41

1699 Kata
Sesampainya di kepolisian kami memberi laporan atas kejadian yang menimpaku pada Mr. Randolf—polisi penyidik. "Jadi setelah kejadian di sekolah, Anda ke mana?" tanya Mr. Randolf. Aku pun kembali melanjutkan cerita sampai usainya kejadian penganiayaan. Meskipun mengingat kejadian tersebut menguak luka batin, mau tak mau aku harus mengingatnya agar Hans dan kawan-kawan menerima ganjaran setimpal. Mr. Randolf menyimak sembari mengetik laporan. "Ada saksi dari kejadian yang menimpa Anda?" tanyanya. Aku tak menjawab seraya menunduk. Saksi yang ada muskil menguatkan laporanku. Meskipun Liesel dan Beatrice tidak turut menganiaya, sangat jelas mereka berpihak pada Hans. "Tidak," jawabku lirih. Mr. Randolf memandang seakan berusaha menyelami kebenaran ucapanku kemudian menghela napas seraya menyandarkan diri di kursi. "Sulit bagi kami untuk menelusuri laporan ini tanpa adanya saksi yang me—" "Luka. Iya, luka anak saya ini adalah buktinya. Semestinya ini sudah cukup, kan?!" sergah ayah. Ibu segera menimpali, "Jika diperlukan, silakan melakukan visum. Kami tidak keberatan. Bahkan kalau harus mengeluarkan bia—" "Persyaratan kami menerima laporan adalah harus ada saksi dan bukti. Jika salah satu di antaranya tidak ada, maka kami tidak bisa memproses laporan." Mr. Randolf menginterupsi. "Tapi—" "Mohon maaf. Masih banyak laporan lain yang sedang kami proses." Mr. Randolf melayangkan pandangan pada kertas-kertas yang menggunung di mejanya. "Mr., bisakah kita bicara di tempat lain?" Ayah bertanya. "Maksud Anda?" "Hanya kita berdua supaya lebih nyaman." Ayah mengedarkan pandangan pada beberapa polisi di ruangan itu. Sudut bibir Mr. Randolf terangkat lantas bangkit dari kursi. "Mari." "Tunggu di sini," bisik ayah sebelum berjalan mengikuti Mr. Randolf ke luar ruangan. Seperempat jam kemudian mereka telah kembali. Raut Mr. Randolf tampak semringah, tak seperti sebelumnya. "Mohon bantuannya, Mr.," tukas ayah. "Jangan khawatir. Saya akan memanggil orang-orang yang terlibat pada kejadian itu untuk meminta keterangan. Ini adalah bagian dari penyelidikan." Mr. Randolf tersenyum, menampilkan deretan gigi tak beraturan. "Kalau begitu kami menunggu perkembangannya." Ayah menjabat tangan Mr. Randolf. "Terima kasih, Mr." Mendapatkan keadilan di dunia sungguh sangat sulit. Ada Euro yang tercetak pada stempel kebenaran. Tidak sedikit pihak yang benar merogoh saku dalam-dalam agar kebenaran terungkap, tetapi ada pula yang sebaliknya. Keadilan adalah permainan sebagian orang; mengaburkan hak tiap-tiap manusia, bahkan menguburnya seolah tidak pernah ada. Namun, ayah terpaksa melakukannya atau aku akan terus mendapat perlakuan buruk. Sayang, hingga beberapa hari kemudian kabar baik tak kunjung datang. Ayah pun memutuskan untuk menemui Mr. Randolf. Aku dan ibu harap-harap cemas menunggu ayah pulang. Satu jam kemudian ayah telah tiba di rumah. Dari mata dan bahunya yang terkulai aku dapat menyimpulkan bukan kabar baik yang ia bawa. "Kepolisian tidak meneruskan laporan kita," ucap ayah lirih, hampir tidak terdengar. "Bukannya Mr. Randolf mengatakan akan membantu kita?" Ibu terkejut. "Ia berubah pikiran. Menurutnya tak ada saksi, sehingga laporan tidak bisa mereka proses." "Bagaimana mungkin?! Kita sudah memberikan Euro, tetapi sia-sia. Seharusnya ayah ingatkan dia kalau kita sudah memberi uang," tukas ibu, kecewa. "Sudah. Tapi ia mengelak sudah menerima uang itu dan memintaku membuktikan." "Jelas tidak mungkin bisa membuktikannya. Tentu saja penyuapan tidak didokumentasikan." Kekecewaan ibu kian menjadi-jadi. "Sepertinya ayah Hans memberi lebih sehingga laporan kita tidak digubris." "Dari mana Ayah tahu?" "Ia tadi mengatakan kalau kemarin Hans memenuhi panggilan dan datang bersama ayahnya." "Pasti karena itu." Suara ibu tercekat. "Padahal seluruh uang bulan ini sudah kita berikan, tetapi orang miskin seperti kita tidak mungkin sanggup bersaing ...." "Sudahlah, Bu. Percuma saja berharap. Seharusnya dari awal kita sadar kalau imigran miskin seperti kita tidak memiliki hak yang sama," ujarku kecewa, berjalan ke kamar. Kuhempaskan diri ke ranjang. Perasaan kecewa dan tak berdaya pun membaur. Kami imigran yang selalu tertepikan. Mereka selalu memandang orang-orang miskin seperti kami bak sampah masyarakat. Kami tidak mengharap perlakuan istimewa. Berikan hak yang sama, itu sudah cukup bagi kami. Namun, aku sadar, menggantungkan asa untuk meraih perubahan adalah hal yang absurd. Terkhusus pada diriku. Garis hidupku memang selalu merana. Hak-hakku terpasung oleh kebiadaban masyarakat. Masyarakat yang sejatinya menuhankan arogansi ras dan mengagungkan kekayaan di atas segala-galanya. Sementara itu hukum hanyalah pencitraan agar mereka terlihat bagaikan kelompok malaikat penjunjung keadilan dan pionir moralitas. Begitulah kenyataan yang terjadi dan entah sampai kapan berakhir .... *** Aku meronta-ronta berusaha memberontak saat pisau itu menyisir kulit wajahku. Merayap pelan ... seinci demi seinci ... semili demi semili. Mengupas kulit pipi dan terus bergerak ke atas hingga berhenti tepat di bawah mata. "Hen-hentikan ... Hans ...," pintaku dengan suara bergetar. Sudut bibir Hans terangkat, menunjukkan setengah-seringai. Aku terbelalak, melihat ujung pisau bergerak mendekat sampai menikam bagian bawah mata, menyelusup ke balik urat-urat lalu membetotnya sampai putus. Aku meraung keras, tetapi .... "Percuma ... tidak ada yang peduli pada imigran miskin sepertimu. Hanya kematian,"—diangkatnya pisau itu ke udara lalu mengayun cepat menuju jantungku—"yang layak untukmu!" "AAAAAAAAAAARGH!" Napasku terengah-engah. Seluruh tubuhku dibanjiri keringat. Tak lama kemudian pintu kamar membentur dinding dengan keras. "Stefan!" pekik ibu. "Kenapa berteriak, Nak?" tanya ayah, cemas. "Mimpi," gumamku, berusaha menenangkan diri. Ayah menghela napas panjang. "Jangan sampai kerisauanmu terbawa ke dalam mimpi. Ayah dan ibu sudah memutuskan untuk memindahkanmu ke sekolah lain, meskipun kamu harus mengulang kelas." "Setidaknya lebih baik ketimbang mendapat perlakuan buruk dari teman-temanmu. Jadi kamu tak usah khawatir. Sekarang minum dulu kemudian tidurlah lagi." Ibu menimpali, seraya menyodorkan air putih ke bibirku. Aku meneguk sedikit lalu kembali meringkuk di balik selimut. Mungkin memang benar kata ayah. Kegelisahan dapat menghantui sampai ke dalam mimpi. Selama beberapa hari aku selalu bermimpi buruk. Mimpi-mimpi itu tidak ada yang sama, tetapi selalu menampilkan Hans yang mengatakan kalimat 'Kamu lebih layak mati' berulang kali. Aku mulai terbiasa dengan mimpi-mimpi itu. Sedikit bisa mengontrol diri usai mengalami, sehingga ayah dan ibu tak mengetahuinya. Namun, mimpi-mimpi itu sungguh melelahkan pikiran. Mungkin selalu mendekam di dalam kamar adalah salah satu sebab pikiran buruk kerap mengusik. Hiburan. Ya, kurasa aku membutuhkannya. Aku pun keluar dari kamar dan menghampiri ibu. "Ibu, aku ingin keluar sebentar." Ibu memandangku sesaat. Kekhawatiran tampak di wajahnya. "Jangan, Nak. Bisa saja kamu bertemu Hans seperti waktu itu," ujarnya. Aku menggeleng. "Sekarang masih pagi. Hans dan teman-temannya pasti masih di sekolah." "Tapi—" "Ibu, tolong ... aku butuh sedikit hiburan ...." Ibu menghela napas kemudian mengangguk. "Pulanglah sebelum jam sekolah berakhir." Aku mengangguk. "Aku butuh sedikit uang, Bu." Ibu membuka dompetnya. "Semua sudah untuk polisi itu." Aku menunduk tanpa berkata-kata. Niatku semula ingin mengunjungi sahabat, tetapi terpaksa mengurungkannya. Kuharap sedikit angin segar dapat menyegarkan pikiran. Taman di ujung Jalan Nikolaistraße, kurasa dapat menjadi tempat yang tepat. "Tidak apa-apa, Bu," tukasku, "kalau begitu aku pergi dulu." Aku pun berjalan ke luar rumah, menyusuri jalanan. Pagi ini jalanan terlihat ramai. Para tetanggaku tengah bersiap-siap menyongsong kesibukan masing-masing. Ketika sedang berjalan, seketika pandangan mereka tertuju padaku. "Eh, anak temanku yang satu sekolah dengan Rumania itu, mengatakan kalau ia ketahuan mencuri di sekolah." "Ah, aku sama sekali tidak terkejut. Orang tua dan anak sama saja. Mereka sama-sama tidak punya malu." Suara itu tak cukup lirih hingga terdengar cukup jelas. Amarah, rasa muak, kebencian, sekaligus ketidakberdayaan bercampur dan teraduk di dalam batinku. Walaupun aku pindah sekolah, perlakuan buruk akan tetap kudapati. Sama seperti sekarang, ketika hinaan menyapaku di luar sekolah. Saat kegeruhan melanda, tiba-tiba kata-kata Hans di dalam mimpi kembali melintas. 'Kamu lebih layak mati.' 'Kamu lebih layak mati.' 'Kamu lebih layak mati.' Kalimat itu terngiang berkali-kali dan membuat hati kian menjengit-jengit. Pikiran pun makin keruh. Mungkin memang benar kalau aku tetap hidup hanya rasa sakit yang kudapati. Aku mendongak, melihat ujung bangunan kafe berlantai lima. Pada atap bangunan itulah kusandarkan harapan untuk mengakhiri penderitaanku. *** Ada banyak cara untuk mengakhiri hidup. Melompat dari bangunan tinggi adalah salah satu yang terbaik. Kecepatan meluncur akan membuat kepala menghantam jalanan dengan keras dan membuyarkan isinya, sehingga aku tak sempat merasakan sakit dari proses melayangnya nyawa dari raga. Namun, perasaan saat berada di udara pasti amat menyiksa. Tidak. Ini bukan cara terbaik. Kuurungkan niat lalu kembali berjalan menuju taman di ujung Jalan Nikolaistraße. Pikiranku berkecamuk, menimbang berbagai cara mengakhiri hidup. Memotong urat nadi, meminum racun, menabrakkan diri pada kendaraan yang melaju kencang, menggantung diri, atau meletakkan leher di rel dan menanti kereta melindasnya, merupakan cara-cara yang terlintas di pikiranku. Semuanya pasti menyakitkan. Begitulah bunuh diri, tak ada proses yang tidak menyakitkan. Mungkin keputusanku untuk mengakhiri penderitaan belum sempurna, sehingga jantung masih menjengit-jengit kala memikirkan rasa sakit yang akan dilalui. Namun, bertahan hidup pun lebih menyakitkan. Mendengar caci maki yang menyayat batin; merasakan raga luluh lantak oleh pukulan dan tendangan yang mendera tiada henti; menghadapi pandangan yang menganggapku seperti kotoran. Dan yang paling buruk dari semua itu: hilangnya harapan untuk meraih kebahagiaan. Tak terasa aku sudah berjalan cukup jauh dan telah tiba di taman. Kuedarkan pandangan, mencari tempat yang nyaman untuk menghabiskan waktu. Sayang, semua bangku telah terisi, kecuali satu bangku di depan anak-anak kecil yang sedang bermain. Aku pun duduk di bangku itu. Memandang anak-anak yang berlarian dan tertawa-tawa, membuat sudut bibir ini sedikit terangkat. Kenangan masa kecil di Rumania pun terulas. Masa-masa ketika aku masih bisa tersenyum dan tertawa seperti mereka. Memori yang hanya kurasakan sekejap saja lantas berganti kehidupan penuh penderitaan. Tak ada gunanya mengingat kebahagiaan kalau nyatanya sekarang merasa geruh. Tercabik-cabik di tengah masyarakat munafik; teriris di dalam kehidupan yang miris. Berulang kali aku mencoba mengorek ingatan dan memikirkan alasan untuk bertahan hidup. Gagal. Tidak ada satu alasan pun yang memberi asa. Termasuk orang tuaku. Mereka juga turut menderita karena aku. Aku hanya membebani kehidupan mereka yang sudah berat. Kian menghimpit mereka di antara kesulitan dan nestapa. Aku adalah penderitaan bagi kedua orang tuaku. Cuma sampah yang tidak berguna bagi orang-orang di sekelilingku. Kalau sudah begini untuk apa hidup? Hanya merasakan penderitaan dan menjadi beban orang tuaku. Seharusnya aku memang tak pernah ada di dunia. Sayang, seandainya pun bisa menarik waktu ke belakang, aku tetap tak bisa memilih untuk tidak dilahirkan. Namun, ada satu hal yang bisa kulakukan: memupus derita. Aku kembali di hadapkan pada cara melakukannya. Kali ini aku sudah tahu tindakan terbaik, yakni mengakhirinya dalam kesunyian, supaya tidak ada yang menghalangi keputusanku, juga tak terdistraksi oleh pikiran lain. Kini hari masih siang, bukan saat yang tepat untuk melakukannya sekarang ini. Kuputuskan pulang ke rumah, menampakkan diri dan melakukan kegiatan seperti biasa agar ibu tidak curiga ada sesuatu yang kurencanakan. Kemudian aku pun menunggu saat itu tiba di dalam kamar. Hingga akhirnya jam demi jam berlalu .... Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN