"Mr. Arthur Phillip Axton, selamat datang."
Seorang perempuan berusia sekitar lima puluhan tahun menyambut kedatangan Arthur dengan senyum terkembang. Meski wajahnya sudah berkerut, kecantikan masih tampak. Wajahnya agak persegi, membingkai sepasang alis tebal, sepasang mata zamrud, mancung, bibir yang menggunakan perona merah terang. Rambutnya sudah memutih dan dibiarkan tergerai sampai sebahu. Ia mengenakan blazer hitam dengan dalaman putih berkotak hitam. Pada hidungnya yang mancung, bertengger kacamata berlensa oval dengan gagang bersepuh emas.
Arthur menyalami sambil tersenyum. "Miss Emily, maaf mengganggu waktu Anda."
Perempuan bernama Emily Hudson yang merupakan seorang pengacara kondang tersebut, mempersilakan Arthur duduk di kursi berlengan mewah dengan gaya Eropa Klasik. "Silakan." Ia kembali tersenyum. "Saya sudah mengetahui kasus Anda," ucapnya tanpa basa-basi.
Arthur sama sekali tidak terkejut. Rasanya seluruh Britania Raya sudah mengetahui kabar kasus yang tengah ia hadapi. Apalagi hampir seluruh media beramai-ramai meliput kasus tersebut.
Arthur mengangguk. "Itulah alasan saya menemui Anda."
"Bisa Anda ceritakan kejadiannya dari awal?" pinta Emily Hudson.
Arthur pun menjelaskan seluruh kejadian serta langkah yang diambilnya. Proyek sebesar Glouchester tentu saja dimenangkan dengan cara yang sulit dan berliku. Itulah sebabnya Arthur mengambil langkah pendekatan persuasif dan juga memberi iming-iming pihak terkait apabila tender Glouchester dapat ia menangkan. Sebetulnya bukan perkara yang janggal, bahkan sangat wajar. Namun, tetap saja menjadi insiden besar apabila terkuak di hadapan publik. Terlebih kasus penyuapan melibatkan beberapa oknum pejabat pemerintah.
Selama Arthur menjelaskan, Emily Hudson menyimak dengan saksama. Sesekali ia mengangguk repititif sambil mencerna pikirannya. Sebagai pengacara besar, kasus semacam ini tentu saja sangat dimakluminya, tetapi Emily Hudson adalah orang yang penuh perhitungan. Ia selalu berhitung kemungkinannya memenangkan kasus sebelum menerima. Tidak heran jika ia tidak serta-merta menerima tawaran Arthur.
Usai mendengarkan seluruh penjelasan Arthur, Emily Hudson berkata, "Boleh saya lihat dokumen-dokumen yang saya perlukan jika saya memutuskan untuk menerima untuk menangani kasus Anda?"
"Sebentar." Arthur mengeluarkan tumpukan kertas dari dalam tas kemudian menyerahkannya. "Silakan dipelajari.
Emily Hudson menyelisik satu per satu dokumen Arthur. Guratan di keningnya kian kentara, menunjukkan ekspresi serius. Selang beberapa menit kemudian ia kembali berujar, "Tadi Anda mengatakan kalau Anda memerintahkan anak buah Anda untuk melakukan negosiasi, benar begitu?"
Arthur mengangguk. "Clive Bavon Grissham, Direktur Pemasaran sekaligus sahabat terdekat saya. Seperti yang tadi saya terangkan, dialah yang bertanggung jawab soal negosiasi perusahaan kami. Tidak hanya untuk proyek ini saja, bahkan keseluruhan proyek."
Emily Hudson termenung beberapa menit seraya mencerna pikirannya. Tak lama kemudian ia kembali bersuara, "Anda terlalu gegabah Mr. Arthur." Ia menghela napas panjang. "Seorang sahabat belum tentu selalu di pihak kita. Tidak seharusnya Anda mempercayakan semua urusan negosiasi pada satu orang saja. Bahkan kalau bisa, lebih baik Anda turun tangan sendiri. Saya tidak menuduh Clive yang membocorkan, tetapi kemungkinan tersebut bisa saja terjadi."
Arthur memandang ruang hampa dengan tatapan kosong. "Jika memang dia yang membocorkan, saya sangat kecewa. Dialah sahabat terdekat saya." Lantas menghela napas panjang. "Tapi seperti kata Anda, belum tentu dia pelakunya. Sekarang yang paling penting adalah menghadapi kasus ini. Jadi apakah Anda bersedia?"
