"Arthie, tadi kamu menolak Clive permintaannya menemui Kepala Kepolisian Inggris. Lantas siapa yang akan bertemu dengannya?" tanya Kimberly.
Arthur mencerna pikiran. Guratan di dahinya sedikit kentara saat berpikir. Selang beberapa saat kemudian ia berkata, "Aku yang akan menemui Kepala Kepolisian Inggris."
Kimberly tersentak mendengar kata-kata Arthur. "Bukankah berbahaya jika kamu akan menyuap? Bisa jadi ia akan langsung menangkapmu."
Senyum Arthur terpantik. "Dia sahabat ayahku. Tenanglah, Kim."
Kim mengalihkan pandangan, menatap ruang hampa dengan nanar. "Teman ...." Ia menghela napas. "Teman bisa menjadi lawan apabila berbenturan dengan kepentingan. Arthie, biar aku saja yang menemuinya."
Arthur menggeleng. "Tidak, Kim. Semua ini tanggung jawabku. Aku tidak ingin menyeretmu ke dalam masalah ini."
"Tapi Ar—"
"Pleasee, Kim, percayalah padaku," sergah Arthur sambil menatap Kimberly lamat-lamat.
Kim mengangguk kecil, kemudian menunduk. "Kamu lebih tahu yang terbaik."
Arthur membelai rambut Kim "Kalau begitu aku berangkat sekarang," pamitnya dan dijawab anggukan Kim.
***
Di kawasan The Fleet Wood distrik Avenue, London. Sebuah bangunan berarsitektur minimalis membentang luas di antara gedung-gedung perkantoran di sekitarnya. Gedung tersebut memiliki area yang sangat luas, sama luasnya seperti gedung lain di kawasan tersebut. Gedung itu memiliki ornamen-ornamen, dan hiasan bergaya minimalis di setiap sudutnya. Tampilan depan gedung yang simpel, dan bersih menjadi ciri khas gedung itu dibandingkan gedung lain di sekitarnya. Pagar tinggi di bagian depan gedung, berdiri kukuh, dan kuat. Pilar-pilar yang identik dengan gaya minimalis, memberikan kesan bersih, dan modern. Halaman gedung yang sangat luas ditumbuhi rumput dipotong pendek, saking rapinya sampai-sampai seperti rumput sintetis. Ada juga beberapa pohon palem dan kamboja merah yang tinggi menjulang di pinggir halaman. Sedangkan pada tengah halaman ditanami berbagai macam tanaman hias: sansivera, tulip, mawar, dan lain sebagainya.
Sementara itu bangunan gedung sangat besar dan luas. Dinding bercat putih gading membentang bagai tak berujung. Jendela-jendela bergaya minimalis terdapat pada dinding bagian depan rumah. Ditambah pintu kaca yang modern, makin mengesankan kemodernan gedung yang saat ini tengah ramai. Di gedung itulah Kantor Pusat Kepolisian Inggris.
Saat ini Arthur baru saja tiba di ruangan Kepala Polisi Inggris. Sosok berbadan tegap, bewajah persegi, berhidung bengkok, dan berkumis tebal menyambut kedatangan Arthur dengan jabatan tangan.
"Mr. Arthur!" Jendral William tersenyum lebar. "Sudah lama sekali tidak bertemu. Silakan duduk," ucapnya, mempersilakan.
Arthur duduk di salah satu kursi berlengan, di hadapan Jendral William. Tak lama kemudian Arthur berkata, "Apa kabar Jendral William?"
Jendral William kembali tersenyum lebar seraya sedikit merentangkan tangan ke samping. "Well, seperti yang terlihat. Selalu dalam kondisi sehat."
"Syukurlah," ucap Arthur.
Wajah Arthur yang dibebani banyak pikiran tak luput dari perhatian Jendral William. Tentu saja kasus yang menimpa Arthur telah didengarnya. Namun, ia tidak enak membuka permasalahan tersebut terlebih dahulu.
"Mr. Arthur, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Jendral William.
Arthur mencerna pikiran sebelum menjawab, "Jendral William pasti sudah tahu kasus yang sedang saya hadapi, kan?!"
Jendral William mengangguk, seraya menghela napas panjang. "Kita semua tahu kalau hal semacam itu sudah wajar. Sayang sekali Anda kurang berhati-hati." Ia menjeda kalimat lantas melanjutkan, " Biasanya kasus seperti ini karena ada orang dalam yang membocorkan pada media. Mungkin hal yang sama terjadi pada Anda."
Arthur mengangguk repetitif. "Sepertinya saya menaruh kepercayaan pada orang yang salah. Entah siapa, sampai saat ini saya belum bisa memastikan. Tapi yang paling penting adalah kasus yang sudah di depan mata, Jendral William. Kalau memang Jendral bisa membantu saya, tentu saya merasa amat senang."
Jendral William berpikir cukup lama. Ia paham dengan permintaan yang dimaksud Arthur. "Jujur saja, sejak saya menjabat sebagai pucuk tertinggi di Kepolisian Inggris, belum pernah ada kasus sebesar ini. Paling hanya masalah real estate tempo hari. Tapi kali ini berbeda. Seorang pengusaha besar dilaporkan oleh pemerintah." Jendral William menghela napas. "Rasanya untuk kasus ini saya sulit membantu An—"
"Saya sanggup memberi berapa saja, Jendral William," sergah Arthur.
"Mr. Arthur, saya sudah berteman lama dengan ayah Anda. Jika memang saya bisa membantu, tanpa imbalan pun tetap saya bantu. Tapi sayang ...." Ia tak meneruskan kalimatnya sambil menggeleng-geleng.
Penolakan Jendral William tentu mengecewakan Arthur. Namun, ia paham kalau setiap orang pasti ingin membantu selama tidak membahayakan dirinya sendiri. Dengan membantu Arthur pasti membahayakan jabatan Jendral William. Itulah sebabnya Jendral William tak sanggup membantunya.
Sempat tebersit dalam pikiran Arthur mengenai kesulitan Jendral William, sebelum bertemu. Namun, ia berpikir tak ada salahnya dicoba daripada tidak sama sekali. Ternyata benar dugaannya.
Jendral William yang merasa tidak enak hati karena menolak anak kawan baiknya, mencoba menawarkan bantuan lain. "Saya memang tidak dapat membantu Anda dalam kasus tersebut, tetapi kalau Anda bisa mencari bukti siapa anak buah yang menjebak Anda, saya pastikan bantuan saya semaksimal mungkin. Mengenai kasus Anda, yang bisa saya sarankan ...." Jendral William mengeluarkan kartu nama lalu menyerahkannya. "Saya tahu keluarga Anda memiliki pengacara pribadi, tetapi sahabat saya ini sudah sering kali memenangkan kasus melawan pemerintah."
Arthur menyelisik nama yang tertera di kartu nama. "Emily Morgan ...," gumamnya.
Tentu saja Arthur tahu siapa pengacara kondang tersebut. Namun, belum pernah sekali pun ia bertemu, apalagi berbincang dengannya. Setidaknya nama besar Emily Morgan merupakan harapan baru bagi Arthur. Memang sepertinya sudah sulit mencegah masalah ini sampai pemeriksaan polisi. Mau tidak mau, Arthur harus menghadapinya.
"Baiklah kalau begitu, Jendral William. Saya berterima kasih atas bantuan, Anda. Jika Miss Morgan mau menerima saya, dari sini saya akan meluncur ke tempatnya." Arthur beranjak seraya menyalami Jendral William.
"Silakan."
Usai dari sana Arthur segera menghubungi Emily Morgan ketika di dalam perjalanan. Beruntung, Emily Morgan bersedia ditemui di kediamannya. Arthur pun memerintahkan supirnya untuk mengantarkan ke sana.
Setelah dua puluh menit berkendara, akhirnya Arthur tiba kawasan The Halliest Avenue, Maverick, London. Dari dalam mobil matanya menyelisik sebuah rumah berarsitektur Mediterania berdiri megah di antara rumah-rumah mewah di sekitarnya. Rumah tersebut memiliki luas dua kali lebih besar daripada rumah lain di kawasan tersebut. Rumah itu memiliki ornamen-ornamen, dan ukiran bergaya Mediterania di setiap sudutnya. Tampilan depan rumah yang etnik, dan anggun menjadi ciri khas rumah itu dibandingkan rumah-rumah lain di sekitarnya. Pagar tinggi di bagian depan rumah, berdiri kukuh, dan elegan. Pilar-pilar yang identik dengan gaya klasik, memberikan kesan mewah, dan megah. Halaman rumah yang sangat luas ditumbuhi rumput dipotong pendek, saking rapinya sampai-sampai seperti rumput sintetis. Ada juga beberapa pohon palem dan kamboja merah yang tinggi menjulang di pinggir halaman. Sedangkan pada tengah halaman ditanami berbagai macam tanaman hias: sansivera, tulip, mawar, dan lain sebagainya.
Sementara itu bangunan rumahnya sangat besar dan luas. Dinding bercat putih gading membentang bagai tak berujung. Jendela-jendela berukiran klasik terdapat pada dinding bagian depan rumah. Ditambah pintu klasik yang megah, makin mengesankan kemewahan rumah tersebut seperti istana. Di rumah itulah Emily Morgan tinggal.
"Nanti kalau aku hubungi segera jemput di sini," perintah Arthur pada supirnya.
"Yes, Sir," jawab supirnya yang sudah kembali bekerja setelah mengambil cuti cukup panjang.
Arthur turun dari mobil. "Semoga dengan bantuannya, Miss Morgan dapat membantuku." Ia berjalan menaiki anak tangga menuju pintu depan rumah.
***