47

1683 Kata
Pantas laporan kami tidak diteruskan. Kedekatan ayah Hans dengan atasan Mr. Randolf merupakan penyebabnya. Namun, semua sudah terjadi. Sekarang aku lebih tertarik mengetahui mereka merahasiakan sesuatu dari Hans. "Tunggulah di tempat biasa. Setelah aku mengambil 'barang-barang' tersebut, aku akan segera menyusul. Jangan memulai sebelum aku datang." tukas Penrod. "Tentu saja tidak. Semua 'barang-barang' sudah habis kemarin. Kami memang harus menunggumu." Beatrice berkata. "Ah, ya sudah, aku berangkat sekarang." Penrod pun berlalu. Aku menguntitnya dari belakang. Penrod berjalan sampai di perempatan lampu merah kemudian berbelok ke kiri memasuki jalan kecil. Tidak jauh setelah berbelok, ia masuk ke dalam gang di sebelah kiri dan berhenti di sana. Gang itu tampak suram dan kotor. Di dalamnya, sampah-sampah berceceran di sekitar tempat sampah. Bau tidak sedap pun menguar di sekitarnya. Kalau bukan karena hal penting, tidak mungkin Penrod mau berada di sana. Penrod berdiri membelakangi tempat sampah besar. Tak lama kemudian, seorang laki-laki kurus dan bertato menghampirinya. Laki-laki itu mengedarkan pandangan sebentar. Melihat gelagat mencurigakan, aku segera merekamnya dengan ponsel. "Kamu membawa sesuai pesanan, kan?" tanya Penrod, tak cukup lirih dari tempatku bersembunyi di balik dinding. Laki-laki itu mengangguk lantas mengeluarkan dua bungkus plastik. "Red Ice dan Canna. Jumlahnya seperti permintaanmu. Kamu beruntung, ini persediaanku terakhir untuk minggu ini." "Bagus. Semoga rasanya sama baik dengan yang pernah kubeli kemarin. Ini, silakan dihitung." Penrod menyerahkan beberapa lembar Dollar. "Tentu saja tidak mungkin berbeda." Laki-laki bertato mengambil uang dari Penrod kemudian menghitungnya. "Tidak ada yang kurang, kan?!" Laki-laki itu mengangguk. "Hubungi aku lagi kalau kamu mau memesan." "Pasti aku pesan kalau kualitasnya tidak berkurang." tukas Penrod, kemudian berlalu. Sambil mengikutinya, aku membuka internet untuk mencari tahu tentang benda yang baru saja dibeli Penrod. Red Ice ialah racikan sabu terbaru berkualitas tinggi. Sementara Canna merupakan singkatan dari Cannabis, yaitu ganja yang memang dikenal berbahaya. Sudut bibirku terangkat tinggi setelah mengetahui kalau kedua benda tersebut merupakan obat-obatan terlarang. Inilah kelemahan mereka. Namun, aku baru merekam Penrod dan masih memerlukan rekaman lain untuk mengancam teman-temannya. Aku mengikuti Penrod sampai memasuki pekarangan gudang tua. Sekarang aku tidak mungkin mendekatinyabkarena harus masuk melalui pintu gudang. Pandanganku menyapu sekeliling, hingga berhenti pada ventilasi di salah satu dinding gudang. Aku segera menumpuk kotak-kotak kayu agar dapat mengintip dari ventilasi. Keadaan di dalam amat gelap, tetapi cukup terang untuk mengabadikannya melalui ponsel. Sebagian di antara mereka mengisap asap di dalam tabung kaca, sementara lainnya menikmati lintingan kertas yang berbau sangat menyengat. "Harga Red Ice memang mahal, untung saja ada kamu." Vier melirik pada Beatrice. "Kalian tidak perlu khawatir soal itu. Aku yang akan membelinya dengan syarat kita bersenang-senang sebelum petang," ungkap Beatrice, sembari memegang tabung kaca. "Kami tahu kalau orang tuamu melarangmu pulang petang, Beaty." Uwe mengembuskan asap tebal dari mulutnya. "Oh iya, apakah kalian mendengar kabar terbaru tentang Mr. Spock?" "Ah, kamu rindu padanya, Ken?" Yohan mencibir. "Iya. Aku rindu mengolok-olok Rumania itu! Hahaha!" "Kalau aku ingin menghujaninya dengan tinjuku sampai dia mampus!" timpal Zohan. "Hahaha! Orang seperti dia memang tidak seharusnya lahir, hanya menjadi sampah yang menjijikkan!" "Imigran miskin yang tidak tahu malu!" Kenan menyahut, "Mungkin, di sekolah yang baru, siswa-siswa sedang memukulinya!" "Bukan mungkin! Sudah pasti! Hahaha!" Meskipun sudah tidak pernah bertemu, ternyata sampai sekarang mereka masih mengolok-olok. Namun, setiap momen yang terekam di dalam ponsel, menenangkan darahku yang sempat bergolak. Aku tidak lagi tersulut seperti yang sudah-sudah. Karena rekaman ini akan menjadi pintu kematian mereka. Waktu yang kunantikan akan segera tiba. Sebentar lagi timah-timah panas akan melubangi kepala mereka! *** "Kamu membawa sesuai pesanan, kan?" "Red Ice, dan Canna. Jumlahnya seperti permintaanmu. Kamu beruntung, ini persediaanku terakhir untuk minggu ini." "Bagus. Semoga rasanya sama baik dengan yang pernah kubeli kemarin. Ini, silakan dihitung." "Tentu saja tidak mungkin berbeda." "Tidak ada yang kurang, kan?!" "Hubungi aku lagi kalau kamu mau memesan." "Pasti aku pesan, kalau kualitasnya tidak berkurang." Aku memutar rekaman berulang kali, mengembangkan senyum di wajahku. Mereka akan bertekuk lutut dan memohon ampun; mengais belas kasihan yang menguras sesal. Tak hanya perbuatan buruk yang mereka sesali, tetapi juga karena telah mengenalku. Di tanganku nasib mereka berada. Di antara merana dan menderita; di antara pilu dan tangis. Namun, aku tidak seperti mereka yang membuatku menderita bertahun-tahun. Aku hanya membuat mereka merana sekejap sebelum mengakhirinya dengan berdarah-darah. Sekarang semuanya belum lengkap sampai rekaman Hans dan Liesel berada di tanganku. Mereka memuncaki daftar buruan; penutup rancangan tahap pertama. Pada mereka segala geruh dan amarah akan kutumpahkan. Hari ini aku harus mendapatkannya. Namun, waktunya belum tiba. Masih terlalu pagi menjalankan rencanaku. Seperti biasanya di pagi hari, aku selalu sarapan bersama ayah dan ibu. Mereka sama sekali tidak merasa curiga kalau aku sedang merencanakan sesuatu. Semua rancangan berada di tempat penyimpanan online, sehingga meskipun ibu membereskan kamar, ia tidak akan menemukan rancanganku. Percakapan kami pun berjalan seperti biasa. Aku memang berusaha agar semua tampak normal. Suatu cara yang kulakukan supaya rencana berjalan lancar. "Apakah kamu nyaman bekerja di tempat barumu, Nak?" Aku mengangguk. "Iya, Bu. Semua pegawai memperlakukanku dengan baik," tukasku, berbohong. Wajah ibu semringah mendengar jawabanku. "Syukurlah. Ayah dan Ibu ikut senang. Bukan begitu, Yah?!" Ayah memandang nanar piringnya yang masih berisi makanan. Lengkung mata ayah terkulai, serupa gerak bahunya. Tampaknya ada masalah yang bergelayut di dalam pikirannya. "Ayah ...." Suara ibu membuatnya terhenyak. "Eh ... i-iya. Kenapa, Bu?" Ibu menghela napas panjang. "Apakah karena atasan Ayah lagi?" Ayah membisu di kursinya seraya mengalihkan pandangan. Guratan di keningnya pun kian kentara. Baru kali ini aku melihat ayah demikian. Mungkin selama ini ia dapat menutupi keresahannya. Bisa jadi masalah yang tengah ia hadapi sekarang bukan persoalan sepele. "Apakah ia membenci Ayah karena berasal dari Rumania?" Ayah menghela napas. "Mungkin aku perlu waktu beradaptasi dengan atasan baruku itu." Ia beranjak dari kursi. "Ayah berangkat sekarang, ya." Kemudian keluar dari rumah. Semula aku ingin bertanya persoalan ayah pada ibu, tetapi aku mengurungkan niat. Aku tahu, kedua orang tuaku tidak akan bercerita lantaran tak ingin membuatku khawatir. Mungkin tadi ibu kelepasan bicara. Namun, dari situlah aku dapat menyimpulkan persoalan ayah. Apabila ras yang menjadi sebabnya, aku sudah tahu cara tepat menghentikan penyakit masyarakat munafik ini. "Aku juga berangkat, Bu," ucapku lalu bergegas ke luar rumah. Di sepanjang perjalanan, masalah ayah mengusik pikiran; mengulas kembali berbagai kenangan buruk yang pernah kualami. Bayang-bayang itu kian menyulut dendamku. Bukan hanya pada Hans dan kawan-kawan, tetapi juga pada masyarakat biadab ini. Aku makin tidak sabar menjadi Hakim atas ketidakadilan; pemupus kepalsuan sekaligus pemberi asa Kaum Marginal. Meskipun kelak tidak dapat merasakan hasil perbuatanku, tetapi seharusnya dapat mengubah nasib Kaum Batas Tepi. Atau setidaknya, tak ada lagi yang berani memandang rendah ayah dan ibu. Itulah akhir yang kupilih ketimbang mati tidak berguna. Tidak seperti hari-hari kemarin.l, hari ini aku enggan melewatkan waktu di tempat sahabat. Mungkin karena sudah mendapat semua informasi yang kuperlukan atau bisa juga disebabkan ketidaksabaran menjalankan rencanaku. Jam pulang sekolah masih beberapa jam lagi, tetapi aku memilih menanti Hans dan Liesel di dekat sekolah. *** Walaupun waktu terasa lambat berjalan, akhirnya saat yang kunantikan pun tiba. Namun, aku tak menemukan Hans dan Liesel di antara kerumunan siswa. Bahkan keduanya juga tidak terlihat bersama sahabat-sahabat mereka. Berbagai kemungkinan menyeruak dalam pikiran. Mungkin mereka masih berada di dalam atau bisa saja tidak masuk sekolah. Daripada menduga-duga, aku memutuskan untuk memeriksa ke dalam. Gerbang sekolah memang tidak pernah tutup hingga petang. Aku mengetahuinya ketika pada sore menjelang petang, pernah kembali ke sekolah untuk mengambil barang yang tertinggal. Meskipun begitu, suasana sekolah sudah lengang. Hanya menyisakan sebagian siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Biasanya mereka melaksanakan kegiatan di lapangan olahraga, gedung olahraga, dan ruangan ekstrakurikuler di lantai lima. Setelah melewati gerbang sekolah, aku segera mencari di lapangan dan gedung olahraga, tetapi mereka tidak ada di sana. Tinggal satu tempat yang belum kuperiksa: ruangan ekstrakurikuler di lantai lima. Aku bergegas masuk ke gedung utama, menyusuri koridor sambil menyelisik kelas-kelas yang kulalui. Namun, ketika sedang menyusuri koridor lantai tiga, sayup-sayup aku mendengar percakapan dari ruang kelas yang berada di ujung koridor. Aku mengendap-endap menghampiri kelas tersebut lantas mengintip dari celah tirai yang sedikit terbuka. Pemandangan di dalam kelas mengejutkanku. Hans dan Liesel tengah berpelukan dalam keadaan setengah telanjang. Momen itu tak kusia-siakan dan segera merekamnya. "Kamu yakin kita aman melakukannya di sini?" Liesel bertanya, lirih. "Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Sekolah sudah sepi. Aku telah mengunci pintu dan menutup jendela dengan tirai. Apalagi kamu selalu b*******h melakukannya di tempat berisiko seperti ini, kan?!" "Tapi perasaanku sekarang tidak enak." "Hanya perasaanmu saja, Lies. Ini bukan pertama kalinya kita melakukan di sekolah dan tidak pernah ada masalah." Liesel mengangguk lantas menerima cecapan Hans. Mereka terbuai hasrat terlarang. Inilah momen yang kunantikan. Aib besar yang dapat kumanfaatkan. Mereka akan terpedaya oleh perbuatan sendiri; kebodohan mereka yang akan membawa ajal semakin dekat. "Cukup," gumamku seraya menyeringai, kemudian memasukkan ponsel ke dalam kantung celana. Semua rekaman yang kubutuhkan telah berada di tanganku. Kini tinggal menjalankan bagian akhir rancangan tahap pertama. Pengadilan yang akan menetapkan hukuman atas perbuatan buruk mereka selama ini segera tiba: kematian .... *** Setelah seminggu berlalu, Ehrlich memberi kabar kalau hari ini M4 Carbine telah tersedia di tempat Mr. Ralf. Karena itulah Jumat pukul sepuluh malam, aku dan Ehrlich sudah berada di toko suvenir. Mr. Ralf menyambut kedatangan kami dengan semringah. Itulah topeng ramah yang selalu ia kenakan untuk menutupi fakta keterlibatannya dalam kelompok ekstrimis sayap kanan. "Ah, akhirnya kalian datang!" Mr. Ralf menoleh pada istrinya. "Aku tinggal sebentar." Aku berjalan mengikutinya ke ruangan bawah tanah. "Apakah baru saja tiba malam hari ini, Mr. Ralf?" "Tadi sore, Stef. Namun, aku perlu mengecek kelengkapannya sebelum memberitahu Ehrlich." Ehrlich mengangguk. "Seperti yang tadi kuceritakan. Mr. Ralf menghubungiku pukul tujuh malam. Untungnya kamu bisa segera datang." Ujung bibirku terangkat, setengah menyeringai. "Waktuku selalu tersedia. Apalagi demi 'benda' tersebut." "Kamu benar-benar kolektor maniak." Mr. Randolf tergelak seraya memutar guci. "Prosedur tetap harus dijalankan, Stef," tukasnya, menuruni anak tangga. "Tidak masalah, Mr.. Memang wajar melakukan pemeriksaan," ujarku saat tiba di ruangan bawah tanah. Tak lama kemudian pria berbadan besar memeriksaku. "Sudah, Ayah." Mr. Ralf mengangguk lalu mengambil kotak dari dalam lemari. "Aku yakin kamu kagum dengan keanggunan M4 Carbine," ujarnya, membuka tutup kotak. Mataku melebar, terkesiap melihat keelokan di hadapanku. Besi penjemput ajal tersebut memiliki panjang 84 sentimeter dengan panjang barel 36, 83 sentimeter. "Boleh?" Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN