Mr. Ralf mengangguk, mempersilakan untuk mengambilnya dari dalam kotak. "Meskipun dibuat tahun 2014, tetapi M4 Carbine terus diproduksi. Kamu tahu kenapa?"
"Karena kemampuannya yang tidak kalah dibandingkan senjata terbaru," jawabku, mengangkat M4 Carbine.
"Senjata ini mempunyai mode semi-otomatis. Ia mampu menembakkan tiga peluru dalam sekali tembak." Mr. Ralf menimpali.
"Pantas saja dalam semenit, bisa melepaskan tujuh ratus sampai sembilan ratus peluru," gumamku seraya menyelisik besi dalam genggaman.
Mr. Ralf tersenyum. "Harga yang kuberikan sudah termasuk satu set peluru. Namun, aku yakin kamu tidak memerlukannya."
Mendengar keterangan Mr. Ralf, aku berusaha tampak normal, tak menunjukkan antusiasme berlebihan. "Setidaknya menambah koleksiku. Kuharap dalam setahun ke depan, aku dapat membuat etalase untuk koleksi-koleksiku," terangku berbohong sambil mengedarkan pandangan ke arah etalase.
"Baiklah. Sekarang kita kembali ke urusan kita." Mr. Ralf pun menyebutkan harga yang harus kubayar.
"Silakan dihitung." Aku menyerahkan beberapa lembar Euro.
Mr. Ralf mengambil lalu menghitung uang dariku. "Sudah benar. Ada lagi yang mau kamu beli?" Mr. Ralf mendongak, memandangku.
"Cukup, Mr. Ralf,"
"Mari kuantar ke atas."
Usai mengambil M4 Carbine, aku dan Ehrlich dalam perjalanan pulang. Sesuai dugaan, ia mengingatkanku untuk membayar fee yang telah kami sepakati, atau lebih tepatnya terpaksa aku setujui ....
"Kamu tidak lupa menyelesaikan urusan kita, kan?" tanya Ehrlich.
"Astaga! Aku lupa membawanya!"
Wajah Ehrlich berubah merah padam. "Kamu harus menepati kesepakatan kita, Stef!"
"Ba-bagaimana kalau besok?" tanyaku berpura-pura.
"Tidak! Aku harus menerimanya malam ini! Kalau besok, bisa jadi kamu lari dan tidak membayar hakku!" bentak Ehrlich.
"Uangku tertinggal di rumah. Kalau sudah sampai rumah, orang tuaku pasti tidak mengizinkanku ke luar. Aku dapat memberimu malam ini kalau kamu mau ikut ke rumahku. Tapi kalau kamu tidak pulang sekarang, orang tuamu pasti akan mencari."
"Mereka tinggal di Berlin! Aku tinggal sendiri dan tidak ada yang akan mencariku! Kamu pikir aku remaja sepertimu yang harus melapor pada orang tua?! Jangan mencari-cari alasan! Cepat antarkan aku mengambil hakku!" bentak Ehrlich.
Informasi yang baru kudapatkan dari Ehrlich menyempurnakan rencanaku. Aku tidak perlu mengatur jarak waktu eksekusinya dengan eksekusi yang lain. Tak akan ada yang melaporkan Ehrlich menghilang pada polisi dalam waktu dekat.
Sesuai rencana, aku membawanya melintasi Jalan Nikolaigraben menuju gudang tua. Setibanya di depan gudang tua, aku menghentikan langkah seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sekarang sudah pukul sebelas malam. Daerah di sekitarku tampak lengang. Gudang tua yang jauh dari pemukiman, turut mendukung kesunyian saat ini.
"Di mana rumahmu?" Ehrlich memandang berkeliling.
"Di sana," jawabku, menunjuk gudang tua.
Ehrlich mengamati sesaat. "Jangan bergurau! Itu gu—"
Belum sempat menyelesaikan kalimat, aku memukul kepala Ehrlich dengan batu sampai ia tersungkur tak sadarkan diri. Darah mengucur di bagian kepalanya dan menetes di jalan.
Darah Ehrlich harus kubersihkan. Kurasa ada air di dalam gudang tua yang dapat digunakan untuk membersihkan darahnya. Kemudian kuseret tubuhnya memasuki pekarangan gudang tua.
***
Usai membersihkan bercak darah, aku membawa ember ke dalam gudang tua. Ehrlich duduk bersandar pada salah satu dinding dalam keadaan terikat dan tak sadarkan diri. Kusiramkan air beberapa kali sampai Ehrlich tersedak.
"Uhuk ... uhuk!" Ehrlich terbatuk-batuk. "Di-di mana aku?" Ia mengedarkan pandangan.
"Di tempat,"—kuambil salah satu botol kaca yang berserakan di lantai lalu mengangkatnya ke udara—"kematianmu!" Botol kaca mengayun dan menghantam pundaknya hingga terdengar suara tulang yang bergeser.
