37

1673 Kata
"I'm Not a Laughing Stock" membawa Stefan melewati jam demi jam, hingga tak terasa sekarang telah menunjukkan pukul tiga pagi. Dunia maya memang tak mengenal waktu. Permainan pun tetap ramai dengan pemain-pemain dari berbagai belahan dunia. Di antara mereka ada yang menarik perhatian Stefan. Menilik dari namanya di permainan, Stefan bisa memastikan kalau ia berasal dari Jerman. Dia bernama Grausam. Ia sangat mahir bermain, seakan-akan senjata api benar-benar berada di tangannya. Bagi Grausam, musuh-musuh bagaikan buruan dalam sangkar. Beruntung, Stefan berada satu tim dengannya. Selain itu ada satu lagi yang menarik perhatiannya .... "Wuhu! Vin Madsen akan menghancurkan kalian!" seru Grausam yang terdengar dari headset-ku. "Berhenti menyebut pembunuh massal itu, atau kamu memang sama gilanya?!" teriak pemain lain. "Dia legenda, Kawan! Rambo di dunia nyata! Tak ada yang sanggup menandinginya!" Grausam menimpali. "Kamu memang psikopat!" "Aku penentang bullying, sama seperti Vin Madsen! Jika kamu mengatakan aku gila, berarti kamu mendukung tindakan pengecut itu!" Adu mulut memang acap terjadi di dalam permainan. Namun, bukan itu yang menarik, melainkan nama yang Grausam sebut. Ketertarikan Stefan pada Vin Madsen melebihi keseruan bermain. Stefan segera keluar dari permainan dan berselancar mencari sosok yang Grausam idolai. Tidak sulit mencari informasi tentang Vin Madsen. Ada ratusan alamat jejaring yang muncul. Stefan pun masuk ke salah satu alamat yang tampil di layar. Mata Stefan menyapu setiap baris artikel tentang Vin Madsen. Cerita sang pembunuh massal membuatnya larut—seperti sedang menyaksikannya secara langsung. Kisah yang ia alami sedikit mirip dengan Stefan. Namun, orang-orang mengolok-olok karena menganggap fisiknya buruk. Sedangkan status sosial dan etnis bukan masalah bagi Vin Madsen. Itulah perbedaan di antara mereka. Sekelumit keinginan untuk mengikuti jejaknya pun menyelusup, tetapi kenyataan segera menepisnya. Stefan tidak mungkin seperti Vin Madsen. Keadaan mereka berbeda. Stefan tak memiliki keberanian serta kesanggupan seperti yang ia miliki. Meskipun tidak sama, kisah Lars seperti candu yang tak bisa dihentikan. Laman demi laman telah habis ia baca, sampai pada akhirnya notifikasi batas waktu sewa muncul. Stefan melirik pada penjaga rental, berharap ia tak menyadari waktunya yang telah usai. Beruntung, penjaga rental sedang terlelap di kursinya. Kadang-kadang penjaga rental memang seperti itu, tertidur dengan televisi yang masih menyala. Kalau sudah begitu Stefan mendapatkan tambahan waktu cuma-cuma—apalagi sistem pengamanan komputer cukup longgar. Kesempatan ini tidak Stefan sia-siakan, lalu kembali menelusuri salah satu sumber lain. Sumber tersebut menerangkan kejadian pembunuhan massal sejak awal. Pengakuan Vin Madsen di dalam ruang persidangan, juga keterangan para saksi mata, menjelaskannya secara rinci. Pembantaian Vin Madsen, memakan korban tidak kurang dari 85 orang. Lars menembak secara acak dan membabi buta. Ada 77 orang yang tewas, sementara sisanya mengalami luka serius. Kala mata Stefan menyisir kalimat demi kalimat, gairah pun mendesir, kemudian merambat melalui aliran darah yang memompa jantungnya berdegup kencang. Stefan belum pernah merasakan energi yang bergolak seperti ini. Sensasi yang benar-benar tiada bandingannya. Saat melanjutkan membaca, sekonyong-konyong Stefan mendengar suara penjaga rental menguap. Stefan pun segera mematikan komputer lantas berpura-pura tertidur. Tak lama setelahnya terdengar suara langkah mendekat. "Anak ini sering sekali tertidur," gumam penjaga rental, yang sudah berada di belakang Stefan. "Bangun." Mata Stefan mengerjap perlahan lalu menoleh ke belakang. "Ya?" "Waktumu sudah habis." "Ah, ma-maaf ...." Buru-buru Stefan keluar dari sana, kembali menyusuri jalan. Langkahnya gamang, terpengaruh pikiran bimbang yang menyeruak. Menimbang antara terlunta-lunta tanpa tujuan, atau harus kembali ke rumah. Jika kembali ke rumah, sudah pasti orang tua Stefan akan memaksa bersekolah. Di lain sisi Stefan sudah tidak memegang selembar Euro pun. Sekarang sudah pukul setengah lima pagi. Mungkin ayah dan ibu masih menunggu Stefan. Wajah cemas mereka melintas, mengaduk-aduk pikiran dan hati Stefan. Akhirnya ia putuskan kembali ke rumah. Ketika melintasi lapangan olahraga, ia melihat beberapa orang sedang bermain sepakbola. Tebersit kekhawatiran kalau mereka adalah Hans dan teman-temannya. Stefan pun berbalik arah, tetapi tiba-tiba ada suara orang berteriak. "Itu Mr. Spock!" Ternyata dugaan Stefan benar. Tidak ada orang lain selain mereka yang memanggilnya dengan julukan itu. Stefan pun mempercepat langkah. Namun, terlambat. Hans, Yohn, Zohan, serta Vier telah menghadang dari depan dan belakang. Walaupun hanya berempat, sudah cukup menciutkan nyali Stefan. "Kebetulan kita bertemu di sini. Kenapa terburu-buru Mr. Spock?" Hans menyeringai miring. Matanya menyala-nyala menatap Stefan. "A-a ...." Bibir bawah Stefan bergetar. Suara Stefan tertahan oleh rasa takut yang menyergap. Kemarahan yang tadi sempat muncul, kini tenggelam karena keresahan yang menyeruak. Inilah yang ia khawatirkan. Mereka pasti masih tidak dapat menerima kejadian di koridor. Tiba-tiba Yohn mencengkeram baju Stefan. "Ayo, kita selesaikan urusan kita." Mereka beramai-ramai menyeret Stefan ke balik pepohonan di samping lapangan. "Di mana keberanianmu tadi?" Yohn menghempaskan Stefan ke tanah. "Yohn, dia hanya pandai membual." Hans berkata sinis. "Stefan paling benci pembual." Tubuh Stefan gemetaran kala melihat mereka mengelilinginya. "Ja-ja-jangan mendekat, atau aku akan berte—" Tiba-tiba tinju Zohan menghunjam d**a Stefan. Belum sempat Stefan menjerit, ia sudah duduk di atas lalu menyumpal mulutnya dengan bajunya. "Menjeritlah dalam hati!" Berikutnya mereka menghujani Stefan dengan pukulan dan tendangan. Stefan hanya bisa meringkuk merasakan penganiayaan mereka yang datang bertubi-tubi. Seluruh tubuhnya terasa remuk, tetapi hatinya hancur karena kebiadaban mereka. Selama berada di negeri baru itu, inilah pertama kalinya Stefan mengalami penganiayaan. Sebelumnya tidak lebih dari sekadar mengolok-olok. Penghinaan ini mengoyak harga diri, sampai-sampai kebenciannya tak lagi bisa diungkapkan. Andai saja Stefan memiliki keberanian seperti Vin Madsen sudah tentu akan membalas perlakuan itu; jika Stefan mempunyai Euro sebanyak Vin Madsen, ia pastikan peluru tajam bersarang di kepala mereka. Cukup lama Stefan menjadi bulan-bulanan tanpa bisa membalas sedikit pun. Sampai akhirnya mereka berhenti. "Kurasa sudah cukup," ujar Hans, "Mr. Spock, ini sebagai peringatan dari kami!" "Jangan pernah berani melawan, atau kamu akan mengalami yang lebih buruk dari ini!" Vier menimpali. Keempatnya pergi meninggalkan Stefan yang meringkuk di tanah, merasakan seluruh tubuh yang seperti tertusuk-tusuk. Stefan membuka sumbatan di mulut sembari berdiri menahan sakit. Kemudian berjalan tergopoh-gopoh menuju rumah. Sesampainya di rumah, orang tua Stefan terkejut melihat keadaannya yang berdarah-darah. Ibu dan ayah segera memeluk sambil menangis. "Siapa yang memukulimu sampai seperti ini?" Air mata ibu mengucur membasahi pundak Stefan. "Sebaiknya segera ganti pakaian Stefan dan obati lukanya." Ayah berujar dari kerongkongannya yang tersekat. Ibu mengganti pakaian kemudian mengobati luka-luka di sekujur tubuh Stefan. "Jangan sembunyikan masalah sekecil apa pun. Mereka orang tuamu, Stefan." "Ceritakan kepada mereka, Nak," timpal ayah, membantu mengoleskan obat di punggung Stefan. "Kalian tidak mungkin dapat berbuat apa-apa pada Hans dan kawan-kawan," ucap Stefan, melepaskan pelukan mereka lantas masuk ke dalam kamar. Stefan menghempaskan tubuh ke atas ranjang dan memeluk guling erat-erat. Sayup-sayup percakapan ayah dan ibu terdengar dari dinding kamar. "Ayah, lebih baik Stefan kita pindahkan sekolah. Jangan sampai kejadian ini terulang." "Tidak mungkin. Stefan sebentar lagi lulus." "Benar, tapi kita tak bisa berpangku tangan." "Bagaimana kalau Stefan temui pihak sekolah dan melaporkan kejadian ini?" "Dulu kita pernah mengadu ketika Stefan diolok-olok, kan?! Tapi bukannya membaik, malah makin buruk. Tidak ada yang mau menanggapi keluhan orang miskin seperti kita." "Mungkin kalau sudah terjadi penganiayaan seperti ini, mereka mau bertindak." "Ya sudah coba saja. Kapan Ayah menemui pihak sekolah?" "Nanti siang Stefan akan ke sana." "Stefan harus ikut supaya mereka percaya." "Jangan. Biarkan Stefan beristirahat di rumah selama beberapa hari. Tadi Stefan sudah mengambil gambarnya dari ponselku. Cukup itu saja yang dijadikan bukti." "Ya sudah kalau begitu." Perhatian ayah dan ibu kian membuat hati Stefan merintih. Stefan tidak ingin mereka khawatir seperti ini. Apakah sulit bagi mereka untuk memiliki kehidupan normal layaknya orang lain? Dapatkah Stefan memiliki memori indah seperti anak-anak seusianya? Mereka telah merenggut semua itu dariku; Hans dan kawan-kawan merampas hak-hakku. Mereka pikir kebiadaban mereka hanyalah senda gurau belaka; mereka menganggap merendahkan orang lain, sekadar penegasan superioritas di kelas sosial. Kalau demikian, kupastikan semuanya belum usai! Bagiku ini baru awal! Kelak semua rasa pedih ini akan kubalas! Bukan sekali, tetapi berkali-kali lipat! Mayat-mayat kalian akan teronggok di kantung sampah! Berserakan bersama benda-benda kotor lainnya! Tunggu saatnya tiba! Kalian akan mendapat teror terus menerus! Kalian nanti berlari tiada jeda! Kalian akan ketStefantan tanpa henti! Kalian akan melunak seperti keju yang dibakar! batin Stefan, marah. *** Sejak kejadian itu Stefan meringkuk merasakan hawa dingin mencengkeram, menyisir setiap jengkal kulit yang memar lalu menyelusup dan mengikir tiap-tiap ruas tulangnya; gigi-gigi bergemeretak, pun otot rahang mengejang, berusaha melawan hawa yang menusuk-nusuk seluruh tubuh. Demam tinggi memang menyiksa raga, tetapi tak sebanding dengan memori buruk yang mengarut batinnya. Rasa sakit itu berlangsung selama empat hari, meski lama kelamaan dampaknya mulai berkurang. Apalagi ayah membawa kabar kalau pihak sekolah menanggapi pengaduan mereka dengan baik. Mereka mengatakan akan menyelesaikan permasalahan ini hingga tuntas dan menjamin keselamatan Stefan. Tentu saja Stefan tak percaya sepenuhnya—mengingat ketika di koridor Hans terbebas dari hukuman. Namun, setidaknya mampu memberi sedikit ketentraman. Dengan hasil itu pula Stefan tidak memiliki alasan untuk menolak keinginan ayah dan ibu, sehingga pada hari kelima Stefan pun kembali bersekolah. Keadaan di sekolah tampak normal. Bukan normal seperti yang biasa Stefan dapatkan, melainkan normal menurut ukuran orang lain. Tak ada lagi olok-olok di koridor, juga gelak tawa yang mencabik-cabik perasaan. Begitu pula di dalam kelas, semuanya terasa damai. Stefan dapat lebih fokus mencerna setiap pelajaran yang berlangsung. Sampai tiba jam istirahat, hampir seluruh siswa bergegas ke luar kelas. Kecuali Stefan yang masih berada di dalam. Saat sedang menyantap bekal dari rumah, sesuatu yang abnormal terjadi. Seseorang datang menghampiri. Bukan sembarang orang, tetapi Liesel. Gadis berambut pirang itu duduk di sebelah meja. Senyum manis terulas di wajahnya yang jernih. Jantung Stefan berdegup kencang, memacu darah hangat merayap ke wajah. Buru-buru Stefan palingkan wajah menghadap jendela, berharap rona merah tak terlihat olehnya. "Stefan?" Suara lembutnya mendesir pelan di telinga. Terlalu lembut, sampai-sampai Stefan tak percaya. "Kamu Stefan Haza, kan?" tanyanya lagi, menyadarkan Stefan kalau itu bukan mimpi. Stefan pun menoleh, lantas menjawabnya dengan terbata-bata. "I-iya." "Aku dengar kamu tinggal di daerah St. James Street?" Stefan menjawab pertanyaannya dengan anggukkan canggung. "Bolehkah aku meminta bantuanmu?" Stefan tertegun tak menjawab. Bukan karena tidak mau, tetapi rasa malu membuat lidahnya membeku. "Tidak apa-apa kalau kamu keberatan," ucap Liesel kecewa. "A-apa yang bisa kubantu?" tanya Stefan merasa tidak enak hati. Sudut bibir Liesel terangkat. "Ibu memintaku untuk mengantarkan barang ke temannya, tetapi aku tidak hafal jalanan di sana. Jadi aku ma—" Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN