36

1688 Kata
"Gol!" "Kamu hebat, Hans!" "Vier sampai terpaku, tak sempat menangkap!" Suara di lapangan makin gaduh. Gelak tawa dan seruan riang pun terdengar. Termasuk dari bangku penonton, yang salah satu di antaranya adalah alasan keberadaan Stefan di sini. Stefan tidak kenal dia, tetapi sering mendengar orang-orang memanggilnya "Liesel". Entah apa nama panjangnya. Seorang gadis lima belas tahun—seusia Stefan. Wajahnya oval dan agak bulat. Memiliki sepasang netra yang lebar dengan pupil zamrud. Hidungnya mancung dan pipih, berpadu serasi dengan bibir tipis yang merah segar. Rambutnya berwarna pirang, lurus, dan tergerai sampai punggung. Tubuhnya proporsional, dengan tinggi rata-rata. Stefan tidak tahu apa itu "cantik". Mungkin ketika pandangan enggan beralih dan darah hangat merayap naik ke wajah merupakan pertanda mengagumi kecantikan. Persis seperti yang kualami sekarang. Sedetik. Hanya sedetik pandangan mereka bertemu, tetapi cukup membuat Stefan membeku. Tidak lama, karena Stefan mendengar suara ramai mendadak senyap. Ia mengalihkan pandangan pada anak-anak yang tadi bermain bola. Namun, mereka berhenti, hanya untuk berbisik-bisik sambil melihat Stefan, lalu tertawa terbahak-bahak. Darah hangat yang tadi naik ke wajah, seketika berubah menjadi panas. Perasaan sakit dan malu berkecamuk. Stefan mencoba tak menggubris mereka. Toh, mereka bukan sahabatku. Stefan memalingkan wajah, sembari meninggalkan mereka, kembali berjalan menuju sahabatku. Jaraknya sudah tidak jauh. Setelah berjalan dua ratus meter, Stefan berbelok ke kiri, lalu berhenti tepat di depan suatu tempat. Ketika sudah berada di dalam, seseorang melirik ke arah Stefan. Ia adalah laki-laki berbadan besar, dan tinggi. Rambutnya cokelat sepundak. Pada kedua daun telinganya, menggantung anting-anting berukiran tengkorak. Wajahnya lonjong dengan rahang kukuh. Tato bergambar tengkorak memenuhi kedua lengannya. Penampilannya seperti anggota geng motor. "Di mana yang kosong?" tanya Stefan, dengan bahasa Inggris beraksen Rumania yang kental. Bibir laki-laki itu tetap tertutup. Gerakan pupilnya yang memberi jawaban. Stefan pun menuju ke tempat pupilnya mengarah, kemudian berhenti, menarik kursi, dan duduk menghadap sahabatnya. Komputer inilah yang ia maksud. Ia tidak pernah melirik sinis, berbisik-bisik, maupun menertawakan Stefan. Ia selalu betah bercengkerama dengan caranya: mengajak menjelajahi dunia maya. Di sana Stefan berselancar mencari informasi yang disuka. Tempat pariwisata, atau berita olahraga? Bukan. Namun, hal-hal yang terkait dengan senjata api—dari laras pendek, maupun panjang. Selain itu, ia juga membawStefan ke medan pertempuran di dalam permainan. "I'm Not a Laughing Stock" adalah nama permainan yang mampu membuat Stefan terpStefan berjam-jam di tempat duduk. Permainan tembak menembak secara solo atau berkelompok. Permainan lintas batas dan wilayah. Di permainan itu Stefan bebas bernapas. Menguarkan pikiran yang terbelenggu; meluapkan amarah yang terpenjara di dalam d**a. Itulah kesenangan sejatinya. Ketika memegang senjata laras panjang yang melesatkan timah panas, juga melihat percikan darah dari buruan-buruannya. Sensasi yang memantik adrenalin serta membuat darahnya bergolak. Di sanalah Stefan dapat menuntaskan musuh-musuh. Satu per satu. Seorang demi seorang. Tak terbatas; tiada jeda; tanpa henti. *** Tahun 2018, merupakan tahun terakhir Stefan di Northwest High School. Suatu sekolah yang berisi siswa dari berbagai status sosial. Latar belakang itulah yang menjadi salah satu sebab kegeruhan selalu mengiringinya. Alasan lain, lantaran Stefan berbeda dari mereka. Kulit dan atribut wajah mereka memang serupa, tetapi aksen Rumania membawa kemalangan. Lantai selalu menemani pandangannya ketika berjalan di sekolah. Itulah cara terbaik menutupi rona merah antara malu dan marah. Satu reaksi akibat olok-olok yang membuat telinga panas dan jantung menjengit-jengit. Seperti sekarang, saat Stefan berjalan di koridor sekolah. Celetukan, bisik-bisik, bahkan teriakan, mengiringi setiap langkahnya. Di antara yang paling keterlaluan adalah Hans, Zohan, Yohn, Vier, Uwe, Penrod, dan Kenan. Mereka geng paling menakutkan di sekolah. "Lihat, Mr. Spock datang!" "Menurutku lebih cocok memanggilnya Klingon!" "Hans, dia makin menunduk! Wajahnya tenggelam!" "Ah, Stefan baru tahu kalau dia memiliki wajah!" Celetukan Hans dan teman-temannya seperti pisau yang mengiris-iris gendang telinga Stefan. Apalagi mereka menghina di depan Liesel. Tentu saja rasa malu Stefan makin berlipat. Stefan mempercepat langkah. Namun, suara gelak tawa yang menggema, tetap mengiringinya di koridor. Syukurlah, akhirnya Stefan sampai di kelas sehingga tidak harus mendengarkan cemoohan mereka. Stefan pun segera duduk di baris kiri paling belakang. Ketika menunggu Mr. Henry datang, bayangan mereka mengolok-olok pun menyeruak. Sungguh, Stefan tidak habis pikir apa yang salah dengan aksen Rumania-nya?! Bukankah tidak penting aksen seseorang selama ia bisa berkomunikasi?! Apalagi menghina keadaan Stefan yang miskin. Inikah masyarakat yang mengaku beradab?! Inikah masyarakat yang mengaku pionir kemanusiaan?! Kalau memang begitu, lebih baik menjadi biadab daripada munafik! d**a Stefan terasa sesak karena murka yang memuai; giginya bergemeretak menahan caci maki yang mencoba memberontak. Andai saja Stefan mampu membalas; seumpama bisa meluapkan segala amarah. Dapat dipastikan mereka mendapat ganjaran puluhan kali lipat. Tiba-tiba nalar melintas, mengembalikan pada kenyataan yang Stefan hadapi. Stefan sadar, kalau ia hanyalah laki-laki lemah yang tak mampu berbuat apa-apa. Ketidakberdayaan dan kepengecutan memang takdirnya. Ironis, nama Stefan yang berarti "mahkota pemenang" menjadi hiasan tak bermakna. Rasanya ia tak pantas kusandang selama ini. Kala berbagai pikiran dan perasaan bercampur, mendadak suara bariton menghenyakkannya. "Stefan! Stefan!" Sontak Stefan pun menoleh. Mr. Henry memandangnya bersungut-sungut. Sosok yang biasanya ramah itu tampak sangat menakutkan. "I-iya, Mr. Henry," jawab Stefan gugup. "Selalu saja melamun pada jam pelajaran!" bentak Mr. Henry. Stefan menunduk, tidak berani melihat wajahnya yang merah pekat. "Ma-maaf ...." "Cepat ke depan! Kerjakan soal itu!" Mr. Henry melempar pandangan ke papan tulis. Buru-buru Stefan mengikuti perintahnya. Namun, ketika sudah berada di depan, Stefan mematung melihat soal di papan tulis. Bagaimana mungkin Stefan dapat menjawab jika selama pelajaran pikirannya tidak berada di tempat?! "Tidak bisa?" Mr. Henry kian meradang. "Kenapa diam?" Bukan tidak mau menjawab, tetapi ketakutan mengunci mulutku rapat-rapat. Akibatnya sudah bisa terbayang .... "Kalau seperti ini terus, jangan harap kamu bisa lulus! Semua Guru membicarakan nilaimu yang buruk. Mereka semua mengeluhkan sikapmu di kelas!" Mr. Henry menghabiskan waktu pelajaran hanya untuk memarahinya. Memang hanya sepuluh menit, tetapi terasa berjam-jam. Usai menuntaskan kemarahannya, ia menyuruh Stefan kembali ke tempat duduk. Lega. Demikianlah perasaan Stefan ketika sudah kembali ke bangku. Namun, hanya sebentar karena beberapa anak melirik sambil tertawa-tawa. Perasaan Stefan kembali tergores, tetapi masih lebih baik ketimbang penghinaan di koridor. Banyak yang bilang jika sudah sering maka tidak akan ambil pusing. Mungkin begitu untuk sebagian orang, tetapi tidak dengan Stefan. Sejak Stefan tinggal di New York perlakuan seperti ini hampir setiap hari terjadi—kecuali hari libur kalau Stefan memilih berdiam diri di rumah. Alih-alih terbiasa, kekesalan yang menumpuk membuatnya makin muak. Stefan pernah menceritakan hal ini pada kedua orang tuanya. Mereka pun menunjukkan reaksi marah, tetapi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada sekat sosial yang tertulis di zaman sekarang, tetapi faktanya sekat tersebut masih nyata di masyarakat. Itulah yang membuat orang tua Stefan tak sanggup membantu. Karena mereka hanyalah kelas terendah dalam strata sosial. Membahas ini memang tidak akan pernah habis. Nasib nahas mungkin sudah menjadi garis hidupnya. Tidak terasa jam sekolah telah usai. Saat Stefan bangkit dari kursi, terdengar suara kain robek. Stefan pun menoleh ke bawah dan melihat sebagian kain menempel di kursi—terpisah dari celana. Sedetik kemudian suara gelak tawa terdengar dari beberapa anak di dalam kelas. Mereka adalah orang yang sama ketika Stefan baru saja duduk usai Mr. Henry memarahi. Daripada darahnya makin mendidih, lebih baik Stefan segera meninggalkan mereka. Begitulah pikir Stefan. Ia menutupi bagian yang sobek dengan tas, lantas buru-buru keluar dari dalam kelas. Di koridor, kejadian tadi pagi kembali terulang. Kelompok Hans sudah menunggu di ujung lorong. Mereka berteriak dan terus mengejek. Seperti biasa Stefan mempercepat langkah, berusaha menekan emosi sebisa mungkin. Namun, sikap diamnya justru membuat mereka kian menjadi-jadi. "Hei, kenapa Mr. Spock menutupi pantatnya?" "Kurasa karena berjamur!" "Ah, keluarganya memang sangat miskin, sampai-sampai tidak mampu beli sabun!" "Terang saja, karena ayahnya sopir taksi!" "Lalu ibunya?" "Tentu saja p*****r!" "p*****r impor murahan!" Penghinaan kali ini membuat Stefan tak bisa menahan amarah. Ia membanting tas ke lantai. "Tutup mulut kalian! Kalian pikir Stefan akan diam saja mendengar kalian menghina orang tuStefan?!" hardik Stefan, menatap tajam pada mereka. "Lalu, apa yang akan kamu lStefankan?" Hans menantang, seraya menunjukkan setengah-seringai. Tanpa berkata-kata Stefan menghambur ke depan, tetapi tiba-tiba temannya mencengkeram dari belakang lalu menarikku hingga terjengkang ke lantai. Stefan mengernyit merasakan sakit di tulang ekor. Keributan itu mengundang orang-orang berdatangan. Salah satunya adalah Miss. Alarice yang menyeruak di antara kerumunan. "Oh, Tuhan!" pekiknya, menghampiri Stefan. "Kamu tidak apa-apa?" Kesempatan tersebut Stefan gunakan untuk mengadu. Namun, reaksi Miss. Alarice tak seperti harapannya. "Kalian cepat pulang!" bentaknya, membubarkan kerumunan orang di sana. "Kamu dan teman-temanmu lekas ke luar, Hans!" Hans mengangguk, tetapi sebelum berlalu ia mengerling dan tersenyum tipis. Miss. Alarice kembali memandang Stefan. "Bagaimana keada—" Stefan menepis tangannya kala hendak memeriksa tubuhnya. "Hanya itu? Hanya itu yang Miss. lakukan setelah perbuatan mereka padku?" Stefan bangkit, lalu memungut tas dari lantai. "Dunia memang tidak adil." Kemudian berlari secepat kakiku mengayun. Rasa sakit di tubuhku tidak sebanding dengan luka yang menganga di dalam hati. Perih dan pedihnya tak dapat terlukiskan. "Kalian pikir semua telah usai, jangan harap. Akan kubalas. Suatu saat aku akan menjadi sosok yang berbeda. Aku tidak akan lagi menjadi Stefan," gumam Stefan, geram sembari berlari. Berulang kali ia sebut kalimat itu dalam perjalanan pulang. Setibanya di rumah ibu terkejut melihat keadaan Stefan yang berantakan. "Stefan! Kenapa ka—" "Tak usah bertanya. Ibu juga tidak dapat berbuat apa-apa." Stefan bergegas ke dalam kamar, mengganti pakaian, lalu keluar. "Stefan, apa kamu berkela—" "Malam ini aku tidak pulang. Tidak perlu mencariku," sergah Stefan, mengambil uang belanja yang tergeletak di atas meja kemudian bergegas ke luar rumah. "Stefan! Stefan! Tunggu Stefan! Jangan pergi!" Suara ibu kian memudar kala Stefan berlari makin jauh. Jarak satu kilo yang biasanya terasa lama, kali ini bagaikan semenit. Akhirnya Stefan pun tiba di tempat tujuan. Di tempat sahabatnya. "Aku pakai selama empat jam," tukasnya, lalu mengambil tempat kosong di ujung ruangan. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard. Mengakses laman permainan "I'm Not a Laughing Stock". Dengan gesit jari jemari berkolaborasi, menekan-nekan keyboard dan mouse secara serentak. Satu demi satu musuh-musuh virtual dihabisi. Meluapkan segala murka yang selama ini terkekang. Wajah Hans dan teman-temannya membayangi layar komputer, menyebabkan darah panas merayap naik. Mata Stefan menyorot tajam; otot-otot rahang mengejang; giginya bergemeretak hebat. Kebenciannya kian membuncah. Kegeruhan hari ini tak bisa kulupakan, sampai kapan pun .... “Kelak akan kuhabisi kalian, satu per-satu. Dan kubuang kalian ke dalam kubangan kotoran! Lihat saja, saat itu akan tiba!” Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN