Uang. Ia memberi kebahagiaan juga nestapa. Menghadirkan asa sekaligus keputusasaan. Tidak ada yang membenci uang karena lebih banyak memberi kenikmatan dalam hidup. Uang menciptakan status sosial yang tinggi dan bergengsi di mata masyarakat Semua orang membutuhkan uang. Termasuk Rob, yang memerlukannya untuk bersenang-senang sang kekasih. Oleh karena itu ia akan menuntaskan tugas yang diberikan Nathaniel untuk kepuasaan dan juga demi uang. Sekarang tumpukan dollar di dompetnya menipis, tetapi ia perlu membeli senjata. Senjata? Bukankah orang sepertinya seharusnya sudah memiliki senjata? Tentu, tetapi sudah menjadi kebiasaan Rob untuk membeli senjata baru di setiap tugas special. Ia meyakininya sebagai suatu keberuntungan.
Pukul delapan pagi, di salah satu perempatan jalan di Kota New York, Ralf—orang yang diberi kepercayaan memegang bisnis persenjataan oleh Nathaniel—berjanji akan menemui Rob. Namun, ia hadir tiga puluh menit kemudian. Ia berjalan tergopoh-gopoh dengan keringat yang membanjiri tubuhnya.
"Maaf aku terlambat, Sobat," tukas Ralf dengan napas tersengal-sengal. "Aku harus beradu mulut dengan istriku gara-gara dia melihatku bersama perempuan lain. Pada akhirnya aku tinggal saja dia dengan wajahnya yang masam," keluh Ralf, menghela napas.
Ralf memberi setengah-senyum, seraya mengalihkan pandangan. "Ayo sekarang kita berang—"
"Tunggu. Ada yang ingin kubicarakan." Ralf menginterupsi.
"Kita bisa membicarakannya di jalan."
"Tidak mungkin, Rob. Bisa-bisa ada orang yang mendengar percakapan kita." Ralf mengedarkan pandangan. "Kita bicara di sana saja." Ia menunjuk kafe kecil yang sepi pengunjung.
Rob mengangguk lantas mengikutinya ke kafe tersebut. Mereka pun duduk di pojok ruangan, berada jauh dari satu-satunya pengunjung yang ada di dalam kafe.
Ralf memang pintar. Ia tahu kalau kata-katanya berhasil memengaruhi Rob. Meskipun hasilnya tidak akan di dapatkan sekarang, Ralf yakin cepat atau lambat Rob bersedia membantunya.
"Ah, mari kita minum dulu sebelum berangkat." Ralf menyeruput pesanan yang baru saja datang.
Beberapa menit kemudian, mereka pun berangkat. Tempat tujuan mereka tepat berada di pinggir Kota New York. Tempat itu merupakan toko suvenir, tidak seperti tempat yang penyimpanan senjata. Penjaganya adalah pria senja yang terlihat masih bugar dan selalu mengumbar senyum.
"Jadi apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Rob.
"Mengenai—" Kalimat Ralf terinterupsi dengan kedatangan pramusaji.
"Selamat malam. Mau pesan apa, Sir?" Pramusaji menegakkan penanya di atas kertas.
Ralf mengambil menu di atas meja. Pandangannya menyapu halaman menu di tangannya. "Cappuccino."
"Ada yang lain?" Pramusaji memalingkan wajah ke arah Rob.
"Sama."
"Mohon menunggu." Pramusaji pun berlalu.
"Bisa kita lanjutkan?" tanya Rob.
Kedua ujung bibir Ralf terangkat. "Tadi ketika mau bertemu kamu, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan teman-teman tentang persekutuan baru Mr. Nathaniel."
Mendengar kalimatnya, senyum tipis Rob pun tergelincir seraya memandangnya tajam. "Lantas?" tanyaku dengan nada beku.
Ralf memberi setengah-seringai. "Pasti persekutuan itu bernilai tinggi." Suaranya melambat. "Kurasa aku tidak perlu menjelaskannya, kan?!" Ia mengangkat sebelah alisnya.
Pandangan Rob menyorot tajam. "Apa maksudmu?"
Ralf terkekeh. "Kalau kita merekam perbuatan mereka lalu memberikan pada wartawan atau Arthur Ax—"
"Kalau kamu berani mengkhianati Mr. Nathaniel, tunggu saja akibatnya," ujar Rob lambat dan tenang, meskipun otot-otot rahang menegang.
Seringai miring tampak di wajahnya. "Aku berbeda dengan kamu. Loyalitasku bukan pada orang lain, melainkan diriku sendiri. Memang Mr. Nathaniel memberi kepercayaan padaku, tapi kamu pasti tahu kalau oprang semacam dia bisa sewaktu-waktu menikam kita. Aku juga yakin, kalau sebenarnya kamu membenci Mr. Nathaniel lantaran sering meniduri istrimu, ‘kan?!"
Mendengar itu, Rob diam seraya berpikir. Kata-kata Ralf memang tepat sasaran, tetapi kesetiaanj Rob tidak mudah dogoyahkan. Setidaknya untuk saat ini.
Melihat Rob diam, Ralf menjeda kalimat, seringai kemenangan tampak di wajahnya. "Aku tidak memintamu membantuku sekarang. Tapi ingat kamu adalah orang terdekatnya, kalau kamu pintar memanfaatkan kesempatan, bayangkan uang yang akan kiat dapat.”
"Dengar, Ralf. Aku masih menghargai persahabatan kita. Tapi sekali lagi kamu ungkit hal ini, aku tidak akan segan-segan membunuhmu," tukas Rob, berusaha tersenyum, menutupi amarah yang tersulut di dalam d**a.
"Apakah stock yang kuminta sudah datang?" Tanya Rob ragu, memandang berkeliling.
Ralf mengangguk lalu berbisik, "Tadi aku sudah memastikannya melalui telepon."
"Ah, bagus.”
"Jangan membahasnya di sini," tukas Ralf, memalingkan wajah ke arah penjaga tempaat itu yang menghampiri mereka.
Tugasnya sekarang ialah mencari cara agar semua berjalan rapi dan lancar Sebetulnya tidak akan sulit karena sudah dalam perencanaan matang.
Karena alasan itulah besok Ralf akan mengintai Cherry di kafe. Meskipun sudah terbiasa melakukan tindak criminal, Rob tetap selalu berhati-hati dalam bertindak. Sikap mwaspadanya itulah yang membuatnya sering sukses menjalankan tugas yang diberikan oleh Nathaniel.
"Ralf! Selamat datang!"
"Senang melihatmu, Jack." Ralf menyambut jabat tangan pria tua bernama Jack.
"Ah, maaf ... tadi aku masih melayani pembeli." Jack tersenyum lebar, membuat keriput di pipinya kian kentara.
"Iya, aku tadi melihatnya," timpal Ralf, balas tersenyum. "Oh, iya, aku bersama Rob."
Pandangan Jack menyelisik Rob sesaat, lalu tersenyum. Jack menarik napas dalam-dalam. "Sudah berapa kali kamu mengganti senjat? Well, tidak masalah, tapi tunggulah sebentar, istriku akan datang sebentar lagi. Tidak ada yang menjaga tempat ini kalau aku mengantar ka—ah, itu dia!"
"Ralf!" Perempuan senja memeluk Ralf. "Benar-benar kejutan!"
Ralf tertawa kecil. "Sebetulnya belum lama ini aku datang, tetapi Mrs. sedang tidak ada."
"Ya. Ralf bercerita kalau kamu membeli 'itu'. Tapi, aku sedang mengunjungi teman—"
"Tolong jaga tempat ini. Aku harus mengantar mereka." Jack memotong ucapan istrinya.
"Tentu."
Jack mengerling pada mereka, memberi isyarat agar mengikutinya. Kemudian ia mengajak mereka masuk ke dalam ruangan di belakang etalase. “Pasti tugas penting dari Mr. Nathaniel lagi, kan?!”
"Yup. Tentu saja. Seperti biasanya. Pandangan Rob menyapu ruangan. "Di mana 'barang-barang' itu?"
Jack tersenyum lantas memutar guci biru di hadapannya. Tak lama kemudian lantai di pojok ruangan terbuka. "Sudah aku pindahkan ke bawah, supaya lebih aman."
Rob dan Ralf mengikutinya menuruni anak tangga hingga tiba di dalam ruangan yang temaram. Ukurannya tidak luas, hanya cukup menampung beberapa orang saja. Pada tiga sisi dinding, menggantung puluhan jenis senjata api. Mereka tidak sendiri, di sini dua orang laki-laki berbadan besar sedang membersihkan beberapa senjata. Begitu melihat mereka, salah seorang di antara mereka segera memeriksa mereka. Meskipun sesama anggota, prosedur keamanan seperti itu tetap harus dijalankan.
Jack adalah orang memegang kendali penjualan senjata dalam jumlah kecil. Oleh sebab itu ia turut serta mengawasi transaksi, karena jika sedikit saja salah, sudah pasti Nathaniel akan menghukumnya.
"Sudah," kata laki-laki yang baru selesai memeriksa mereka.
Jack mengangguk kemudian berjalan mengiringi Rob melihat-lihat senjata.
"Rheinmetall MG 3 ...." Rob terkesima melihat senjata yang menggantung di dekat senjata lain. "Kalau ini, Heckler & Koch HK416, dan ini Uzi Submachine Gun."
Jack mengangkat ujung-ujung bibirnya. "Mau membeli Glock 45 GAP?"
Rob menoleh pada Ralf. "Kamu belum memesannya?"
"Tidak. Aku suka senjata, tetapi bukan maniak sepertimu, Rob," jawab Ralf.
Jack menatap Rob sesaat. "Kalau boleh tahu untuk apa kamu menginginkan M4 Carbine? Apakah tugas itu terlalu berbahaya?"
"Tidak, tidak. Tugasnya menarik, tetapi tidak berat. Kamu tahu ‘kan, kalau aku senang mencoba berbagai jenis senjata. Well, itu hobiku."
"Kamu benar-benar maniak. Senjata yang mampu melontarkan sembilanbratus peluru per menit?" Jack berujar.
Jack mencerna pikiran sejenak kemudian menoleh pada salah laki-laki berbadan besar. "Sudah ada?"
Laki-laki itu mengangguk. “Aku menyimpannya di ruangan lain.”
Laki-laki itu berjalan sembari membawa senjata yang diinginkan Rob. Rob mengambil senjata itu, lalu memeriksanya selama beberapa saat. Tak lama kemudian ia tersenyum lebar. Wajahnya tampak senang.
Jack berjalan ke arah tangga. "Ayo kita ke atas."
Rob dan Ralf pun mengikuti Jack dari belakang. Selepas itu mereka tidak banyak berbicara dengan Jack dan langsung keluar dari tempat itu. Di perjalanan, Ralf berkali-kali membujuk agar Rob akan ajakannya mengkhianati Nathaniel demi uang. Rob berpura-pura tidak keberatan lantaran enggan meladeni Ralf. Toh, walau bagaimanapun Ralf tidak akan berani bertindak jika ia tidak membantunya.
Aku memerlukan siasat yang matang untuk memastikan eksekusi dapat berjalan lancar. Apalagi ada nama yang kutambahkan dalam daftar buruan. Ia bukan pemuncak daftar buruan dan mungkin berada paling bawah di antara yang lain. Ralf, kupikir ia berbeda dari yang lain, ternyata sama saja. Ia adalah b***k materi seperti masyarakat hina di sekitarku. Sebenarnya aku tidak peduli dengan uang, tetapi perangainya membuatku muak. Ketamakan Ralf akan mengantarnya ke neraka; peluru tajam akan membuyarkan kepala, sekaligus memupus keserakahannya. Tunggulah aku akan menghabisimu kalau kamu tiak lagi berguna ..., batin Rob.
Untuk menjalankan rancangan kedua, Rob membutuhkan tempat yang aman dalam menjalankan aksi. Gudang tua didekat tempatnya tinggal merupakan tempat yang tepat. Setelah itu melepaskan hasrat bejatnya, ia berencana menyerahkan Cherryl pada Nathaniel.
Keesokan harinya, Rob mulai menjalankan rencananya, Rob menarik tudung jaket menutupi kepala, merapatkan jaket, lantas nerjalan menyusuri jalanan.. Setibanya di pertigaan jalan di dekat sekolah, mereka berhenti. Dalam jarak kurang dari tiga meter, aku mendengar percakapan mereka dari balik halte.
Dari pagi sampai sore ia berdiri di sana, mengamati Cherryl diam-diam dari tempat yang agak tertutup. Setelah sore, akhirnya Cherryl pulang. Rob pun menguntitnya.
Cherryl meraasa ada yang mengikutinya. Jantungnya berdebar tak keruan. Kemudian ia berjalan cepat di jalanan sepi, sembari merapatkan mantelnya.
Kalau bukan karena ada tamu penting tadi, aku tidak pulang selarut ini, batin Cherryl merasa kesal, seraya memasukkan tangan ke kantung mantel.
.
Perasaan khawatir menyeruak. Ia merasa orang yang mengikutinya makin dekat. Cherryl pun mempercepat langkah. Sesekali ia menoleh ke belakang, tetapi tak mendapati ada orang lain di sana. Setelah melewati beberapa belokan, akhirnya apartemen Kimberly terlihat.
Apartemen itu tampak mewah. Dinding-dindingnya yang penuh kaca terlihat biru karena memantulkan bayangan langit yang cerah kala itu. Kemewahannya pun tampak dari bagian muka dan dalam dari ornamen-ornamen simpel dan berbahan mahal. Lantainya terbuat dari marmer Italia yang dikenal akan kualitas dan kemewahannya. Belum lagi teknologi canggih yang disematkan pada setiap sudut bangunan, makin mengukuhkannya sebagai salah satu hunian terbaik di seluruh penjuru Inggris Raya.
Bukan hanya bangunan, taman yang terdapat pada halamannya pun berisikan tanaman mahal dan cantik, sehingga kian menambah nilai Axton Tower. Gedung semegah itu tentu saja memiliki lapangan parkir yang memadai dan diawasi dengan sistem kontrol yang baik. Setiap sudut lapangan selalu diawasi dengan kamera CCTV.
Sementara itu, Rob yang melihat Cherryl mau berjalan memasuki apartemen, buru-buru berlari. Namun, ketika mau menarik Cherryl dari belakang, dilihatnya sebuah mobil mewah berhenti di dekat Cherryl. Sedetik kemudian, kaca mobil itu terbuka.
Rob tersentak. Ia tak menyangka melihat kedatangan Arthur di sana. Arthur? Ada urusan apa dia di sini? Sebaiknya aku mengintai lagi sebelum bertindak.
Kemudian Rob bersembunyi di balik dinding di dekat apartemen.
Bersambung