Aliansi makar yang menargetkan kehancuran Arthur mulai bergerak. Pada malam hari, Clive berjanji bertemu dengan seseorang di rumah makan yang berada di pinggir Kota London. Bagian dalam rumah makan tampak bersih dan rapi. Pada dindingnya terdapat wallpaper biru muda dengan motif bunga dan daun yang berupa embos (gambar timbul). Salah satu dindingnya penuh dengan cermin agar ruangan terlihat lebih luas. Lantainya berwarna putih dan terbuat dari marmer.
Di sana, tampak Clive yang mengenakan topi, syal, kacamata hitam, dan jaket. Ia tak ingin pertemuannya diketahui orang lain. Wajar jika ia berhati-hati karena wajahnya sering muncul di berbagai media cetak maupun elektronik. Apalagi pertemuannya akan membahas persoalan yang sangat rahasia. Jika hal ini diketahui orang lain, maka pupuslah sudah semua benang makar yang telah disulam selama beberapa tahun.
Clive duduk di pojok ruangan, agak terhalang dinding. Sesekali ia melirik jam tangannya lalu menggerutu. Sudah setengah jam ia menunggu, tetapi orang yang ditunggu belum juga datang dan tidak memberi kabar. Kali terakhir ia mengecek jam tangan, kesabarannya sudah habis. Ia pun beranjak dari kursi, tetapi tiba-tiba pandangannya tertuju pada seseorang yang baru saja masuk ke dalam rumah makan.
Ia adalah seorang pria pendek dan berambut keperakan. Wajahnya tirus dan berkulit pucat. Atribut wajahnya terdiri dari: mata sipit yang berkantung hitam, hidung mancung, serta kumis tipis yang melintang di atas bibirnya yang pucat. Sambil terengah-engah ia menyalami Clive.
"Sir, maaf aku datang terlambat. Tadi mobil bututku mogok dan aku harus mengecek mesinnya sehingga suara panggilan telepon Anda tidak terdengar." Ia memberi alasan.
"Sudah setengah jam aku menunggu. Hampir saja aku pergi dari sini," ketus Clive seraya melirik sinis.
"Maaf, maaf, Sir ...," ucap pria itu meminta maaf berulang kali.
"Lupakan saja. Ayo kita berbincang, Phil," tukas Clive pada Phil Bowden, seraya duduk kembali. Ia mengangkat tanganndan menjentikkan jarinya.
Tak lama kemudian seorang pramusaji datang menghampiri. "Ada yang mau dipesan, Sir?"
Clive melemparkan pandangan pada Phil yang segera membuka buku menu. "Splash jus satu."
"Ada lagi?" tanya pramusaji.
Phil pun menjawab, "Sudah cukup, itu saja."
"Silakan ditunggu sebentar," ucap pramusaji dengan ramah, kemudian berlalu.
Phil mengalihkan pandangan pada Clive. "Jadi bagaimana tentang artikel yang akan saya tulis?"
Clive tak lekas menjawab, lalu mengambil setumpuk kertas dari dalam tas. "Baca ini," tukasnya menyerahkan kertas-kertas tersebut pada Phil.
Phil mengambilnya kemudian membaca dengan saksama. Pupilnya bergerak, membaca baris demi baris di tiap halaman. Tak lama kemudian kedua ujung bibirnya terangkat. "Sir, info ini bagus sekali, tapi ...." Ia tak meneruskan kalimat.
"Kenapa?"
"Saya khawatir ini terlalu berisiko untuk saya. Bisa-bisa saya kehilangan pekerjaan atau mungkin ...." Dua jari Phil membentuk huruf "L" serupa pistol lantas menempelkan telunjuk di pelipisnya.
Clive paham dengan maksud Phil. "Seribu lima ratus ribu pounds untuk satu artikel. Dan aku minta kamu menulis tiga artikel setiap minggu."
Phil terkekeh. "Sir, nilai itu besar bagiku. Tapi jika dibagi dua dengan atasanku, entahlah apakah ia mau memuatnya atau tidak."
Clive mengangkat sebelah bibirnya, menampilkan setengah seringai. "Kamu tahu siapa aku, tapi masih berani memeras," ancamnya dengan nada suara beku dan tajam.
Phil kembali terkekeh. "Membungkamku memang mudah, tapi ...." Ia mengangkat ponsel dari kantung baju, menunjukkan kalau ponsel tersebut tengah dalam keadaan tersambung komunikasi. "Kepala Editor-ku hanya cukup menekan satu tombol, maka seluruh Inggris Raya akan tahu, Mr. Clive Bavon Grissham." Diujung kalimat ia mengecilkan suara dan berbicara lamat-lamat.
Clive menatap tajam pada wartawan di hadapannya. Tidak biasanya ada yang berani mengancamnya seperti itu. Namun, ia tidak bodoh, dan paham konsekuensi yang timbul kalau ia tidak mengikuti keinginan Phil. "Tiga ribu pounds."
Alih-alih Phil yang menjawab, justru suara dari loudspeaker ponselnya yang terdengar. "Sedikit lagi. Tiga ribu lima ratus pounds, kutampilkan di halaman muka."
"Anda dengar?" Phil mengangkat sebelah bibirmya, menyeringai miring.
Tiga ribu lima ratus pounds untuk satu kali tampil bukan harga yang murah, jika dibandingkan dampak yang bisa menghancurkan Arthur, nilainya bagaikan debu. Apalagi uang bukan masalah bagi Clive, meski harga diri dan egonya tertampar pemerasan tersebut. Namun, ia adalah seorang pebisnis ulung yang paham kalau keuntungan diraih melalui pengorbanan.
Clive mengangguk seraya mengeluarkan ponselnya. "Kirimkan nomor rekeningnya. Aku akan mengirim lima puluh persen sekarang, sisanya akan kutransfer setelah berita itu dimuat besok."
Phil tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi yang tak beraturan. "Tolong dicatat ...."
Usai mengirim, Clive menunjukkan bukti transfer pada layar ponselnya. "Ingat, jangan sampai beritanya tidak sesuai harapanku, atau ...." Clive membentuk kedua jarinya menjadi huruf "L" lantas menempelkan telunjuk di pelipis Phil. "Kamu dan atasanmu yang menanggungnya." Kemudian ia pergi meninggalkan Phil menuju kasir sebelum keluar dari rumah makan.
***
Keesokan harinya, harian terkemuka Inggris memberitakan kasus suap tender Glouchester. Media-media lain, baik cetak maupun elektronik, turut mengekor pemberitaan yang dimuat harian tersebut. Wajar saja, sebab tender tersebut merupakan yang terbesar dalam beberapa tahun belakangan. Apalagi menyeret nama-nama yang terkenal di seluruh Britania Raya. Isinya bukan saja menyudutkan Arthur sebagai orang yang diduga melakukan suap, tetapi juga membuat beberapa oknum pemerintah menjadi tak memiliki muka.
Seluruh pemerintah pun turut merasakan malu dan meradang. Kasus itu mencoreng seluruh jajaran pemerintah di depan publik. Apalagi sebentar lagi masa kampanye. Mereka segera mengadakan rapat tertutup di salah satu ruangan gedung pemerintah. Puluhan orang duduk mengitari meja bundar. Beberapa di antara mereka tampak tegang, sementara sebagian yang lain berbisik-bisik membicarakan kasus tersebut. Mereka menunggu pimpinan membuka rapat tertutup itu. Sementara itu, sang pimpinan sedang mempersiapkan bahan-bahan yang akan menjadi agenda dalam rapat. Poin-poin penting yang akan dibicarakan mengacu pada langkah yang harus diambil untuk memulihkan nama baik pemerintah.
Selang beberapa saat kemudian, pimpinan pun membuka rapat. Seluruh hadirin menyimak dengan saksama hal-hal yang menjadi koridor pembahasan. Setelah semua selesai dibeberkan tibalah saatnya pimpinan rapat mempersikan tiap anggota untuk menyampaikan pendapat di muka hadirin.
"Demikian hal-hal pokok yang menjadi agenda pembahasan rapat tertutup ini. Namun, kita perlu membahas lebih lanjut langkah yang harus ditempuh untuk membersihkan nama baik pemerintah yang sudah tercoreng. Pada seluruh hadirin, saya persilakan," ujar pria kurus dan berkacamata yang berusia sekitar lima puluhan tahun. Pandangannya mengedar dan menyelisik satu demi satu hadirin di sana, hingga terpaku pada seorang perempuan yang mengangkat tangannya. "Mrs. Praxton, silakan."
Mrs. Praxton bukan sekadar menjabat di pemerintahan. Sebelum terjun ke dunia politik, ia merupakan pengamat sekaligus praktisi hukum yang terkenal di Inggris Raya. Kapasitasnya sudah sangat dikenal luas. Maka tidak heran jika seluruh pandangan hadirin tertuju padanya. Mereka menanti pandangan dan usul yang akan disampaikannya.
"Pagi ini kita semua dikejutkan pemberitaan mengenai kasus suap yang dilakukan Arthur Phillip Axton pada beberapa jajaran di pemerintahan terkait tender Glouchester. Hal ini tentu menampar seluruh hadirin yang ada di sini. Sanksi tegas pasti akan diberikan pada oknum-oknum terkait, tetapi sebelum semuanya jelas, sebaiknya mereka dibebaskan dari segala tugas untuk sementara waktu, sampai polisi berhasil mengurai hitam dan putih kasus ini."
Mendengar yang disampaikan Mrs. Praxton, kedua ujung bibir pimpinan terangkat. "Maksud Anda kita melaporkan kasus ini pada kepolisian?"
Mrs. Praxton mengangguk. "Sudah pasti, Sir."
Seluruh hadirin mengangguk repetitif mendengar usulan Mrs. Praxton. Tidak ada satu pun di antara mereka yang menolak. Dan ini berarti suasat Clive dan kawan-kawan berjalan sesuai harapan. Hanya menunggu waktu Arthur berada dalam nestapa. Tak lama lagi ....
***