Tentu saja aku berbohong, karena tak ada niat sedikit pun untuk membebaskan mereka. Aku hanya ingin membuat eksekusi ini berjalan menarik. Mendengar niatku membunuh, arogansi mereka yang biasanya tampak pun luruh. M4 Carbine benar-benar menghancurkan keberanian mereka.
Suasana mendadak hening. Kekalutan terlihat jelas di wajah mereka. Hingga Kenan memberanikan diri bertanya dengan suara bergetar. "Kenapa harus salah satu di antara kami yang akan keluar hidup-hidup?"
"Ah, apakah kamu lebih memilih semuanya mati ketimbang salah satu berpeluang hidup? Mungkin saja kamu yang beruntung, Ken!"
Kenan mengalihkan pandangan ke lantai. Tampaknya kata-kataku berhasil memengaruhinya. "Sebutkan apa yang harus kulakukan untuk keluar dari sini?" tanyanya lirih.
"Ken! Kamu sudah gila! Pada akhirnya sama saja! Dia akan membunuh kita se—aargh!" Peluru tajam melesat menghunjam kepala Zohan dan menewaskannya seketika.
"Zohan! Zohan!"
Mereka mengerumuni Zohan sambil mengguncang-guncang tubuhnya yang tak lagi bernyawa. Kepanikan mereka bagaikan alunan musik yang mengalun merdu, memantik ujung-ujung bibirku terangkat tinggi.
"Ikuti aturanku, salah satu di antara kalian akan selamat. Jika melawan, kalian akan berakhir seperti Zohan."
Kenan mencerna pikiran sesaat sebelum akhirnya berkata, "Percuma kita melawan. Tak sadarkah kalian kalau kita tak memiliki harapan jika tidak mengikuti keinginan Stefan?" Ia berjalan mendekati tumpukan kotak di bawahku. "Meskipun berpeluang tipis, setidaknya aku masih berharap hidup."
"Hahaha! Kamu pintar, Ken! Sebagai penghargaan aku memberimu kesempatan membuka permainan." Kusorot lampu senter pada kotak kaleng di bawahku. "Ambillah salah satu kertas di dalamnya, lalu baca keras-keras!"
Kenan menurut kemudian mengambil gulungan kertas kecil di dalam kaleng. "Penrod."
"Bagus! Makanlah jantungnya!"
Kenan tersentak. "Ma-maksudmu?"
"Ini!" Aku melemparkan pisau ke tengah-tengah mereka. "Kamu tahu yang harus dilakukan, kan?!" Sebelah alisku terangkat seraya menatap Kenan.
Kenan mengangguk. Namun, ketika hendak mengambil, tiba-tiba Penrod, Vier, Uwe, Yohn, dan Beatrice, mencoba menjangkaunya lebih dulu. Perebutan pun terjadi. Mereka saling memukul dan menendang demi sebilah pisau. Bagi mereka, pisau itu merupakan harapan agar tetap hidup. Vier berhasil meraih pisau dan segera menikam d**a Kenan.
"Vi-Vier ... kamu ...." Kenan terbelalak sebelum akhirnya jatuh.
"Aku ingin tetap hidup ...." Suara Vier tercekat. Air mata mengucur deras membasahi wajahnya.
Aku tergelak melihat kejadian itu. "Kelakuan kalian seperti anjing memperebutkan tulang! Aku suka anjing yang paling kejam!" tukasku, menatap Vier. "Lakukan perintahku tadi, tetapi kali ini aku beri kebebasan memilih mangsa."
Mendengar kata-kataku, Vier melirik Kenan dan Yohn bergantian. Wajar jika Vier memilih di antara keduanya, sebab mereka sudah terluka dan tak mampu memberi perlawanan berarti. Namun, pilihannya sudah jelas ....
"Maafkan aku, Ken!" Vier menusuk d**a Kenan berkali-kali sampai tak lagi bernyawa. Ia memandang nanar sambil terengah-engah.
