Kedua ujung bibir Ehrlich terangkat. "Tadi ketika mau menemui Miss. Iandra, aku tidak sengaja mendengar pembicaraannya dengan Mr. Walden."
Mendengar kalimatnya, senyum tipisku pun tergelincir seraya memandangnya tajam. "Lantas?" tanyaku dengan nada beku.
Ehrlich memberi setengah-seringai. "Mereka membicarakanmu." Suaranya melambat. "Kurasa aku tidak perlu menjelaskannya, kan?!" Ia mengangkat sebelah alisnya.
Pandanganku menyorot tajam. "Apa maksudmu?"
Ehrlich terkekeh. "Kamu merekam perbuatan mereka lalu mengancam akan menyebar—"
"Cukup. Sekarang katakan maumu," ujarku lambat dan tenang, meskipun otot-otot rahang menegang.
Seringai miring tampak di wajahnya. "Aku berbeda dengan mereka. Tak ada sesuatu yang menyudutkanku, juga tidak ada aib yang harus kututupi. Memang dalam perbincangan kita, kamu tidak terang-terangan mengakui, tetapi secara implisit kamu membenarkan. Ini sudah cukup menjadi bukti pemerasan yang kamu lakukan,"—Ehrlich mengeluarkan perekam suara dari kantung baju—"agar polisi memeriksamu. Aku juga yakin, Mr. Walden dan Miss. Iandra akan mengatakan semuanya ketika memberikan keterangan pada polisi." Ehrlich menjeda kalimat, seringai kemenangan tampak di wajahnya. "Aku tidak akan melaporkanmu, asalkan kamu membayar fee menjadi dua puluh persen dari harga beli 'benda' tersebut. Bisa saja aku memeras tanpa membantumu. Namun, tidak. Aku masih menganggapmu teman. Permintaanku terbilang wajar, mengingat tidak ada di antara kita yang akan merugi."
Aku mencerna kata-katanya sesaat. "Tidak masalah," tukasku, berusaha tersenyum, menutupi amarah yang tersulut di dalam d**a.
Ehrlich terlalu ceroboh. Mungkin ia pikir aku masih polos dan tidak berani bertindak jauh. Sungguh, kelak ia akan menyesali kenaifannya. Saat timah panas menguburnya bersama rahasiaku.
"Ah, mari kita minum dulu sebelum berangkat." Ehrlich menyeruput pesanan yang baru saja datang.
Beberapa menit kemudian, kami pun berangkat. Tempat tujuan kami tepat berada di tepi Sungai Neisse. Tempat itu merupakan toko suvenir, tidak seperti tempat yang menjual senjata. Penjaga sekaligus pemilik toko adalah pria senja yang terlihat masih bugar dan selalu mengumbar senyum.
"Benarkah ini tempatnya?" tanyaku ragu, memandang berkeliling.
Ehrlich mengangguk lalu berbisik, "Dia adalah sahabat kakekku. Anggota ekstrimis sayap kanan yang belakangan muncul kembali[2]."
"Mafia?"
Ehrlich mengangguk. "Jangan membahasnya di sini," tukasnya, memalingkan wajah ke arah pemilik toko yang menghampiri kami.
"Ehrlich!”
"Mr. Ralf." Ehrlich menyambut jabat tangan pemilik toko.
"Ah, maaf ... tadi aku masih melayani pembeli." Mr. Ralf tersenyum lebar, membuat keriput di pipinya kian kentara.
"Iya, aku tadi melihatnya," timpal Ehrlich, balas tersenyum. "Oh, iya, ini teman yang semalam kuceritakan."
Pandangan Mr. Ralf menyelisikku sesaat. Keramahan yang tadi tampak, luntur dan berganti sikap waspada.
Ehrlich menangkap keraguan Mr. Ralf. "Stefan Haza, dia kawan baikku."
Mr. Ralf menarik napas dalam-dalam. "Aku percaya. Tunggulah sebentar, istriku akan datang sebentar lagi. Tidak ada yang menjaga toko kalau aku mengantar ka—ah, itu dia!" serunya, melihat perempuan senja baru saja datang.
"Ehrlich!" Perempuan senja memeluk Ehrlich. "Benar-benar kejutan!"
Ehrlich tertawa kecil. "Sebetulnya belum lama ini aku datang, tetapi Miss. sedang tidak ada."
"Ya. Ralf bercerita kalau kamu membeli 'itu'. Tapi, aku sedang mengunjungi teman—"
"Tolong jaga toko. Aku harus mengantar mereka." Mr. Ralf memotong ucapan istrinya.
"Tentu."
Mr. Ralf mengerling pada kami, memberi isyarat agar mengikutinya. Kemudian ia mengajak kami masuk ke dalam ruangan di belakang etalase. "Maaf, jika kamu merasa aku mencurigaimu. Menjual 'benda-benda' tersebut memang harus berhati-hati," terang Mr. Ralf ketika baru tiba di dalam ruangan penuh suvenir.
"Saya paham, Mr.." Pandanganku menyapu ruangan. "Di mana 'barang-barang' itu?"
Mr. Ralf tersenyum lantas memutar guci biru di hadapannya. Tak lama kemudian lantai di pojok ruangan terbuka. "Di bawah." Pupil Mr. Ralf bergerak ke bawah.
Aku dan Ehrlich mengikutinya menuruni anak tangga hingga tiba di dalam ruangan yang temaram. Ukurannya tidak luas, hanya cukup menampung beberapa orang saja. Pada tiga sisi dinding, menggantung puluhan jenis senjata api. Kami tidak sendiri, di sini dua orang laki-laki berbadan besar sedang membersihkan beberapa senjata. Begitu melihat kami, salah seorang di antara mereka segera memeriksaku.
"Kami harus memastikan semua aman," ucap Mr. Ralf, mengangkat pakaiannya sedikit, menunjukkan pistol yang terselip di celana.
"Tidak masalah, Mr.."
Prosedur keamanan wajar dilakukan jika menjual senjata-senjata api ilegal. Kupikir dua orang berbadan besar memang bertugas khusus di bawah sini dan tidak menjaga toko suvenir. Namun, Mr. Ralf tetap memegang kendali penjualan. Oleh sebab itu ia turut serta mengawasi transaksi.
"Sudah, Ayah," kata laki-laki yang baru selesai memeriksaku.
Mr. Ralf mengangguk kemudian berjalan mengiringiku melihat-lihat senjata.
"Rheinmetall MG 3 ...." Aku terkesima melihat senjata buatan negeri inivmenggantung di antara senjata lain. "Kalau ini, Heckler & Koch HK416, dan ini Uzi Submachine Gun."
Mr. Ralf mengangkat ujung-ujung bibirnya. "Pemahamanmu tentang senjata api cukup baik. "Mau membeli Glock 45 GAP?"
Aku menoleh pada Ehrlich. "Kamu belum memesannya?"
"Tidak mungkin membicarakan senjata melalui telepon dan pesan singkat," jawab Ehrlich.
"Pemerintah bisa menyadap semua jalur komunikasi." Mr. Ralf menggenapi penjelasan Ehrlich.
Aku mengangguk. "Aku mau membeli M4 Carbine."
Mr. Ralf menatapku sesaat. "Kalau boleh tahu untuk apa kamu menginginkan M4 Carbine?"
"Hanya untuk berjaga-jaga di rumah. Belakangan ini sering muncul berita perampokan."
"Berjaga-jaga dengan senjata yang mampu melontarkan sembilanbratus peluru per menit?" Mr. Ralf mengangkat sebelah alisnya.
"Dia juga kolektor sepertiku, Mr. Ralf," sahut Ehrlich, berusaha membantuku menepis kecurigaan Mr. Ralf.
Mr. Ralf mencerna pikiran sejenak kemudian menoleh pada salah laki-laki berbadan besar. "Sudah ada?"
Laki-laki itu menggeleng. "Minggu depan, Ayah. Satu-satunya M4 Carbine sudah dibeli Ehrlich beberapa waktu lalu."
"Wah, aku beruntung." Ehrlich tertawa kecil. "Kalau begitu kamu harus sabar menunggu seminggu lagi, Stef."
"Atau kamu mau membeli senjata lain ketimbang menunggu seminggu?" tanya Mr. Ralf.
Aku menggeleng. "Tidak, Mr.. Hanya senjata itu yang harganya terjangkau, dan kuinginkan. Aku akan menunggu seminggu."
Mr. Ralf berjalan ke arah tangga. "Datanglah seminggu lagi."
Aku dan Ehrlich pun mengikuti Mr. Ralf dari belakang. Selepas itu kami tidak banyak berbicara dengan Mr. Ralf dan langsung keluar dari toko suvenir. Di perjalanan, Ehrlich berkali-kali mengingatkan agar aku menjaga rahasia Mr. Ralf. Aku sama sekali tidak keberatan dan tak berniat menceritakannya pada orang lain. Toh, Mr. Ralf tidak ada kaitannya dengan masalahku. Bahkan mungkin berkat Mr. Ralf, eksekusi yang kurencanakan dapat berjalan. Namun, M4 Carbine tidak bisa segera berada di tanganku. Seminggu tidaklah lama. Kurasa aku dapat bersabar menanti M4 Carbine sampai saat itu tiba. Walaupun jika memilikinya lebih cepat, tentu membuatku gembira. Namun, tak ada salahnya menunggu sembari mengatur langkah selanjutnya.
Aku memerlukan siasat yang matang untuk memastikan eksekusi dapat berjalan lancar. Apalagi ada nama yang kutambahkan dalam daftar buruan. Ia bukan pemuncak daftar buruan dan mungkin berada paling bawah di antara yang lain. Ehrlich, kupikir ia berbeda dari yang lain, ternyata sama saja. Ia adalah b***k materi seperti masyarakat hina di sekitarku. Sebenarnya aku tidak peduli dengan uang, tetapi perangainya membuatku muak. Ketamakan Ehrlich akan mengantarnya ke neraka; peluru tajam akan membuyarkan kepala, sekaligus memupus keserakahannya. Tunggulah satu minggu lagi ....
***
Rencana selalu mengawali hasil rancang paripurna; siasat dapat membuka jalan meraih kemenangan sempurna. Itulah rumus dalam menetapkan hukum-hukum keadilan yang kupegang kukuh. Yura yang akan menyematkan "Stefan Geza", sekaligus mencabik-cabik moralitas semu para pendusta; memasung dan mengoyak adab kotor Kaum Pendosa serta membawa mereka bersamaku ke dasar palung neraka.
Aku sudah menceritakan pada ayah dan ibu jika sudah berhenti bekerja di Bosendere, tetapi aku berbohong mengatakan telah mendapat pekerjaan lain. Dimulai dari pagi sampai sore hari, aku berada di tempat sahabat, berselancar mencari informasi yang kubutuhkan untuk menjalankan eksekusi. Sebenarnya bisa saja aku mencari informasi di internet melalui ponsel, tetapi tempat sahabatku adalah yang terbaik untuk mengisi waktu luang.
Itulah yang kulakuan selama tiga hari pertama sejak dari toko suvenir. Pada malam hari, aku merancang siasat yang akan kujalankan. Rancanganku terbagi menjadi dua bagian. Pertama, menghabisi Ehrlich, serta Hans dan kawan-kawan yang menyakitiku secara langsung. Rancangan kedua, melakukan pembunuhan pada masyarakat biadab secara acak dan bersamaan.
Untuk menjalankan rancangan pertama, aku membutuhkan tempat yang aman dalam menjalankan aksiku. Gudang tua tempat Hans dan kawan-kawan menganiayaku merupakan tempat yang tepat. Setelah itu aku harus dapat memancing, lalu menghabisi mereka di sana. Aku membagi ke dalam tiga waktu berbeda untuk menjalankan aksiku. Pembagian tersebut berdasarkan tingkat perlakuan buruk mereka kepadaku. Ehrlich akan menjadi korban pertama. Teman-teman Hansbadalah sasaranku berikutnya. Terakhir, Hans dan Liesel akan menjadi penutup yang sempurna. Berdasarkan informasi yang kudapat dari dunia maya, polisi akan mencari orang hilang setelah 24 jam tidak ditemukan. Karena itu aku harus dapat menghabisi mereka kurang dari satu haribdan segera melancarkan rancangan kedua.
Tugasku sekarang ialah mencari cara agar mereka ke gudang tua. Memancing Ehrlich tidaklah sulit dan sudah dalam perencanaan matang. Sedangkan untuk memancing Hans dan kawan-kawan, aku dapat menggunakan pola yang sama seperti pada Walden dan Iandra: mencari kelemahan dan mengancam mereka supaya mau datang ke gudang tua.
Karena alasan itulah sekarang aku berada di dekat sekolah, menunggu kepulangan mereka. Aku datang ke sana setengah jam sebelum jam pulang, sehingga tak perlu waktu lama menunggu mereka.
Kutarik tudung jaket menutupi kepala, merapatkan jaket, lantas menyelisik siswa-siswa yang menghambur keluar dari gerbang sekolah. Tak lama kemudian Hans dan kawan-kawannys pun terlihat. Diam-diam aku mengikuti mereka dari belakang. Setibanya di pertigaan jalan di dekat sekolah, mereka berhenti. Dalam jarak kurang dari tiga meter, aku mendengar percakapan mereka dari balik halte.
"Kalian mau ke mana? Mencari tempat sepi?" Beatrice bertanya. Senyumnya sedikit mengerucut, seraya melirik pada Liesel.
"Tidak perlu. Bukan begitu, Lies?"
Liesel merapatkan tubuhnya pada Hans. "Ada cara lain yang lebih menyenangkan."
"Aku tahu. Kalian mau mengundang Mr. Spock ke dalam 'sesi panas' kalian, kan?!" celetuk Vier.
Liesel mendengkus kesal. "Lebih baik mati ketimbang bersama anak aneh itu!"
"Ah, tetapi kamu pernah mengencaninya, Sayang." Hans menggoda.
"Kalau bukan karena kamu yang menyuruhku, mana mungkin aku mau?! Itu adalah masa-masa paling buruk sepanjang hidupku!"
Beatrice segera menyahut, "Harusnya kamu senang karena Hans menyuruhmu untuk selingkuh."
"Memang jelek sekali pikiran Hans-ku." Telunjuk Liesel mencolek pipi Hans.
Hans dan kawan-kawan tergelak, membuat darahku mendidih. Namun, perasaan kesal segera kutepikan. Tak mengapa memendamnya sementara demi membalas mereka puluhan kali lipat. Aku kembali menyimak pembicaraan mereka, mencari celah yang dapat mengukuhkan tekadku.
"Kalau begitu sampai bertemu besok, Kawan!" Hans melingkarkan tangan di pinggang Liesel lalu berjalan meninggalkan teman-temannya.Tadinya aku hendak mengikuti Hans, tetapi kata-kata Uwe mengurungkan niatku. Aku pun harus siap menjalankan siasat ini. Memang tidak mudah.
"Hans tidak tahu soal 'itu', kan?"
Zohan menggeleng. "Tidak mungkin kita memberitahunya."
"Benar. Meskipun Hans berandalan, ia masih membenci perbuatan 'itu'." Yohn menimpali.
"Kalian harus ingat kalau ayah Hans berteman baik dengan Komisaris Polisi," sahut Kenan.