40

1765 Kata
"Ah, kalau kamu Vin Madsen harusnya tahu bagaimana mengakhiri drama pembunuhan dengan cara epik. Sayang, mode tersebut tidak ada di permainan ini." "Masuk penjara?" Mendengar kata-kata Stefan Grausam tergelak. "Kupikir kamu penggemar sejati Vin Madsen, rupanya tidak! Kamu sama sekali tidak tahu apa-apa tentangnya!" "Apa maksudmu?" "Heh! Carilah sendiri!" Alih-alih menjawab, Grausam justru keluar dari permainan. Keingintahuan Stefan terkulik lantas segera berselancar mencari cerita Vin Madsen. Berbagai situs sudah dijelajahi satu demi satu, tetapi Stefan belum mendapat cerita yang Grausam maksudkan. Hingga pada akhirnya Stefan masuk ke sebuah blog berjudul "Grausam Sahabat Vin Madsen". Apakah ini Grausam yang sama dengan yang bermain di "I'm Not a Laughing Stock"? Stefan merasa makin penasaran dan segera membaca cerita Vin Madsen pada layar komputer. Kisahnya di sini jauh lebih mendetail ketimbang yang pernah ia baca pada situs lain. Bukan hanya bercerita tentang kejadiannya, tetapi juga mengungkap perasaan Vin Madsen. Perasaan Vin Madsen saat mendapatkan cacian sangat mirip seperti yang Stefan rasakan. Tersayat. Teriris. Terpasung. Merasa mereka merampas dan mencampakkan hak-haknya. Bacaan itu kembali menggores luka, menghadirkan bayangan orang-orang yang telah memperlakukannya seperti binatang. Namun, yang membuatnya berbeda adalah kebangkitannya melawan penindasan dan mengakhiri kisah kolosal itu dengan paripurna. Di akhir laman Grausam menceritakan kalau ia adalah sahabat Vin sejak kecil sebelum akhirnya pindah ke Jerman. Kendati terpisahkan jarak, tetapi mereka kerap berkomunikasi melalui sosial media. Itulah sebabnya Grausam dapat bercerita secara mendetail. Ia juga menerangkan kalau hubungan mereka sangat dekat, sehingga Grausam sering bermain permainan online untuk mengenang Vin Madsen. Stefan merasa takjub usai membaca kisah tersebut. Cerita Vin memberi energi dan keberanian yang selalu bersembunyi di balik rasa takut. Vin Madsen memang patut menjadi legenda. Inspirasi yang ia berikan membuat Stefan mencandu untuk kembali berselancar. Namun, tiba-tiba Stefan mendengar penjaga rental berseru. "Perampokan lagi! Bodoh sekali orang itu menjaga toko tanpa menyimpan senjata! Coba saja kalau perampok mendatangiku, kupastikan kepalanya berlubang dengan peluru tajam!" Penjaga rental mengomentari siaran berita di televisi sambil terus menggumam. Gumamannya sangat mengganggu. Stefan pun memutuskan untuk pulang ketimbang mendengar kegaduhannya. Waktu telah menunjukkan sekitar pukul sembilan malam. Tidak seharusnya Stefan pulang selarut ini karena pasti orang tuanya merasa khawatir. Namun, sang pembunuh massal berhasil membuatnya lupa waktu. Kala menyusuri jalanan, ia melihat beberapa orang yang sudah tidak asing tengah berada di samping lapangan olahraga. Mereka adalah Hans, Vier, Uwe, Penrod, Kenan, Beatrice dan Liesel. "Kalau kalian lihat pakaiannya ketika pergi menonton, kujamin kalian akan muntah!" Kata-kata Liesel membuat teman-temannya tergelak. "Ah, untung sandiwaramu dan Beatrice berjalan sempurna!" Darah Stefan mendidih, gigi-giginya bergemeretak, pun otot dan urat mengejang. Seluruh amarah telah mendesak d**a Stefan. Rasanya ingin sekali menumpahkan segala amarah yang selama ini tersimpan. Namun, tidak sekarang. Tunggu saatnya tiba! Mereka akan menjerit kala peluru-peluru tajam melubangi d**a mereka! Kini sebaiknya Stefan menghindar untuk menyiapkan pembalasan sempurna. Stefan pun membalik badan, tetapi tiba-tiba ada yang mencengkeram kerahnya dari belakang. "Mau ke mana Mr. Spock?" Yohn dan Zohan telah berdiri di belakangnya dengan sudut bibir terangkat—menunjukkan setengah-seringai. *** Udara yang dihirup terasa berat, seperti ikut mencekik di setiap tarikan napas Stefan. "Cepat kalian buka." Sesaat setelah suara itu terdengar, tangan-tangan mencengkeram lalu melepaskan kain yang menutupi mata. Stefan mengedarkan pandangan, tetapi semua tampak sama. Gelap, hitam, dan pekat. Butuh beberapa saat membiasakan penglihatan, hingga perlahan sosok-sosok yang menyeretnya ke tempat ini, mulai terlihat. "Apa yang kamu lihat Mr. Spock?" Suara itu sudah sangat dikenal. Ia adalah Hans yang telah berdiri bersama Vier, Zohan, Yohn, Uwe, Penrod, Kenan, Beatrice, dan .... Mata Stefan menyorot tajam pada perempuan berambut pirang di samping Hans. "Hai, Stefan Haza-ku." Liesel .... "Bagaimana rasanya berkencan dengan makhluk bodoh ini, Liesel? tanya Beatrice. "Seperti berada di tempat pembuangan sampah. Bau, kotor dan ..., sangat men-ji-jik-kan!" Bibir perempuan j*****m itu membentuk seringai miring. Pupilnya bergerak ke bawah, seperti memandang kotoran yang berserakan di lantai. "Dasar perempuan murahan!" hardik Stefan, tak bisa lagi menahan kemarahan. Tiba-tiba Hans mencengkeram kedua pipi Stefan. Matanya menatap tajam penuh ancaman. "Jaga mulutmu atau kurobek-robek ...."Alih-alih surut, amarah Stefan justru tersulut. "Jaga mulut? Kalian yang seharusnya menjaga mu—" Hans memukulnya hingga tersungkur. Darah segar pun mengalir dari ujung bibir. "Kamu,"—Hans menarikku ke hadapannya—"berani-beraninya mengadu pada sekolah!" Hans membenturkan kepala pada tulang hidung Stefan. Stefan menjerit keras sambil berguling-guling. Namun, teman-teman Hans tak memberi jeda. Mereka menghajar beramai-ramai. "Orang sepertimu lebih pantas mati!" Hans menghantam tulang kering Stefan dengan tongkat besi. Raungan Stefan menggema di ruangan. Namun, tongkat besi kembali mendera berulang kali. Mendapat siksaan bertubi-tubi tak ayal membuatnya meronta kesakitan. "Berteriaklah yang keras! Tidak akan ada yang mendengar suaramu dari gudang tua ini!" Ujung sepatu Uwe menghunjam rusuk. "Anak p*****r!" Berikutnya Penrod menginjak jemari Stefan. Stefan mencoba menahan sakit lalu menarik kaki Penrod sampai terjatuh. "Jangan hina ibuku!" Tangannya terangkat ke udara, tetapi tiba-tiba Kenan menarikku hingga terjengkang. "Kita lihat seberapa besar nyalimu!" Tinju Kenan menghajarnya bertubi-tubi. "Aku sudah muak dengan orang miskin ini!" Zohan menjejak kepala Stefan. "Pulanglah ke negaramu!" Hans dan teman-temannya mengeroyok beramai-ramai. Pukulan dan tendangan terus menerus mendera. Raga Stefan memang tersiksa, tetapi hatinya lebih terkoyak. Sudah tak terhitung caci maki mereka lontarkan, seiring penganiayaan yang kian menjadi-jadi. Bagi mereka Stefan lebih kotor ketimbang anjing jalanan. Kebencian Stefan sudah memenuhi d**a; amarah dan dendam pun kian tersulut. "Aku bersumpah kalian tidak akan lepas dariku! Akan kubunuh kalian satu