50

1670 Kata
Hans menjerit bersamaan dengan darahnya yang menyembur deras. Namun, aku segera menusuk tangannya yang lain, membuat Hans meraung lebih keras. Jeritan Hans bagaikan musik merdu yang mengalun indah. "Sudah lama aku membenci mulut kotormu!" Kutarik lidah Hans kemudian pisauku menyayatnya seinci demi seinci. Hans mencoba memberontak, tetapi darah yang mengucur pada tangan dan kaki, telah menggembosi tenaganya. Perlawanannya justru membuat pisau mengiris makin cepat. Sedikit demi sedikit, pisau memisahkan sebagian lidahnya. Melihat keadaan Hans, tangis Liesel pun tak terbendung. "Stef, kumohon ... hentikan ...." "Untuk apa aku menghentikan perbuatanku, sementara dia tidak pernah berhenti menyiksaku?! Hanya karena aku MISKIN?! SEBAB AKU RUMANIA?!" Kuiris lidah Hans kuat-kuat sampai akhirnya benar-benar terpisah. "DIA SELALU MEMANDANGKU RENDAH, DARI MATANYA INI!" Pisau menancap tepat di bagian bawah kelopak mata lantas menyisiri cekungan tulang. Serabut urat tipis pun teriris, hingga tak ada lagi yang merekatkan bola mata pada tempatnya. Tidak berhenti sampai di situ, kucongkel matanya keluar dari dalam. Suara Hans melengking dari kerongkongan. Andai lidahnya masih utuh, sudah pasti jeritan Hans terdengar nyaring. Namun, justru tangisan Liesel yang menggema di ruangan. Menyaksikan penderitaan keduanya membuatku tergelak. "Hahaha! Ingat dulu sumpahku ketika kalian menyiksa beramai-ramai! Sekarang akan kurenggut harga diriku!" Moncong M4 Carbine menempel di kening Hans. "Tunggu aku di neraka, Hans." Timah panas melesat cepat menghunjam kepalanya. Aku terkekeh menyaksikan Hans tewas mengenaskan. Namun, masih ada yang tersisa. Aku mengerling pada Liesel yang menangis meraung-raung. Kuhampiri Liesel sembari mengendurkan ikat pinggang. "p*****r sepertimu akan kunikmati sebelum melubangi kepalamu." Aku mencumbunya dengan liar. Berulang kali kucecap keindahan Liesel, memuaskan hasrat yang selama ini tertahan. Cukup lama, hingga akhirnya gadis itu tak lagi memantik gairahku. "Auf Wiedersehen, Liesel." Aku menarik pelatuk, memicu timah panas melesat dari selongsongnya .... *** "Aku akan membalas dendam." "Aku akan membalas dendam." "Aku akan membalas dendam." "Mereka pikir semua telah usai." Tidak. Sebelum yura absolut mengukuhkan presensi arogansiku. Sebelum "Stefan Geza" berhasil tersemat utuh di dalam diriku. Mereka akan memuai, kemudian hangus dalam bara dendamku. Mereka akan terkarut dan tercabik oleh amarahku. Mereka akan tertikam peluru-peluru tajam dari besi di tanganku. Akulah Hakim atas kepalsuan mereka. Akulah pengadil atas ketamakan mereka. Dera dan siksa akan mereka hadapi. Derita dan nestapa akan mereka lalui. Tiada jeda. Tanpa henti. Inmuia! *** Akhir nestapaku kian dekat seiring langkahku memasuki Bosendere. Pandanganku mengedar di dalam ruangan. Masih banyak bangku kosong di sekitarku. Saat ini memang masih terlalu pagi, tak heran jika Bosendere belum banyak pengunjung. Menunggu sementara sampai bangku-bangku terisi merupakan pilihan terbaik. Aku pun duduk di salah satu bangku yang berada di tengah ruangan. Kehadiranku sudah pasti menarik perhatian karyawan Bosendere, terutama Walden dan Iandra yang segera menghampiri. Aku sudah bisa menerka mereka akan memberi sambutan buruk. "Untuk apa kamu datang ke sini?" tanya Iandra, ketus. Walden pun tak kalah berang. "Cepat angkat kaki sebelum aku menendangmu ke luar!" Aku menyeringai miring. "Bagaimana kalau aku mem-posting 'keramahan' Manajer dan Asisten Manajer Bosendere di sosial media? Bukankah menjadi promosi menarik?!" Sebelah alisku terangkat. "Oh iya, aku ke sini sebagai pengunjung. Aku memesan Bratwurst[1] dan segelas jus stroberi. Tolong antar segera." Rupanya ancamanku menciutkan nyali keduanya. Berikutnya, Walden dan Iandra pun berlalu dengan wajah merah padam. Mereka masih meradang karena kejadian video panas yang kurekam. Detik dan menit berlalu, sambil menunggu ruangan terisi, aku menyantap hidangan yang kupesan. Mungkin Bratwurst dan jus stroberi menjadi makanan terakhirku, lantaran sekarang semua bangku hampir semuanya