45

1676 Kata
Aku mulai mencandu kemenangan. Memandang rendah orang lain, berbuat semena-mena, memegang kendali, adalah hal-hal yang membuat dadaku membusung. Namun, layaknya candu, aku belum puas sampai di sini. Nanti akan kuraih kemenangan-kemenanganku yang lain sebelum mengakhirinya dengan sempurna. Kelak namaku akan menggaung di seluruh New York. Tidak, tetapi di seluruh dunia. Sebagai penebar teror kaum munafik! Sebagai penentu nasib golongan penindas! Sebagai palu yang memutuskan ajal jiwa-jiwa yang busuk! Karena aku adalah pemenang! Akulah "Stefan Haza"! *** Aku memandang langit-langit ruangan. Pikiranku melayang ke malam ketika Iandra berada dalam pelukan. Senyum pun tersungging membayangkannya tunduk pada hasratku. Andai saja ia Liesel, sudah pasti aku lebih senang ketimbang sekarang. Namun, membalas perbuatan Liesel tak cukup hanya dengan merengkuh tubuhnya. Liesel, Hans, dan teman-temannya harus merasakan pembalasan puluhan kali lipat. Terhina. Tercampakkan. Tercabik-cabik. Tulang mereka akan remuk. Usus mereka akan terurai. Otak mereka akan berserakan seperti kotoran. Mayat mereka akan membusuk bersama tumpukan mayat kaum munafik. Sayang, aku belum bisa menuntaskan nyawa mereka sebelum M4 Carbine berada di tanganku. Pada senjata api itulah tergantung harapan untuk menyematkan "Stefan Haza" dalam diriku. Tidak lama lagi .... Kualihkan pandangan pada jam dinding yang menunjukkan pukul enam pagi lantas bersiap-siap pergi ke Bosendere. Hari ini adalah saatnya aku menyelesaikan rangkaian rencana tahap awal. Video itu akan memaksa Mr. Walden menyerahkan Euro yang kuminta. Perasaan jemawa kembali menyelusup, mengiringi setiap langkah yang kutempuh menuju Bosendere. Hingga akhirnya aku pun tiba di tujuan. Pandanganku menyapu sekeliling, melintasi karyawan-karyawan yang sedang mempersiapkan ruangan sampai terpatri pada Mr. Walden dan Iandra yang duduk di tengah ruangan. Pandangan kami bertemu sesaat. Dari tatapan Mr. Walden dapat kusimpulkan kalau Iandra sudah menceritakan kejadian semalam. Aku bergegas menghampiri mereka. "Tidak jadi mengambil libur Miss. Iandra?" tanyaku berupaya tampak wajar di dekat para karyawan di sana. Alih-alih menjawab, ia justru mendengkus seraya membuang muka. Aku tersenyum miring. "Kita akan berbicara di mana Mr. Walden?" Pupil Mr. Walden bergerak ke arah Ruang Manajer. "Ikut aku." Ia beranjak bersama Iandra. Seluruh karyawan memandang kami berjalan. Tak terkecuali Ehrlich, yang berbisik ketika aku melewatinya. "Ada masalah apa, Stef?" "Tenang saja. Tidak ada masalah apa-apa," jawabku, tersenyum. Ketika sudah berada di dalam Ruang Manajer, Mr. Walden langsung menumpahkan amarahnya. "Sudah kutolong, kamu malah membalas kebaikanku dengan cara kotor!" "Kotor? Siapa yang kotor?" Kuputar video rekaman perbuatan mereka dengan volume keras. "Kamu memang tak ada tandingannya, Sayang." "Istrimu?" "Bahkan dia sekalipun bukan tandinganmu." Tiba-tiba Mr. Walden melompat dan berusaha merebut ponsel di tanganku. Namun, aku berhasil berkelit dan memasukkan ponsel ke dalam saku. "Aku tidak bodoh, Walden," ucapku, tak lagi mengindahkan norma. "Video ini sudah kusimpan di dalam penyimpanan online. Kalau ponsel ini hilang, atau terjadi sesuatu padaku, temanku akan menyebarkannya," gertakku, setengah berbohong. Wajah Walden merah pekat, pun giginya bergemeretak. "Apa maumu?" Ujung bibirku terangkat, menunjukkan setengah-seringai. "Aku memiliki lima permintaan. Permintaan pertama sudah Iandra berikan." Aku melirik Iandra yang bersungut-sungut. "Permintaan kedua, berikan semua rekaman CCTV kemarin dan hari ini. Permintaan ketiga, matikan seluruh CCTV—aku tidak perlu mengecek, tetapi jika nanti CCTV memberiku masalah, tahu sendiri akibatnya. Untuk dua permintaan yang lain akan kusebutkan setelah kamu menjalankan permintaan kedua dan ketiga." "Cih! Katamu kamu yakin CCTV tidak menyala?!" ketus Iandra. Aku tergelak. "Hahaha! Iya, kamu benar! Tapi tidak ada salahnya berjaga-jaga dari otak licik kalian!" Kutatap Walden tajam. "Segera berikan!" Kala Walden mengangkat gagang telepon, aku buru-buru menginterupsi, "Permintaan keempat, jangan beritahu siapa pun, termasuk ayahku." Walden mengangguk lantas menekan tombol extension. "Segera bawa semua rekaman CCTV kemarin dan hari ini ke ruanganku." Usai menutup pembicaraan, ia menatapku tajam. "Apa permintaan terakhir?" "Tak perlu terburu-buru. Tunggu sampai rekaman itu datang," tukasku. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu ruangan. Aku tersenyum menang mendengar ketukan tersebut. Sebentar lagi. Ya, sebentar lagi akan kurengkuh harapanku. "Iandra, kamu yang mengambil dan jangan bertindak bodoh!" ancamku. Iandra mengangguk kemudian menjalankan perintahku. "Ini," ujarnya, menyerahkan rekaman CCTV. "Bagus. Sekarang permintaan terakhir. Berikan aku dua ribu Euro[1] pada pukul sebelas malam hari ini. Aku akan datang lagi." Aku beranjak dari kursi, berjalan ke pintu. "Ah, satu hal lagi. Mulai hari ini aku mengundurkan diri dari Bosendere," ujarku kemudian keluar dari dalam ruangan. Setelah dari Bosendere, aku segera menuju rental untuk memastikan rekaman CCTV. Dugaanku tak meleset. Tidak ada rekaman yang menangkap kejadian kemarin. Hanya ada rekaman hari ini yang memuat pertemuan kami sejak di Ruang Makan sampai di dalam Ruang Manajer. Beruntung, semuanya sudah berada di tanganku. Aku yakin dengan waktu sesempit tadi, mereka tidak sempat menduplikasi rekaman ini. Sekarang tinggal menunggu Walden menyerahkan tumpukan Euro nanti malam. *** Aku memilih pukul sebelas malam lantaran biasanya Bosendere sudah tak banyak pengunjung. Aku tidak ingin ada distraksi dalam pertemuan kami. Memang tidak akan banyak perbincangan, tetapi penyerahan uang adalah bagian penting dari rencana tahap awal. Lagipula karyawan yang bertugas di atas jam sembilan malam, lebih sedikit ketimbang waktu lainnya. Tiga puluh menit menjelang penyerahan uang, aku bergegas ke luar dari kamar. Di luar kamar, aku melihat ayah yang baru saja pulang dari bekerja. Meskipun tampak kuyu dan lelah, ia menyambutku dengan senyum terkembang. "Mau ke mana, Nak?" Ayah bertanya sembari membuka sepatu. "Sif malam, Ayah." Mendengar jawabanku, ia menjadi semringah, menyebabkan rasa lelah di wajahnya sedikit memudar. "Ayah senang kamu rajin bekerja. Ya, Mr. Walden pun berkata begitu ketika tadi Ayah bertemu dengannya." "A-ayah bertemu dengannya?" Ayah mengangguk. "Iya, cuma sebentar." Ia diam, menyelisikku beberapa saat. "Memangnya kenapa?" "Ti-tidak apa-apa Ayah. Aku hanya terkejut mendengar pendapat baik Mr. Walden, karena menurutku pekerjaan yang kulakukan tak lebih baik dari karyawan lain," tukasku, berusaha menutupi. Ayah menepuk pundakku. "Orang lain mengapresiasi kerjamu bagus, seharusnya kamu dapat menilai dirimu sendiri sama baiknya." Ia pun berlalu menuju kamar. "Hati-hati di jalan, Nak." Aku mengangguk. "Iya." Untung saja Walden tidak menceritakan masalah kami. Berarti Walden memegang ucapannya. Kalau tidak, entah bagaimana aku memberi alasan pada ayah dan tentunya juga kepada ibu. Kuharap ia pun menepati janji untuk memberikan uang yang kuminta. Walaupun jalanan di malam hari sangat lengang, aku masih harus menunggu bus cukup lama. Untungnya, aku sampai di Bosendere tepat waktu. Di dalam ruangan, hanya ada dua meja yang terisi oleh pengunjung serta dua orang karyawan. Aku pun menghampiri salah satu di antara karyawan tersebut. "Di mana Mr. Walden?" Karyawan itu memandangku sesaat. "Ada di ruang kerja." "Oke. Terima kasih." Ketika hendak berjalan, tiba-tiba ia menarik tanganku. "Stef." Aku pun menoleh. "Iya?" "Sebenarnya ada masalah apa?" tanyanya penasaran. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya mengurus pengunduran diriku. Namun, aku memiliki utang pada Mr. Walden dan sekarang aku datang untuk melunasinya," ujarku, berbohong. Ia menghela napas. "Syukurlah. Karena aku melihat dari tadi Mr. Walden tampak resah." "Ah, mungkin dia sedang ada masalah pribadi yang tidak berkaitan dengan pekerjaan." Ia mengangguk. "Bisa jadi." "Kalau begitu aku pergi menemuinya sekarang sebelum makin larut." Setelah itu aku berjalan menuju ruangan Mr. Walden. Begitulah manusia, selalu ingin tahu urusan orang lain yang tak berkaitan dengannya. Namun, aku tidak peduli, karena satu-satunya pikiranku sekarang adalah menuntaskan rencanaku. Setibanya di dalam ruangan Walden, Iandra telah berada di sana bersamanya. Di atas meja kerja terlihat tas hitam berukuran sedang. Aku pun menoleh pada keduanya. "Bagaimana dengan permintaanku, sudah disiapkan?" Walden membuka tas hitam di hadapannya. "Jumlahnya sesuai yang kamu minta." "Ah, bagus. Coba hitung di depanku," perintahku, seraya menyeringai. Walden dan Iandra menghitung uang di depanku. Tidak lama, karena bukan uang berkarung-karung yang kuminta. Hanya kulebihkan sedikit dari harga M4 Carbine. Aku membutuhkan uang guna membeli senjata tersebut, bukan untuk berfoya-foya. Aku melebihkan sedikit sebab harus memberi fee pada Ehrlich dan juga mengantisipasi kebutuhan tak terduga. Apalagi sebetulnya uang tak ada artinya setelah semua rencana selesai kujalankan. "Bagus. Jumlahnya sesuai permintaanku." Aku mengambil tas itu. "Kamu harus menghapus video itu sekarang," geram Walden, menatapku dari matanya yang merah. Sudut bibirku terangkat, setengah menyeringai. "Aku tidak suka ingkar janji." Kuambil ponsel dan menghapus video tersebut dari penyimpanan online. "Kamu lihat, kan?!" Iandra mendengkus. "Jangan-jangan kamu masih menyimpan di tempat lain?" Aku tergelak. "Hahaha! Terserah kalian mau percaya atau tidak." Walden berkata beku. "Jika video itu tersebar, tahu sendiri akibatnya." "Ah, memangnya apa yang bisa kalian perbuat? Mengirim orang untuk membunuhku?" Sebelah alisku terangkat. "Mungkin," geram Walden. Aku kembali menyeringai miring. "Sebelum itu terjadi, kupastikan Bosendere jadi kuburan kalian bersama orang-orong busuk lainnya." Usai berkata demikian, aku pun melangkah ke luar. Bosendere. Tempat ini memang masuk di dalam rencanaku. Letaknya yang berada di pusat kota, ramai pengunjung serta banyak orang yang berlalu-lalang, sangat tepat menjadi tempat mengeksekusi rencana final. Bosendere kelak akan bersimbah darah kaum munafik. Di tempat inilah mayat-mayat mereka akan membusuk! *** Uang. Ia memberi kebahagiaan juga nestapa. Menghadirkan asa sekaligus keputusasaan. Aku membenci uang karena menyebabkan kegeruhan dalam hidupku. Uang menciptakan sekat sosial yang menindas dan melindas Proletarian[1]. Semua orang membutuhkan uang. Termasuk aku, yang memerlukannya untuk meminang sang pujaan: M4 Carbine. Senjata api yang dapat melesatkan sembilan ratus peluru per menit; penghantar maut dan pilu para penindas, sekaligus melegitimasi arogansi atas mereka. Sekarang tumpukan Euro sudah berada di tanganku dan membawanya ketika dalam perjalanan menemui Ehrlich. Pukul delapan pagi, di salah satu perempatan jalan, Ehrlich berjanji akan menemuiku. Namun, ia hadir tiga puluh menit kemudian. Ia berjalan tergopoh-gopoh dengan keringat yang membanjiri tubuhnya. "Maaf aku terlambat, Sobat," tukas Ehrlich dengan napas tersengal-sengal. "Aku harus beradu argumen dengan Miss. Iandra agar mendapat izin tidak masuk hari ini. Pada akhirnya aku harus rela ia memotong gajiku," keluh Ehrlich, menghela napas. Aku memberi setengah-senyum, seraya mengalihkan pandangan. "Ayo kita berang—" "Tunggu. Ada yang ingin kubicarakan." Ehrlich menginterupsi. "Kita bisa membicarakannya di jalan." "Tidak mungkin, Stef. Bisa-bisa ada orang yang mendengar percakapan kita." Ehrlich mengedarkan pandangan. "Kita bicara di sana saja." Ia menunjuk kafe kecil yang sepi pengunjung. Aku mengangguk lantas mengikutinya ke kafe tersebut. Kami pun duduk di pojok ruangan, berada jauh dari satu-satunya pengunjung yang ada di dalam kafe. "Jadi apa yang mau kamu bicarakan?" tanyaku. "Mengenai—" Kalimat Ehrlich terinterupsi dengan kedatangan pramusaji. " Hendak memesan apa, Mr.?" Pramusaji menegakkan penanya di atas kertas. Ehrlich mengambil menu di atas meja. Pandangannya menyapu halaman menu di tangannya. "Cappuccino." "Ada yang lain?" Pramusaji memalingkan wajah ke arahku. "Sama." "Mohon menunggu." Pramusaji pun berlalu. "Bisa kita lanjutkan?" tanyaku. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN