Ehrlich terkekeh. "Senjata ini memang keren. Memiliki kecepatan peluru 390 meter per detik, dengan jangkauan sejauh dua ratus meter. Tapi sayang, harganya sangat mahal." Ia membalik-balik halaman kemudian menunjuk salah satu senjata dalam deretan kotak-kotak kecil. "Lihat ini, FN FAL. Dalam satu menit senapan ini mampu melesatkan tujuh ratus peluru." Ehrlich membalik ke halaman berikutnya. "Glock 45 GAP, pistol semi-otomatis Austria. Karena mudah dibawa dan disembunyikan, Glock menjadi pistol yang berbahaya. Dan,"—pupilnya bergerak menelusuri kotak demi kotak, hingga berhenti pada satu senjata—"ini yang kucari! Untuk membeli senjata ini cukup dengan mengumpulkan gaji selama enam bulan, kamu sudah sanggup membelinya. Aku baru saja membelinya kemarin."
Mataku melebar. "M4 Carbine. Berarti kamu mengikuti tes psikologi agar dapat membelinya[1]?"
"Ah, aku malas repot. Aku membelinya di pasar gelap," ucap Ehrlich mengecilkan suara.
Informasi ini memang sangat kubutuhkan. Tanpa berpikir panjang aku pun bertanya, "Bisakah nanti kamu mengantarku membelinya? Mmm ... tentu saja jika aku sudah memiliki uang yang cukup."
Ehrlich memandangku, pupilnya bergerak menyelisik. "Tidak untuk membunuh orang, kan?"
Kata-katanya membuatku tersentak. Dari mana ia tahu niatku? Apa mungkin hanya asal menerka? Namun, berikutnya ia tergelak.
"Hahaha! Aku hanya bercanda, Sobat!"
Aku pun tertawa. "Ayahku sering pulang malam, jadi aku sering tinggal berdua bersama ibu. Beberapa waktu lalu ketika berada di rental, aku mendengar kabar kalau belakangan sering terjadi perampok—"
"Ah, sudahlah. Aku tidak peduli alasanmu. Aku akan mengantarmu, tapi,"—Ehrlich merangkulku, lantas berbicara lirih—"aku minta sepuluh persen dari harga senjata itu. Yaaah ... sebagai upah mengantarmu. Bagaimana?"
Aku mengangguk. "Sepakat!"
Ehrlich tersenyum, menampilkan deretan giginya yang berantakan. "Ayo, kerja lagi. Jam istirahat sudah selesai." Ia berdiri, tetapi saat hendak berjalan tiba-tiba ia menoleh. "Oh iya, hampir saja aku lupa mengingatkanmu."
"Tentang?"
"Beberapa hari yang lalu aku melihatmu membantu membawakan barang-barang Miss. Iandra. Jangan terlalu dekat dengannya. Semua karyawan di sini tahu kalau ia p*****r. Menggunakan kecantikannya untuk memperoleh keuntungan. Begitulah caranya menjadi Asisten Manajer."
"Maksudmu, ia dan Mr. Walden ...."
Ujung bibir Ehrlich terangkat menunjukkan setengah-senyum. "Apa lagi kalau bukan itu?!" Ia berjalan masuk ke dalam restoran.
***
Dua bulan sejak hari pertama bekerja ....
M4 Carbine memacu semangat kerjaku. Menurut Ehrlich senjata itu dapat terbeli jika mengumpulkan gaji selama enam bulan. Waktu yang terlalu lama bagiku. Itulah sebabnya setiap hari aku bekerja lembur agar dapat segera membelinya. Mr. Walden pun senang dengan semangatku bekerja. Kecuali hari ini, ketika aku meminta untuk bekerja lembur lagi.
Mr. Walden menghela napas seraya mengernyitkan dahi. "Stefan, aku senang dengan semangatmu bekerja. Sudah dua bulan kamu bekerja dan selalu mengambil lembur. Namun, aku khawatir dengan kesehatanmu. Apa yang akan kukatakan pada ayahmu kalau sampai kamu jatuh sakit?"
"Jangan khawatir, Mr.. Saya sudah menceritakannya pada ayah dan ibu. Mereka sama sekali tidak keberat—"
"Tidak, tidak ... hari ini pulanglah. Aku tidak mengizinkanmu mengambil lembur. Besok kamu boleh bekerja lembur lagi."
Walaupun kecewa, aku tidak dapat memaksakan kehendak. Dengan berat hati aku pun mengangguk. "Baik, Mr.." Aku berjalan menuju ruangan karyawan untuk mengambil tas.
"Langsung pulang, Stef?" tanya Ehrlich yang sedang mengemasi barang-barangnya.
Aku mengangguk. "Mr. Walden tidak mengizinkanku lembur."
"Hari ini restoran tutup lebih cepat. Hal seperti ini kadang-kadang terjadi kalau target penjualan sudah tercapai," terang Ehrlich.
"Apakah pemilik restoran tahu?"
"Kudengar ia tidak memasalahkan. Apalagi semenjak Mr. Walden menjadi Manajer, restoran ini tidak pernah sepi. Kurasa pemilik restoran menaruh kepercayaan besar padanya."
"Padahal aku ingin cepat-cepat membeli barang menakjub—"
"Sst ... kecilkan suaramu." Ehrlich mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Maaf ...."
Ehrlich tersenyum. "Untung saja tidak ada orang di sekitar kita," ujarnya sambil memanggul tas. "Hanya satu malam saja, Stef. Benda itu sabar menantimu." Ehrlich mengedipkan mata.
Aku mengangguk. "Oh iya, bolehkah aku meminjam majalahmu? Aku khawatir bosan di rumah."
Ehrlich tertawa kecil. "Rupanya sekarang kamu sudah menjadi workaholic." Ia mengeluarkan majalah dari dalam tas. "Ini."
"Maaf, aku sedang mengikat sepatu. Tolong letakkan di meja saja."
"Oke. Kalau sudah selesai segera masukkan ke dalam tas. Jangan sampai ada yang melihat majalah ini." Ehrlich meletakkan majalah kemudian berlalu ke luar ruangan.
Usai mengikat sepatu, aku segera ke halte bus. Meskipun kecewa, paling tidak majalah yang kupinjam dapat sedikit menghiburku. "Untung saja aku meminjam majalah Ehrlich," gumamku, sambil merogoh tas. "Lho ... bukannya tadi sudah kumasukkan?!" Aku mencerna pikiran sesaat. "Astaga! Aku lupa mengambilnya dari atas meja!"
Aku pun bergegas kembali ke Bosendere, menuju ke Ruang Karyawan. "Syukurlah, masih ada!" Segera kumasukkan majalah itu ke dalam tas lalu keluar dari dalam ruangan. Ketika hendak melangkah ke luar, tiba-tiba aku mendengar suara dua orang yang sudah tidak asing lagi.
"Sudah dikunci?" tanya Iandra
"Baru saja," jawab Mr. Walden, sembari melingkarkan tangan di pinggang Iandra.
"Tadi sepertinya aku mendengar pintu depan terbuka."
Mr. Walden menghentikan langkah lantas pandangannya menyapu sekeliling. "Pasti angin. Sudahlah tidak perlu khawatir, nanti malah merusak kesenangan kita."
Iandra menghela napas. "Aku selalu merasa waswas jika melakukannya di sini. Seharusnya di penginapan atau di tempatku saja."
"Ah, tapi gairahmu lebih tinggi setiap kali kita melakukannya di sini, kan?!"
Aku mengintip dari dalam Ruang Karyawan, melihat mereka masuk ke dalam Ruang Manajer. Merasa penasaran, kuikuti mereka diam-diam.
***
Aku terjebak di dalam restoran yang terkunci. Alih-alih mencari cara keluar, rasa penasaran menuntunku untuk mengintip dari ventilasi. Aku terbelalak menyaksikan Mr. Walden dan Iandra dalam keadaan tanpa busana. Bukan hanya itu, bahkan mereka melakukan perbuatan yang membuat darah hangat merayap naik. Jantungku berdegup kencang; gairah pun menggelegak menyaksikan kegalatan tersebut.
Pandanganku terpaku pada setiap gerakan yang memacu hasrat. Ingin rasanya aku merengkuh dan menikmati setiap jengkal tubuh elok yang sekarang berada dalam pelukan Mr. Walden.
Saat gairah membumbung, tiba-tiba menyeruak keinginan untuk memanfaatkannya. Segera kuambil ponsel lantas mengabadikan setiap momen yang sedang berlangsung. Perbuatan mereka menghemat tenaga dan waktuku dalam mengumpulkan pundi-pundi Euro dan nantinya akan memberi bonus yang tak pernah kudapatkan sebelumnya.
Iandra. Perempuan murahan itu mungkin bisa memberi tubuhnya, meskipun aku tidak mengancam. Namun, aku yakin ada niat busuk di balik pemberiannya. Aku tidak mau ia memanfaatkanku dan sebaliknya ingin memanfaatkannya. Ya, video inilah yang akan memberiku kesempatan itu.
Satu jam kemudian, Mr. Walden merebahkan diri di samping Iandra. Selama beberapa saat ia mencoba mengatur napas sembari menatap Iandra yang terengah-engah.
"Kamu memang tak ada tandingannya, Sayang." Jari-jari gemuk Mr. Walden membelai rambut Iandra.
"Istrimu?" tanya Iandra. Satu sudut bibirnya setengah terangkat.
"Bahkan dia sekalipun bukan tandinganmu."
Mata Iandra berputar seraya menghela napas. "Ah, aku tidak percaya mulut laki-laki. Namun, aku tidak peduli selama kamu memenuhi kebutuhan bulananku."
"Bukan cuma kebutuhan bulanan, kan?! Siapa lagi yang membelikan tas-tas mahal, kalau bukan aku?!" tukas Mr. Walden, mengangkat sebelah alisnya.
Iandra bangkit dan mengenakan pakaiannya. "Aku mau pulang."
"Tidak mau satu sesi lagi?"
"Jangan hari ini, Walden." Iandra mengambil tasnya lalu keluar dari dalam ruangan.
Mr. Walden menghela napas, mengikuti Iandra dari belakang. "Ya sudah. Ayo kuantar pulang."
"Tidak usah. Aku khawatir ada yang melihat kita berduaan. Bukankah kamu juga harus menyiapkan data-data untuk keperluan pajak?!" cetus Iandra di ambang pintu.
"Untung kamu mengingatkan." Mr. Walden membuka pintu depan.
"Seperti janjimu, aku libur hari ini, kan?"
Mr. Walden mengangguk repititif. "Jangan khawatir. Hari ini kamu bisa berbelanja, ketimbang bekerja seharian."
Iandra mengecup pipi Mr. Walden. "Terima kasih, Sayang." Kemudian berlalu pergi.
Mr. Walden menutup pintu lantas bergegas ke ruangannya. "Dasar mata duitan, tetapi ia benar-benar memuaskanku."
Melihat kunci depan masih menggantung, aku pun bergegas ke luar dari dalam restoran.
Segera kuunggah video tersebut ke dalam penyimpanan online sambil berjalan menuju apartemen Iandra.
Sesampainya di sana, aku segera mengetuk pintu unit perempuan jalang tersebut. Tak lama kemudian pintu pun terbuka.
"Hari ini sudah cukup, Walden. Bukankah ta—" Iandra terperanjat. Matanya melebar, seiring mulutnya yang menganga. "Ka-kamu ...."
"Aku bukan kekasihmu, Iandra." Sudut bibirku terangkat, menunjukkan setengah-seringai.
"A-apa maksudmu?"
"Aku datang untuk bertamu. Boleh, kan?!" Tanpa menunggu jawaban, aku masuk ke dalam unitnya.
"Apa tujuanmu?" bentak Iandra. Wajahnya merah padam seraya menatapku tajam.
Aku tersenyum lantas menekan tombol pada ponsel. Video yang tadi kurekam, tersaji di hadapannya. Ia tampak terperanjat, tak menyangka melihat perbuatannya di dalam ponselku.
"Kamu memang tak ada tandingannya, Sayang."
"Istrimu?"
"Bahkan dia sekalipun bukan tandinganmu."
"Ah, aku tidak percaya mulut laki-laki. Tapi aku tidak peduli, selama kamu memenuhi kebutuhan bulananku."
"Bukan cuma kebutuhan bulanan, kan?! Siapa lagi yang membelikan tas-tas mahal, kalau bukan aku?!"
"Aku mau pulang."
"Tidak mau satu sesi lagi?"
"Jangan hari ini, Walden."
"Ya sudah. Ayo kuantar pulang."
"Tidak usah. Aku khawatir ada yang melihat kita berduaan. Bukankah kamu juga harus menyiapkan data-data untuk keperluan pajak?!"
"Cukup ...." Bibir Iandra bergetar. "Apa maumu?"
Aku kembali menyeringai. "Akan kusebutkan setelah kamu menutup pintu."
Iandra mengangguk lantas menutup pintu. "Sekarang sebutkan keinginanmu dan aku minta kamu menghapus video itu jika aku menuruti permintaanmu."
Aku tergelak mendengar kata-katanya. "Hahaha! Kamu benar-benar tidak tahu posisimu. Bukan kamu yang menentukan aturannya. Aku! Aku yang menentukan!"
"Kamu pikir ketika kamu mengambil video, tidak ada kamera CCTV yang merekam?!" Iandra mencoba mengancam balik.
Percuma, karena aku sudah memperhitungkan semua. "Ah, kalau kamera CCTV aktif, bukan hanya aku yang tertangkap. Perbuatan kalian pun tentu dapat disaksikan," tukasku, menunjukkan dugaanku kalau kamera CCTV tidak menyala untuk menutupi perbuatan mereka.
Rupanya dugaanku tepat. Iandra membeku di tempat. Wajahnya makin pucat. Lengkung alisnya turun, serupa gerak bahunya. Air mata pun mulai menggenang. Pasrah, itulah wajah yang tampak di hadapanku sekarang. Perasaan jemawa menyelusup di dadaku. Beginilah rasanya menang. Namun, ini baru permulaan. Semua akan paripurna setelah selesai menuntaskan eksekusi rencana-rencanaku.
"Aku memiliki lima permintaan. Malam ini aku akan menyebutkan permintaanku yang pertama." Pupilku bergerak menyelisik Iandra dari atas ke bawah. Baju tank top dan celana pendek yang ia kenakan, memacu hasratku. "Kamu tahu maksudku, kan?!"
Iandra tak menjawab seraya membuang pandangan. Jemarinya melucuti kain yang membungkus tubuhnya, hingga akhirnya keelokan Iandra tersaji utuh di hadapanku. Keindahan itu membuatku terkesiap. Darah hangat merangkak naik dan memompa jantungku berdegup cepat.
"Lekas kemari! Beri aku kepuasan seperti yang kamu berikan pada Mr. Walden!" perintahku, sembari merebahkan diri di atas ranjang.
Malam ini kulepaskan semua gairah yang terpenjara; menikmati setiap sentuhan yang melegitimasi kemenanganku. Bukan hanya tubuh elok Iandra yang kurengkuh, tetapi juga harga diriku. Perbuatanku memang buruk. Namun, aku tidak peduli. Lebih baik hina ketimbang menjadi munafik seperti mereka. Ini bukan salahku semata. Mereka yang mengubahku menjadi seperti sekarang.
Bersaambung