Sementara itu di kediaman Nathaniel. Mindy yang semalaman melewatkannya bersama Nathaniel, baru saja terbangun. Ia menoleh dan melihat atasannya tersebut masih terlelap. Ia pun menghela napas. Selama beberapa saat ia tercenung, memikirkan kekasihnya. Entah kenapa, kali ini perasaannya tak keruan. Padahal sebelumnya Rob pernah mendapatkan tugas yang jauh lebih berbahaya.
“Kenapa kamu diam seperti itu, Mindy?”
Mindy tersentak, lalu menoleh dan melihat Nathaniel baru saja terbangun. Ia pun menggeleng, menjawab pertanyaan Nathaniel.
Nathaniel tersenyum. “Kamu pasti memikirkan Rob. Tenang saja, tugas yang kuberikan adalah tugas yang mudah.”
Mindy mengangguk kecil seraya menunduk. Namun, tiba-tiba Nathaniel memeluknya dari belakang, lantas menidurkannya di ranjang. Tanpa menunggu kesiapan Mindy, Nathaniel segera melucuti lingerie-nya.
“Aku masih merasa belum cukup ssemalam,” tukas Nathaniel seraya menyelisik tubuh polos Mindy.
Nathaniel memandang lekat-lekat wajah Mindy. “Kamu lebih cantik tanpa perias wajah. Apalagi—”
Nathaniel tidak meneruskan kalimatnya seraya matanya menyusuri setiap jengkal tubuh putih mulus dan menggairahkan di hadapannya. Matanya terkesiap melihat tubuh Mindy yang sempurna dan tanpa kekurangan. Wajah cantik, leher jenjang, perut dan pinggang ramping, p****t padat berisi, serta sepasang d**a besar, padat, dan bulat.
“Kamu memiliki tubuh sempurna di antara semua perempuan yang pernah tidur bersamaku, Mind,” ujar Nathaniel melanjutkan kata-kata yang terhenti, sembari mendekatkan wajahku ke telinganya “Tapi sebentar lagi tubuh menggairahkanmu akan segera kunikmati sekali lagi.”
Perlahan ia sentuhkan ujung lidahnya pada leher Mindy yang jenjang, kemudian merayap turun menyusuri kulit mulus lehernya. Berkali-kali Mindy bergelinjang, merasakan sentuhan yang diberikan oleh Nathaniel. Pikiran akan sang kekasih pun teralihkan lantaran hasratnya yang tengah membubung. Gelinjangan tubuh Mindy memancing tangan Nathaniel untuk segera mencumbunya.
Natahaniel meremas-remas d**a kiri yang bak gunung gelatin, hingga membuatnya bergerak-gerak lembut di dalam genggaman Nathaniel. Sesekali ia menyelingi dengan mengusap, mencubit, memilin, dan mengurut-urut lembut ujung d**a Mindy. Sementara tangan Nathaniel bergerak nakal, lidahnya merayap turun sambil menari melewati pundak elok, d**a menawan, dan akhirnya tiba pada kontur menanjak yang menghantarkan pada hamparan d**a kanan yang Mindy. Inchi demi inchi lidahnya menjelajah dengan sentuhan mengusap yang membuai sang pemilik. Ia menjulurkan lidah, menyentuh ujung d**a Mindy, lalu pelan-pelan bergerak nakal—menari, menghisap, mengulum, serta mengigit kecil.
“Mmm, Sir ….” desah Mindy dengan suara lirih.
Antara desahan dan tubuhnya selaras. Di saat ia mendesah, tubuhnya makin terbuai hasrat, dadanya turun naik dengan cepat, seakan meminta dicumbu tanpa henti. Jelas sudah tubuhnya mulai mencandu. Nathaniel tahu, sebentar lagi sesi yang lebi panas akan berlangsung.
Nathaniel menarik tangan dari d**a Mindy dan meletakkan di antara kedua paha Mindy. Sedetik kemudian, tangannya mengusap-usap dengan lembut. Berulang kali, dan semakin cepat ia mencumbu milik Mindy dengan tangan dan jemarinya, sampai akhirnya terdengar desahan Mindy yang makin jelas.
Nathaniel menurunkan kepala hingga wajahnya berada di hadapan milik Mindy, lalu menjulurkan lidahnya dan bergerak nakal. Di saat bersamaan, tangannya yang lain meremas d**a dan mencubit, serta memilin ujung d**a Mindy. Semakin lama cumbuan Nathaniel, semakin liar dan semakin cepat, menyebabkan tubuh Mindy bergelinjang, napasnya memburu, dadanya naik turun, serta desah napasnya terdengar jelas. Namun Nathaniel ingin menguji hasrat Mindy, lalu mrnghentikan semua cumbuanku sesaat. Mindy bergeming, matanya menatap Nathaniel dengan tatapan memohon
“Jangan berhenti.” pintanya lirih, sekaligus mengisyaratkan Mindy telah menyerahkan kendali tubuh dan pikirannya pada hasrat.
Nathaniel mengangkat tubuh ke atas, lalu menyodorkan miliknya yang disambut oleh lidah Mindy. Perlahan lidah Mindy menari membasahi ujung milik Nathan, dan merayap membasahi setiap inchi. Setelah itu, ia memasukkan milik Nathan ke dalam mulutnya yang lembut dan hangat, sebelum akhirnya Mindy menghisap, mengulum, dan mengocok batangku yang bergerak maju mundur. Nathaniel tahu Mindy pandai melayani. Bahkan yang terpandai di antara perempuan yang pernah tidur dengannya.
“Sekarang sudah siap, Sir.” Mindy memohon sesi puncak pada Nathaniel.
Tidak sulit memenuhi permintaan Mindy kali ini, karena Nathaniel juga sudah sangat menginginkannya. Nathaniel memasukkan miliknya ke dalam milik Mindy, kemudian pelan-pelan menggerakkan pingguu maju mundur. Semakin lama, dan semakin cepat pinggulnya mengayun, semakin keras juga desahan Mindy. Di saat bersamaan, Nathan mengangkat punggungnya, lalu mengisap d**a Mindy.
“Aaaah, lebih cepat lagi,” pinta Mindy, seraya membenamkan wajah Nathan ke dalam pelukannya, sementara ia letakkan kakinya menyilang di punggung Nathan.
Sementara milik Nathaniel bergerak cepat, ia mengisap dan terus mengulum d**a Mindy berulang kali. Mereka merasakan sensasi yang memberi candu dalam setiap cumbuan. Ini bukan yang pertama bagi Nathan, juga jelas bukan yang pertama bagi Mindy, tapi entah kenapa setiap kali bersama Mindy seperti baru sekali ini melakukannya. Mungkin karena Mindy pandai memantik gairah.
“Oooh, you are the best, Boss,” bisik Mindy b*******h.
“Kamu juga, Mindy,” ujar Nathan membalas bisikannya, lalu mengisap bibirnya yang merah dan seksi.
Milik Nathan mengayun cepat dan menumbuk semakin kuat. Tubuh Mindy berguncang semakin hebat, tangan dan kakinya mendekap semakin erat,
“Aaaa!” jerit Mindy.
Mindy terengah-engah dalam pelukan Nathan, sambil tangannya mengusap-usap rambut Nathan “Sir, mau sekali lagi?”
“Tentu.” Nathaniel tersenyum, seraya mengubah posisi.
Nathan menggigit kecil ujung d**a Mindy, sambil mengisapnya. Sementara itu Mindy sambil terus memompa pantatnya. Cumbuan mereka semakin hebat, sehingga hanya terdengar suara desahan, dan benturan pantatnya dengan pinggul Nathan. Mindy mendesah semakin keras.
Beberapa saat kemudian, tangannya merangkul erat seraya jemarinya mencengkram punggung Nathan, dadanya naik turun dengan cepat, bibirnya mengulum bibir Nathan kuat-kuat, Sedetik kemudian, mereka sama-sama merasakan puncak kenikmatan. Sambil terengah-engah, keduanya merebahkan diri di ranjang.
Sementara itu, di tempat lain, Rob sedang duduk sambil menatap hampa ruang kosong di hadapannya. Pikirannya dipenuhi rencana penculikan Cherryl. Namun, entah mengapa, tiba-tiba kata-kata Ralf menyeruak dan mengusiknya. Kata-kata itu membawa kembali kenangan buruknya ketika baru tiba di Inggris.
Dulu ia bukan orang yang sama. Bahkan 180 derajat berbeda dari dirinya sekarang. Dulu ia bernama Stefan Haza ….
Pada tahun 2008-2009, dampak krisis ekonomi di Rumania mengakibatkan pengangguran besar-besaran. Kemiskinan pun kian meluas. Rumania tak lagi menjadi rumah yang indah. Banyak yang mencari kehidupan lebih baik di negeri lain. Sebagian bermigrasi ke Bulgaria, sementara yang lain menetap di Inggris. Keluarga Rob termasuk yang kedua.
Sheffield, sebuah kota di Inggris. Di sanalah rumah baru mereka sejak tahun 2013. Tempat baru untuk menggapai asa, merengkuh bahagia; satu tempat untuk meraih mimpi yang sempurna. Sayang, semuanya hanya angan yang sulit menjadi realita, atau mungkin tak akan pernah menjadi kenyataan. Kehidupan mereka tak ubahnya seperti dulu.
Tertepikan.
Tersingkirkan.
Terasingkan.
Mereka golongan masyarakat marginal.
Orang-orang pinggiran.
Merekalah Kaum Batas Tepi ....
***
"Stefan! Stefan Haza! Sarapan sudah siap!" Ibu memanggil dari luar kamar. Ia tidak berteriak, tetapi dinding kamar yang tipis membuat suaranya terdengar keras.
"Iya, Bu," jawab Stefan, tak semangat.
Stefan menyeret langkah. Tidak seharusnya tersuruk-suruk, tetapi nyatanya demikian. Kemalasan membelenggu kakinya; seluruh saraf mengendur karena rasa enggan. Bukan karena perutnya belum menuntut, melainkan tidak ada yang bisa dituntut. Kuhela napas melihat sepotong roti kecil. Hanya itu satu-satunya yang tersedia di atas meja makan mereka.
Ibu memandang nanar dari matanya yang terkulai. "Masih beruntung Mrs. Smith mau memberi," ucap ibu, "keadaan kita akan membaik kalau ayah sudah mendapat kerja."
"Hari ini ayah masih mencari kerja?" Stefan duduk menyejajari ibu di ruang makan.
Ibu mengangguk. "Ada beberapa panggilan wawancara dari beberapa perusahaan."
"Sudah beberapa hari ayah mencari kerja, tetapi mana hasilnya, Bu?" tanya Stefan, tak bisa menutupi kekecewaan.
"Sabarlah, Sayang. Ayah sedang berusaha yang terbaik."
Kata-katanya membuat Stefan tertunduk. Perih mendesir di dalam relung. Ketidakberdayaan pun merayap. Begitulah rasa yang teraduk-aduk kenyataan.
Getir.
Pahit.
Membaur jadi satu.
Terkadang Stefan menginginkan seorang adik untuk menemani berkelana di dalam senyap. Namun, di kala seperti ini, amat patut mensyukuri hidup bertiga.
Ketika keputusasaan menyelimuti, tiba-tiba pintu depan membentur dinding dengan keras. Serta-merta Stefan menoleh, melihat ayah berdiri di depan pintu dengan napas memburu. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Tampaknya ia baru saja berlari cukup jauh.
"Ayah, ada apa?" tanya ibu, cemas.
Alih-alih makin khawatir, Stefan justru merasa sedikit lega kala melihat senyum lebar mengembang di wajah ayah.
"Me-mereka menerima Ayah bekerja!" Ayah berseru gembira.
Kegalauan yang tadi mengusik, melorot dengan cepat. Stefan dan ibu menghambur dan memeluknya erat-erat. Suara tangis bahagia mengganti percakapan di antara mereka. Terkadang kelunya lidah bagaikan perbincangan sepanjang waktu. Itulah hari paling bahagia semenjak mereka berada di Sheffield. Ingin rasanya waktu membeku agar selalu merasa bahagia.
Sungguh keinginan yang absurd. Apalagi dua tahun setelahnya, kehidupan mereka hanya beranjak sejengkal. Meskipun ibu bekerja serabutan—menjahit, mencuci, dan lainnya—tetap belum bisa membantu keuangan keluarga yang mengandalkan pendapatan ayah sebagai Supir Taksi. Kebutuhan hidup yang menggembosi pendapatan, kerap memicu perselisihan.
"Kamu seharusnya dapat lebih berhemat! Bukan justru membeli mesin jahit tak berguna itu!"
"Kalau bukan karena mesin jahit yang kamu katakan tidak berguna, dari mana kita bisa melunasi utang pada Mrs. Smith?!"
"Aha! Itu juga! Utang! Utang! Utang! Kamu terus saja menambah beban!"
"Aku berutang karena kamu tidak becus menghidupi keluarga! Seharusnya itu menjadi tanggung jawabmu sebagai kepala keluarga!"
"Setiap hari aku menyupir taksi sampai larut malam, masih kamu katakan tidak becus?!"
"Iya! Kamu memang tidak becus! Semestinya kamu berangkat pagi hari, bukan menjelang siang!"
"Tutup mulutmu, atau—"
"Tampar aku! Tampar saja Stefan! Tampar kalau kamu mau Stefan angkat kaki dari sini!"
Jika sudah begini, Stefan memilih mengunjungi sahabat. Satu-satunya temannya yang berada satu kilometer dari sini. Meskipun keriangan terbayang saat bercengkerama dengan sahabatnya, tetap saja untuk tiba di sana terasa seperti berjalan puluhan kilometer.
Jalanan yang lebar dan ramai, di mata Stefan hanya seperti seutas tali. Keramaian di sekeliling memudar, luntur ke dalam batin yang sunyi. Kegaduhan di sekitar pun hanya terdengar lirih di telinga Stefan. Itulah Stefan yang tidak peduli dengan mereka. Bukan menyoal keegoisan, tetapi merekalah yang lebih dulu tak acuh. Tetangga-tetangga Stefan tidak ada yang pernah menyapa. Stefan bagaikan angin yang tak terlihat di mata mereka. Jadi, bukan salahnya jika Stefan bereaksi sama.
Hanya satu yang mengulik perhatian, yakni di suatu tempat yang selalu ia lewati dalam perjalanan. Tempat itu ialah lapangan olahraga kecil. Cukup enam orang sudah membuatnya terlihat sesak. Di sisi luar terdapat bangku-bangku penonton—hanya bangku kayu sangat sederhana, agak miring dan reyot. Di sanalah para pendukung menonton pertandingan antar kawan. Anak-anak seusia Stefan berlarian mengejar bola. Dapat, lalu menendangnya lagi. Begitu terus menerus. Stefan tidak habis pikir alasan banyak orang mencintai Sepakbola.
Bersambung