Emily Hudson menguntai senyum. "Mr. Axton, perlu Anda ketahui kalau saya selalu mempertimbangkan kemungkinan memenangkan kasus sebelum menerima atau menolaknya. Setiap kasus yang saya tangani mempertaruhkan karier dan nama baik saya. Jadi saya perlu waktu untuk mempelajari dokumen-dokumen ini sebelum memberi jawaban. Bagaimana?"
"Tapi panggilan kepolisian tiga hari lagi." Arthur tampak cemas.
"Besok malam akan saya kabari. Tapi kalai Anda tidak bersedia menunggu, silakan mencari pengacara lain," tegas Emily Hudson.
Begitulah Emily Hudson. Ia selalu tegas dan tanpa basa-basi. Baginya perhitungan matang adalah kunci memenangkan kasus. Itulah rahasia kesuksesannya selama ini.
Arthur pun dapat memahami sikap yang diambil Emily Hudson. "Anda sering kali memenangkan kasus melawan pemerintah. Rasanya tidak ada pengacara lain yang memiliki track record seperti yang Anda miliki. Jadi saya akan menunggu kabar dari Anda besok malam."
Emily Hudson mengangguk. "Baiklah. Semoga saya berjodoh menangani kasus Anda."
"Terima kasih. Kalau begitu saya mohon pamit, Miss Emily Hudson."
Emily Hudson beranjak seraya menyalami Arthur. "Senang dapat mengenal Anda, Mr. Axton."
"Demikian pula saya." Arthur menyambut jabat tangannya kemudian keluar dari dalam rumah Emily Hudson.
Kasus Arthur merupakan kasus rumit yang menjadi sorotan seluruh Britania Raya, sehingga langkah untuk menghadapinya memang memerlukan periapan dan rancangan yang matang. Kalau pada akhirnya Emily Hudson menolak, tentu menjadi pekerjaan rumah bagi Arthur untuk mencari pengacara lain yang sama-sama berkaliber.
Keluarga Axton memang memiliki pengacara pribadi. Meski sama-sama berkaliber, pengacara mereka belum pernah menghadapi pemerintah. Sehingga Emily Hudson merupakan pilihan terbaik. Karena sebab itu, Arthur lebih memilih bersabar demi mendapatkan kesempatan lebih besar memenangkan kasus.
***
Sementara itu di tempat lain ....
kawasan The Merylinn Avenue, Brostock, London. Dari dalam mobil matanya menyelisik sebuah rumah berarsitektur Mediterania berdiri megah di antara rumah-rumah mewah di sekitarnya. Rumah tersebut memiliki luas dua kali lebih besar daripada rumah lain di kawasan tersebut. Rumah itu memiliki ornamen-ornamen, dan ukiran bergaya Mediterania di setiap sudutnya. Tampilan depan rumah yang etnik, dan anggun menjadi ciri khas rumah itu dibandingkan rumah-rumah lain di sekitarnya. Pagar tinggi di bagian depan rumah, berdiri kukuh, dan elegan. Pilar-pilar yang identik dengan gaya klasik, memberikan kesan mewah, dan megah. Halaman rumah yang sangat luas ditumbuhi rumput dipotong pendek, saking rapinya sampai-sampai seperti rumput sintetis. Ada juga beberapa pohon palem dan kamboja merah yang tinggi menjulang di pinggir halaman. Sedangkan pada tengah halaman ditanami berbagai macam tanaman hias: sansivera, tulip, mawar, dan lain sebagainya.
Sementara itu bangunan rumahnya sangat besar dan luas. Dinding bercat putih gading membentang bagai tak berujung. Jendela-jendela berukiran klasik terdapat pada dinding bagian depan rumah. Ditambah pintu klasik yang megah, makin mengesankan kemewahan rumah tersebut seperti istana. Di rumah itulah Nathaniel Damarion Blake tinggal.
Saat ini di kediamannya telah berkumpul Clive dan Perry. Kedatangan mereka tentu saja disebabkan kasus yang tengah di hadapi Arthur. Pastinya kasus tersebut merupakan langkah awal aliansi mereka untuk menjatuhkan Arthur sekaligus merebut Axton Group. Agenda tersebut merupakan titik tolak awal pergerakan. Tak pelak lagi, keterpurukan Arthur yang sudah di depan mata mereka rayakan di sana.
Perry datang tidak sendiri. Ia membawa enam orang wanita yang malam itu akan meramaikan pesta mereka. Sungguh miris melihat orang bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Namun begitulah nyatanya ketika hasrat dan arogansi bertakhta di dalam lubuk keserakahan.
***