Dua tahun lalu, malam hari di tengah Kota London. Di suatu tempat yang kerap membawa pengunjungnya ke dalam ilusi. Sebuah tempat berdesain klasik yang selaras dengan namanya "Classic London".
Musik bertempo cepat mengentak tubuh-tubuh berpeluh, memperagakan kepiawaian menari; memikat lawan jenis untuk larut dalam kesenangan. Berbagai minuman tersaji untuk membuai hasrat, luruh ke dalam utopia. Ingar-bingar terhelat sempurna di nightclub tersebut.
Seperti biasa, hampir setiap akhir pekan laki-laki Asia itu selalu ke sana untuk sekadar melepas penat dan bersenang-senang. Tentu saja dengan menenggak minuman keras dan perempuan. Ia yang baru saja tiba segera duduk di depan meja bar. Melihat kedatangannya Bartender pun tersenyum.
"Minuman seperti biasa, Tim?"
"Yap," jawabnya sambil memunggungi dan mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Tidak seperti biasanya, malam itu perempuan-perempuan di sana sudah memiliki pasangan. Kalaupun ada yang sendiri, tidak cukup membuatnya tertarik.
Tak terasa waktu berlalu demikian cepat; gelas demi gelas pun sudah habis ia tenggak. Pandangannya mulai kabur, meski masih cukup sadar untuk menikmati hiburan malam. Sayang, masih tidak ada perempuan yang berhasil memantik gairah.
Tim menghela napas seraya mengambil dompet. "Berapa semua—"
"Pesan Jack Daniels."
Suara itu menginterupsi. Ia pun menoleh dan melihat seorang perempuan berpakaian hitam baru saja duduk di sebelahku. Meskipun pandangan Tim terpengaruh alkohol, ia yakin kalau perempuan itu yang sangat cantik.
"Mohon ditunggu," tukas Bartender itu.
"Suka jenis whiskey?" tanyanya, membuka pembicaraan.
Perempuan itu adalah adik Kimberly—Ashley. Ashley pun tersenyum canggung sebelum mengalihkan pandangan pada Bartender yang mengantar pesanannya.
"Apa kamu tahu kalau whiskey bisa meningkatkan keberuntungan?" tanya Tim, mencoba kembali.
Ashley menggeleng. "Benarkah?"
Tim mengambil botol minum pesanannya. "Boleh?"
Ashley tersenyum dan mengangguk.
Setelah Tim menenggak minuman, Ashley bertanya, "Jadi?"
Tim tersenyum sambil memandangnya. "Sekarang aku benar-benar beruntung bertemu perempuan cantik sepertimu."
Ashley tertawa kecil. "Pick-up line" tersebut berhasil mencairkan suasana. Malam itu mereka melewati waktu bersama; menenggak gelas demi gelas, botol demi botol. Sampai akhirnya Ashley jatuh di pelukan Tim. Di sebuah kamar hotel ....
Ashley telentang di ranjang. Bibir mereka saling bertautan dan melumat dalam-dalam. Tim membelai pipinya dengan lembut lalu merayap ke bawah sampai tiba di dadanya yang membusung. Perlahan-lahan Tim meremas dadanya hingga Ashley mendesah lirih. Desahan itu memancing gairah Tim. Tim pun segera melepaskan pakaiannya sampai tubuh elok Ashley membuat Tim terkesiap. Sudah banyak perempuan cantik yang melewatkan malam bersama Tim, tetapi tak satu pun yang menyamai Ashley.
Pandangan Tim menyapu setiap bagian tubuhnya yang indah. Ashley memiliki sepasang gunung gelatin yang bergelayut manja di dadanya; pinggangnya melekuk sempurna bak gelas bertangkai; daerah intimnya pun sangat memesona. Walaupun memiliki kulit putih dan jernih, terdapat tanda lahir di paha kanan bagian dalam, di dekat daerah intimnya.
Melihat keindahan tersebut, membangkitkan milik Tim. Hal itu tidak lolos dari perhatiannya. Dengan lincah tangannya menarik turun celana Tim, sampai akhirnya miliknya tampil utuh di hadapan Ashley. Mata Ashley melebar, memandang milik Tim yang telah berdiri kukuh, bersiap menerima cumbuannya. Perlahan-lahan lidah Ashley mulai menari, membasahi tiap inci milik Tim sebelum akhirnya memasukannya ke dalam mulut. Kemudian Ashley mengisap dan mengulum milik Tim, memompa gairah menuju puncak. Cumbuan itu tak ayal membuat milik Tim berdenyut pelan, memberi sinyal kalau ia meminta lebih dari sekadar itu.
Tim merebahkan Ashley ke ranjang. Tanpa menunggu lama lidah Tim mengusap lembut d**a Ashley yang proporsional dan padat. Sesekali Tim mengulum dan mengigit kecil buah cherry di d**a Ashley. Kenikmatan demi kenikmatan yang dirasakan, membuat tubuhnya bergelinjang; desahannya pun terdengar makin jelas.
Ashley memandang Tim lamat-lamat, seakan-akan meminta sesi puncak agar segera dimulai. Tim pun segera mengarahkan miliknya ke bagian intim Ashley. Dengan sedikit dorongan, milik Tim menyeruak masuk ke dalam.
Ashley terpejam seraya mendesah, "Aaahm ...."
Tim mulai menggerakkan pinggul maju-mundur, membawa miliknya menjelajahi intim Ashley. Ashley memeluk dan mengusap bahu Tim. Meskipun Ashley terpejam, sentuhannya seakan-akan sedang mencurahkan isi hati. Sentuhan lembut, tetapi sepi; sedih; merintih. Seolah-olah ia sedang memohon pertolongan. Tak ada luapan gairah berlebihan, kecuali hanya perasaannya yang dalam. Belum pernah Tim b******u seperti itu; belum pernah perasaannya bergetar ketika disentuh. Alih-alih mencumbu dengan liar, Tim membalas perasaan Ashley dengan tak kalah lembut. Sambil terus bergerak, Tim mengecup bibir Ashley dalam-dalam. Desahan Ashley terdengar lirih setiap kali milik Tim bergerak. Sampai akhirnya, Ashley mencengkeram punggung Tim sembari kedua kakinya mengapit pinggangku. Tubuh Ashley bergelinjang-gelinjang selama beberapa detik, lalu akhirnya terkulai di atas ranjang dengan napas terengah-engah.
"Thank you," bisiknya seraya mendekap Tim.
***
Keesokan harinya Tim tak mendapati Ashley di kamar. Sayang, karena terlalu mabuk tidak banyak yang dapat diingatnya. Nama dan wajah Ashley hanya samar-samar dalam ingatan. Namun, ada satu yang masih terbayang jelas, yaitu tanda lahirnya. Mungkin tanda lahirnya yang belum pernah Tim lihat pada perempuan lain, membuatnya mudah mengingat. Selain itu ada satu petunjuk yang Tim dapatkan dari barang Ashley yang mungkin tidak sengaja tertinggal: kartu pekerja sebuah kafe. Kartu itu menunjukkan namanya adalah Ashley.
Ashley selalu membayangi pikiran Tim. Sentuhannya; kecupannya; pelukannya. Semua itu sangat membekas. Tim sudah berusaha mencarinya, tetapi petunjuk yang dimiliki sangat sedikit. Apalagi Tim tidak bisa bertanya pada orang lain. Tim tidak mungkin mendapat jawaban hanya dari petunjuk kartu pekerja Axton lantaran pasti perusahaan itu melindungi privasi karyawannya. Tim juga tidak mungkin menyebutkan tanda lahirnya pada orang lain.
Satu-satunya cara adalah bekerja sebagai karyawan Axton. Namun, itu pun mustahil bagi Tim. Ijazahnya tidak sesuai dengan bidang perusahaan tersebut. Kini harapan Tim hanya bertumpu pada satu hal: keajaiban. Satu tahun kemudian, akhirnya keajaiban itu pun datang.
"Tim, masih saja kamu mengingat perempuan itu. Sudahlah, lupakan. Kalau seperti ini terus, kamu melewatkan banyak perempuan lain," ujar Brian, sahabat Tim.
Tim hanya sanggup membisu dan menatap hampa meja cafe.
"Percuma saja. Apalagi tidak ada satu pun yang dapat menjadi petunjuk. Kamu tidak ingat namanya, nomor ponselnya, pekerjaannya, juga ala—"
"Axton," sergah Tim.
"Axton?"
Tim mengangguk. "Sebenarnya ada yang belum kuceritakan padamu." Lalu Tim pun mulai menceritakan tentang kartu tersebut.
Brian mengangguk repetitif. "Ah, jadi begitu. Kenapa tidak kamu ceritakan dari dulu?"
"Kamu pikir hanya dengan access card itu aku dapat menemukannya? Tidak mungkin, Brian. Ada jutaan karyawan bekerja di perusahaan raksasa tersebut. Itulah alasanku tidak pernah menceritakan ini karena percuma saja, 'kan?!"
"Ya, ya, ya. Aku paham. Satu-satunya cara kamu harus bekerja di sana."
"Itu pun mustahil karena ijazahku," timpal Tim.
"Tunggu ..., sepertinya ...." Brian tak melanjutkan kalimatnya seraya mencerna pikiran.
Bersambung