"Setelah dilakukan penyelidikan, Komisaris Kepolisian Kota London. menyatakan bahwa kasus yang melibatkan pengusaha besar, Arthur Axton, mulai memasuki babak baru yang akan di persidangan. Menurut Kepala Kepolisian Kota London, pihaknya sudah melimpahkan kasus tersebut kepada kejaksaan untuk ditindaklanjuti.
Sementara itu, menurut Clive yang merupakan sahabat sekaligus anak buahnya, Arthur Axton mengalami depresi akibat perceraian, serta bisnis yang menurun. Akibat hal tersebut, berat badannya menyusut, dan sering mengonsumsi obat penenang. Pihak keluarga mengatakan, ibu Arthur tidak memungkinkan untuk hadir pada persidangan yang akan digelar besok pada pukul sepuluh pagi ...." Cherryl terus menonton siaran tersebut hingga usai.
Apakah alasan Kimberly belum pulang karena harus mendampingi Arthur untuk memberi dukungan moral? Ia menekan tombol pada layar ponsel.
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di sebuah hotel. Mercy Hotel yang terletak di jantung area Shoreditch, merupakan Hotel tempat para wanita Perry melakukan pekerjaan. Hotel itu merupakan salah satu hotel termewah di Kota London, bahkan mungkin seantero Inggris Raya. Dinding-dindingnya yang penuh kaca terlihat biru karena memantulkan bayangan langit yang cerah kala itu. Kemewahannya pun tampak dari bagian muka dan dalam dari ornamen-ornamen simpel dan berbahan mahal. Lantainya terbuat dari marmer Italia yang dikenal akan kualitas dan kemewahannya. Belum lagi teknologi canggih yang disematkan pada setiap sudut bangunan, makin mengukuhkan hotel itu sebagai salah satu yang terbaik di seluruh penjuru Inggris Raya.
Bukan hanya bangunan, taman yang terdapat pada halamannya pun berisikan tanaman mahal dan cantik, sehingga kian menambah nilai Axton Tower. Gedung semegah itu tentu saja memiliki lapangan parkir yang memadai dan diawasi dengan sistem kontrol yang baik. Setiap sudut lapangan selalu diawasi dengan kamera CCTV.
Akan tetapi bukan kemegahan hotel itu yang akan diceritakan.
Persekongkolan Perry dan Nathaniel dicium oleh polisi. Meskipun banyak polisi kotor, masih ada polisi bersih yang mencoba menegakkan aturan. Salah satunya adalah Alan Pearce, seorang detektif kepolisian yang jujur. Ia sengaja menyewa anak buah Perry untuk menyelidiki persekongkolan Nathaniel dan Perry.
Di dalam sebuah kamar, ponsel bergetar di atas meja, menginterupsi kehangatan dua orang yang berada di dalam ruangan.
"Tidak diangkat?" tanya perempuan berambut pirang pada Alan Pearce.
Alan tidak langsung menjawab, dan mencecap bibir perempuan itu. "Tidak, aku tak ingin diganggu. Separuh gajiku untuk menggunakan jasamu malam ini, Jane," ucap Alan, menarik wajahnya menjauh dari Jane Moss sang wanita panggilan.
Jane Moss tersenyum, seraya melepaskan pakaiannya. "Jadi mau pemanasan?"
"Mmm ... tentu menyenangkan. Tapi dengan caraku."
"Caramu?"
"Iya. Pemanasan yang kusukai adalah,"—Alan mengancingkan pakaian Jane—"dengan berbincang-bincang."
"Ah, aku tahu. Mengobrol hal-hal untuk meningkatkan gairah, kan?! Aku tidak menyangka kamu pelanggan yang sangat nakal." Jane berkata, dengan nada menggoda.
Alan tergelak. "Apakah pertanyaanku mengenai atasanmu, Perry, akan membuatmu b*******h?"
Jane terhenyak. "Kamu mengenalnya?"
"Tidak dekat. Hanya tadi aku baru memesanmu melaui dia." Alan menjawab.
Ekspresi Jane berubah seketika. "Jika ini bukan bisnis, lupakan. Perry hanya atasanku, sama seperti bagi perempuan yang lain yang bekerja untuknya. Dan aku tidak tahu apa-apa tentang Perry."
Alan kembali tersenyum. "Ah, padahal aku hanya ingin bertanya tentang Perry, tapi justru kamu seperti menutupi sesuatu yang kamu ketahui."
"Tentu saja karena aku bekerja untuknya. Tapi sungguh aku tidak tahu apa-apa. Aku menduga kamu akan bertanya tentang Perry dan menyukitkanku. Tapi kukatakan dan kutegaskan sekali lagi, Perry hanya atasanku. Aku tak tahu apa-apa tentangnya."
"Aku percaya kalau sekarang ia memiliki bisnis lain bersama Nathaniel." Alan menarik tangan Jane, dan mengendusnya.
"Jangan tarik tanganku!" bentak Jane, menarik tangannya.
"Tanganmu beraroma khas ... Kokain."
Jane kian dikejutkan oleh kata-kata Alan. "Aku tidak tahu apa maksudmu!" Ia berdiri dan membereskan barang-barangnya.
"Tidak tahu? Biar Kepolisian yang mengingatkanmu tentang Kokain yang kamu jual. Perry selalu menyuruh untuk anak buahnya berjualan kan?! Tak satu pun kata-kataku meleset, benar?!"
Jane menghentikan langkah, dan menoleh. "Polisi tidak akan percaya pada bualanmu."
"Aku tak akan banyak bicara, Jane. Tapi nanti kamu pasti bercerita." Alan tersenyum.
"Aku tidak tahu maksudmu." Jane panik, dan buru-buru mengambil ponsel dari dalam tas.
"Percuma kalau kamu menghubungi Perry. Aku sudah memberitahu masalah ini pada atasanku di kepolisian."
Jane Moss mendadak pucat, dan gemetar. Sudut alisnya turun, serupa gerak bahunya. Ia tak pernah menduga, jika lelaki di hadapannya adalah seorang Polisi. "A-aku butuh uang untuk membiayai anakku. Tolong jangan tangkap aku. Aku akan berhenti berjualan." Suaranya bergetar, dan terbata-bata. Air matanya hampir tumpah.
"Well, sayangnya aku bukan orang yang sentimental. Tapi akan kupertimbangan permintaanmu kalau mau menjawab beberapa pertanyaanku."
Tak ada pilihan lain bagi Jane, akhirnya ia memberi informasi yang diketahuinya pada Alan. Rupanya selama ini Jane menjual Kokain pada pelanggannya. Kokain tersebut merupakan pesanan Perry dari Nathaniel.
"Informasi darimu sudah cukup, Jane. Thank's," ucap Alan, seraya membuka pesan di ponselnya.
Pesan dari Amber... Jim tidak pernah seperti ini. Alan segera membalas pesan rekan kerjanya tersebut.
"Aku pulang," tukas Jane, menghenyakkan Al.
"Tidak keberatan kalau nanti aku menyewamu lagi, kan?!"
"Jangan harap aku mau berurusan denganmu lagi!" Jane berlalu meninggalkan kamar.
Alan Pearce memasukkan ponsel ke dalam kantung. "Membayar hotel tanpa bersenang-senang adalah hal paling menyebalkan dari pekerjaanku," gerutunya.
***
Jane Moss berjalan cepat di jalanan sepi, sembari merapatkan mantelnya.
Kalau bukan karena Polisi tadi, aku tidak pulang selarut ini, batin Jane merasa kesal, seraya menyulut rokok.
Perasaan khawatir menyeruak. Ia merasa ada yang mengikutinya. Jane pun mempercepat langkah. Sesekali ia menoleh ke belakang, tetapi tak mendapati ada orang lain di sana. Setelah melewati beberapa belokan, akhirnya ia sampai di sebuah apartemen tua.
"Halo Jane," sapa seorang perempuan tua di dalam koridor.
"Mrs. Carlson." Jane mengecup pipi perempuan tersebut.
"Untuk tagihan bulan ini, nanti aku antar ke unitmu." Mrs. Carlson tersenyum. "Tidak banyak, karena sudah kuberi diskon."
"Tidak seharusnya begitu, Mrs."
"Kamu sudah banyak membantuku, Jane."
Jane tersenyum. "Well, terima kasih. Oh iya, sudah bertemu Carrie?"
"Tadi siang. Tapi semenjak itu ia belum turun lagi."
"Carrie mungkin sudah menungguku dari tadi. Kalau begitu aku ke unitku, Mrs," tukas Jane, ramah, kemudian berlalu meninggalkan Mrs. Carlson.
Setibanya di dalam, dilihatnya anak perempuannya sedang menonton televisi. Gadis kecil itu menekuk wajah, melihat kedatangan Jane. Kendati demikian, matanya yang berbinar, menunjukkan perasaan senang yang tak mampu ia tutupi.
"Ibu terlambat lagi," ucap anak tersebut, merajuk.
Jane menghela napas, kemudian duduk di sebelah anak perempuan itu. "Maaf Carrie, Ibu harus bekerja."
Anak kecil bernama Carrie diam beberapa saat, sebelum akhirnya berbicara, "Aku lapar."
"Lihatlah apa yang kubawa." Jane mengeluarkan bungkusan dari dalam tas. "Tadda!"
"Croissant dari Hazel Coffee!" seru Carrie, mengecup pipi Jane.
"Ibu mandi dulu, ya?!"
"Oke."
Baru beberapa menit di dalam kamar mandi, air mendadak berhenti mengalir, listrik pun padam.
Mungkin saklarnya turun, ucap Jane dalam hati, sembari melilitkan handuk, kemudian keluar.
"Ah, pemakaian listrik terlalu tinggi," keluhnya, usai menaikkan saklar. "Carrie, matikan lampu kamar!"
Ia pun membalik badan, sambil terus memanggil-manggil. Saat tengah berjalan, matanya menangkap noda berceceran di lantai. Darah? Bayangan buruk mulai menyeruak dalam pikiran Jane.
"Ibu ...."
Hati Jane seakan melompat, dan bergegas menghampiri asal suara. Namun, apa yang ia lihat di dalam kamar, nyaris membuat jantungnya berhenti. Ia melihat darah berkucuran di wajah Carrie. Tangan dan kakinya terikat. Di belakangnya berdiri seorang pria berjaket hitam, yang tersungging menatap Jane.
"Ibu ... tolong ...." Carrie memanggil, setengah merintih. Suaranya bergetar, pun air mata terus mengalir—hingga bercampur dengan darah di wajahnya.
Jane membeku, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Hanya sejenak, karena berikutnya perasaan takut mencengkeramnya kuat-kuat. "Jangan sakiti anakku," pinta Jane, memelas. Suaranya bergetar, air mata pun menggenang.
"Aku menyakiti anakmu?" tanya laki-laki berjaket, seraya menyeringai. "Bukan aku, Jane. Kamulah yang menyakitinya."
"Kumohon lepaskan anakku ...." Air mata Jane sudah tak terbendung. Ia tak henti-hentinya memohon. "Aku akan lakukan apa saja. Aku berikan apa saja, tapi tolong lepaskan Carrie ...."
Laki-laki tersebut tersenyum, lalu mengarahkan moncong pistol ke arah Jane. "Aku minta nyawamu, Jane Moss."
Bayangan mengerikan tampak jelas di matanya. Sebentar lagi ... ya, sebentar lagi nyawanya melayang, saat laki-laki di hadapannya menarik pelatuk pistol penghantar maut.
***