per satu! Kepala-kepala kalian akan berlubang lalu kucincang daging kalian untuk makanan anjing!" Stefan berteriak keras. Berbagai sumpah serapah dan ancaman dilontarkan tiada henti, tetapi justru menambah penyiksaan orang-orang biadab itu. "Hahaha! Anjing Rumania bodoh! Bisa-bisanya mengkhayal di saat hampir mampus!" Hans memukul punggung Stefan dengan kursi kayu. "Toți credeți că sa terminat?!" bentakku setengah menjerit. "Dengar! Ia berbicara bahasa alien!" Yohn mencambukkan ikat pinggangnya berulang kali. "Bukan! Lebih tepat menyebutnya sedang menggonggong!" timpal Zohan. "Kalian pikir semua telah usai?! Tidak! Ini baru permulaan! Tunggu pembalasanku! Kalian akan mati merana seperti buruan Vin Mor—argh!" "Tutup mulutmu, anjing bodoh!" Vier menendang bibir Stefan dengan kencang. "Mati!" teriak Uwe, lantas meludahinya. Stefan mencoba berteriak, tetapi suaranya makin melemah. Stefan meringkuk menerima siksaan yang tiada henti. Berangsur-angsur pendengaran dan pandangan memudar kemudian semuanya menjadi gelap ... dan sunyi .... *** "Ah ...." Stefan mengerjap sambil memegangi kepala yang sakit. Stefan bersusah payah duduk lantas melihat luka-luka yang berdenyutan di sekujur tubuh. Kejadian penganiayaan itu kembali terulas. Membuat hatinya terasa lebih sakit ketimbang seluruh raga. Pandangannya menyapu sekeliling. Pecahan-pecahan kaca, serpihan kayu, dan bercak darah berceceran di lantai. "Ke mana mereka?" gumam Stefan, tak menemukan Hans dan kawan-kawan di ruangan. Stefan tidak tahu sudah berapa lama tak sadarkan diri. Mungkin sudah beberapa jam, atau bahkan berhari-hari. Namun, Stefan tidak bisa terus berada di sini. Ia menyeret kaki, berjalan tergopoh menuju pintu gudang tua. Setibanya di luar, Stefan mendongak melihat langit masih gelap lalu kembali tersuruk-suruk. Stefan tidak tahu tempat ini, tetapi jika memperhitungkan jarak perjalanan ketika mereka menyeretnya, sepertinya tidak terlalu jauh dari lapangan. Ketika sampai di perempatan ia membaca papan nama jalan. "Ah, jalan ini," gumamnya. Dugaannya benar. Di jalan inilah lapangan olahraga itu. Kalau Stefan melihatnya akan mudah menentukan arah pulang. Stefan menyelisik sekitar, tetapi tak menemukannya. Stefan pun kembali berjalan. Setelah 150 meter, lapangan olahraga terlihat di sebelah kiri jalan. Suasananya lengang, sama seperti jalanan yang dari tadi dilalui. Menilik keadaan tersebut ia memperkirakan sekarang sudah dini hari. "Ayah, ibu ...." Bayangan kekhawatiran mereka melintas. Pasti mereka berusaha mencari sejak Stefan menghilang. Apa yang mereka lakukan jika melihatnya seperti ini? Apakah akan melaporkan pada sekolah lagi? Entahlah, tetapi Stefan tidak yakin mereka akan menanggapi laporan dengan serius. Semula Stefan pikir sekolah bertindak tegas, mengingat tak ada lagi yang mengolok-olok. Nyatanya tidak. Hans dan kawan-kawan malah bertindak makin kelewatan. Stefan berhenti memercayai mereka; sudah tidak bisa lagi menggantungkan harapan pada sekolah. Mereka justru mendukung tuduhan mencuri tanpa menyelidiki lebih jauh. Membiarkan semua kejadian buruk menimpa Stefan sama halnya mendukung kebiadaban Hans dan kawan-kawan. Stefan berjalan menyusuri jalanan dengan perasaan berkecamuk. Bukan hanya kelompok biadab itu yang membuat darahnya mendidih, tetapi juga sekolah. Kalau Stefan adalah Vin Madsen, tentu sudah bertindak sebelum menjadi berlarut-larut seperti ini. Sayang, Stefan tidak memiliki keberanian sepertinya. Stefan hanya sanggup mengancam kelompok biadab itu, tanpa tekad dan nyali yang kuat. Stefan cuma pecundang; seorang pengecut yang menerima perlakuan buruk tanpa mampu membalasnya. Itulah takdirnya. Rasanya nama "Stefan Haza" tak layak disandang. Mungkin Hans benar. Kematian sepertinya lebih pantas untuknya ketimbang hidup terhina. Mungkin jika Stefan mati kedamaian akan ia rasakan, daripada hidup merana seperti itu. Sudah cukup jauh Stefan berjalan, hingga akhirnya rumahnya terlihat. Ingin rasanya mempercepat langkah, tetapi luka di sekujur tubuh membuat langkahnya tersuruk-suruk. Sampai beberapa menit kemudian, Stefan telah tiba di depan rumah. Baru saja mengetuk beberapa kali, pintu rumah sudah terbuka. "Stefan!" Ibu memekik dengan suara tercekat. "Dari mana saja kamu, Ste—" Ayah tak melanjutkan kalimatnya saat melihatnya berlumuran darah kering. Ayah memapahnya ke dalam rumah lalu mendudukkan di kursi. "Cepat ambil obat-obatan!" seru ayah panik, "siapa yang melakukan ini padamu, Nak?" Lengkung mata ayah menurun, serupa gerak bibirnya. "Apakah mereka lagi?" Ibu bertanya sembari mengobati luka Stefan. Suara Stefan tercekat di dalam kerongkongan. Stefan hanya sanggup mengalihkan pandangan ke lantai tanpa berkata-kata. "Ayah, kita tidak bisa terus menerus membiarkan ini," ucap ibu dengan suara bergetar. "Dari kemarin kita sudah bertindak. Bukankah baru saja Stefan melaporkannya ke sekolah?!" "Tapi lihatlah. Bukannya membaik, perlakuan teman-teman Stefan justru makin buruk," keluh ibu, kesal. "Percuma melaporkannya ke sekolah. Mereka sama buruknya." Stefan berkata, tak sanggup menahan kekecewaan. "Jangan berkata begitu, Stefan. Mung—" "Stefan benar, Ayah. Kalau memang sekolah berlaku adil, selain menyelesaikan masalah ini, seharusnya mereka mengusut pencurian yang dituduhkan pada Stefan," sergah ibu. Ayah terdiam beberapa saat sebelum menghela napas. "Besok aku akan melaporkan ke polisi." Ibu pun mengangguk. "Sepertinya memang harus begitu." "Ya sudah, Stefan harus segera tidur. Besok pagi harus ikut melaporkan kejadian ini." "Tapi Stefan masih ter—" "Stefan harus ikut, karena harus menceritakan kejadiannya dan mungkin perlu menjalani visum." Ayah menginterupsi. "Tapi Ayah tahu, kan, kalau tidak ada yang gratis di dunia ini?!" tukas ibu "Maksudmu memberi polisi agar mau mengusut kasus ini?" Ibu mengangguk. "Sudah menjadi rahasia umum jika hal itulah yang berlaku." "Pakai uang bulanan saja dulu. Nanti aku akan mencari uang lagi untuk menutupi biaya bulanan kita." "Tapi Stefan ...." Ibu menoleh, melihat Stefan dengan mata berkaca-kaca. "Kalau hanya sebentar, aku tidak apa-apa, Bu," ucap Stefan berusaha menenangkan ibu. "Iya sudah. Tapi besok aku harus ikut menemani." "Tidak masalah. Sekarang ayo bantu Stefan memapah Stefan ke kamar," ucap ayah sembari meletakkan tanganku di pundaknya. Polisi. Pada merekalah mereka menggantungkan harapan. Mudah-mudahan mereka mau mengusut kejadian ini sehingga kelompok Hans mendapatkan ganjaran yang pantas. Semoga keadilan akan Stefan dapatkan .... Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN