Beberapa saat kemudian, Brian mengeluarkan ponsel.
"Orang ini dulu pernah menawariku bekerja di Axton. Sama sepertimu, aku pun menolak karena alasan ijazah. Tapi dia mengatakan ijazah tidak menjadi soal. Tetap saja aku tidak percaya, dan menganggap ucapannya hanyalah bualan orang mabuk. Apalagi aku masih merasa nyaman dengan pekerjaanku." Brian menunjukkan nomor ponsel. "Aku tidak mengenalnya. Saat itu mereka berbincang di nightclub."
Tim berpikir sejenak, sebelum akhirnya menyimpan nomor itu ke dalam ponsel. "Baiklah. Akan kucoba."
Pada malam harinya Tim mengirim pesan pada orang tersebut. Awalnya ia bertanya dari mana Tim mendapat nomornya. Namun, setelah dijelaskan pembicaraannya dengan Brian, ia pun dapat menerima. Ia juga membenarkan semua kata-kata Brian dan meminta bertemu di sebuah cafe hotel pada esok malam.
Akhirnya tibalah saat bertemu dengannya. Pukul tujuh malam Tim sudah berada di dalam cafe. Setelah cukup lama menunggu, seorang perempuan datang menghampiri.
Perempuan itu berusia sekitar tiga puluhan tahun. Wajahnya cantik dengan rambut lurus yang digelung ke atas. Ia memiliki wajah yang cantik, tetapi jika diperhatikan, tersirat kemarahan terpendam dari sorot matanya. Meskipun mengenakan kemeja dan blazer, lekuk tubuhnya masih terukir jelas. Dadanya yang besar, membusung dan mendesak pakaiannya dari dalam.
"Tim Wells?"
Tim mengangguk seraya menyalaminya. "Benar. Anda ...."
Perempuan itu tersenyum ramah. "Panggil saja aku Diane. Mari ikut aku. Kita perlu tempat sepi agar leluasa berbincang-bincang."
Tim mengangguk lantas berjalan mengikutinya sampai tiba di depan sebuah kamar.
"Aku akan menjelaskannya di dalam. Kalau setuju, kamu dapat langsung menandatangani kontrak," ucap Diane seraya membuka pintu dan masuk ke dalam.
Setibanya di dalam Diane mengambil map dari dalam koper, lantas memberikannya pada Tim. "Bacalah. Aku akan memintamu menyusup ke Axton dan mencuri data-data keuangan."
Tim membaca dokumen-dokumen yang diberikan Diane. Dokumen itu menjelaskan kalau Tim akan mendapatkan identitas baru sebagai Supervisor di bagian keuangan yang dibajak dari perusahaan pesaing. Tugas pertama yang harus dijalankan adalah berusaha mendapatkan kepercayaan Direktur Utama agar dipromosikan menjadi Manajer Keuangan. Dengan begitu, akses keuangan perusahaan terbuka dan dapat dicuri.
Sudah jelas kalau pekerjaan itu sangat berat, tetapi imbalannya pun luar biasa. Uang jutaan pound menanti jika berhasil menuntaskan tugas tersebut. Sebaliknya, kalau gagal akan mendapat sanksi keras. Namun, tidak diterangkan secara detail sanksi yang akan dijatuhkan.
Aku mengembalikan kertas-kertas itu ke dalam map, kemudian menatap Diane. "Apa sanksi yang akan diberikan kalau gagal?"
Sudut bibir Diane terpantik, lalu menempelkan telunjuknya di pelipis Tim.
"Dor!"
Jantung Tim seakan melorot. Bayangan akibat kegagalan pun menyeruak. Siapa yang ingin mati? Siapa orang di dunia ini yang tak sayang nyawa? Tidak seorang pun! Nilai jutaan pound tak sebanding dengan nyawa yang dipertaruhkan. Sekalipun seluruh uang di dunia dikumpulkan, tidak akan bisa membeli satu nyawa.
Tim beranjak dan berjalan ke pintu, tetapi tiba-tiba terdengar suara besi terpantik.
"Kamu sudah terlalu banyak tahu." Diane menodongkan pistol ke arah Tim.
"Hei! Aku belum menandatangani apa pun!"
Diane menyeringai. "Tanda tangan itu hanya formalitas. Sejak kamu membaca dokumen, hidupmu sudah terikat perjanjian."
"Tapi ka—"
Diane mengokang pistolnya. "Aku beri waktu lima detik. Satu ... dua ... tiga ...."
Seluruh tubuh Tim bergetar hebat. Pikirannya kalut dan tak bisa berpikir jernih. Hanya dalam hitungan detik nyawanya bisa melayang.
"Empat ...."
"Baik! Baik! Akan kutandatangani! Seru Tim, panik.
"Pilihan cerdas." Diane mengambil berkas lain dari dalam tas lalu melemparkannya ke atas meja. "Lakukan."
Malam itu akhirnya Tim menandatangani Kontrak Hidup-Mati, tanpa mengetahui siapa Diane sebenarnya; apa tujuannya; dan bagaimana ia bisa mengatur posisi Tim di dalam Axton. Satu hal yang pasti, Diane merupakan orang dalam yang memiliki posisi penting.
Keesokan harinya Diane memberi fasilitas apartemen dan mobil mewah. Semua itu diberikan agar Tim dipandang layak sebagai orang yang berkompeten untuk ditarik ke dalam Axton dan tidak menimbulkan kecurigaan orang lain.
Keesokan harinya Tim dan Brian sedang memindahkan barang-barang ke apartemen baru. Tim tidak menceritakan kejadian kemarin pada Brian lantaran terdapat poin di dalam kontrak yang melarangnya.
"Apa kamu tidak curiga kenapa dia memberikan semua fasilitas ini?" Brian meletakkan kardus di lantai.
"Kurasa karena aku berhasil melalui tes yang diberikan kemarin," jawab Tim, gugup.
Brian mengangkat sebelah alis. "Tes?"
"Iya. Banyak sekali tes yang harus aku kerjakan kemarin."
Brian tertegun seraya menatapku. "Yah, dari dulu kamu memang pintar. Tapi tetap saja aneh. Bidang yang kamu kuasai tidak sesuai dengan Axton."
"Hanya tes umum, Brian."
Brian menghela napas. "Ah, sudahlah. Yang jelas aku senang kamu mendapatkan pekerjaan itu."
Brian memang sahabat terbaik. Meskipun pekerjaan itu ditawarkan padanya terlebih dahulu, ia tidak menyesal. Mereka memang sudah bersahabat sejak lama. Tim, Brian dan Emma selalu bersama-sama. Namun, akhirnya mereka harus berpisah dengan Emma yang melanjutkan kuliah di Perancis. Sejak itu mereka tidak pernah mendengar kabar Emma. Mereka tidak tahu yang terjadi, tetapi Tim dan Brian selalu berharap suatu saat akan bertemu dengannya lagi.
Brian merentangkan kedua tangannya ke samping, kemudian mengedarkan pandangan. "Kurasa sudah semua."
"Yap. Biarkan aku yang merapikannya sendiri, Brian."
Brian melihat jam tangannya. "Siang ini aku janjian makan siang dengan Hannah.
Tim tersenyum. "Kalau begitu jangan biarkan pacarmu menunggu, Kawan."
Brian tertawa kecil. "Tentu tidak. Aku laki-laki setia dan bukan playboy seperti kamu."
"Ah, kamu ..., sudah sana!" Tim mendorongnya ke pintu keluar.
Setibanya di pintu, Brian tersenyum lebar. "Oke, kabari aku kalau kamu perlu bantuan."
Tanpa menunggu jawaban, ia berlalu meninggalkan Tim. Tim tersenyum melihatnya dari jauh. Ketika hendak masuk ke dalam unit, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Diane ...," gumam Tim membaca nama pengirim pesan. Tim pun segera membuka pesannya.
Diane: Bagaimana hari pertamamu di apartemen itu?
Tim: Bagus.
Diane: Masih ada fasilitas lainnya.
Tim: Maksudnya?
Diane: Aku baru mengirimkan uang ke rekeningmu. Pakailah untuk membeli baju baru. Jangan sampai besok kamu datang ke Axton dengan pakaian seperti kemarin. Nanti tidak akan ada orang yang percaya denganmu.
Tim: Terima kasih.
Diane: Tidak perlu. Aku melakukannya bukan untukmu. Kamu tahu itu, 'kan?!"
Tim: Aku paham.
Diane: Bagus. Pastikan semua berjalan sesuai rencana. Jangan hubungi aku, sebelum aku menghubungimu lebih dulu.
Itulah pesan terakhir Diane. Pekerjaan ini memang penuh risiko, tetapi semua sudah terjadi. Lebih baik sekarang Tim menikmatinya. Besok Tim harus bekerja sesuai rencana. Demi nyawanya dan juga mencari Ashley itu.
Tim mengambil sweater lalu keluar dari dalam unit. Namun, baru saja berjalan beberapa langkah, terdengar suara seseorang yang memanggil.
"Tim Wells?"
Tim berhenti dan menoleh ke belakang. Tim melihat seorang perempuan berdiri di depan unit yang ada di seberang unitku. Ia sudah sangat kukenal. Ya. Ia adalah ....
"Emma ...."
Tim membeku menatapnya. Perempuan yang selama ini tak ada kabar; sahabat yang selama ini menghilang, sekarang berada tepat di depannya. Ia Emma yang sama, tetapi penampilannya tak lagi sama. Perempuan yang berpenampilan tomboy, kini berubah fenimim. Rambutnya yang dulu hitam dan pendek, sekarang kecokelatan dan terurai sepunggung. Kini ia makin cantik dengan make-up natural. Matanya yang lebar; hidungnya yang mungil dan sedikit mancung; serta bibirnya yang tipis, sekarang tampak lebih memesona. Namun, dari semuanya, yang paling berbeda adalah pakaian yang ia kenakan. Emma yang dulu selalu mengenakan kaus lusuh dan celana jeans sobek, berganti Emma yang dibalut mini dress ketat dan mempertontonkan lekuk dadanya yang proporsional, pinggang ramping, dan kaki yang jenjang. Inilah Emma yang sekarang; Emma yang berhasil membuat Tim terkesima dengan kecantikannya.
"Tim."
Tim terhenyak. "Emma ...."
Senyumnya teruntai seraya menghampiri. "Bagaimana kalau kita berbincang-bincang di luar. Rasanya sudah lama sekali, 'kan?!"
Tim mengangguk dan tersenyum canggung, masih tak percaya dengan pertemuan ini.
Emma pun tertawa kecil. "Kenapa? Terkejut melihatku? Tenang aku bukan hantu ..., dan masih tetap sama seperti Emma yang dulu."
"Tapi sejak kapan kamu kembali ke London?"
"Nanti kuceritakan." Emma menggandeng tanganku. "Ayo."
Sebetulnya bukan kali ini saja mereka bergandengan, tetapi baru sekarang jantung Tim berdegup kencang. Namun, Emma sama sekali tidak terlihat canggung.
Selama lebih dari setengah hari Emma menemani berbelanja. Dalam perjalanan pulang, tak henti-hentinya ia bercerita tentang kesehariannya di Perancis. Namun, setiap kali Tim bertanya alasannya tak pernah memberi kabar, ia selalu mengalihkan pembicaraan. Entah apa yang terjadi. Yang jelas Tim tak mau mengubah suasana ini menjadi tidak nyaman.
"Sekarang kamu menjadi Fashion Designer di Kendra Fashion?" tanyaku.
"Yaaaa ..., begitulah. Kalau kamu?"
"Kemarin-kemarin aku bekerja sendiri sebagai trader. Tapi baru saja aku diterima di Axton."
Iris matanya membulat sempurna. "Wah! Axton!"
Kata-kata antusiasnya membuat Tim malu. Yah, siapa pun pasti akan bereaksi seperti Emma karena mereka tidak tahu alasannya Tim dapat bekerja di perusahaan raksasa itu.
"Sejak kapan kamu tinggal di apartemen itu?" Tim berusaha mengalihkan topik.
"Tiga hari lalu. Tapi rasanya seperti sudah lama sekali. Tinggal sendiri, sepi, bagaimana tidak merasa waktu berjalan lambat?!"
Tim tertawa kecil. "Mulai sekarang kamu tidak akan bosan karena ada aku."
Emma menatap Tim sambil senyum-senyum. "Pasti."
Tak lama kemudian Tim memutar setir, masuk ke parkiran apartemen.
Setiap kali berpapasan dengan laki-laki, pandangan mereka tidak lepas dari Emma. Baik ketika sedang berbelanja, maupun di apartemen. Tatapan mereka membuat Tim tidak nyaman. Sudah pasti mereka berpikir nakal ketika melihat Emma. Akhirnya mereka tiba di lantai 9.
"Mau ke mana?" tanya Emma melihat Tim di depan unitnya.
"Pulang."
"Gezz .... Kita belum merayakan pertemuan ini!" Emma menarik Tim, lalu mengajaknya masuk ke unitnya.
Tim duduk di ruang keluarga sambil menunggu Emma berganti pakaian. Tak lama kemudian, Emma keluar dari kamar. Ia mengenakan kaus tipis, dan celana pendek. Bra merahnya terlihat samar-samar dari kausnya. Emma meletakkan botol dan gelas di atas meja.
"Red Label?"
"Yap! Kamu sudah berhenti minum?"
Tim menggeleng. "Setahuku kamu anti minuman keras."
"Itu dulu." Emma menuangkan minuman lalu memberikannya.
Menit dan jam berlalu. Tanpa terasa sudah hampir dua botol mereka habiskan sambil berbincang mengingat masa-masa dulu. Wajah Emma sudah merah, ucapannya melantur ke mana-mana.
"Aduuuh ..., minum tanpa musik rasanya enggak enak banget. Nightclub, yuk!"
Tim terkekeh. "Jangan malam ini. Besok hari pertamaku kerja."
"Bukan itu maksudku," Emma berjalan sempoyongan ke meja TV, kemudian menyalakan tape di rak meja, “tapi ini.”
Musik disko pun mengentak. Emma mulai menari-nari. "Yeaaaa!"
"Emma, musiknya terlalu keras! Tetangga kita bisa marah!" Tim berseru, berusaha agar suaranya terdengar.
Emma tertawa. "Di lantai ini cuma kamu tetanggaku yang paling dekat."
Ia berjalan menghampiri lantas menarik tangan Tim. "Ayo! Nikmati sa—aah!"
Tim terpeleset dan mendorongnya jatuh. Tim tak sengaja menindih Emma dengan tangan tepat di dadanya. Tatapan mereka bertemu, jantung Tim pun berdegup kencang. Melihat kecantikannya; merasakan dadanya turun-naik dalam genggaman; membuat milik Tim bereaksi.
Bersambung