39

1678 Kata
"Hanya ini?" tanya Stefan mengeluh melihat baju-baju kumal tersebut. Lengkung mata ibu turun seraya memandang nanar ke arah Stefan. "Setiap kali ada uang kita pergunakan untuk keperluan sehari-hari. Tidak pernah kita membeli pakaian." "Bagaimana kalau kita meminjam pakaian Mr. Smith?" usul ayah. Ibu menggeleng. "Apa Ayah lupa kalau Mr. Smith badannya besar sekali?!" "Sudahlah, aku pakai yang ini saja." Stefan mengambil kemeja yang nodanya paling sedikit. Ayah menghela napas. "Ironis. Menjahit pakaian orang, tetapi tak memiliki pakaian sendiri." "Iya. Kalau saja ada sisa kain, aku bisa menja—" ibu tertegun sesaat sebelum bergegas ke luar kamar. "Aku baru ingat, kemarin ada kain sisa Mr. Dalmiro," tuturnya sembari membuka laci lemari di ruangan depan. "Ah, ini dia!" "Apa masih sempat menjahitnya?" Ayah bertanya. "Kuusahakan sebelum pagi sudah selesai." Stefan terenyuh melihat kesungguhan ibu. "Ibu, maaf ...." "Jangan bicara begitu, Stefan. Menjahit sudah menjadi pekerjaan sehari-hari, jadi tidak berat bagi Ibu," tukasnya, tersenyum. "Baik, Bu." "Sekarang lekaslah tidur. Jangan sampai besok Liesel menunggumu datang." Ibu berujar, seraya duduk di belakang mesin jahit. Kedua orang tua Stefan memang tidak bertitel tinggi. Namun, perhatian mereka tak ada yang menandingi. Mungkin orang lain mujur memiliki orang tua bergelimang harta, tetapi Stefan tak kalah beruntung mempunyai orang tua yang penuh perhatian. Dalam keadaan kekurangan mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik. Seperti ibu yang menjahit sepanjang malam untuk membuat baju yang hasilnya cukup bagus—meski hanya menggunakan bahan seadanya. Keesokan harinya Liesel pun melontarkan pujian saat melihat baju yang Stefan kenakan. "Wah, bagus sekali bajumu!" seru Liesel yang terlihat cantik dengan kaus off-shoulder putih bermotif kotak-kotak. "Ibuku yang menjahitnya." "Rupanya Ibumu pintar menjahit. Kalau boleh lain waktu aku juga ingin memintanya menjahit bajuku." Liesel berkata sembari tersenyum. "Tentu saja boleh, Liesel." Usai menunggu cukup lama akhirnya kereta yang mereka tunggu pun tiba. Sepertinya bukan hanya Stefan yang menilai Liesel cantik, sebab beberapa pria di dalam kereta tak bisa mengalihkan pandangan dari Liesel. Mungkin sudah terbiasa atau karena tidak menyadari ada yang sedang memperhatikan, Liesel tampaknya tidak merasa terganggu. Sebaliknya, justru Stefan yang merasa tidak nyaman. Apalagi saat dua orang pria berbisik-bisik sambil melirik Liesel. Untungnya tak lama kemudian mereka telah sampai di stasiun tujuan. Mal tempat mereka menonton berada tidak jauh dari stasiun. Hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit mereka telah tiba di sana. "Aku suka sekali melihat Amanda Seyfried bermain dalam film. Apalagi ketika ia bermain dalam film romantis." Liesel berkata saat mereka sudah duduk di kursi penonton. Stefan tidak tahu aktris yang dimaksud Liesel, karena ia tidak pernah menonton film-film romantis. Semua film yang ditonton selalu mengumbar adegan pembunuhan yang berdarah-darah, sehingga film yang mereka tonton pun sama sekali tak menarik bagi Stefan. Tentu saja hal itu tak disampaikan pada Liesel ketika sudah selesai menonton. "Ceritanya tadi benar-benar menyentuh, iya, kan?" Liesel bertanya sembari memutar-mutar sedotan di dalam gelas. "I-iya," jawab Stefan berusaha terlihat tertarik. "Stefan paling suka adegan ketika mereka berada di atas perahu. Kalau kamu?" "A-Stefan a-adegan yang ...." Liesel tersenyum seraya mengangkat sebelah alis. "Yang?" "Mmm ... itu yang ...." Melihat Stefan kebingungan, Liesel pun tertawa. "Kamu tidak perlu berpura-pura. Aku tahu kalau tadi kamu tidak benar-benar menonton." Wajah Stefan memanas karena merasa malu. Stefan menunduk, menutupi wajah yang memerah. Rasa malu dan tidak enak hati pun menyergap. "Selera orang memang berbeda. Tapi kalau sering bersamaku, kamu akan menyukai film romantis," tukasnya, tersenyum lebar. "Oh iya, ngomong-ngomong semalam Beatrice ke rumahku dan ponselnya tertinggal. Aku ingin mengembalikannya besok, tetapi banyak barang yang harus kubawa untuk tugas praktikum. Mmm ..., aku khawatir ponselnya tergores kalau kusimpan di dalam tas, dan bisa juga ponselnya jatuh jika kubawa di kantung baju. Jadi bisakah kamu membawakannya?" Stefan mengangguk. "Sini aku bawakan. Kamu tidak perlu sungkan, Liesel." "Besok pada saat jam istirahat aku akan ke kelasmu untuk mengambilnya," tukas Liesel memberikan ponsel tersebut. "Oke." Senyum Liesel pun mengembang. "Sebenarnya aku masih ingin berjalan-jalan, tetapi ibu sedang sakit jadi Stefan tidak bisa meninggalkannya terlalu lama." "Ah, kalau begitu ayo kita pulang sekarang." Kencan hari itu memang terbilang singkat, tetapi sudah cukup membuat Stefan senang. Sejak dekat dengan Liesel, tak pernah sedikit pun hatinya keruh. Amarah yang acap muncul, perlahan-lahan tenggelam. Liesel memang gadis idaman. Sikapnya yang periang dan ramah mampu mengobati luka yang selama ini tersimpan rapat di dalam afeksi. Pada malam hari itu Stefan sulit menutup mata. Bukan karena rasa sakit, melainkan wajah Liesel yang membayanginya. Andaikan ini mimpi, Stefan berharap tak akan terjaga darinya. Namun, ini nyata dan semoga menjadi awal dari kehidupannya yang baru. *** Banyak orang yang tak mengharapkan hari Senin tiba. Namun, tidak bagi Stefan yang berseri-seri menunggu Mr. Jacob memulai pelajaran. Hasrat untuk bertemu Liesel adalah penyebabnya. Sayang, kekhawatiran menyeruak kala melihat Mr. Jacob masuk ke kelas bersama Beatrice. Wajah Mr. Jacob tampak tegang. Senyum yang kerap terulas di wajahnya pun tak terlihat. Melihatnya demikian, para siswa berbisik-bisik. Semua bisa menduga ada hal serius yang akan ia sampaikan. "Sebelum memulai pelajaran ada yang mau saya sampaikan," ujar Mr. Jacob, lantas menoleh ke arah Beatrice. "Ponsel teman kalian ini hilang pada hari Jumat. Ia sempat mengira tertinggal di rumah, tapi setelah mencarinya, ponsel tersebut tidak ditemukan." Keresahan mendadak melanda. Berbagai pikiran negatif pun terlintas. Namun, semuanya terpusat pada satu nama; seseorang yang menyuntikkan gairah hidup; perempuan yang memantik senyum Stefan: Liesel .... *** Suara Mr. Jacob beringsut menjadi debaran jantung yang acak. Seisi ruangan pun melebur, larut ke dalam ruang batin yang teraduk-aduk. Asa yang terkembang kini tercabik-cabik dusta dan pengkhianatan. Seculas apa pun daya pikatnya, jika tidak naif maka muskil Stefan terperosok ke dalam perangkap Liesel. "Stefan ...." Sayup-sayup terdengar bariton menyelusup ke dalam telinga. "Stefan ...." Menggetarkan kegeruhan hati, membawa Stefan kembali ke hadapan realita. Stefan mendongak, melihat wajah bundar Mr. Jacob telah berubah merah pekat. "Ikut aku ke Ruang Kepala Sekolah." Intonasinya memang datar, tetapi beku dan tajam. Dengan pikiran karut-marutStefan mengikuti Mr. Jacob dari belakang. Mata-mata di balik jendela mengiringi langkahnya di koridor. Stefan bagaikan seorang terdakwa tanpa pembelaan yang pantas. Layaknya menyimpan galat atas tuduhan pembunuhan. Padahal sekadar pencurian yang sebetulnya tidak ia lakukan. Perlakuan mereka seperti ketukan palu Hakim yang berlandaskan hukum-hukum cacat. Jika memang telah menganggapnya sebagai pendosa, Stefan akan memastikan kelak melayakkan diri dengan prasangka mereka. Amarah yang tersulut merayap perlahan, membuat seluruh syaraf Stefan memuai hingga sulit mengendalikan raga. Langkah Stefan mengayun berat memasuki ruangan Mr. Murdock lalu duduk pada kursi di hadapannya. Tak lama kemudian ayah menyeruak dari pintu ruangan. Sedikit tergopoh, ia duduk menyejajari Stefan. Stefan tak sanggup memandangnya lamat-lamat, bersegera mengalihkan pandangan ke bawah. Saat ini mungkin mata Stefan sayu menatap lantai Ruang Kepala Sekolah; bisa jadi tubuhnya lesu di hadapan Mr. Murdock, tetapi tidak dengan hatinya yang bergemuruh .... *** Kejadian kemarin menyebabkan kegelisahan melanda semalaman. Stefan hanya sanggup meringkuk di atas ranjang, mengharapkan rasa sakit terobati dengan sendirinya. Namun, sia-sia. Apalagi mendengar perbincangan dari balik dinding kamar. "Tidak mungkin Stefan mencuri." Suara ibu tercekat dan bergetar. "Aku juga tidak percaya, tetapi mereka menemukan bukti di dalam tas Stefan. Sikap Stefan yang bungkam turut menyudutkannya," timpal ayah. "Stefan pasti merasa syok, mungkin itulah yang membuatnya tak sanggup menyangkal." "Kalau begitu biarkan Stefan menenangkan diri selama menjalani skors dari sekolah," ujar ayah. "Iya, aku juga tidak akan menanyainya." "Ya sudah, aku harus kembali bekerja." Ayah berkata. Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka lalu kembali tertutup. Kecemasan mereka kian membebani d**a. Karena itu Stefan tidak bisa terus menerus mengurung diri di kamar dan harus bisa bersikap wajar di depan mereka. Tentu saja sulit melakukannya. Mungkin perlu sedikit hiburan agar beban ini sedikit berkurang. Stefan menghela napas panjang lalu bangkit dari ranjang. Ia memaksakan diri dan keluar dari dalam kamar. Ibu menoleh, melihatnya lekat-lekat. Kekhawatirannya sedikit luntur saat memandang anaknya. "Nak, Ibu sudah siapkan Sarmale di meja makan," tukasnya, sambil membuka tutup saji. Stefan mengangguk seraya duduk di kursi makan. Sarmale adalah makanan kegemarannya. Namun, kali ini makanan itu tak sanggup membangkitkan selera. Kendati demikian Stefan berusaha menelan makanan itu sedikit demi sedikit. Keheningan menyelimuti suasana. Tampaknya ibu tak ingin mengusiknya, walau hanya sekadar mengobrol ringan. Usai menyantap beberapa suap, Stefan menelungkupkan sendok di atas piring. "Kenapa tidak menghabiskannya? Tidak enak?" tanya ibu, kecewa. Stefan menggeleng. "Stefan ingin menghirup udara segar di luar, Bu." Semula ibu tampak keberatan sebelum pandangannya mencoba menyelami perasaan Stefan. "Bawalah beberapa Euro ini. Mungkin kamu akan memerlukannya. Jangan pulang terlalu larut, Nak." ujarnya, memaksakan senyum. Stefan mengambil beberapa lembar Euro tersebut lantas berjalan ke arah pintu. "Ibu jangan khawatir. aku akan baik-baik saja," tukas Stefan kemudian keluar rumah. Sudah beberapa hari Stefan tak mengunjungi sahabatnya. Mungkin hanya dia yang bisa meredam kekalutan batin Stefan. Sore itu orang-orang yang baru selesai beraktivitas memadati jalanan. Stefan yang tidak pernah merasa nyaman berada di tengah keramaian, segera mempercepat langkah hingga tak sengaja menyenggol orang yang sedang berjalan. "Hei! Lihat-lihat kalau jalan!" hardik Mr. Ehren sebelum berlalu. "Rumania memang tidak tahu sopan santun," gerutu tetangga Stefan tersebut. Kata-kata seperti itu memang acap Stefan dengar dari tetangga-tetangga. Meskipun mereka lebih sering bergunjing di belakang, kabarnya tetap terdengar oleh mereka sekeluarga. Ayah dan ibu terbilang sabar menghadapinya. Berbeda dengan Stefan yang selalu meradang dalam hati. Seperti biasa, ia mengunci rapat-rapat kebencian di ujung relung, dan kembali menyusuri jalan menuju sahabatnya. Sesampainya di sana, pria bertato mengerling lalu kembali mengalihkan pandangan pada televisi. Stefan mengambil tempat favorit di ujung ruangan dan segera masuk ke permainan "I'm Not a Laughing Stock". Kebetulan Stefan kembali bertemu dengan Grausam. Kali ini mereka saling berhadapan. Satu demi satu musuh-musuh pun bertumbangan, sampai akhirnya hanya menyisakan Stefan dan Grausam di arena pertempuran. Kecakapan mereka bermain cukup berimbang. Setidaknya itulah yang pendapat Stefan, tetapi Grausam berpikir sebaliknya .... "Kamu terdesak, seperti buruan-buruan Vin Madsen di arena kematian! Kamu seperti tikus yang terus bersembunyi di kubangan kotor!" Kata-katanya makin lama kian keterlaluan, membuat darah Stefan merayap naik. "Jangan membual Grausam! Kamu yang tikus, dan bukan aku!” "Hah! Kalau begitu kita tentukan siapa yang lebih baik!" Permainan tak hanya menentukan siapa pemenang dan pecundang, tetapi siapa yang layak menjadi Vin Madsen. Mereka saling mengejar, menembak, dan menggunakan strategi terbaik. Sampai akhirnya tembakannya berhasil mengakhiri permainan. "Yeah! Stefan yang layak menjadi Vin Madsen!" seru Stefan. Berambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN