Kembali ke masa sekarang. Upaya pencarian Cherryl masih berlangsung. Kali ini Perry mendapatkan bantuan dari Nathaniel. Selain bisnis raksasa yang tampak di muka umum, Nathaniel juga memiliki bisnis gelap. Tidak mengherankan jika ia memiliki anak buah yang bisa diandalkan untuk melakukan pekerjaan kotor. Salah satunya adalah Rob Morton ….
Seperti biasa, Rob Morton menjalankan tugas bulanan dengan mengunjungi beberapa tempat. Dalam setiap kunjungan itu, Mindy selalu bersamanya. Mindy adalah pacar Rob Morton, sekaligus w*************a yang sama-sama bekerja untuk Nathaniel. Biasanya ia ditugaskan untuk melakukan cara-cara yang lebih “persuasif” ketimbang Rob. Namun, keduanya sering melakukan tugas bersama-sama. Kali ini mereka berada di diskotek, tepatnya di dalam ruang Manajer.
Keduanya baru masuk ke dalam ruangan. Melihat kedatangan mereka, laki-laki paruh baya gemetaran. Dia tahu, sedikit keterlambatan akibatnya fatal. Kalau saja bisa menghindar pasti akan dia lakukan. Namun, menghindari Rob akan membuat masalah makin runyam.
"Sir, ma—"
Belum sempat Manajer diskotek menuntaskan kalimat, Rob menjambak dan menghantamkan kepalanya ke meja dengan keras.
"Sudah tanggal berapa sekarang?" tanya Rob dingin, sembari merenggut kepala Manajer tersebut.
"Maaf, keterlambatan itu karena belakangan kami sepi pengun—"
Rob kembali membenturkannya berkali-kali dengan keras, membuat wajahnya berdarah-darah, dan sebagian giginya patah.
"Aku tidak tanya alasanmu." Arthur menatapnya tajam. "Tanggal berapa sekarang?"
"16 Juli...."
"Terlambat satu hari!" Rob menjejak kepala Manajer itu. "Kutunggu sampai nanti malam. Kalau tidak, aku akan menarik anak buahku dari sini dan jangan harap besok kamu masih hidup!"
Rob melirik Mindy, kemudian berjalan ke luar ruangan sambil menyesap rokok. Kehadirannya menarik perhatian karyawan diskotek. Namun, tidak ada yang berani mengusik, termasuk bagian keamanan, yang justru merupakan anak buahnya. Sebagai anak buah kepercayaan Nathaniel, tidak seorang pun yang tak mengenalnya. Meskipun masih berusia 27 tahun, namanya menciutkan nyali banyak orang. Apalagi sekarang wajahnya bersungut-sungut ketika melintasi ruangan menuju tempat parkir.
Mindy melirik Rob sekilas, lantas tersenyum. "Tidak biasanya kamu semarah tadi."
"Yap, karena aku bosan."
"Bosan?"
Rob mengangguk seraya masuk ke dalam mobil. "Bagaimana tidak bosan kalau belakangan Mr. Nathaniel selalu memberi tugas anak kecil seperti ini?!"
"Rob, memungut uang keamanan bukan tugas anak kecil. Kamu tahu, 'kan?!"
"Bagiku itu tugas anak kecil. Lihatlah tugas anggota seusia kita yang lain, mereka sudah diberi tugas lebih besar daripada ini," jawab Rob, menyalakan mobil, kemudian membawanya meninggalkan tempat itu.
"Itu karena bisnis Mr. Nathaniel tidak terjadi masalah yang rumit."
"Hah! Rumit!" Rob terkekeh. "Aku tidak takut rumit! Aku justru senang mencari masalah rumit! Itulah sebabnya aku selalu berbuat sesukaku, tapi tetap saja tidak ada yang berani mengusikku!"
Mindy tertawa kecil. "Nyatanya tetap tidak ada yang mengganggumu, 'kan?!"
Rob mendesah kasar. "Kamu benar. Mereka semua pengecut. Ditambah lagi dengan tugas-tugas remeh ini. Gara-gara itu aku bisa mati bosan! Padahal tidak ada yang tak bisa kulakukan!"
Mindy memutar bola mata. "Ya, ya, ya ...."
Rob menyipit, melirik Mindy. "Bagaimana kalau kita bersenang-senang di ranjang?"
"Tidak sekarang, Sayang," jawab Mindy, enggan.
Tiba-tiba terdengar suara pesan singkat dari HP Rob. Ia melihat pesan itu dikirim oleh orang yang sedang mereka bicarakan—Nathaniel.
Mindy melirik ponsel kekasihnya. “Siapa itu? Mr. Nathaniel?”
Rob mengangguk sembaari masuk ke dalam mobil, diikuti Mindy. “Iya. Dia meminta kita menemuinya di rumah.”
Mindy tergelak. "Ah, pasti kamu akan diberi tugas khusus. Well, harapanmu tercapai.”
Rob tertegun beberapa saat. "Ya, kuharap. Sepertinya ada masalah penting, karena dia mengatakan temannya sudah juga akan datang dan bertemu kita di sana.”
Mindy tersenyum. “Pasti laki-laki c***l itu.”
“Maksudmu Perry?” tanya Rob.
“Siapa lagi?! Belakangan mereka terlihat akrab.”
Rob menyeringai seraya menginjak gas dalam-dalam. "Mungkin! Tapi aku tidak peduli kalau tugas yang akan diberi padaku dapat memacu adrenalin!”
***
Setengah jam berlalu, di kediaman megah Nathaniel, dua pria duduk berhadapan di dalam suatu ruangan. Ruangan itu sangat mewah dengan berbagai furnitur berornamen eropa klasik di sana-sini. Sementara itu, Nathaniel sedang menjamu Perry sambil berbincang-bincang.
"Apakah kamu yakin kalau perempuan yang kamu lihat adalah adik dari Sekretaris Arhur?" tanya Nathaniel.
Perry tersenyum. "Tak salah lagi, Mr. Nathaniel. Dia secantik kakaknya! Sulit ada perempuan yang mampu menandingi kecantikan mereka di London!"
Nathaniel tertawa keras. "Bagus! Aku akan membantumu, tapi serahkan gadis itu padaku untuk beberapa malam! Lagi pula kalau kita menculiknya, akan makin mengganggu Arthur!"
Paham maksud kotor Nathaniel, Perry tersenyum. “Silakan lakukan sesuka Anda, Sir. Aku jamin Anda tidak akan terperangah melihat kecantikannya!”
"Ah! Kamu makin membuatku penasaran! Tapi aku yakin kalau kamu yang mengatakan! Semua gadis-gadismu tak satu pun yang mengecewakan."
Perry menyahuti, “Aku harap minggu ini semua urusan soal Arthur itu tuntas! Dan kita akan mendapat jatah masing-masing!”
Nathaniel menggeleng-geleng. "Pendapatmu terlalu prematur. Bisnis Arthur Axton sangat besar. Tapi jangan khawatir, perlahan-lahan kita akan menggeser mereka. ‘Dia’ sudah mengatur pihak-pihak yang berwenang atas semua jalur yang akan kita tempuh. Meski masih ada yang berpihak pada Arthur Axton, aku yakin lama-lama semua beralih pada kita."
"Aku sudah tidak sabar menunggu kejatuhan Arthur Axton yang pongah tersebut. Aku muak karena dia merasa paling berkuasa," timpal Perry.
“Jadi dengan cara apa Anda akan membantu, Sir?” tanya Perry.
Nathaniel tersenyum licik sembari mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuknya. “Well, tentunya dengan cara yang bisa aku lakukan. Tidak semua pebisnis besar memiliki dua sisi, kecuali aku. Arthur bodoh itu pun terlalu lugu.”
“Maksud Anda, Sir?” tanya Perry, mengangkat sebelah alisnya. Ia tidak cukup tahu dalam mengenai sisi lain Nathaniel, kendati sering menyuplai gadis-gadis cantik sebagai teman tidur Nathaniel.
“Kamu tahu, Perry? Semua bisnisku yang tampak di luar sesungguhnya bukan yang utama. Bisnis utamaku lebih besar daripada itu.” Nathaniel diam sejenak, matanya menatap meja dengan sorot mata tajam, giginya pun bergemeratak. “Tapi, tetap saja Arthur bodoh itu memiliki kekayaan di atasku!”
“Well, Anda tadi mengatakan kalau sebentar lagi kita akan mengalahkan Arthur. Itu artinya, tidak ada yang perlu Anda khawatirkan.”
Nathaniel mencerna pikirannya selama beberapa saat. “Kamu benar.”
“Lantas, apa bisnis Anda yang sebenarnya?”
Mendengar pertanyaan Perry, sudut bibir Nathaniel setengah terangkat. Kemudian, ia menarik laci meja dan mengeluarkan kantung kecil dari dalamnya. Itu sebuah kantung transparan, yang menunjukkan serbuk di dalamnya.
Mata Perry melebar melihat serbuk itu. Bagi orang seperti Perry yang berkecimpung di dunia malam, serbuk itu sama sekali tidak asing lagi. Bahkan ia adalah orang yang rutin menggunakan serbuk itu. Tanpa ia sadari sebelumnya, ia merupakan konsumen tetap dari laki-laki di hadapannya.
“Kokain! Luar biasa!” seru Perry, terlihat antusias.
Melihat antusiasme itu, Nathaniel bisa menduga alasannya. “Pasti kamu penguna tetap.”
“Well, hanya orang bodoh yang bverkecimpung di dunia malam yang tidak mau menggunakan zat terbaik itu!” ucap Perry, lalu tergelak.
Nathaniel tersungging. “Bisnisku bukan hanya ini, tapi ….”
Nathaniel melirik dua senapan laras panjang yang tergantung di dinding dalam keadaaan saling silang.
“Senjata? Maksud Anda, penjualan senjata illegal?”
“Benar. Dua bisnis itulah yang membuatku menjadi seperti sekarang,” tukas Nathaniel, lantas tergelak.
“Rupanya aku bergabung dalam aliansi yang memiliki anggota-anggota luar biasa!”
Nathaniel menyahuti, “Benar. Tapi kamu tak kalah luar biasa. Semua perempuan-perempuanmu berkualitas tinggi, Perry!”
Keduanya terus berbincang sambil menunggu kedatangan Rob Morton, dan Mindy Gowan, yang sedang melaju kencang di jalanan.
Setelah menempuh perjalanan dari timur Kota London, akhirnya mereka tiba di mansion mewah Nathaniel. Rob dan Mindy merupakan anak buah kepercayaan Nathaniel yang paling sering mendapat pujian lantaran selalu bisa menyelesaikan semua tugas dengan sempurna. Mereka termasuk orang-orang yang disegani di lingkungan bisnis gelap Nathaniel. Tak heran jika puluhan pasang mata tertuju padanya ketika mereka berjalan masuk ke dalam mansion.
Rob sudah dapat menduga yang akan terjadi berikutnya. Pelayan di dalam rumah menyambut kedatangan mereka.
"Tuan Nathaniel menunggu di ruang kerja," ungkapnya, lalu berjalan diikuti keduanya ke ruang kerja.
Mereka menyusuri koridor panjang, sampai akhirnya tiba di depan ruangan di ujung koridor. Mereka tidak serta-merta masuk ke dalam, dan terpaku sesaat di sana.
Mindy melirik Rob. “Kamu tahu ‘kan, kalau melihatku Mr. Nathaniel memintaku menemaninya semalam?”
Rob terlihat kesal. Namun ia tahu, mustahil melawan perintah Nathaniel. Sama mustahilnya dengan memutuskan hubungannya bersama Mindy yang sangat ia cintai. Akhirnya dengan berat hati ia mengangguk.
Mindy tersenyum. “Hatiku cuma milikmu, Sayang.”
Keduanya pun masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan, tampak Nathaniel dan Perry sedang duduk. Melihat kedatangan mereka, Nathaniel menjetikkan jarinya, memberi perintah agar Rob dan Mindy duduk di hadapannya.
Meskipun pembawaan dan wajah Rob terlihat garang, tetapi di hadapan Nathaniel ia terlihat segan. Nathaniel bukan sekadar pebisnis biasa, tetapi juga seorang mafia. Jika Arthur menguasai puncak bisnis di sisi lain, Nathaniel memuncaki sisi gelapnya. Kebesaran Nathaniel tidak luput dari kerjasamanya dengan oknum-oknum pemerintah.
Di balik upaya pemberantasan kejahatan, sebetulnya sebagian pejabat melindungi mafia. Semua itu demi keamanan negara, juga alasan pribadi. Itulah alasannya mafia tumbuh dan berkembang di Inggris. Di antara semua pemimpin mafia, laki-laki yang sekarang berada di hadapan Rob dan Mindy adalah sosok yang paling penting. Akan tetapi, kondisinya Arthur masih menjadi yang terbaik. Walaupun belakangan kekuatan Arthur makin melemah, tetap saja Nathaniel belum mampu melewatinya.
"Tahukah untuk apa aku memanggilmu, Rob?" Nathaniel buka suara dengan nada datar dan tenang.
“Tidak secara spesifik. Tapi aku menduga akan diberi tugas menarik,” jawab Rob, tersenyum tipis.
Nathaniel mengalihkan pandangannya pada Mindy. "Aku juga memerlukanmu untuk tugas ini. Tapi kalian akan diberi tugas di tempat dan waktu yang berbeda."
Mindy tersenyum lalu berkata dengan percaya diri. "Apa pun tugasnya, seperti biasa, akan kami selesaikan dengan sempurna."
"Bagus! Tidak salah aku mempercayakan tugas ini pada kalian!" Nathaniel mengalihkan pandangannya pada Perry. "Mungkin kalian sudah pernah melihat rekanku ini, tapi pasti kalian belum mengenalnya."
Setelah Nathaniel mengenalkan Perry, ia mulai menjelaskan tugas yang harus dijalankan keduanya. Rob dan Mindy terlihat antusias, apalagi Nathaniel menjanjikan upah besar untuk tugas tersebut. Bahkan itulah upah terbesar yang pernah ditawarkan Nathaniel pada mereka. Masing-masing di antara mereka akan mendapatkan uang yang nilainya tidak kurang dari harga mansion mewah, kendati tidak lebih mewah dari milik Nathaniel.
Sementara itu, Perry pun tak kalah bersemangat. Senyum selalu menghiasi wajahnya selama perbincangan itu berlangsung. Rencana penculikan Cherryl telah digagas. Kalau nitu terjadi, sudah dapat dibayangkan dampaknya pada Kimberly, dan tentu saja itu akan makin membebani pikiran Arthur.