Ia adalah perempuan bertubuh mungil, kira-kira sedikit lebih tinggi dari pinggang Tim. Ia berambut hitam berombak dan digelung seadanya. Wajahnya bulat membingkai mata lebar; hidung mungil; dan bibir yang seksi. Manis. Ya, dia gadis yang imut-imut.
Perempuan itu tersenyum lebar. "Derek Langley, 'kan?"
Tim mengangguk. "Iya."
Perempuan itu menjabat tangan Tim. "Tim Jenna Heist, Manajer Operasional di perusahaan ini."
Manajer Operasional? Tim tak menyangka perempuan manis ini memiliki jabatan tinggi di perusahaan Axton. Tim yakin semua orang juga tidak akan menyangka kalau belum mengenalnya.
"Mau ke bawah?" tanyanya. Bibirnya melengkung membentuk senyuman.
"Iya," jawab Tim gugup.
"Pasti karena bosan. Wajar, aku juga begitu, kok. Yuk, kutemani mengobrol di kafe bawah," tukasnya, menarik tangan Tim dan masuk ke dalam lift yang baru terbuka.
Jenna diam sejenak lalu tersenyum. Pelan-pelan Tim mengarahkan miliknya ke dalam milik Jenna. Perlahan dan berulang-ulang Tim bergerak maju mundur, membuat desahan Jenna makin terdengar jelas. Sementara bibir mereka b******u liar dan tangan Tim meremas-remas d**a Jenna berulang kali. Gerakan mereka semakin liar dan cepat, hingga akhirnya Jenna memeluk Tim kuat-kuat seraya mendesah keras. Itulah puncak kenikmatan Jenna untuk pertama kalinya bersama Tim.
Saat ini suasana kafe tampak lengang. Hampir semua bangku di sana kosong. Mungkin hanya ada Tim dan Jenna Heist yang ada di dalam kafe.
Setelah pesanan datang, mereka berbincang-bincang. Jenna Heist perempuan yang mudah akrab dengan siapa pun. Ia menceritakan semua hal tentang Axton. Rupanya Ia sudah lama bekerja di perusahaan raksasa itu.
"Jadi kamu sudah bekerja tujuh tahun di sini?" tanya Tim.
Jenna Heist mengangguk. "Begitulah. Meskipun bekerja di sini menuntut dedikasi tinggi, aku menyukainya."
Jenna mendadak diam seraya mengamati Tim dari atas ke bawah. "Kalau aku perhatikan, penampilanmu menarik."
Tim tersentak mendengar kata-katanya.
"Eh, ja-jangan salah paham." Jenna tampak gugup. "Maksudku ..., mmm, begini, hari ini kekasihku ulang tahun, tapi aku bingung mau membelikan hadiah yang dia suka. Kalau kamu tidak keberatan, maukah menemaniku mencari hadiah setelah pulang kantor? Soalnya aku lihat, kamu memiliki selera bagus."
Tim tersenyum. "Boleh. Kebetulan Tim tidak ada acara."
"Bagus!" serunya, riang.
Setelah setengah jam berada di sana, akhirnya mereka kembali ke ruangan masing-masing. Tim kembali berkutat dengan berkas-berkas di mejanya. Satu demi satu kupelajari isi berkas-berkas itu. Akhirnya Tim mulai sedikit paham tentang pekerjaannya.
Menit berlalu, jam pun berganti. Tak terasa akhirnya jam pulang kantor tiba. Tim bergegas ke luar ruangan. Setibanya di depan lift, Jenna sudah menunggunya di sana. Senyumnya merekah ketika melihat Tim.
"Ayo," ujarnya, mengajak Tim. "Kita pesan taksi saja, soalnya mobilku sedang di bengkel."
"Tidak perlu. Kita bisa naik mobilku," jawab Tim sambil berjalan, mengajaknya ke tempat parkir.
Mereka pergi ke mal yang berada tidak jauh dari kantor. Setibanya di sana, mereka segera mencari pakaian di toko-toko baju. Sebenarnya selera Jenna tidak buruk, tetapi mungkin kurang tepat untuk laki-laki. Melihat penampilan Jenna, jelas sekali kalau dia sangat feminim.
Akhirnya setelah mencari-cari, mereka mendapatkan pakaian yang tepat. Namun, ketika sedang mengantre, Tim melihat Jenna tersentak seraya memandang pasangan yang sedang memilih pakaian. Seketika itu ekspresinya berubah. Sedih, marah, bercampur.
"Ada apa, Jen?"
Jenna terhenyak lalu menatap Tim dengan mata berkaca-kaca. Ia menggeleng pelan. "Aku tidak jadi mengambil pakaian ini."
Kata-katanya membuat Tim terkejut. "Kamu tidak suka baju ini?"
"Bajunya bagus, tapi ...." Jenna mencerna pikiran sesaat. "Kalau boleh, temani aku malam ini."
"Maksudmu?"
Jenna menghela napas. "Aku sedang tidak ingin pulang. Sepertinya sedikit minum di pub akan menyegarkan pikiran."
Meski tidak tahu maksudnya, Tim setuju. "Oke."
Pub tempat mereka menghabiskan waktu berada di lantai dasar mal ini. Tidak perlu waktu lama untuk tiba di sana. Setelah memesan minuman, mereka menenggaknya. Cukup lama Jenna berdiam, dan larut dalam pikirannya dengan wajah sedih. Namun, setelah gelas demi gelas, akhirnya ia mulai berbicara. Ucapannya tidak jelas dan melantur, tetapi jelas kalau ia sedang mencurahkan keresahannya. Ternyata ketika berada di mal, ia tidak sengaja melihat kekasihnya sedang bergandengan dengan perempuan lain. Alih-alih marah dan meluapkan kekesalan, ia justru memendamnya.
"Semua laki-laki berengsek! Mereka suka mempermainkan perasaan perempuan! Semuanya sama!"
Teriakan Jenna membuat seluaruh pandangan pengunjung tertuju padanya. Tim pun berusaha menenangkannya. Namun, Jenna tetap tidak terkontrol.
"Aaaah! Apakah tidak ada satu pun laki-laki yang baik?" Jenna kembali berteriak, kemudian memandang Tim lamat-lamat. "Ada satu. Kamu! Kamu yang baik Derek Langley! Kita baru kenal, tapi kamu mau saja kurepotka ...." Jenna tergeletak dan tertidur pulas.
"Jen ..., Jenna ...." Tim berusaha membangunkan, tetapi dia tak juga terbangun.
Tim tidak tahu alamat tinggalnya. Tidak mungkin ia dibiarkan di sini. Tim menimbang-nimbang yang akan diperbuatnya. Akhirnya ia memutuskan membawa Jenna ke hotel dan meninggalkannya di sana.
Dengan susah payah Tim membawa Jenna ke mobil lantas memacu kendaraan ke hotel terdekat ....
Setelah mendapatkan kamar hotel, Tim membaringkan Jenna di sana. Tim memandangnya beberapa saat.
Kalau diperhatikan Jenna memiliki badan yang memikat. Dia memiliki p******a besar yang sedikit tersingkap dari kemejanya yang berantakan. Melihatnya seperti itu, milik Tim terusik. Tapi ia ragu lantaran baru saja bekerja di Axton. Jangan sampai gara-gara godaan ini menimbulkan masalah. Namun, ketika Tim hendak beranjak, tiba-tiba Jenna memeluknya dari belakang.
"Jangan tinggalkan Tim ...," ucapnya, lirih, kemudian jatuh ke ranjang dan kembali terlelap.
Keringat dingin membasahi tubuhnya yang terkulai lemah. Tanpa pikir panjang, Tim menanggalkan baju dan celananya, lalu menyeka keringat yang membanjiri seluruh tubuh elok Jenna.
Sambil menyeka, Tim memandangi wajah pucat Jenna yang tetap telihat manis. Perlahan diusapkannya kain ke bawah menyusuri leher jenjang, pundak, d**a bagian atas, hingga tiba pada pada dadanya yang masih tertutup bra merah. Usapan Tim pada dadanya membuat cherry Jenna tersingkap dan menyembul dari balik kain merah yang menutupinya.
Mata Tim terkesiap, jantungnya berdegup kencang, miliknya terusik dari tidurnya ketika melihat sepasang cherry mungil gadis cantik itu.
Hasrat memerintahkan otaknya berpikir nakal. Sekali dan hanya sedikit sentuhan tidak akan membangunkan Jenna, begitulah hasrat nakal berbisik. Tetapi tiba-tiba terlintas kekhawatiran kalau sentuhannya nanti dapat membangunkannya. Selama beberapa saat rasa bimbang menyelimuti Tim, tetapi semakin lama ia berpikir, semakin bulat tekadnya untuk mengambil risiko.
Setelah meletakkan kain penyeka ke samping, Tim melucuti bra yang mengganggu pemandangan, Tim melirik pada wajah Jenna yang tidak bereaksi, seolah pasrah menanti sentuhan berikutnya. Tanpa ragu, ia meremas-remas d**a Jenna. Sentuhan nakal demi sentuhan nakal akhirnya membuat Jenna mendesah kecil. Setelah itu Tim mencumbu kedua d**a indah Jenna bergantian.
Sentuhan demi sentuhan pada kedua p******a indah, membuat Jenna bergeming—tubuhnya bergelinjang pelan, matanya mengerjap. Sebelum ia benar-benar sadar, Tim harus membuatnya tidak bisa menolak dan memasrahkan diri. Tangannya bergerak ke bawah, kemudian menyelinap ke balik celana dalam Jenna. Tim menyentuhkan jemarinya pada liang Jenna. Jenna bergeming lagi dan memegang dahinya. Waktu Tim semakin sempit, kesadaran Jenna akan segera pulih, hingga Tim pun memutuskan berbuat makin berani agar Jenna tidak dapat menolak. Namun, di saat bersamaan Jenna bergeming seraya memandang ke bawah.
“Kamu …, apa yang—aaah!” Belum sampai menyelesaikan kalimat, Jenna mendesah merasakan kenikmatan yang diberikan Tim.
“Derek, jangan …,” ucap Jenna lirih sambil menahan desahan.
“Apa?” tanya Tim berpura-pura tidak mendengar, seraya mencumbunya semakin liar.
Jenna mendesah keras, tubuhnya bergelinjang, napasnya makin memburu, wajahnya pun memerah. “Jangan, De …,” ujar Jenna, tidak selaras dengan keinginan tubuhnya.
“Jenna, kamu mau berhenti?” Tanya Tim berpura-pura menawarkan, tapi ia tahu tubuh Jenna sudah mencandu.
Jenna diam tidak menjawab sambil terus mendesah.
Tim tersenyum, dan ingin menggodanya “Kalo gitu aku berhenti se—”
“Jangan berhenti …,” pinta Jenna, kali ini jujur.
“Gimana rasanya?” Tanya Tim, menggoda.
Rona wajah Jenna tersipu. Tim tahu kalau ia malu mengungkapkan isi hatinya.
“Bagaimana, kamu menikmatinya?” tanya Tim lagi.
Jenna tidak menjawab, tetapi menarik wajah Tim, lalu melumat bibirnya, kemudian mengecupnya b*******h.
Selama beberapa menit mereka saling balas mencumbu, membuat gairah mereka membubung makin tinggi.
Tim berhenti mencumbunya sejenak, lalu memutar badan, hingga wajahnya berhadapan dengan liang mempesona, sedangkan wajah Jenna berhadapan dengan milik Tim. Jenna tersipu malu, sambil merapatkan kedua kakinya untuk menutupi liang miliknya. Pelan-pelan tangan Tim mendorong kedua kakinya, hingga terlihat liang Jenna. Merasa tidak sabar, Tim membenamkan wajahnya di antara kedua paha Jenna.
Selama beberapa saat Jenna berdiam, merasakan sentuhan Tim. Namun, beberapa saat kemudian ia menjulurkan lidahnya menyentuh milik Tim, lalu mengulumnya ke dalam mulut sambil menggerakkan kepalanya maju mundur. Gerakan mereka makin membawa keduanya menuju puncak.
Jenna mengecup bibir Tim, kemudian menatapnya wajahnya lekat-lekat. “Tim ….”
“Yakin?” tanya Tim.
Jenna diam sejenak lalu tersenyum. Pelan-pelan Tim mengarahkan miliknya ke dalam milik Jenna. Perlahan dan berulang-ulang Tim bergerak maju mundur, membuat desahan Jenna makin terdengar jelas. Sementara bibir mereka b******u liar dan tangan Tim meremas-remas d**a Jenna berulang kali. Gerakan mereka semakin liar dan cepat, hingga akhirnya Jenna memeluk Tim kuat-kuat seraya mendesah keras. Itulah puncak kenikmatan Jenna untuk pertama kalinya bersama Tim. Namun, itu bukan yang terakhir.
“Lagi?” tanya Jenna melirik milik Tim yang masih kukuh.
Tim mengangguk, kemudian merebahkan diri dan menuntunnya untuk berada di atas. Kemudian Jenna menggenggam lembut milik Tim dan mengarahkannya masuk ke dalam miliknya. Perlahan Jenna mulai bergerak ke atas ke bawah. Lama-kelamaan Jenna memompa semakin cepat. Di saat bersamaan Tim bermain-main dengan d**a gadis mungil itu.
Puluhan kali Jenna mengayun cepat, membuat tubuhnya bergelinjang, dadanya mengayun-ayun, desahannya semakin keras. Beberapa detik kemudian tangannya mencengkeram kaki Tim.
“Aaaaah!”
Jenna terengah-engah, lalu merebahkan tubu di samping Tim. Tim meliriknya sembari mengusap pipi gadis manis itu. Jenna membalasnya dengan senyuman.
"Terima kasih. Kamu telah menghiburku."
"Apakah selalu dengan cara tadi agar dapat menghiburmu?" tanya Tim, setengah bergurau.
Jenna tergelak, kemudian menjawab, "Well, tentu saja tidak. Ada hal lainnya lagi."
"Sebutkan."
Jenna tersenyum, lantas mengambil ponselnya, dan menunjukkan foto seorang perempuan pada Tim. Tim sangat terkejut melihat foto itu.
"Dianne? Kamu kenal dia?" tanya Tim.
Jenna diam selama beberapa saat seraya mencerna pikiran sebelum akhirnya menjawab, "Aku tahu tujuanmu ke sini. Dan aku dapat membantumu, tapi ...."
"Tapi?"
Jenna tersenyum licik, "Bantu aku dan Dianne untuk mencuri data keuangan Axton."
Belum hilang keterkejutan Tim, Jenna kembali membuatnya terkejut. Meskipun tidak tahu tujuan mereka, Tim tidak dapat berbuat apa-apa. Ia sudah telanjur menandatangani kontrak, mau tak mau harus menyetujuinya, atau nyawanya melayang.
Kerjasama mereka itulah yang akhirnya nsedikit demi sedikit mengikis keuangan Axton, tanpa diketahui Arthur. Akibatnya membuat Arthur makin terpuruk di kemudian hari.
Bersambung