"Makan jantungnya!" perintahku dingin. "Jangan ada yang mengganggu Vier! Aku ingin menyaksikannya!" ucapku, mengarahkan M4 Carbine.
Vier memejam rapat. Tangannya gemetar ketika mengangkat pisau ke udara. Sedetik kemudian pisau mengayun cepat mengoyak d**a Kenan. Darah Kenan menyembur membasahi Vier. Suara tangis tertahan Vier mengiringi pisau yang membelah d**a Kenan sampai menganga sebelum berhenti. "A-aku tidak sanggup la—"
Timah panas melesat menembus kerongkongan Vier. Ia menggelepar-gelepar beberapa saat sebelum bergeming.
Pandanganku menyapu pada empat orang yang tersisa. "Yohn, jika menemukan nama Zohan itu berarti Penrod, dan cari sampai mendapat nama orang-orang yang tersisa." Lampu senter mengarah pada kotak kaleng.
Yohn tersuruk-suruk menuju tempat yang tersorot senter, kemudian mengeluarkan kertas dari dalam kaleng. Setelah dua kali mengambil akhirnya ia berkata, "Uwe."
Semua pandangan tertuju pada Uwe yang makin pucat. Keringat mengucur deras membasahi seluruh tubuhnya. Ia tahu, asanya untuk hidup kian menipis.
"Hahaha! Lihatlah dirimu, Uwe! Kamu sudah seperti mayat hidup!" Pandanganku beralih pada Yohn. "Cincang dagingnya kecil-kecil!"
Melihat Yohn mengambil pisau di dekat Kenan, Uwe menggeram. "Aku tidak akan diam saja ...." Uwe menyelisik sekitar dan menemukan pecahan botol.
"Tak ada yang boleh ikut campur!" bentakku, mengarahkan M4 Carbine pada Penrod dan Beatrice.
Sementara itu, Yohn dan Uwe bertarung sengit. Mereka mengayunkan senjata masing-masing dan saling menebas. Walaupun menggunakan senjata yang lebih baik, Yohn terdesak akibat luka yang dialaminya. Beling berhasil menyayat lengannya cukup dalam.
"Maaf, Yohn!" Uwe menerjang dengan beling yang siap menikam.
Kala Uwe berada dalam jangkauan, Yohn menendangnya sampai terjengkang. Ia pun segera melompat dan menduduki Uwe. "Selamat tinggal, Kawan!" pisau bergerak cepat.
"Aaargh!"
Keduanya berteriak saat kedua senjata menikam bersamaan. Beling telah menancap di leher Yohn, sedangkan pisau menghunjam jantung Uwe. Selang beberapa detik kemudian, mereka menggelepar sebelum akhirnya tewas mengenaskan. Aku menyeringai menyaksikan kematian mereka. Satu demi satu musuh-musuhku mati. Kini hanya tinggal Penrod dan Beatrice yang tersisa.
Melihat nasib nahas sebentar lagi menyapa, tangis Beatrice pun pecah. "Stef ... kumohon hentikan ... a-aku rela berbuat apa saja, a-asal bebaskan ka-kami ...." Beatrice terus merengek sembari bersimpuh.
Aku tersenyum tipis. "Tidak perlu memohon, aku memang akan berbuat se-su-ka-ku!" Pandanganku beralih pada Penrod. "Hanya tinggal kalian berdua, tidak perlu lagi mengundi. Pen, penggal kepalanya!"
"Tapi ...." Penrod tak melanjutkan kalimat seraya menatap Beatrice dengan sendu. "Baiklah," ujarnya, sembari menunduk kemudian mengambil pisau di samping Yohn. "Seperti yang dikatakan Zohan, kita semua tidak akan selamat. Stefan hanya ingin melihat kita menderita. Cepat atau lambat nasib kita akan sama seperti mereka." Ia mengerling pada mayat-mayat yang bersimbah darah lantas kembali menatap Beatrice lekat-lekat. "Aku tidak akan melakukannya, Beaty. Ketahuilah sudah sejak lama aku memendam perasaan padamu ...." Penrod meletakkan ujung pisau di lehernya.
"Penrod ...."
"Sampai jumpa, Beatrice ...." Usai berkata, Penrod menusuk tenggorokannya kemudian tersungkur.
"Penrod! Penrod!" Beatrice memeluk tubuh Penrod yang sudah tak bernyawa.
Aku pun bertepuk tangan. "Tidak kusangka pentas ini berakhir dengan drama Romeo dan Juliet!" Aku turun dari tumpukan kotak, menghampiri Beatrice yang masih memeluk Penrod.
Beatrice menoleh, darahnya naik ke wajah. Ia memandangku bersungut-sungut. "Kamu kejam, Stef!" Ia mencabut pisau dari kerongkongan Penrod lantas berlari ke arahku. "Kamu pantas ma—"
Aku segera menarik pelatuk, melesatkan peluru tajam yang menembus jantung Beatrice. Ia pun tersungkur dengan napas tersengal-sengal. Kujambak rambutnya, hingga wajahnya terangkat.
"Bunuh saja a ... ku ...."
"Tadinya aku ingin kamu memanjakanku, tapi,"—aku mendengkus, melihat punggungnya yang berlubang—"penampilanmu sekarang seperti zombie." Kutempelkan moncong M4 Carbine ke dalam mulutnya. "Mati!" M4 Carbine menyalak, menghabisi nyawa Beatrice seketika.
Pandanganku mengedar pada musuh-musuhku yang tewas mengenaskan. Kepuasan yang kurasakan tak dapat terkiaskan. Kini hanya tinggal menggelar pentas penutup. Hans dan Liesel harus mati di tanganku sendiri! Mereka akan menutup rancangan dengan cara mengenaskan!
Hans dan Liesel, pasangan laknat yang memuncaki daftar orang-orang khusus yang menjadi buruanku. Merekalah yang paling membuat hatiku memuai; mereka jua yang memberi kenangan terburuk dalam hidupku; mereka setan-setan yang mengikis harga diriku hingga nyaris tak tersisa. Karena itu, hari ini akan kuakhiri kesombongan mereka. Mereka akan merasakan penderitaan puluhan kali lipat!
Malam ini waktu menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh menit. Sebentar lagi saat pembalasan pun tiba. Aku menunggu mereka di balik pintu gudang. Tak lama kemudian, terdengar suara-suara yang mendekati bangunan gudang tua.
"Kamu yakin kita tidak perlu memberitahu ayahmu?"
"Tidak mungkin, Lies. Ayahku bisa mengamuk kalau melihat rekaman kita. Kamu tidak usah khawatir, aku yakin kita baik-baik saja."
"Kamu jangan menganggap remeh, Hans. Kita tidak tahu tujuan orang itu. Bisa jadi ia meminta uang yang banyak."
"Tidak masalah. Aku bukan orang miskin seperti Mr. Spock."
Suara mereka cukup terdengar dari tempatku bersembunyi. Sampai akhirnya mereka tiba di dalam ruangan. Mereka berdiri membelakangiku sembari mengedarkan pandangan.
"Kami sudah datang! Cepat serahkan video itu, atau—"
"Atau?" tanyaku sembari mengunci pintu gudang. "Apa yang akan kalian lakukan?" Kuarahkan moncong M4 Carbine pada keduanya.
Hans terkejut melihatku dari jarak yang cukup dekat. "Stefan!"
Melihatku memegang M4 Carbine, Hans justru tergelak. "Hahaha! Kamu pikir aku takut gertakanmu?! Cepat serahkan vid—aaargh!"
M4 Carbine menyalak, melesatkan timah panas yang menghunjam paha kiri Hans. Sontak ia terjatuh dengan kaki kanan yang menopang tubuh, sedangkan di paha kirinya mengucur darah segar. Ia pun meringis merasakan sakit.
"Hans!" pekik Liesel, segera memeriksa luka di paha sang kekasih.
"Mau kalian apakan video ini? Menghapusnya?" Kutunjukkan video tersebut. "Video ini sudah selesai menuntaskan tugas untuk memancing kalian ke sini," tukasku seraya menghapus rekaman.
"Kamu sudah gila! Apa maumu?" hardik Liesel.
"Dia ingin membalas dendam." Hans menimpali sambil menahan sakit.
Senyumku tersungging lalu mengambil karung di lantai, dan melemparkannya ke hadapan mereka. "Cepat buka, Lies!" perintahku, menodongkan M4 Carbine.
Liesel terpaksa menurut, kemudian membuka ikatan pada ujung karung. Beberapa detik kemudian ia menjerit ketika melihat kepala teman-temannya berada di dalam karung.
"Dasar biadab!" bentak Hans. Matanya menyorot tajam, pun otot-otot rahangnya mengejang.
Aku tergelak. "Sudah tersudut masih berani menghardik! Kamu benar-benar bodoh!"
"Aku tidak bodoh, Spock! Menurut pun kamu tetap akan menghabisi kami!"
Ujung-ujung bibirku setengah terangkat. "Ah, itukah yang kamu inginkan? Padahal aku baru mau memberi kalian kesempatan hidup jika menuruti perintahku. Baiklah akan kupenuhi permin—"
"Tu-tu-tunggu ...." Liesel menyela dengan suara terbata. "Sebutkan permintaanmu," ujarnya lirih seraya menunduk.
Hans terkejut mendengar kata-kata Liesel. "Liesel! Jangan bodoh!"
"Hahaha! Dia lebih pintar darimu, Hans!" Kualihkan pandangan pada Liesel dan menyelisiknya dari bawah ke atas. "Buka bajumu tanpa tersisa, Lies."
Kata-kataku kian menyulut kemarahan Hans. "Bangsa—aaargh!" Timah panas kembali melesat dan menembus betis kanan Hans.
"Diam! Sekarang saksikanlah kekasihmu mencumbuku." Aku melemparkan pandangan pada Liesel. "Apa lagi yang kamu tunggu?!"
Liesel mengangguk. Perlahan-lahan jemarinya melucuti pakaian sampai tak ada lagi yang menutupi tubuhnya. Keindahan Liesel memantik hasratku. Jantungku berdegup kencang, memompa darah hangat merayap naik.
"Duduklah membelakangi tiang itu," instruksiku, menunjuk tiang di belakang Liesel.
Hans terus menerus merutuk, tetapi sama sekali tak kuhiraukan. Aku membawa tali yang telah kusiapkan sambil menghampiri Liesel yang sudah duduk di depan tiang. Setibanya di hadapan Liesel, aku segera mengikat kedua tangannya pada tiang.
"A-apa yang kamu lakukan?" tanyanya gemetar.
"Jangan banyak bicara! Ikuti kemauanku atau kamu memilih menjadi mayat!" bentakku.
Tiba-tiba sepotong kayu jatuh di dekatku. Aku pun menoleh ke arah Hans. Ia baru melemparku dengan kayu yang berserakan di lantai. Walaupun tidak berhasil mengenaiku, amarahku membuncah.
"Sudah tidak bisa berjalan, kini kamu ingin aku segera mencabut nyawamu!" Aku menghardik sambil berjalan ke arahnya.
"Lebih baik mati daripada melihat kebejatanmu!" Hans membentak sembari melotot padaku yang baru saja tiba di hadapannya.
"b***t? Siapakah yang bersenggama di sekolah?! Akan kupenuhi permintaanmu, Hans. Namun, aku akan membunuhmu perlahan-lahan. Kumulai dari,"—aku mencabut pisau yang terselip di celana—"kedua tanganmu!" Pisau mengayun cepat, menikam lengan kanan Hans.
Bersambung