31

1681 Kata
Tidak. Dia sahabatmu, Tim! Berkali-kali kata-kata itu menyeruak dalam hati. Percuma. Tim sudah tak bisa menahan diri lalu melumat bibir Emma. Emma tersentak, seraya mendorong Tim. "Jangan ...." "Jangan ceritakan pada orang lain." Emma melumat bibir Tim. Bibir mereka bertaut, sambil saling menyesap lidah. Tangan Tim menyelinap ke balik kaus, lalu meremas-remas d**a perempuan cantik itu. Emma tak tinggal diam, tangannya merayap mengusap milik Tim dari balik celana. Paham maksudnya, Tim mengubah posisi sampai miliknya berhadapan dengan wajah Emma, begitupun sebaliknya. Tanpa menunggu lama, Emma menurunkan celana Tim. Dalam posisi tersebut mereka saling memanjakan intim masing-masing. Saat lidah Emma memberi kehangatan pada milik Tim, ia menyibak intimnya kemudian membelainya dengan lidahnya. Desahan Emma terdengar makin jelas bersamaan dengan milik Tim yang makin berdiri kukuh, menunjukkan mereka siap memulai sesi utama. Emma berbalik seraya membelakangi Tim dengan posisi merangkak. "Tim ...," ucap Emma setengah mendesah saat milik Tim masuk ke dalam intimnya. Perlahan pinggul Tim bergerak maju-mundur, membawa miliknya menjelajahi intim gadis itu. Desahan Emma terdengar makin jelas; tubuhnya bergelinjang makin cepat, seiring pinggang Tim yang mengayun cepat. Tak lama kemudian Emma mendesah keras. Tim terengah-engah seraya merebahkan diri di sampingnya. *** Tim mengerjap ketika mendengar suara di dekatnya. Tim mengalihkan pandangan ke sekitar dan melihat Emma sedang memakai pakaian kerja, lalu menoleh seraya tersenyum. "Tim harus berangkat kerja. Bukankah ini hari pertamamu kerja?" "Kerja?" Emma tertawa kecil. "Sekarang sudah pagi, Tim." "Astaga!" Tim buru-buru berdiri dan mengenakan pakaian, kemudian berjalan ke pintu. Ketika melewati Emma, ia menarik tanganku dan mengecup pipi Tim. "Take care." "Tentu." Tim tersenyum, lantas keluar dari unitnya. Untungnya lokasi Axton berada tidak jauh dari apartemen Tim. Hanya dalam lima belas menit, Tim sudah tiba di sana. Suasana di dalam gedung tampak ramai. Para karyawan terlihat sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Sama sekali tidak terlihat seorang pun yang berleha-leha. Pantas jika Axton menjadi salah satu perusahaan terbesar di Britania Raya. "Ruang Rapat Direksi," gumamku, membaca pesan Diane. Tim menghampiri perempuan yang duduk di salah satu meja di dekatnya. "Permisi, di mana Ruang Rapat Direksi?" Perempuan itu mendongak. Ia menatap Tim selama beberapa saat. Pandangannya menyelisik Tim dari atas ke bawah. Perempuan itu berwajah oval. Ia memiliki mata oriental, hidung mancung, dan bibir yang tipis. Rambutnya yang berombak digelung ke atas. Meskipun dibalut blazer dan kemeja, bra-nya tercetak jelas. "Anda bisa sampaikan keperluan Anda pada Tammy Jayden di sana." Perempuan itu menunjuk perempuan lain di ujung ruangan. "Terima kasih," ucap Tim, kemudian berlalu. Rupanya kehadiran Tim cukup menyita perhatian karyawan di sana. Mereka melirik dan berbisik-bisik ketika Tim melewati mereka. Tak lama kemudian, Tim pun sampai di depan Tammy Jayden. "Permisi. Saya Derek Langley," ujar Tim memperkenalkan identitas barunya. "Tunggu sebentar." Tammy tersenyum ramah, lalu melihat buku selama beberapa saat. Diam-diam Tim memperhatikan belahan dadanya yang sedikit tersingkap dari balik kemeja. Perempuan tersebut tidak hanya seksi. Wajahnya pun sangat cantik. Mata lebar dengan bulu mata lentik; hidung pipih dan sedikit mancung; bibir merah merekah yang melekuk sempurna. Tim yakin semua laki-laki pasti terpana melihatnya. "Oh, jadi Anda Supervisor baru di sini. Anda sudah ditunggu di dalam ruangan. Mari saya antar." Tim berjalan mengikutinya sampai tiba di depan sebuah ruangan besar. Setelah meminta izin, Tim dipersilakan masuk ke dalam. Di dalam ruangan, tampak tiga orang sedang duduk di sana. Satu di antaranya adalah laki-laki kurus dan pucat, satu orang lainnya laki-laki berusia lebih tua, sementara satu lagi adalah laki-laki tampan yang tampak berwibawa. Mereka semua menatap Tim tajam dan menyelisik. "Inikah orang yang kamu rekomendasikan, temanmu?" Laki-laki tampan yang tidak lain adalah Arthur, bertanya pada laki-laki kurus di kanannya yang merupakan anak buahnya—Ronald Bostock. "Benar." "Aku ragu melihat penampilannya. Ingat dia akan berada di divisiku Clive," timpal laki-laki pucat yang tidak lain adalah Clive. Clive tersenyum sinis. "Jadi kamu meragukanku?" "Hah! Semua orang tahu kalau kamu tidak becus bekerja!" Kata-kata itu membuat wajah Clive merah padam. Serta-merta ia berdiri dan mengentak meja. "Clive, kamu keterla—" "Jaga sikapmu, Ron," sergah Arthur dengan suara dingin. "Ma-maaf, Sir." Arthur pun mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya pada Tim. "Kita akan mengujinya," ucap Arthur. Menguji? Tim sama sekali tidak tahu bidang Axton! Berbagai dugaan dan pertanyaan pun menyeruak. Diane tidak pernah menjelaskan masalah ujian ini. Lalu siapakah Clive? Mengapa ia yang merekomendasikan Tim? Seketika itu d**a Tim berdegup kencang. Semuanya berantakan! Jika mereka mengetahui identitasnya yang palsu, sudah pasti mereka akan memanggil polisi untuk menangkapnya. Tiga pasang mata menatap Tim tajam, seolah-olah ia seorang terpidana yang bersiap menerima hukuman. Tangan dan kakiku dingin; keringat berkucuran membasahi seluruh tubuh. Berkali-kali Tim mengubah posisi duduk dengan gelisah. Tiba-tiba Clive angkat bicara, "Tim setuju, Sir. Tapi menurutku dia harus kita uji selama dua minggu. Kalau hasilnya buruk, jangan harap bisa bertahan di Axton. Bagaimana, Sir?" "Cih! Berani-beraninya kamu tidak menghormati Mr. Arthur!" "Cukup, Clive." Arthur Axton menengahi. "Aku setuju dengan Clive." "Sir, tapi itu tidak adil bagi—" "Cukup! Aku yang memutuskan!" Arthur Axton menatap tajam hingga membuat Clive menunduk. Pandangan Arthur Axton kembali beralih pada Tim. "Dua minggu. Itulah waktu ujianmu, Derek Langley." "Baik, Sir," jawab Tim gugup sekaligus lega. "Derek, meskipun kamu berasal dari perusahaan milik Natahan, jangan pernah menganggap remeh Axton. Perusahaan ini selalu berada di posisi puncak di seluruh Britania Raya selama beberapa tahun terakhir. Tentu ada alasannya kenapa Axton seperti itu. Dan jangan pernah meremehkan divisi yang kupimpin." Clive berdiri lantas membungkuk pada Arthur Axton. "Saya harus bertemu klien, Sir." Arthur Axton mengangguk, memberi izin. Sebelum pergi, Clive melirik Tim. Tim dapat melihatnya tersenyum sinis sebelum berlalu ke luar ruangan. Namun, suara Arhur kembali terdengar. "Aku akhiri rapat sampai di sini. Tidak ada 'ucapan selamat datang', sebelum kamu lulus dari ujian, Derek Langley." "Baik." Setelah itu, kedua petinggi Axton tersebut pergi meninggalkan Tim yang mematung di tempat. Berbagai kegelisahan yang tadi sempat surut, kini kembali menyeruak. Seumur-umur Tim belum pernah bekerja seperti posisi yang didudukinya sekarang. Apalagi ketiga Direksi mengawasi pekerjaannya. Sedikit saja melakukan kesalahan, sudah dapat dibayangkan risiko yang akan dihadapi. Namun, berdiam di sini sama sekali tak menyelesaikan persoalan. Tim bangkit dan berjalan ke luar dari ruangan. Setibanya di luar, Tammy Jayden sudah menyambut, "Mr. Derek Lengley, saya diminta mengantar Anda ke ruangan." Tim mengangguk, kemudian mengikutinya dari belakang. Ruanganku berada tidak jauh dari Ruang Rapat Direksi. Beberapa menit kemudian Tim sudah berada di dalam ruangan. Ruangan itu tampak sederhana, berbagai ornamen Eropa klasik menghiasi ruangan yang didominasi warna hitam dan krem. Di dekat meja kerjanya terdapat meja dan sofa untuk menerima tamu. "Silakan, Sir. Kalau begitu saya izin kembali ke meja saya." Belum sempat ia berbalik, Tim buru-buru menahannya dan membuatnya tersentak. "Maaf, bukan maksudku mengejutkanmu. Selama bekerja di sini mungkin nantinya kita akan bekerjasama. Sepertinya aneh kalau aku belum mengetahui namamu." Senyumnya teruntai. "Panggil saja aku Tammy. Tammy Jayden." "Ah, Tammy Jayden." Tammy Jayden mengangguk. "Kalau begitu saya mohon diri, Sir." Ia pun berlalu ke luar ruangan. Tim duduk di meja kerja. Tim mengambil tumpukan kertas di atas meja. Satu demi satu ia telisiki isi kertas-kertas tersebut. Namun, tak satu pun yang dapat ia pahami. Seorang Supervisor yang dibajak, tetapi sama sekali tak layak untuk dibajak. Kalau seperti ini hanya menunggu waktu sampai penyamarannya terbongkar. Itu artinya nyawanya akan melayang hanya dalam dua minggu ke depan. Tidak. Tim tak akan membiarkan hal itu terjadi. Tim segera mengambil telepon dan meminta semua anak buahnya berkumpul di dalam ruangan. Beberapa menit kemudian, enam orang karyawan sudah tiba di dalam ruangan. Mereka terdiri dari 2 orang laki-laki dan 4 orang perempuan. "Perkenalkan aku, Derek Langley. Atasan kalian yang baru di sini. Meskipun aku merupakan atasan kalian, jangan terlalu khawatir denganku. Bahkan anggaplah aku teman kalian jika berada di luar kantor," ucapnya memperkenalkan diri. Berbicara memang keahliannya dari dulu. Hanya saja jika menghadapi situasi seperti di dalam Ruang Rapat Direksi, tentu saja Tim menjadi gugup. Namun, siapa pun akan merasakan hal yang sama kalau menghadapi suasana seperti tadi, 'kan?! Satu demi satu mereka memperkenalkan diri. Namun, di antara mereka ada satu orang yang menunjukkan ketidaksukaannya pada Tim. Dia adalah Samantha Reece, perempuan yang memberitahu Tim meja Tammy Jayden. Sepanjang pertemuan itu, ia sama sekali tidak tersenyum dan berbicara seperlunya. Sebagai atasan, Tim tak bisa membiarkan suasana dalam divisinya menjadi tidak nyaman. Ketika pertemuan itu selesai, Tim menahannya. "Samantha, tunggu. Ada yang ingin kubicarakan." Samantha Reece melirik Tim seraya tersenyum sinis. "Ketahuilah, Derek Langley. Kalau tidak ada kamu di sini, aku yang seharusnya menjadi Supervisor. Jadi, kupastikan kamu tidak akan bertahan lama di Axton." Sebelum Samantha Reece melangkah, Tim buru-buru mencekal tangannya. Samantha Reece memandangnya, geram. "Apa maksudmu?" "Ini bukan ajakan, tapi perintahku sebagai atasan." Tim menatapnya, sungguh-sungguh. Samantha Reece tertegun dan membalas tatapan itu. Sedetik kemudian ia terkekeh keras. Tim yakin suaranya terdengar sampai luar ruangan, tetapi tampaknya ia sama sekali tidak peduli. "Perintah? Ya, silakan memberi perintah yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, supaya aku dapat melaporkanmu." Samantha Reece menepis tangan Tim, kemudian berjalan ke pintu ruangan. Tim mengejar dan menarik tangannya. Samantha Reece berhenti, melirik sinis. Kali ini dia tampak sangat marah. "Harus kukatakan berapa kali?" Dia melirik tangan Tim. Tim buru-buru melepasnya. "Maaf, Tim tidak bermaksud ..., eh, mmm ..., maksudku, bisakah kejadian tadi tidak kamu ceritakan pada orang lain?" Sebelah sudut bibir Samantha Reece setengah terangkat. "Kalau aku melaporkanmu, sudah pasti besok kamu tidak akan berada di Axton. Tapi aku bukan orang seperti itu. Aku akan mengalahkanmu, melalui prestasi, bukan dengan cara rendahan. Tapi, sekali lagi kamu memaksa, aku akan melaporkan tindakanmu." Samantha Reece melenggang ke luar, meninggalkan Tim berdiri mematung. Samantha Reece. Dia perempuan yang keras kepala. Itu baru saja dia tunjukan. Semua orang menginginkan jabatan, tetapi kalau melihat Samantha Reece sepertinya usianya masih sangat muda untuk menjadi Supervisor. Seharusnya bisa lebih sabar lagi. Atau ..., apakah ada alasan lain? Pikiran Tim kacau gara-gara Samantha Reece. Bahkan sejak tadi Tim tidak bisa konsentrasi bekerja. Jam menunjukkan pukul sepuluh. Masih cukup jauh dari jam istirahat. Meskipun begitu, Tim berpikir lebih baik ia menyegarkan pikiran daripada berdiam diri di sini. Tim keluar menuju lift. Ketika sedang menunggu lift datang, ada seseorang yang menepuk bahunya. Tim tersentak, lalu menoleh, dan melihat seorang perempuan berdiri di belakang. Mata Tim melebar melihat perempuan itu. Ya, perempuan itu sangat familier baginya. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN