Miss. Idonna tersenyum seraya melayangkan pandangan ke arah bangku. Aku mematung sesaat, merasa perlakuan yang berbeda darinya. Tidak adakah ucapan untukku seperti pada peserta lain? Ingin rasanya aku bertanya, tetapi lidahku kelu. Aku pun memutuskan untuk kembali ke tempat duduk. Toh, datang ke sini bukan kemauanku. Aku datang lantaran menghargai keinginan ayah dan ibu.
Jam terapi pun berlalu. Pada akhirnya aku tidak mendapat banyak manfaat, kecuali hanya sekadar meluapkan emosi. Di dalam perjalanan pulang, ayah berharap kalau terapi tersebut dapat membantuku.
"Bagaimana sesi pertamamu?" tanyanya sembari mengemudi.
"Oke," jawabku singkat seraya memandang bayangan pada kaca.
"Oke?"
Aku menghela napas. "Cukup banyak manfaat yang aku dapatkan," ucapku berbohong.
"Syukurlah. Biayanya mahal sekali. Untungnya ia mau membantu dan memberi setengah harga," tukas ayah.
Mungkin itulah sebabnya aku menerima perlakuan berbeda. Tak kusangka orang seperti Miss. Idonna sama saja seperti yang lain. Hanya peduli dengan uang dan menepikan orang miskin sepertiku. Mengapa hanya itu saja yang ada di dalam pikiran banyak orang? Tidak adakah satu pun orang yang tulus di Gorlitz? Apakah membantu orang miskin merugikan mereka? Aku benar-benar tidak habis pikir dengan sikap dan cara berpikir mereka. Ah ... lelah rasanya dengan sekelilingku. Andai saja aku bisa mengubah dunia. Namun, itu adalah hal yang absurd. Bahkan orang-orang besar pun tak dapat mengubah semuanya. Mereka hanya menginspirasi sebagian orang, tetapi sebagian yang lain tetap tidak bisa berubah. Mereka selalu kotor dan busuk.
Orang-orang seperti Hans yang seharusnya menghilang dari masyarakat. Aparat-aparat seperti Mr. Randolf semestinya tak layak membela hukum. Manusia tanpa hati seperti Miss. Idonna tak pantas memberi petuah pada orang lain. Sayang, mereka tumbuh di dalam masyarakat ini. Justru orang-orang tulus seperti ayah dan ibu adalah golongan masyarakat yang tersingkirkan. Ya, sampai kapan pun kami menjadi bagian dari Kaum Marginal. Teronggok di dasar strata sosial yang hina. Kalau memang tidak ada yang mengubahnya, maka kelak kupastikan aku akan bertindak. Aku akan menegakkan keadilan dengan caraku ... dan juga cara Vin Madsen Lorten ....
***
Terapi Miss. Idonna sudah selesai kuikuti. Alih-alih dapat memadamkan dendam, perlakuan berbeda Miss. Idonna justru kian menyulutnya. Namun, aku tidak menceritakan perlakuan Miss. Idonna kepada orang tuaku. Percuma, mereka tidak mampu berbuat apa-apa. Perlakuan Miss. Idonna sama seperti masyarakat munafik lainnya: berpura-pura baik, tetapi sebenarnya tamak; lebih mengindahkan uang ketimbang nurani. Karena itu sudah kuputuskan yura[1] untuk mengakhiri keangkuhan mereka, sekaligus memupus penderitaanku. Tidak saat ini. Aku akan bergerak sampai semuanya siap. Untuk sekarang aku harus bersabar dan mengikuti permintaan orang tuaku agar mereka tidak curiga. Selain itu aku perlu menyembuhkan luka di tanganku terlebih dahulu.
Semenjak mereka menuduhku mencuri, aku belum kembali ke sekolah. Ayah dan ibu juga tidak memaksa, tetapi mereka menginginkanku pindah ke sekolah yang baru. Risikonya aku harus mengulang kelas, sebab sudah terlalu banyak tertinggal pelajaran. Namun, aku sama sekali tak berniat kembali bersekolah karena akan menunda eksekusi dari rencanaku.
Aku ingin bekerja untuk mengumpulkan uang guna mendukung rencanaku. Meskipun belum tahu jumlah yang harus kukumpulkan, tidak ada salahnya mencari uang sejak sekarang. Karena itulah aku menyampaikan keberatan pada kedua orang tuaku ketika kami baru saja usai santap malam ....
Ayah dan ibu saling bertukar pandang. Perasaan cemas tampak di wajah mereka. Keduanya keberatan dengan keinginanku.
Ayah menghela napas panjang. "Stefan, masa depanmu masih panjang. Kalau kamu tidak bersekolah, bagaimana nanti masa depanmu?"
"Ayah benar, Nak. Ibu dan ayah berharap kamu akan memiliki kehidupan yang lebih baik daripada yang bisa kami sediakan untukmu." Ibu menimpali.
"Aku tidak ingin mendapatkan perlakuan yang sama seperti kemarin. Pindah sekolah pun akan tetap sama. Lagipula setelah usai sekolah, bukankah akan bekerja?! Kenapa tidak langsung bekerja saja?!"
"Jika kamu sudah memperoleh ijazah, upah yang akan kamu peroleh akan lebih besar lagi, Nak," tukas ibu.
"Perlakuan buruk pun bisa terjadi di mana saja. Termasuk di tempat kerja, kan?!"
"Benar, tapi aku tetap tidak mau bersekolah." Aku bersikukuh dengan keputusanku.
Alasanku memang tidak cukup kuat, tetapi ayah dan ibu tampaknya mempertimbangkan sisi psikologis-ku. Hingga pada akhirnya mereka pun setuju. Bahkan ayah membantu mencarikan kerja pada teman-temannya. Di antara teman-teman ayah, ada yang bisa memberi pekerjaan di restoran sebagai pramusaji.
Satu minggu kemudian, teman ayah memintaku agar datang dan menjalani pelatihan selama seminggu, sebelum dapat resmi bekerja di sana.
Restoran tersebut berada di tengah kota. Tidak sulit bagiku mencarinya. Hanya dalam beberapa menit saja aku telah tiba di sana. Manajer restoran—Mr. Walden—menyambut kedatanganku. Ia ramah dan murah senyum. Sangat jarang aku melihat orang seramah Mr. Walden.
"Ah, Stefan Geza, kan?!" Kedua ujung bibir Mr. Walden terangkat tinggi.
"I-iya, Mr. Walden," jawabku gugup.
"Aku sudah mendengar dari ayahmu kalau kamu mau bekerja di sini. Tapi bekerja di Bosendere[2] tidak mudah, Stefan. Lihatlah restoran ini,"—Mr. Walden menyapu pandangan ke sekililing ruangan yang penuh berisi para pengunjung—"Bosendere restoran favorit di Gorlitz. Bukan hanya harus mempertahankan kualitas masakan, tetapi juga harus meningkatkan mutu pelayanan."
Aku mengangguk canggung. "Menurut ayah, saya harus mengikuti pelatihan selama satu minggu. Jika memang demikian, saya siap, Mr.."
"Ayahmu benar. Asisten-ku yang akan membantumu." Mr. Walden mengedarkan pandangan sebelum berhenti pada perempuan yang berdiri di samping kasir. Ia pun melambaikan tangan pada perempuan tersebut.
"Saya, Mr.," ucap perempuan itu, baru saja datang.
Jika menilik wajahnya, tampaknya ia masih berusia dua puluhan tahun. Wajahnya bundar dan memiliki atribut menawan: sepasang mata hazel yang sendu, hidung mancung, serta bibir yang melengkung sempurna. Ia memiliki rambut cokelat sebahu dan terikat di bagian belakang. Perawakannya mungil, hanya sekitar 160 sentimeter.
"Iandra, ini pegawai baru kita. Tolong antarkan melihat-lihat ruangan dan beri pelatihan," perintah Mr. Walden.
Iandra mengangguk kemudian menoleh. "Ayo ikut aku." Ia pun berjalan di depanku. "Siapa namamu?"
"Ste-Stefan ... Stefan Geza."
Iandra menampilkan setengah-senyum sebelum berhenti di depan dapur. "Kamu lihat lubang kecil di dinding, kan?! Di situlah kamu memberikan pesanan ke dapur."
Setelah itu ia mengantarku ke ruangan lain dan mengenalkanku pada pegawai-pegawai yang ada di sana. Namun, pelajaran yang cukup sulit adalah cara membawa makanan, berbicara, dan hal-hal lain terkait pelayanan pada pengunjung restoran.
Tak terasa hari telah sore, Mr. Walden sudah membolehkanku pulang. Kala sedang menunggu bus di depan restoran, aku melihat Iandra berjalan sambil membawa tumpukan barang.
"Miss.," sapaku mengangguk.
Iandra tersenyum. "Kebetulan jam sifku juga telah usai. Oh iya, apakah kamu buru-buru pulang?"
"Ti-tidak Miss.," jawabku gugup.
Iandra meletakkan barang-barangnya di jalan sembari mengatur napas. "Boleh aku minta bantuanmu?"
"Tentu saja, Miss.."
"Wah, kamu baik sekali. Kalau begitu tolong bantu aku membawa barang-barang ini. Apartemenku hanya beberapa blok dari sini." Wajah Iandra mendadak berubah semringah.
Apartemen Iandra memang tidak jauh. Kurang lebih berjarak satu kilometer dari restoran. Apartemennya hanya tempat sederhana dan cukup tua. Catnya sudah pecah-pecah dan kusam. Kendati begitu, selasarnya tampak resik dan terawat. Iandra mengajakku ke lantai enam, karena di sanalah unitnya berada.
"Ayo masuk." Iandra membuka pintu unit. "Tolong letakkan di sana," tukas Iandra. Pupilnya bergerak ke arah pojok ruangan di samping lemari.
Usai meletakkan barang-barang, pandanganku mengedar. Unit apartemen Iandra berukuran kecil, tetapi sangat rapi dan apik. Perabotannya serba putih dan berpadu dengan warna pink. Pada dindingnya menggantung foto-foto yang terbingkai dalam ukiran kayu dan berwarna putih. Kemudian pandanganku terpaku pada tumpukan benda di samping televisi.
"Piringan hitam," ujarnya sembari menuangkan minuman.
"Piringan hitam?" tanyaku bingung.
"Barang-barang yang baru saja kamu bawa dan juga yang berada di samping televisi." Iandra meletakkan gelas di meja. "Aku kolektor piringan hitam. Kebetulan Mr. Walden juga. Jadi kami baru saja saling bertukar pinjam. Lagu-lagu lama era '60-an dan ada juga film-film Shirley Temple. Usiaku memang masih 25, tetapi keluargaku sering memutar lagu dan film-film lama, jadinya aku pun turut menyukainya. Oh iya, diminum dulu, Stefan."
Aku mengangguk lantas mengambil minuman dari atas meja. "Saya tidak tahu masih ada yang mengoleksi piringan hitam, Miss.—"
"Panggil saja aku Iandra kalau di luar tempat kerja," sergahnya.
"Ta-tapi rasanya tidak sopan kalau memang—"
"Tidak usah canggung padaku." Iandra menginterupsi. Bibirnya terangkat menunjukkan senyumnya yang indah.
"I-iya ... Iandra. Ada lagi yang bisa kubantu?" tanyaku, mengubah bahasa yang tadinya formal.
Iandra menggeleng. "Sudah cukup. Nanti kalau aku membutuhkan bantuan lagi, kamu masih mau menolongku, kan?" Iandra berjalan menuju pintu.
Aku mengangguk. "Tentu. Dengan senang hati."
Di saat aku mau ke luar, tiba-tiba ia memalingkan wajahku kemudian melumat bibirku beberapa saat. Darah hangat perlahan merangkak naik ke wajah.
"Sebagai ucapan terima kasih, Pria Tampan." Iandra tersenyum menggoda.
Aku tidak tahu reaksiku sekarang. Seluruh tubuhku seperti membeku. Seumur-umur belum pernah ada yang mencium bibirku. Namun, tiba-tiba bayangan Liesel melintas, mengingatkanku agar tidak larut dalam perasaan. Ya, bisa jadi perempuan yang baru kukenal ini sama seperti Liesel. Apalagi sangat janggal menciumku, padahal kami baru saja kenal. Aku pun membalik badan, berjalan menjauh tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
***
Tidak terasa sudah empat hari aku bekerja di Bosendere. Selama itu pula aku menjaga jarak dan tidak mau berurusan dengan Iandra—selain masalah pekerjaan. Sebenarnya aku pun tidak bersosialisasi dengan karyawan lain. Pada jam istirahat aku memilih memakan bekal di belakang restoran ketimbang bersama-sama di Ruang Makan khusus karyawan. Seperti sekarang ....
Bekal dari ibu memang yang terbaik. Tidak ada makanan Rumania yang dapat kutemukan di Gorlitz selain masakan ibu. Itulah santapanku setiap hari. Saat tengah menikmati masakan ibu, sekonyong-konyong ada yang datang menghampiri lalu duduk di sebelahku.
"Rupanya kamu di sini, Stefan," kata laki-laki berbadan gemuk dan berkacamata.
"I-iya, Ehrlich," ucapku canggung.
Ehrlich, rekan sesama pramusaji. Ia yang paling ramah di antara rekan-rekan lainnya. Senyumnya kerap mengembang setiap kali berbicara. Namun, sama seperti yang lain, aku pun tidak berteman dengannya. Sebelum ini aku belum pernah melihatnya di sini pada saat jam istirahat.
Ehrlich menghela napas seraya bersandar pada dinding. "Ah, di sini aku bisa lebih leluasa membaca hobiku." Ia mengeluarkan majalah dari dalam tas. "Jangan bilang-bilang yang lain, Stef. Aku tidak mau dianggap aneh," ujarnya sembari menunjukkan majalah bersampul senjata laras panjang.
Aku mengangguk. "Rheinmetall MG 3, kan?!" tukasku, mengomentari gambar pada sampul majalah.
Sebelah alis Ehrlich terangkat. "Kamu tahu juga mengenai senjata api?"
"Aku cukup sering melihat-lihat di internet," jawabku.
Senyum Ehrlich mengembang. "Wah, mulai sekarang aku akan beristirahat di sini, daripada mati bosan bersama mereka."
Pada hari-hari berikutnya, Ehrlich selalu melewati jam istirahat bersamaku. Kami sering membahas tentang senjata-senjata api.
"Uzi Submachine Gun!" Aku berseru melihat gambar pada majalah edisi terbaru.
Bersambung