"AAAAAARGH!" Ehrlich menjerit. Suaranya menggema di dalam ruangan. Sambil meringis menahan sakit, matanya menyorot tajam ke arahku. "Biadab!" Ia mencoba melawan, tetapi tertahan tali yang melilit tubuhnya.
Ujung-ujung bibirku terangkat, menampilkan seringai miring. "Biadab? Orang tamak sepertimu yang lebih pantas disebut biadab!" Botol kaca kembali mengayun deras, menghantam tulang hidungnya sampai terlepas dari tulang wajah.
Raungan Ehrlich terdengar nyaring. Botol kaca menghujani tubuhnya hingga darah segar membanjiri sekujur tubuh. Dadanya kembang-kempis dengan cepat, seakan menggembosi seluruh tenaganya.
"Ke-kenapa kamu lakukan ini?" tanyanya, dengan suara tercekat. Air matanya pun menggenang.
Pertanyaan itu menyulut amarahku makin menggelegak. Gigi-gigi bergemeretak, seiring otot-otot rahangku yang mengeras. "Karena permintaanmu yang tamak!"
Air mata mengalir deras membasahi pipinya. "A-aku akan meng-mengembalikan ... tidak ... bahkan a-akan memberimu lebih dari uang yang kumin—"
"Bodoh!" hardikku, menendang wajahnya. "Bukan karena uang aku melakukan ini! Melainkan karena pengkhianatanmu padaku!" Kubenturkan botol kaca ke lantai sampai pecah lalu mengambil salah satu beling yang sisi-sisinya tajam.
Pupil Ehrlich terpaku pada beling di tanganku. "Ku-kumohon ampuni aku ...." Bibir bawahnya bergetar, pun seluruh tubuhnya gemetaran.
Aku menempelkan ujung beling di pipi Ehrilch. Memutarnya pelan, mengoyak lapisan-lapisan kulitnya.
"Am-ampuni a-aku, ku-kumohon ...." Suara Ehrlich tercekat.
"Bodoh! Terlalu naif jika kalian pikir aku mengancam kalian dengan video itu saja! Cepat tutup pintu gudang kalau tidak ingin timah panas menembus kepala kalian!"
Tidak ada alasan untuk tak mengikuti perintahku. Vier menutup pintu gudang lantas kembali bersama teman-temannya. Perasaan takut tampak jelas di wajah mereka. Pemandangan yang kurindukan sejak dulu.
"Kami tidak bersalah padamu. Kalau kamu ingin menukarkan video itu dengan sejumlah uang, aku akan memenuhinya," ungkap Beatrice dengan kata-kata lembut.
Gelak tawaku pun menggaung di ruangan. "Tidak bersalah?" Kusorotkan lampu senter pada portable lamp yang berdiri di dekat meja rusak. "Nyalakan!"
Usai mengikuti perintahku, mereka terkejut. "Stefan ...."
"Stefan? Ah, bukankah kalian memanggilku Mr. Spock?" Seringai miring pun tampak, bersamaan dengan mataku yang menyorot tajam.
Mereka membisu, tak bisa menyangkal kata-kataku. Jika M4 Carbine tidak berada di tanganku, sudah pasti mereka akan menyalak seperti anjing. Tak lama kemudian Beatrice berkata, "Stef, kami tahu perbuatan kami sudah keterlaluan, karena itu aku mewakili mereka meminta maaf."
Aku menyeringai menyaksikan keputusasaannya lantas menancapkan ujung beling lebih dalam sembari memutar makin cepat. Sedikit demi sedikit beling mengoyak dan memisahkan sebagian daging serta urat pipinya. Ehrlich menjerit kala beling menyeruak masuk ke dalam pipi.
"Bu-bunuh saja a-aku daripada tersiksa ...." Derai air mata menguras seluruh asanya.
Tawaku menggema di dalam ruangan. "Akan kulakukan,"—beling bergerak ke samping, menyayat daging pipi Ehrlich perlahan-lahan—"setelah menyiksamu." Hingga akhirnya berhasil merobek pipi sampai ke mulut, menampilkan sebagian tulang pipi dan mulut yang berlumuran darah.
Melihat Ehrlich meronta-ronta, sudut bibirku pun terangkat tinggi—merasakan kepuasan yang belum pernah kualami sebelumnya. Namun, puncak kenikmatan belum kuraih. Ehrlich masih bisa memberi kepuasan melebihi sekarang.
Kuambil tongkat besi yang tergeletak di dekatku. "Ehr, beri aku kenikmatan tiada tara!" Tongkat besi mengayun cepat dan menghantam rahang Ehrlich. Pukulan keras itu memisahkan sebelah tulang rahangnya dari tulang pipi. Kini rahang Ehrlich mengayun-ayun, menampilkan sebagian daging dan tulang yang menganga.
Dada Ehrlich mengembang dan mengempis dengan cepat. Air matanya hampir semua terkuras habis. Sudah tak ada lagi asa yang tersisa. Ia tahu, sebentar lagi ajalnya tiba.
"Meskipun membencimu, tetapi aku bukan orang yang tidak tahu berterima kasih," tukasku, sambil memasukkan peluru ke dalam M4 Carbine. "Karena itulah aku akan memberimu penghormatan sebagai orang pertama,"—moncong M4 Carbine menempel di keningnya—"yang merasakan M4 Carbine-ku!"
Pelatuk segera kutarik, memicu timah panas melesat cepat dan menembus kepala Ehrlich. Akhirnya ia pun tewas mengenaskan dengan kepala berlubang.
Ujung bibirku terangkat, menunjukkan setengah-seringai sembari memandang Ehrlich yang sudah tak bernyawa.
"Ei cred că totul se termină."
"Ei cred că totul se termină."
"Ei cred că totul se termină."
"Ei cred că totul se termină."
"Mereka pikir semua telah usai."
Tidak. Perlakuan mereka adalah awal dari semua ini. Ehrlich melegitimasi arogansi-ku atas mereka. Semua belum usai sampai peluru-peluru tajam melubangi kepala mereka. Satu demi satu mereka akan mati mengenaskan ....
***
Tidak seperti Ehrlich. Aku hanya memiliki waktu 24 jam untuk mengeksekusi rancangan pada Hans dan kawan-kawan agar polisi tidak mencari mereka. Upaya polisi tentu dapat menghambat eksekusi selanjutnya. Karena itu aku segera menjalankan siasat untuk memancing teman-teman Hans masuk ke dalam perangkap. Namun, aku harus berhati-hati karena jika salah satu di antara mereka melaporkan tindakanku, maka polisi dapat melacak lokasi alat yang kugunakan. Itulah yang melandasi keputusanku untuk menggunakan komputer di rental yang ramai dan tak pernah kukunjungi sebelumnya.
Laman sosial media sekolah adalah tempatku mencari akun sosial media Hans dan kawan-kawan. Sekolah memang mewajibkan setiap siswa untuk mem-follow akun sosial media sekolah. Aku pun mengirim pesan singkat pada Hans dan kawan-kawan dengan menggunakan akun palsu.
"Silakan menonton video singkat kalian saat menikmati Red Ice dan Canna. Datanglah tepat waktu ke gudang tua di Jalan Nikolaigraben pada pukul sebelas malam ini. Jika kalian tidak ingin video ini tersebar, ada tiga hal yang harus kalian patuhi: 1. Datang tepat waktu. 2. Semua yang ada dalam video ini, harus hadir. 3. Jangan beritahu orang lain, selain yang berada di dalam video. Dari: Anonymous."
Aku menyertakan klip singkat perbuatan mereka di dalam gudang tua agar mereka tahu kalau ancamanku serius. Pesanku sangat jelas untuk memastikan mereka tidak bertindak bodoh.
Sementara itu pesan pada Hans dan Liesel berisi video dan ancaman atas perbuatan mereka di sekolah serta meminta mereka datang pukul delapan malam besok. Rentang waktu antara kedua eksekusi kurang dari 24 jam sehingga masih cukup aman dari aturan pencarian polisi.
Mereka adalah buruan spesial, sehingga untuk eksekusi kali ini aku menyiapkan peralatan yang akan membuat sesi eksekusi berjalan menarik. Selain M4 Carbine, aku telah menyiapkan pisau, beberapa gulung kertas, dan juga portable lamp.
Sekarang tinggal beberapa menit lagi menuju waktu yang kutentukan. Aku sudah menunggu mereka di atas tumpukan kotak-kotak besar yang telah kususun sebelumnya di dalam gudang tua. Tak lama kemudian terdengar suara orang-orang yang berjalan di pekarangan gudang. Pembicaraan mereka di luar bangunan tak terdengar jelas olehku, sampai akhirnya mereka pun tiba di dalam ruangan gudang tua.
"Ada orang di sini?" teriak Uwe yang tak dapat melihatku dengan jelas di dalam ruangan gelap.
"Tutup pintunya dan jangan berani lari dari tempat ini, kecuali kalian mau aku menyebarkan video kalian sekarang!" perintahku.
"Sepertinya aku mengenali suaranya ...." gumam Penrod.
"Aku tidak peduli identitasnya," tukas Yohn kemudian mendongak ke arahku. "Cepat berikan video itu dan sebutkan mau—aaargh!" Yohn menjerit kala peluru yang kulesatkan mengenai pundaknya.
Mereka semua terkejut dan mengerumuni Yohn dengan wajah pucat dan panik.
"Yohn!"
Aku kembali tergelak. "Setelah diancam baru meminta maaf, apa kalian pikir cukup? Tidak! Tidak ada ucapan yang dapat memupus kesalahan kalian! Namun,"—kupandangi mereka satu per satu—"aku akan memberikan video ini sekaligus membiarkan salah satu di antara kalian pergi dalam keadaan hidup," ujarku menutup kalimat dengan nada beku.
Bersambung