42

1661 Kata
Aku menghela napas panjang lantas melihat ke luar jendela kamar. Langit sudah gelap, hanya sedikit penerangan dari lampu-lampu di pinggir jalan. Aku berusaha menangkap suara, tetapi kesunyian telah menyelimuti malam. Aku pun mendongak, memastikan sekarang sudah pertengahan malam. Waktu menunjukkan pukul setengah satu. Biasanya ibu dan ayah sudah terlelap di kamar. Inilah saat yang tepat; waktu terbaik untuk memupus penderitaan. Aku turun dari ranjang lalu berjalan mengendap-endap ke luar kamar. Ketika berada di luar, ruangan tampak gelap dan senyap. Suasana itu kian mendorong niatku. Kemudian aku mulai mencari-cari benda yang kubutuhkan. Tidak sulit, karena benda itu memang selalu ada di dalam laci dapur. Setelah mengambilnya, aku pun kembali ke kamar dan duduk di atas ranjang. Kuangkat benda itu ke udara, seraya memandangnya. Pisau. Ya. Pada pisau inilah kugantungkan harapan untuk mengeliminasi nyawa; meniadakanku dari kehidupan, dan memupus semua derita. Aku tahu jika prosesnya akan menyakitkan. Bunuh diri memang bukan memanjakan diri. Lagipula selepas rasa sakit itu, aku akan merasa damai. Tak ada lagi cemoohan, juga siksaan yang membuatku merana. Aku menarik napas dalam-dalam, seraya terpejam. Kemudian menempelkan sisi pisau yang tajam di pergelangan tangan. Pisau bergerak perlahan, menyapa kulitku yang tipis. Aku mengernyit. Bukan karena sakit yang teramat sangat, melainkan rasa takut kembali menyelusup. Keragu-raguan pun sempat bergelayut, tetapi segera kutepis dengan cara menancapkan pisau lebih dalam. Darah segar yang mengalir deras, tak mampu menghentikan niatku. Pisau mengayun dan terus menyayat. Mengoyak daging, serta memisahkan urat-urat tipis yang semula menyatu. "Hmmph ...." Kugigit bibir lantaran mencoba menahan perih. Tanganku terus mengayun sampai terdengar suara pisau yang beradu dengan tulang, sekaligus menandakan upayaku telah usai. Seluruh tenagaku berangsur-angsur melemah, seperti terbawa ke luar bersamaan darah yang mengucur deras. Aku tergolek di ranjang dengan napas satu-dua. Namun, tiba-tiba terdengar suara dari luar kamar. "Kamu yakin mendengar sesuatu?" "Iya. Coba kita tanya Stefan." Tak lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu kamar. "Stefan! Stefaaaan!" Suara ayah dan ibu kian lirih, seiring pandanganku yang makin memudar ... hingga semuanya menjadi gelap dan senyap .... *** "Di mana ini?" Pandanganku menyapu sekeliling. Semuanya serba putih dan bersih. Namun, tempat ini bukanlah surga. Tidak mungkin orang bunuh diri menempati tempat agung tersebut. Ini adalah .... "Tetaplah berbaring, saya akan mengganti perbannya." ... Rumah Sakit. Pupilku bergerak ke bawah, memandang Perawat melepaskan perban lalu mengganti dengan yang baru. Ia telaten dan cermat dalam tugas merawatku. Sungguh perawat yang berdedikasi pada pekerjaannya. "Sudah berapa lama saya di sini?" tanyaku dengan suara lemah. "Kemarin malam orang tua Anda yang membawa ke sini," jawabnya seraya tersenyum. "Lantas di mana mereka?" Aku memandang ruangan sekilas. "Orang tua Anda sedang mengambil baju-baju Anda di rumah. Tapi maaf, saya tidak tahu kapan mereka akan kembali ke—" Pintu kamar yang baru saja terbuka, menginterupsi pembicaraan kami. Aku pun menoleh, melihat kedua orang tuaku berdiri di ambang pintu. "Stefan ...." Ibu segera menghambur. "Syukurlah kamu sudah siuman," tukas ayah dengan suara tercekat. Mereka memeluk sambil menangis tersedu. Suasana haru seketika menyelimuti. Sekelumit rasa syukur pun menyeruak. Mungkin Tuhan membiarkanku tetap hidup untuk satu alasan. Suatu alasan yang belum aku ketahui. Satu hal yang pasti, walau sayatan pisau tidak berhasil mengakhiri hidupku, keinginan untuk memupus derita tetap bersemayam di dalam batin; menghapus luka hati yang tak jua terobati. Satu-satunya yang terpikir olehku adalah dengan cara sang pembunuh massal ... Vin Madsen .... *** Sudah lima hari aku berada di Rumah Sakit dan sekarang sedang menjalani pemeriksaan rutin seperti hari-hari sebelumnya. Ayah dan ibu berdiri di samping ranjang, menunggu dokter Gotze selesai memeriksa. Aku bersandar dengan kain sfigmomanometer[1] yang melilit lenganku. Dokter memompa alat di tangannya beberapa kali, mengembangkan kain itu sebelum akhirnya mengempis perlahan. "Bagaimana, Dok?" tanya ayah cemas. Dokter Gotze mengangkat wajah sembari melepaskan perekat sfigmomanometer di lenganku. "Tekanannya normal. Sembilan puluh per enam puluh." Kecemasan yang tadinya tampak di wajah kedua orang tuaku pun memudar. "Lalu bagaimana dengan lukanya, Dok?" tanya ibu. Dokter Gotze memberi setengah-senyum. "Lukanya akan benar-benar tertutup setelah sebulan. Untung saja sayatannya meleset dari pembuluh darah nadi. Jika tidak, bisa jadi penyembuhannya akan lebih lama, bahkan lebih besar kemungkinan tidak selamat." "Kalau begitu apakah sudah diizinkan pulang?" Ayah bertanya penuh harap. Dokter Gotze menggangguk. "Tapi saya sarankan Stefan menjalani terapi depresi untuk mencegah hal seperti ini terulang kembali." Ayah tak lekas menjawab. Mencerna kata-kata dokter Gotze sesaat. "Baik, terima kasih atas sarannya, Dok." Memang tidak mudah mencari biaya pengobatan di tengah kesulitan yang melanda keluarga kami. Jangankan untuk terapi, menyediakan biaya perawatan di Rumah Sakit pun ayah meminjam uang pada temannya. Namun, orang tuaku selalu mengupayakan yang terbaik. Tiga hari setelah kepulanganku, ayah mengantarku ke tempat terapi yang disarankan temannya .... Mobil tua yang kami kendarai menderum pelan seraya menepi di Jalan Elisabethstraße. Ayah menarik tuas kemudian mematikan mesin kendaraan. "Kita sudah sampai, Nak." "Di mana tempatnya?" tanyaku, melongok dari jendela. "Tepat di sebelah kita, Nak." Ruko dua lantai bercat kuning terang, diapit ruko-ruko yang sama baiknya di kanan-kiri. Pada bagian atas, menempel papan bertuliskan "Das Leben Ist Sinnvoll[2]" yang sebagian hurufnya telah memudar. "Jika melihat tempat ini, memang benar yang dikatakan pelanggan Ayah. Menurutnya tempat ini dibina oleh salah satu Terapis terbaik di Gorlitz," tukas ayah, sembari membuka pintu mobil. "Ayo. Kalau tidak segera turun, Ayah khawatir kamu terlambat." Kami pun masuk ke dalam ruko tersebut. Bagian dalam ruko terlihat semewah penampilan dari luar. Meja stainless steel di bagian depan dan tiga buah bangku empuk yang berjajar di hadapannya. Semua tampak resik dan apik. "Mau mendaftar, Mr.?" tanya perempuan di balik meja, tersenyum ramah. "Bisa bertemu dengan Miss. Idonna?" Ayah bertanya. "Mohon tunggu sebentar, akan saya tanyakan." Perempuan itu menekan tombol pada telepon. "Halo ... ada yang mencari Miss. Idonna di bawah ... baik, akan saya sampaikan." Usai menutup pembicaraan melalui telepon, ia menoleh. "Silakan ditunggu." Tak lama kemudian perempuan tua tergopoh menghampiri kami. "Guten Morgen[3]. Ada yang bisa saya bantu, Mr.?" Senyum mengembang di wajah perempuan senja tersebut. "Saya teman Mr. Jarvas," ujar ayah mengulurkan tangan. "Ah, iya, iya ... saya Idonna. Mr. Jarvas sudah menceritakan pada saya. Apakah anak Anda yang akan mengikuti terapi?" "Betul, Miss.." Miss. Idonna memandangku. Pupilnya bergerak menyelisik sesaat. "Halo, dengan?" Ia menjulurkan tangannya. "Ste-Stefan Geza, Miss.," ucapku gugup, menyambut jabat tangannya. "Stefan, mari masuk. Sebentar lagi akan dimulai. Mr., Anda bisa menjemputnya dua jam lagi." Miss. Idonna bertutur ramah. Ayah memegang pundakku. "Ayah tidak akan terlambat menjemput." Aku mengangguk lantas mengikuti Miss. Idonna dari belakang, melintasi ruangan kosong, lalu menaiki tangga. Setibanya di atas, tampak tujuh orang duduk berkeliling. Di antara mereka terdapat dua bangku kosong. Kemunculanku menarik perhatian mereka. Tujuh pasang mata itu nyaris serupa: tatapan kosong dan memiliki kantung mata hitam. Penampilan mereka pun sama-sama berantakan dan kuyu. Ada perasaan tidak nyaman ketika pandangan itu mengiriku berjalan sampai ke tempat duduk. Miss. Idonna berdiri lalu membuka sesi terapi. "Guten Morgen. Perkenalkan saya Idonna Hedvika ...." Seperti layaknya ucapkan pada saat pembukaan, seperti itulah Miss. Idonna menyampaikan. Selanjutnya giliran para peserta memperkenalkan diri. Para peserta memiliki latar belakang berbeda. Mereka rata-rata sudah bekerja dan berusia 25 tahun ke atas, kecuali aku yang masih berumur delapan belas tahun. Kami pun menceritakan kisah kelam dan meluapkan emosi yang terpendam. Amarah dan kesedihan pun tertumpah. Seperti ketika pria berjaket kumal menceritakan kisahnya .... "Se-semua hancur ... sejak bisnis yang kurintis mengalami krisis. Rumah dan kendaraan pun harus rela kulepas, bahkan ..."—suara laki-laki itu tercekat, bibirnya pun bergetar. Tak lama kemudian air mata mengalir membasahi wajahnya—"istriku membawa anak-anak kami pergi ...." Tangisannya meraung-raung. Miss. Idonna mengangguk repetitif dan membiarkan pria itu menumpahkan semua emosi sampai akhirnya dapat menenangkan diri. Miss. Idonna sama sekali tidak menceramahi. Ia memberi empati dan sudut pandang positif dari kejadian yang menimpa pria tersebut. Kemudian Miss. Idonna memanggil peserta selanjutnya. "Chaddrick." Laki-laki berbadan besar berjalan gamang lalu berhenti di tengah-tengah lingkaran. Sebelum bercerita, ia menarik napas dalam-dalam. "Orang tua seharusnya mendidik dan mengayomi anaknya. Namun, hal itu tidak terjadi padaku. Setiap hari ayah pulang dalam keadaan mabuk. Sementara ibu selalu berselingkuh dengan banyak lelaki. Pertengkaran sudah menjadi hal lumrah di rumah. Aku terdidik menjadi anak yang keras hingga akhirnya bergabung dalam kelompok kriminal. Suatu ketika aku merampok, tetapi polisi memergoki dan menembakku. Aku selamat dari kematian. Namun, harus mendekam dalam penjara selama bertahun-tahun. Setelah selesai menjalani hukuman, aku ingin memperbaiki hidup. Sulit, karena bayang-bayang kekerasan selalu menghantui. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti program ini dan berharap dapat membantuku memperbaiki hidup." Miss. Idonna mengangguk lantas memberi motivasi pada Chaddrick. Setelah usai, ia mempersilakan Chaddrick kembali ke tempat duduk. Berikutnya adalah giliran perempuan kurus yang mencandu obat-obatan terlarang. Ia menceritakan kalau sang paman melakukan pelecehan seksual padanya, sejak berusia sembilan tahun sampai remaja. Masa lalu itulah yang menyebabkannya mencari pelipur lara dengan mengonsumsi obat-obatan. Satu demi satu yang ada di sana menuturkan kisah kelam yang mengakibatkan kehidupan mereka porak poranda. Hingga akhirnya giliranku pun tiba. Aku beranjak ke tengah-tengah lingkaran. Selama beberapa saat aku membeku. Perasaan gugup mengunci mulutku rapat-rapat. Apalagi semua mata tertuju ke arahku. Miss. Idonna tersenyum. "Stefan?" "I-iya Miss.." Aku mengangguk kemudian menghela napas panjang. "Stefan Geza. Nama Rumania yang berarti mahkota pemenang, tetapi aku bukanlah pemenang. Aku terlahir sebagai seorang pecundang. Status itu kian melekat sejak keluarga kami pindah ke Gorlitz pada tahun 2013. Asal muasal dan kehidupanku yang miskin kerap menjadi bahan tertawaan. Caci maki dan hinaan sering kuterima. Puncaknya, beberapa waktu lalu seorang perempuan bersekongkol dengan teman-temannya. Mereka menuduhku telah mencuri. Perbuatan mereka belum berhenti sampai di situ ..."—amarah dan rasa sedih menyekat kerongkonganku sebelum akhirnya aku kembali berbicara dengan suara bergetar—"mereka memukul dan menendang tanpa jeda! Menyayat dan mengoyak batinku tiada henti! Menganggapku hina seperti kotoran anjing! Tak ada satu pun yang berlaku adil! Sekolah justru memojokkanku! Kepolisian pun tak ubahnya pemeras berkedok Penegak Hukum! Masyarakat ini sejatinya kumpulan orang-orang biadab!" Aku kembali menghentikan kalimat ketika keputusasaan merayap perlahan. "Aku tidak berdaya karena tak mampu melawan semua itu. Sampai pada akhirnya kuputuskan untuk mengakhiri hidup. Rupanya takdirku belum berhenti. Mungkin karena satu hal yang masih harus kurengkuh: Stefan Geza. Kelak nama itu kan tersemat di dalam diriku." Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN