Axton Tower yang terletak di jantung area Shoreditch, merupakan kantor pusat Axton Group. Axton Tower merupakan gedung pencakar langit tertinggi di Kota London, bahkan mungkin seantero Inggris Raya. Dinding-dindingnya yang penuh kaca terlihat biru karena memantulkan bayangan langit yang cerah kala itu. Kemewahannya pun tampak dari bagian muka dan dalam dari ornamen-ornamen simpel dan berbahan mahal. Lantainya terbuat dari marmer Italia yang dikenal akan kualitas dan kemewahannya. Belum lagi teknologi canggih yang disematkan pada setiap sudut bangunan, makin mengukuhkan Axton sebagai bangunan termegah di seluruh penjuru Inggris Raya.
Bukan hanya bangunan, taman yang terdapat pada halamannya pun berisikan tanaman mahal dan cantik, sehingga kian menambah nilai Axton Tower. Gedung semegah itu tentu saja memiliki lapangan parkir yang memadai dan diawasi dengan sistem kontrol yang baik. Setiap sudut lapangan selalu diawasi dengan kamera CCTV.
Pagi itu aktivitas di Axton Tower menggeliat. Parkiran yang sangat luas, bahkan terlihat sesak dijejali bermacam kendaraan. Dari mulai kendaraan mewah, sampai yang standar. Namun, tak ada yang du bawah itu. Ribuan karyawannya sibuk mengerjakan pekerjaan masing-masing. Hal yang sama tampak di lantai dua puluh lima, tempat para Direksi dan jajarannya. Ada yang berbeda hari ini. Dua kabar yang merebak cepat di antara para karyawan. Yang pertama adalah surat pengunduran diri Ashley. Yang kedua, tentu saja terungkapnya kasus penyuapan Arthur yang berujung surat pemanggilan kepolisian. Tiga hari ke depan, Arthur diminta datang ke kepolisian untuk memberi keterangan perihal dugaan suap.
Kasus itulah yang membuat Arthur memanggil anak buah terdekatnya untuk dimintai saran. Di dalam ruang rapat telah berkumpul Clive, Ronald, beberapa anggota direksi, serta Tammy dan Kimbery. Kimberly ditugaskan sebagai Sekretaris sementara menggantikan Ashley. Mereka duduk mengitari meja bundar. Tak ada satu pun di antara mereka yang berani bersuara sebelum Arthur. Namun, wajah Arthur tampak murung. Beberapa kali ia berjalan mondar-mandir dengan dahi berkerut. Selang beberapa menit kemudian, Arthur berhenti dan kembali duduk. Pandangannya mengedar ke tiap-tiap orang di ruangan itu.
"Kalian pasti sudah mengetahui beritanya dari media. Benar begitu?" tanya Arthur.
Para hadirin mengangguk. Namun Clive sedikit menyeringai, hal itu tak lolos dari perhatian Kim.
"Sebenarnya hal semacam ini sudah wajar dilakukan tiap pengusaha untuk mendapatkan tender. Bahkan sudah menjadi rahasia umum kalau hal seperti ini sering dilakukan. Namun, tetap saja akan sensasional bila terungkap ke publik. Tentu saja dalam bernegosiasi harus sangat berhati-hati." Arthur menatap tajam pada Clive. "Kamu yang bernegosiasi, jadi seharusnya kamu tahu kenapa ini bisa terkuak."
Clive mengangguk kemudian berdiri. "Sir, seperti yang sudah-sudah, saya selalu berhati-hati. Kalau tidak, tentu pada tender-tender sebelumnya masalah semacam ini sudah terungkap. Yang paling memungkinkan, kalau ada salah satu di antara kita yang membocorkannya ke media." Clive berjalan mengitari meja. "Berita tadi pagi sangat detail merinci biaya, sampai dengan biaya pelaksanaan. Saya bukan yang memegang keuangan perusahaan ini." Ia berhenti di belakang Ronald kemudian menunduk di sampingnya. "Bukan begitu, Mr. Ronald Bostock?" tanyanya lamat-lamat.
Sontak kata-kata Clive membuat seluruh hadirin memandang Ronald. Ronald pun seketika meradang. Wajahnya merah dan tak lagi bisa membendung kemarahan. Ia langsung menggebrak meja.
"APA KATAMU? KAMU MENUDUH AKU??" Ronald membentak.
Alih-alih ciut, Clive malah tergelak. "Hahahaha! Apakah salah kalau aku mengatakan kamu yang bertugas memegang keuangan Axton Group? Bukankah kamu Direktur Keuangan?"
Kemarahan Ronald makin membuncah. "Memang benar! Tapi tadi kamu mengatakan kalau aku yang mengungkapkan ke media!"
Sebelah sudut bibir Clive terangkat, memberi setengah seringai. "Aaah ... lantas kalau bukan kamu, bagaimana mungkin media mendapatkan data keuangan Axton Group?"
"Ta-ta-ta ...." Ronald tak bisa berkata-kata.
"Hahahaha!" Clive tergelak kemudian menunjuk Ronald. "Lihatlah! Dia sama sekali tidak bisa menyangkal!"
Ronald mencengkeram kerah Clive. "Kamu! Pasti kamu yang mencuri data-data keuangan untuk menuduhku!"
Clive mendengkus. "Kamu menuduh tan—"
"Cukup!" Arthur berseru. "Tidak perlu saling menuduh! Aku yakin pihak kepolisian bukan hanya memanggilku! Pasti akan terungkap orang yang membocorkan rahasia Axton Group!" Arthur menyelisik satu per satu hadirin di sana. "Tapi kalau kita bisa menghindari masalah ini, aku akan menganggap tidak ada yang membocorkan."
Suasana berubah sunyi. Tak ada satu pun di antara mereka yang berani memandang Arthur. Semuanya menunduk dan bergeming.
"Aku perlu usul kalian untuk menghadapi masalah ini," tukas Arthur, melanjutkan.
Seorang perempuan paruh baya mengangkat tangan, ragu-ragu. "Bagaimana kalau menuntut balik?"
Arthur tersenyum lantas menggeleng. "Menuntut pemerintah? Tidak mungkin, sama saja memperuncing masalah." Ia menghela napas lantas melayangkan pandangan pada pria berjenggot yang mengangkat tangan. "Mr. Gil."
Laki-laki bernama Gil berdiri, gugup. "Si-Sir ...."
Arthur mengangguk. "Lanjutkan."
Gil kembali berkata, "Saya memiliki kenalan pengacara yang bisa memban—"
"Tidak, tidak ... melibatkan pengacara berarti sudah masuk ranah hukum. Aku ingin mencegahnya." Arthur menginterupsi.
"Sir!" Clive berseru dan dijawab anggukan Arthur. "Bayar saja Kepala Kepolisian Inggris dan media supaya kasus ini ditutup serta sepi dari pemberitaan."
Arthur mengangguk repetitif seraya mencerna pikiran beberapa saat. "Lantas bagaimana dengan pemerintah?"
"Tenti saja beri mereka uang agar menarik laporan," jawab Clive.
Ronald mendengkus. "Yang ada dalam pikiranmu hanya melakukan tindakan kotor," ucapnya, sinis.
"Apa kata—"
Belum sempat Clive selesai berkata, Arthur menginterupsi, "Aku pikir bisa dilakukan."
Mendengar kata-kata Arthur, Clive melirik Ronald seraya tersenyum. Lalu ia mengalihkan pandangan ke arah Arthur. "Kalau begitu selepas rapat ini aku mencoba menemui Kepala Kepolisian Inggris."
"Tidak," tolak Arthur, mengejutkan Clive.
Penolakan tersebut menunjukkan kepercayaan Arthur pada Clive mulai luntur. Sementara Clive menunduk, Ronald tersenyum lebar. Ia merasa puas dengan lunturnya kepercayaan Arthur pada Clive.
"Kalau begitu, rapat kita akhiri. Terima kasih," tutup Arthur seraya berdiri lalu menoleh pada Kim. "Tolong antar notulen rapat ke ruangan saya, Kim."
"Iya, Sir," ucap Kim.
Arthur berlalu meninggalkan ruangan. Namun, Clive buru-buru mengejarnya sampai berjalan menyejajari.
"Arthie, kamu termakan ucapan Ronald?"
Arthur menggeleng. "Saat ini tidak ada yang bisa kupercaya." Usai menjawab, Arthur meninggalkan Clive yang mematung, tak percaya kata-kata yang dilontarkan sahabatnya.
***
Di dalam ruangan, saat Arthur sedang mengemasi dokumen-dokumen penting, pintu ruangan terbuka. Ia pun menoleh. "Kim."
Kimberly menghampiri lantas menyerahkan notulen pada Arthur. "Arthie, kamu tidak apa-apa?"
Arthur menghela napas seraya tersenyum. "Selama ada kamu, Sayang."
Senyum Kimberly teruntai lembut. "Aku selalu di sisimu. Tapi ...." Ia tak melanjutkan kata-kata seraya berpikir.
Kecemasan Kimberly tak luput dari perhatian Arthur. "Ada apa, Kim?"
Kim memandang wajah kekasihnya. "Clive ... aku khawatir dia yang sengaja menjebakmu."
Arthur terhenyak dan tak menyangka kata-kata yang baru diucapkan Kimberly. "Bagaimana kamu bisa menyangka begitu?"
Kimberly menghela napas. "Sewaktu kamu membuka rapat hanya dia satu-satunya orang di dalam ruangan yang tersenyum. Selain itu, aku menilai kalau ia sengaja menyalahkan Ronald agar kamu tak lagi menuduhnya. Ingat Arthie, aku pernah menyelidiki Ronald atas perintahmu, dan tidak menemukannya pernah berbuat curang."
Arthur mencerna ucapan Kimberly. Sebenarnya Arthur pun curiga karena Clive berusaha mengalihkan kesalahan pada Ronald, tetapi ia tidak menyangka Kimberly juga berpikir begitu. "Kamu benar. Ada sesuatu yang janggal dari Clive. Sebetulnya aku sudah curiga sejak berita ini merebak, sebab dialah orang yang kuberi instruksi untuk bernegosiasi dengan pemerintah. Tapi aku tak habis pikir bagaimana caranya data-data keuangan Axton Group bocor ke media? Mungkinkah di belakang kita Ronald dan Clive bersekutu?"
Kimberly menggeleng. "Aku yakin tidak. Entah bagaimana caranya Clive mencuri data-data keuangan dari Ronald." Kim mengusap bahu kekasihnya. "Kamu tidak perlu memikirkan hal ini. Fokus saja menyelesaikan masalah yang sudah di depan mata. Biar aku yang menyelidiki Clive."
Arthur tersenyum lembut lantas mencecap bibir Kim. "Terima kasih, Sayang. Sebenarnya aku tidak ingin melibatkanmu."
Kimberly menggeleng. "Bukan kamu, tapi aku yang ingin. Apa yang kulakukan sekarang tidak sebanding dengan kebaikanmu selama ini." Kim berhenti sejenak seraya memandang jendela. "Kalau kamu tidak menyelamatkanku dari Perry dan menerimaku bekerja di sini, entah bagaimana nasibku sekarang. Mencintaimu adalah hal terindah yang terjadi dalam hidupku, meskipun aku tidak tahu bagaimana akhir kisah kita." Kimberly memandang nanar wajah kekasihnya.
Arthur paham bagaimana perasaan Kimberly. Akhir kisah cinta terlarang memang tak dapat diduga, tetapi kebanyakan berakhir pedih. Arthur dan Kimberly menyadari hal tersebut. Namun, keduanya tak bisa memungkiri perasaan yang bersemi di antara mereka. Yang jelas saat ini mereka tetap ingin saling mengasihi. Apalagi keadaan Arthur sangat yang dilanda masalah, sangat membutuhkan dukungan Kimberly. Sementara itu, hubungan Arthur dengan Louise sampai sekarang tidak ada masalah, tetapi intensitas pertemuan yang makin berkurang membuat keduanya renggang. Jalan hidup manusia memang tidak ada yang tahu. Manusia hanya melakoni peran panggung kehidupan.
***