"Akan kutemani!" seru Stefan, mengejutkan Liesel. "Ma-maaf, Stefan tidak bermaksud ...."
Liesel tertawa kecil. "Kalau begitu kita bertemu di gerbang seusai sekolah," ucapnya seraya beranjak. "Sampai nanti, Stefan Haza."
Bermimpi berbincang dengan Liesel pun tidak pernah, apalagi mengharapkannya. Namun, itulah kenyataan yang baru saja terjadi. Sungguh Stefan sukar memercayainya.
Selama pelajaran pikiran Stefan melayang seperti biasa. Tak lagi menjengit, melainkan semringah menanti pertemuan dengan Liesel. Tiga sisa pelajaran terasa lama bagi Stefan. Untungnya bel tanda usai sekolah akhirnya berbunyi. Stefan bergegas ke luar kelas menuju ke gerbang depan. Namun, perasaan kecewa segera bergelayut ketika Liesel tidak terlihat di sana. Seharusnya Stefan sadar, pasti banyak yang menawari bantuan pada gadis secantik Liesel. Tentu saja Stefan urutan terbawah dari sejumlah orang yang menawarinya. Dengan gontai Stefan pun berjalan, tetapi mendadak terdengar seseorang memanggilnya.
"Stefan!" Liesel berlari mengejar dengan napas terengah-engah. "Maaf, Stefan terlambat. Tadi masih ada urusan di kelas."
Teriakannya membuat mereka menjadi pusat perhatian. Wajah Stefan memuai karena malu. "Ayo, ke sini."
"A-a—"
"Ma-maaf ... Stefan malu dilihat banyak orang ...."
"Malu? Kenapa malu?" tanya Liesel bingung.
"Ka-karena—mmm ... Stefan tidak terbiasa menjadi pusat perhatian," ucap Stefan gugup sembari menunduk.
Sepasang pupil zamrud Liesel menyapu wajah Stefan sekilas sebelum akhirnya ia tertawa kecil.
"Kamu lucu ...." Kalimatnya terhenti melihat ketidaknyamanan di wajah Stefan. "Maaf, bukan lucu dalam arti buruk, tetapi ... sweet."
Wajah Stefan kembali terasa hangat.
"Ayo, Lies," tukas Stefan mengalihkan pandangan, berusaha menutupi malu.
Selama di perjalanan Liesel tak henti-hentinya bercerita. Berbagai topik tampak menarik perhatiannya.
"Sebetulnya aku anak terakhir, tetapi kedua kakakku meninggal sebelum Stefan lahir." Liesel mengalihkan pandangan pada Stefan. "Giliranmu."
"Gi-giliranku?" tanya Stefan masih merasa canggung.
Liesel memutar bola mata seraya menghela napas. "Dari tadi Stefan yang cerita, sekarang giliranmu."
Mata Stefan menatap nanar jalanan. Lengkung mata Stefan turun, serupa gerak bahunya. Perasaan sedih bercampur marah larut di dalam pikiran.
"Mmm ... kalau kamu tidak mau, ti—"
"Bukan tidak mau, tetapi tidak ada cerita menarik dari orang yang selalu menjadi bahan tertawaan," ujar Stefan menginterupsi lirih.
"Hans dan teman-temannya selalu berbuat onar." Liesel berkata sama pelan.
Stefan tidak terkejut. Seisi sekolah pasti tahu masalahnya dengan Hans. Stefan memang populer. Sayangnya bukan karena prestasi, melainkan caci-maki yang kerap menyapanya.
"Dulu aku dekat dengan mereka sampai aku tahu kalau kelakuan mereka sangat keterlaluan."
Cerita Liesel mengulas ingatan Stefan ke beberapa tahun lalu ketika sering melihatnya menyemangati Hans dan kawan-kawan dari pinggir lapangan. "Aku dulu sering melihatmu bersama mereka di lapangan olahraga."
"Tidak lagi. Aku tidak mau berteman dengan orang-orang yang selalu merendahkan orang lain," terangnya seraya menghela napas. "Oh iya, kemarin orang tua mereka datang ke sekolah. Kepala Sekolah mengingatkan mereka atas kelakuan anak-anaknya, terutama menyangkut perlakuan buruk padamu, Stef."
"Ah, iya. Ayahku yang mengadukan penganiayaan mereka." Sudut alis Stefan mengerut, mengingat kejadian getir itu.
"Astaga! Jadi benar desas-desus yang kudengar?"
Perasaan marah bercampur sedih teraduk di dalam batin. Dengan suara bergetar Stefan pun menjawab, "Aku tidak tahu persis cerita yang kamu dengar. Namun, kalau mengenai penganiayaan padaku, itu memang betul."
Stefan menghela napas sejenak kemudian kembali berujar, "Ini memang nasibku sebagai masyarakat pinggiran ...."
"Kamu jangan berkata begitu, Stefan." Suara Liesel terdengar lirih, menunjukkan empati mendalam.
"Tapi memang itulah kenyataannya, Liesel. Tidak ada yang mau berteman denganku," ucap Stefan pelan.
"Ada."
"Siapa?"
Liesel tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi yang jernih dan tersusun rapi. "Liesel Quinne Maloree."
Senyum menawan itu tak akan Stefan lupakan, apalagi kalimat yang baru saja didengar. Semua gundah dan amarah seketika tereliminasi kebahagiaan. Tidak sepenuhnya, tetapi cukup teralihkan oleh Liesel.
"Sebenarnya kamu mau ke mana, Liesel?" tanya Stefan tak canggung seperti sebelumnya.
Liesel memandangku sejenak dan membuat Stefan salah tingkah. "Maaf, bukan maksudku ikut campur urusan—"
"Hanya mengantar,"—Liesel mengambil kotak dari dalam tas—"hadiah dari Ibuku untuk temannya."
"Oh, begitu."
"Miss. Smith sahabat ibuku dan ia sangat menyukai jam tangan. Karena itulah ibu memberikan ini sebagai hadiah ulang tahunnya. Tadinya ia ingin mengantar sendiri, tetapi tadi pagi badannya menggigil," tutur Liesel.
"Miss. Smith?"
Liesel mengangguk sembari memasukkan kotak ke dalam tas. "Iya."
"Umurnya sekitar empat puluh tahun, berambut putih, hidung bengkok ke bawah?"
"Bagaimana kamu bisa tahu? Jangan-jangan dia ...."
Stefan tertawa kecil. "Kalau yang kamu maksud dia ibuku, tentu saja bukan. Ibuku asli Rumania."
"Lantas siapa? Tetanggamu?"
Stefan mengangguk. "Persis di sebelah rumahku."
"Wah, kebetulan! Kita tidak perlu mencari alamatnya!" seru Liesel semringah.
"Iya, dia kawan ibuku. Tapi jujur saja, Stefan kurang menyukainya." Stefan menghela napas. "Ia selalu menganggapku seperti angin.”
"Kalau kamu merasa tidak nyaman ikut bertamu ke Miss. Smith, kamu bisa menungguku di luar atau di rumahmu."
"Mmm ... apa setelah itu kamu masih ingin kuantar?"
"Tentu saja, kalau kamu tidak keberatan ...."
Stefan mengangguk. "Tidak masalah. Stefan senang bisa membantu."
Melihat Stefan demikian, Liesel berseri-seri. "Baru kali ini Stefan melihatmu tersenyum.”
Obrolan demi obrolan mengiringi setiap langkah mereka. Hingga tak terasa mereka telah sampai di depan kediaman Miss. Smith.
"Di sini?"
"Iya. Kalau begitu Stefan tunggu di rumah saja." Usai berkata, Stefan pun meninggalkannya masuk ke rumahnya.
Baru saja pintu rumah terbuka, ibu bergegas menghampiri. "Bagaimana sekolahmu, Nak? Apakah mereka masih mengganggu?"
Stefan menggeleng. "Sepertinya sekolah memang menanggapi pengaduan ayah dengan baik."
"Syukurlah kalau begitu, Stefan." Ibu menghela napas lega. "Lalu, kenapa kamu pulang terlambat?"
"Stefan pulang bersama teman, Bu. Kebetulan ia ada keperluan dengan tetangga kita, Miss.—"
"Permisi ...."
Terdengar suara dari pintu rumah yang masih terbuka.
"Liesel ... kamu sudah selesai?" tanyaStefan, melihatnya di depan pintu.
Liesel mengangguk kemudian tersenyum ramah pada ibu. "Saya Liesel, teman sekolah Stefan."
"Ini ibuku, Liesel."
Ibu balas tersenyum. "Ayo, silakan masuk. Harap maklum kalau rumah mereka seperti ini."
"Sebenarnya tidak bermaksud menolak tawaran Miss., tetapi saya khawatir orang tua saya cemas menunggu di rumah."
"Ah, jadi begitu. Ya sudah, tetapi lain hari jangan sungkan berkunjung ke sini." Ibu mengalihkan pandangan ke arah Stefan. "Jadi kamu mau mengantar Liesel?"
"Iya, Bu."
"Baiklah. Kalau sudah selesai lekaslah pulang."
"Hanya ini?" tanya Stefan mengeluh melihat baju-baju kumal tersebut.
Lengkung mata ibu turun seraya memandang nanar ke arah Stefan. "Setiap kali ada uang kita pergunakan untuk keperluan sehari-hari. Tidak pernah kita membeli pakaian."
"Bagaimana kalau kita meminjam pakaian Mr. Smith?" usul ayah.
Ibu menggeleng. "Apa Ayah lupa kalau Mr. Smith badannya besar sekali?!"
"Sudahlah, aku pakai yang ini saja." Stefan mengambil kemeja yang nodanya paling sedikit.
Ayah menghela napas. "Ironis. Menjahit pakaian orang, tetapi tak memiliki pakaian sendiri."
"Iya. Kalau saja ada sisa kain, aku bisa menja—" ibu tertegun sesaat sebelum bergegas ke luar kamar. "Aku baru ingat, kemarin ada kain sisa Mr. Dalmiro," tuturnya sembari membuka laci lemari di ruangan depan. "Ah, ini dia!"
Begitulah ibu. Ia memang sosok yang ramah pada siapa saja. Liesel tak henti-hentinya membicarakan keramahan ibu.
"Ibumu ramah sekali. Apakah semua orang Rumania seramah ibumu?"
Stefan pun tersenyum. "Orang Rumania sama saja dengan yang lainnya. Ada yang baik, ada juga yang tidak."
"Berarti Stefan beruntung kenal dengan orang Rumania seperti kalian."
Sanjungan Liesel kembali membuat wajah Stefan tersipu. Baru kali ini ada orang lain yang memujinya nyaris tiada henti. Itulah yang membuat hari itu menjadi hari terindah semenjak Stefan berada di New York. Liesel benar-benar memberi kebahagiaan yang menyelimuti hatiku. Sayang, tak lama lagi mereka harus berpisah di persimpangan jalan.
"Kamu yakin sudah tahu jalan pulang dari sini?" tanya Stefan.
"Tadinya ayah mau menemaniku, tetapi mendadak ia harus ke California selama seminggu. Kalau lusa kamu ada waktu dan mau menemaniku." Liesel berkata sambil menunjukkan dua lembar tiket menonton.
"Tentu! Tentu saja!" jawab Stefan setengah berteriak, memantik tawa Liesel.
"Sampai besok di sekolah, Stefan Haza!" Liesel melambaikan tangan sembari berjalan menjauh.
Stefan berdiri mematung sembari memandang gadis berambut pirang tersebut, hingga menghilang di belokan. Ini memang hari yang sempurna. Hari terbaik seumur hidupnya. Ia berharap hari abnormal ini akan terus berlanjut ....
"Sampai bertemu besok di sekolah, Liesel Quinne Maloree ...."
***
Keesokan harinya suasana abnormal masih berlanjut. Koridor tetap gaduh seperti biasa, tetapi tidak ada cemoohan yang mengiringi langkah Stefan. Begitu pula di dalam kelas masih sama seperti kemarin. Suasana abnormal yang Stefan harap akan menjadi sesuatu yang normal baginya. Namun, membiasakan diri agar terasa normal masih sulit ia cerna. Apalagi mata siswa laki-laki menyorot tajam kala Stefan dan Liesel berjalan bersama sepulang sekolah.
Di dalam perjalanan, perasaan tak nyaman dan malu berkecamuk. Keduanya menyurutkan semangat Stefan. Membuat hari-hari abnormal terusik.
"Kenapa, Stefan? Ada yang mengganggu pikiranmu?"
"Tatapan mereka seperti tidak senang ketika kita sedang bersama ...."
Keceriaan Liesel memudar kala mendengar kata-kata itu. "Lalu, sekarang kamu jadi enggan bersa—"
"Bu-bukan begitu maksudku. Aku senang bersamamu, tetapi aku tidak terbiasa dengan mereka," sergah Liesel gugup, merasa tidak enak hati.
Liesel menoleh dengan senyum mengembang. "Aku tahu."
"Maksudmu?"
"Iya, aku tahu kamu senang kalau kita jalan bersama seperti ini. Tadi aku hanya bergurau," jawab Liesel seraya tertawa kecil. "Tidak usah pedulikan mereka. Percuma, hanya akan membuat kesal saja. Oh iya, aku sudah beli baju baru untuk besok."
"Kenapa harus baju baru?" tanya Stefan heran.
"Karena aku ingin tampil sempurna pada kencan pertama kita."
"Ke-kencan?" tanya Stefan terkejut sekaligus tak percaya.
"Iya, bagiku besok adalah kencan kita," ucapnya tersenyum. "Kalau menurutmu?"
Liesel mendekatkan wajahnya ke wajah Stefan—sampai berjarak kurang dari lima sentimeter. Stefan tidak tahu semerah apa wajahnya sekarang. Namun, sudah pasti darah hangat merayap ke wajah.
"A-aku juga." Stefan berusaha berkata selirih mungkin, setengah berharap Liesel tak mendengarnya. Namun, ternyata belum cukup pelan bagi Liesel yang berseri-seri mendengar jawaban itu.
"Kita sudah sampai," ujar Liesel ketika kami tiba di persimpangan jalan. "Sampai besok di kencan pertama kita, Stefan Haza-ku!"Stefan berdiri termangu melihatnya pergi. Rasa tak percaya masih menyergapnya, mendengar satu kata yang ia pikir muskil terjadi: kencan. Sesuatu yang tak pernah melintas di dalam benak; satu hal yang ia pikir tidak akan menyapa dalam hidupnya. Namun, itulah yang baru saja didengar dan terus menggaung tatkala Stefan sudah berada di rumah.
Stefan sudah mencubit pipi dan membasuh wajah berulang kali, tetapi nalar masih sulit menerima realita ini. Butuh beberapa jam untuk menyadari "kencan" bukan sekadar ilusi. Di kala kesadaran menyeruak, Stefan dan kedua orang tuanya menjadi kebat-kebit. Baju-baju berserakan di atas ranjang. Sebagian milik Stefan dan yang lain punya ayah. Jumlahnya pun tidak banyak, hanya beberapa kaus dan kemeja. Di antaranya ada yang sudah berlubang, ada pula yang bernoda.