terisi. Aku melambaikan tangan pada salah seorang pramusaji. Alih-alih menghampiri, justru Iandra yang datang ke mejaku. "Tidak perlu memanggil karyawan Bosendere!" Aku terkekeh. "Iandra, kamu takut aku membocorkan rahasiamu dan Walden?! Tidak ... tidak ... aku mau memesan dua gelas jus stroberi untuk masing-masing meja di sini." Iandra mendengkus, tak percaya. "Kamu pikir aku percaya?!" "Ah, sebagian uang dari kalian masih kupegang." Kuserahkan tumpukan Euro pada Iandra. "Ambil sisanya untukmu." Rona merah pekat di wajahnya pun tergelincir. "Seringlah datang ke sini, Stef," ujarnya tersenyum kemudian berlalu menuju meja kasir. Setelah melihat pesanan di antar ke meja pengunjung, aku berdiri dengan membawa gelas dan sendok. "Perhatian!" seruku sembari mendentingkan sendok dan gelas, sehingga seluruh pandangan pengunjung tertuju padaku. "Bagiku ini adalah hari spesial! Karena itu aku berbagi kebahagiaan dengan memberi minuman pada pengunjung di sini secara cuma-cuma!" "Apakah kamu baru menemukan harta karun?" seloroh pria buncit dari kejauhan, yang diikuti gelak tawa pengunjung lainnya. "Hahaha! Bukan! Lebih baik ketimbang harta karun, karena,"—aku mengeluarkan M4 Carbine dari dalam tas—"kalian semua akan mati!" Senjata api di tanganku menyalak. Suasana di dalam ruangan menjadi kalut; orang-orang berlarian sambil menjerit-jerit. Sebagian di antara mereka tersungkur dengan tubuh berlumuran darah. Ada yang tewas di tempat, ada pula yang terluka. "Inilah akibat dari keangkuhan kalian!" M4 Carbine memberondong ke segala arah, memakan korban lebih banyak. Tak lama berselang, beberapa mobil stasiun televisi pun terlihat dari jendela-jendela Bosendere. Sirene bersahutan dari mobil-mobil polisi yang baru tiba. Berikutnya puluhan polisi menodongkan pistol ke pintu masuk. "Stefan Geza! Kami sudah mengepungmu! Cepat hentikan penyerangan dan menyerahlah! Kalau dalam lima menit tidak mengindahkan peringatan ini, maka kami akan masuk dan menindak tegas!" Aku tidak terkejut ketika mereka menyebut namaku. Polisi memiliki perangkat yang dapat melacak identitas seseorang. Apalagi televisi sudah menyiarkan kejadian ini, pasti seluruh Jerman tengah menyaksikanku. Alih-alih surut, aku justru makin menggila. Timah-timah panas menghunjam secara acak, menewaskan lebih banyak orang. Rupanya suara tembakanku memancing polisi bertindak dan berusaha menyeruak masuk. Namun, aku bertindak cepat, memberondong mereka di pintu masuk dan area di sekitarku. Meskipun mengenakan baju anti peluru, tetap saja tembakan-tembakanku menyulitkan mereka—terlebih orang-orang sipil turut menjadi korban. Akhirnya mereka menyurutkan langkah dan mencoba cara persuasif. "Stefan! Sebutkan tujuanmu, kami akan mengupayakannya!" Polisi berseru melalui pengeras suara. Tujuan? Tujuanku menghabisi orang-orang yang masih tersisa. Asalkan tujuanku tercapai, aku tidak peduli peluru tajam mengoyak jantungku. Namun, tak lama kemudian suara seseorang yang sangat kukenal terdengar dari pengeras suara. "Stefan ...." Suara pilu itu membuat jantungku seakan melorot. "Tidak ...." Seluruh syarafku mengendur seketika. "Nak, Ibu mohon hentikan ...." Suara tangisannya melunturkan amarahku, membuat batin berkecamuk. Sakit dan sedih membaur di dalam batin. "Stefan Geza. Nama itu kami berikan supaya kamu menjadi pemenang atas kesulitan hidup; agar mengungguli rintihan yang sering menyapa di dalam hidup. Duka dan tangis silih berganti menyambangi manusia; luka dan derita kerap hadir dalam kehidupan. Namun, manusia harus berjuang menaklukkan nestapa. Itulah kemenangan sempurna, juga makna dari namamu." Tangisan ibu nyaris menyekat suaranya keluar dari kerongkongan. Air mata menetes seiring jantungku yang mendesir lirih. Bayang-bayang kebahagiaan masa kecil tatkala di Rumania pun melintas. Tawa dan canda terulas jelas dalam pikiran. Walaupun hanya sekejap, tetap mampu memantik senyumku. Keputusasaan yang sempat mengempis, berangsur-angsur mengembang. Mungkin ... ya, mungkin saja aku masih bisa bahagia. "Anakku, ini Ayah. Kami mendidikmu dengan baik. Kamu bukanlah pembunuh. Hentikanlah, Nak ...." Suara ayah bergetar. "Ayah ...." Di saat perasaan damai mulai menyelusup ke dalam batin, tiba-tiba ada yang menerjang dari belakang. Ia berusaha merebut M4 Carbine dari tanganku. Namun, aku berusaha melawan. "Kamu ... Walden!" Aku terkejut melihat lelaki di hadapanku. Pergulatan pun terjadi. Aku dan Walden berjibaku, tetapi tenaganya jauh lebih unggul. Ia mendorong laras ke kerongkonganku. Aku berusaha berontak dan mendorong laras menjauh. Namun, berikutnya selongsong M4 Carbine menyalak dan menghunjam salah satu di antara kami: aku .... Dengan sisa-sisa tenaga, kutarik pisau yang terselip di celana lantas menikam kerongkongan Walden hingga tersungkur di sampingku. Dadanya naik-turun dengan cepat seraya tersengal-sengal. "Kita impas ...." Walden memandangku dari matanya yang perlahan-lahan menutup. Keadaanku tidak lebih baik dari Walden. Darah segar mengucur deras dari lubang di leherku. Dadaku kembang-kempis, berupaya memompa napas yang makin sulit kuhela. Bayang-bayang wajah ayah dan ibu menyeruak. Cinta mereka kala merawat dan mendidikku hingga kini, terulas cepat. Namun, tak lama kemudian bayangan mereka memudar bersamaan dengan air mata yang menetes membasahi wajahku. Kerongkonganku seperti tercekik, menghambat udara masuk ke dalam rongga pernapasan. "Ibu ... ayah,"—pandanganku mengabur, pun pendengaran kian menghilang. Tak lama kemudian semuanya menjadi gelap dan sunyi—"maafkan aku ...." Aku menghela napas panjang untuk yang terakhir kalinya. *** Aku mengerjap merasakan leherku sakit. Ketika melihat ke sekitar, semua tampak putih. Di mana ini? Apakah rumah sakit? Saat melihat sekitar, ada tiga orang berdiri di dekatku. Yang dua orang adalah orang tuaku. Lalu siapa yang seorang lagi? Orang itu adalah lelaki berambut putih dan berbadan tegap. Usianya sekitar emp[at puluhan tahun. Namun, aku tidak mengenalnya. Melihatku heran, ayah tersenyum dan menjelaskan. "Stefan, ini adalah Mr. Milton. Beliau bersedia membantumu." "Membantu?" tanyaku makin heran. Laki-laki bernama Milton tersenyum tipis. "Akibat perbuatanmu, kamu pasti dihukum setimpal. Bahakn bisa diganjar hukuman mati." Mendengar itu aku tersenyum. "Kalau aku takut mati, aku tidak akan melakukannya." Milton tergelak. "Aku suka keberanianmu. Stefan, kamu tidak boleh mati sekarang. Atasanku tertarik mempekerjakanmu." "Hah! Bekerja!" cemoohku. "Atasanku adalah orang yang memiliki pengaruh besar di negeri ini. Dengan bantuannya kamu akan memiliki identitas baru sebagai 'Rob', terbebas dari hukuman, dan juga memiliki kehidupan mewah yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya." "Aku tidak terta--" "Stefan. Tolong terima tawarannya," pinta ibu sambil menangis. Kejadian tadi pasti sudah memukul kedua orang tuaku. Penyesalan yang tadi sempat menyeruak, kini kembali lagi. Mungkin benar kata ibu, aku harus menerima ajakan itu. Bukan demi aku, tetapi demi mereka. Demi orang tuaku. Setelah bersedia dan membubuhkan tanda tangan, aku diberitahu kepada siapa aku bekerja. Dia adalah keluarga besar Nathaniel. SAlah satu dari keluarga paling berpengaruh di Inggris Raya, bahkan termasuk dalam jajaran tiga puluh besar orang terkaya di dunia. Aku tidak menyesali keputusanku, karena kehidupan keluargaku telah berubah seratus delapan puluh derajat dari sbelumnya. Uang sudah tidak menjadi masalah bagi keluargtaku. Respek aku dapatkan dari semua orang. Hal-hal yang selama ini kuimpi-impikan telah kurengkuh. Namun, berbagai pekerjaan kotor harus aku lakukan. Tahun demi tahun berlalu, semua pekerjaan yang diberikan dapat kuselesaikan dengan baik. Tidak! Bahkan lebih dari itu. Aku selalu menuntaskannya lebih cepat dari batas waktu yang ditentukan Keluarga Nathaniel. Meskipun banyak pekerjaan yang lebih berat daripada sebelum ini, entah mengapa aku merasa menculik perempuan tersebut akan lebih berat lagi. Aku benar0benar tidak tahu alasannya. Ini bukan logika, mmelainkan firasat. Namun, perintah Nathaniel harus tetap dijalankan. Itulah isi kontrak yang aku tanda tangani beberapa tahun lalu. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN