Pada keesokan harinya di apartemen Kimberly ....
Selarik cahaya mentari, masuk melalui jendela sebuah unit apartemen tua, yang terletak di salah satu blok jantung Kota London. Pada bagian dalam, tampak perabotan-perabotan berkilauan tersinari cajaya matahari. Ditambah lagi, penataan yang rapi dan resik, membuat ruangan terlihat nyaman. Senyaman seperti saat memandang Cherryl Amber Scott yang tengah duduk menghadap meja rias. Sambil menatap bayangannya di cermin, ia menyisir rambut keemasan, panjang, dan berombak, yang dibiarkan tergerai.
"Oke, kurasa harus merapikan sedikit," gumamnya, seraya berdiri dan merapikan kemeja merah marun yang membungkus tubuhnya yang elok. Sekali lagi dipandangi bayangannya pada cermin. "Kurasa cukup untuk melamar dengan pakaian ini."
Ia memang perempuan yang sangat cantik. Wajar jika banyak laki-laki yang terpesona, pun tak sedikit perempuan yang mengaguminya. Apalagi kecerdasan yang diwarisi dari ayahnya, membuat perempuan itu nyaris sempurna.
"Kim, terima kasih telah meminjamiku pakaian indah ini," ucapnya sembari mengangkat kedua ujung bibir hingga wajahnya yang cantik kian menawan.
Kimberly tertawa kecil. "Kamu adikku, Cher. Untuk apa sungkan seperti itu?"
"Ya, karena aku tahu sebelumnya kamu tidak pernah memiliki pakaian sebagus ini. Pasti baju ini sangat berharga bagimu," jawab Cherryl, menyelisik pakaian yang dikenakannya.
Kimberly mengangkat kedua sudut bibirnya, menunjukkan senyum simpul. "Kamu lebih berharga bagiku, Cher."
Mendengar kata-kata Kim, hati Cherryl pun terenyuh. "Jangan bicara begitu, kamu membuatku terharu."
"Iya, jangan khawatir." Kemudian Kimberly mengalihkan pembicaraan. "Oh iya, kamu sudah tahu alamat Daniel's Cafe?"
Cherryl mengangguk. "Sudah. Maggie yang memberikan alamat Daniel's Cafe padaku. Semalam aku sempat melacak lokasinya melalui aplikasi ponsel dan sepertinya tidak sulit menemukannya. Lagipula aku sudah memiliki nomor atasan Maggie. Jadi kalau tersesat, aku bisa meminta petunjuk jalan padanya," terang Cherryl, agar Kim tidak merasa cemas.
Meski begitu, Kim masih tampak khawatir. "Cher, aku bisa mengantarmu. Apakah kamu mau aku antar?"
Cherryl menggeleng. "Tidak perlu, Kim. Sebentar lagi kamu harus berangkat bekerja, kan?"
"Tapi aku kha—"
Cherryl menghela napas. "Kim, aku sudah dewasa. Mulai sekarang aku tidak bisa bergantung terus pada orang lain dan harus belajar mandiri."
Mendengar kalimat adiknya, Kim pun tersenyum. "Oke, baiklah. Tapi kalau kamu perlu bantuan atau mungkin karena tersesat, segera hubungi aku."
Cherryl tertawa kecil. "Oke, aku akan menelepon kalau memang tersesat atau butuh bantuan. Tapi seperti yang tadi aku katakan, atasan Maggie bisa memberi petunjuk jalan kalau aku tersesat." Ia menyampirkan tali tas pada bahunya. "Kamu tidak siap-siap ke kantor?"
Kimberly melihat jam dinding. "Sebentar lagi. Kantorku tidak sejauh tempat tujuanmu. Biasanya aku selalu datang tepat waktu. Kupastikan hari ini juga begitu."
"Well, good then. Kim, aku harus berangkat sekarang," tukas Cherryl berjalan ke pintu depan.
"Good luck, Cher." Kim mengantar adiknya sampai di pintu depan.
"Sure."
Setelah merasa semuanya telah siap, ia pun keluar dari unit apartemen Kimberly menuju ke stasiun. Tersirat rasa antusias yang tinggi dari retina zamrud, miliknya. Dadanya pun dipenuhi gairah yang membumbung, sebab sekarang adalah hari penting yang dapat mengubah nasib seluruh keluarganya.
Perjalanan ke Daniel's Cafe tidak sulit, karena masih berada di pusat Kota London. Cherryl tak menemui kesulitan untuk tiba di sana, bahkan lebih awal dari jadwal yang ditentukan. Setelah berada di depan sebuah kafe berwarna biru, ia mendongak melihat papan bertuliskan "Daniel's Cafe".
"Syukurlah perjalananku lancar. Dan benar di sini tempatnya," gumam Cherryl lantas masuk ke dalam kafe. Setibanya di dalam, pandangannya mengedar ke sekeliling. Ruangan dalam kafe terlihat nyaman dan resik. Ornamen-ornamen, meja dan kursi makan, serta hiasannya tampak serasi dan bergaya Eropa Klasik. Ruangan tersebut masih sepi, sepertinya baru saja buka. Tatkala pandangannya melintasi sisi kanan ruangan, ia melihat seorang pegawai yang sedang membersihkan lantai. Cherryl pun bergegas menghampiri.
"Permisi, apakah saya bisa bertemu Mr. Kirk?" tanya Cherryl, ramah.
Pegawai laki-laki itu berhenti sejenak, dan melihat Cherryl sekilas. "Ada urusan apa Miss?"
Cherryl mengangkat kedua sudut bibirnya. "Saya sudah membuat janji temu dengan Mr. Kirk."
"Anda siapa dan dari mana?" tanya pegawai tersebut, tampak tak ingin sembarangan.
"Saya Cherryl ... Cherryl Amber Scott," jawab Cherryl seraya mengulas senyum.
"Mohon ditunggu sebentar. Saya akan memanggilnya." Kemudian pegawai itu pun berlalu ke dalam ruangan di belakang meja kasir.
Selang lima belas menit kemudian ia sudah kembali bersama seorang laki-laki berbadan buncit dan berambut putih. Pria tersebut berusia sekitar empat puluh lima tahun. Ia mengenakan kemeja putih polos, dengan kancing kerah yang terkait, dasi merah bermotif garis-garis putih, celana kain hitam yang nyaris tanpa kerutan, serta sepatu pantofel hitam yang mengkilat. Menilik dari penampilannya yang rapi dan berwibawa, tak salah lagi kalau orang itu adalah Kirk, laki-laki yang mau ditemui Cherryl. Kedua laki-laki itu menghampiri Cherryl yang masih berdiri di tempat.
"Sir, gadis ini yang ingin bertemu," ucap pegawai tadi pada laki-laki buncit bernama Kirk.
Kirk mengangguk. "Lanjutkan pekerjaanmu, Sean."
"Yes, Sir," ucap pegawai tersebut.
Setelah pegawai itu berlalu, Kirk mengalihkan pandangan pada Cherryl. "Cherryl, teman Maggie yang semalam menghubungi saya melalui pesan singkat, kan?"
Cherryl mengangguk. Wajahnya sedikit tersipu, karena inilah pertama kalinya ia melamar bekerja. "Iya, Sir. Saya Cherryl."
Kirk tersenyum ramah. "Ayo, kita berbincang di situ." Ia menunjuk salah satu meja yang ada di pojok ruangan dan sedikit terhalang dinding.
Cherryl mengangguk, lalu mengikuti Kirk duduk di bangku yang dimaksud. Setelah itu ia mengeluarkan map dari dalam tas lalu menyerahkannya pada Kirk. "Ini CV saya."
Kirk mengambilnya lantas mengeluarkan kertas dari dalam map. Matanya menyapu baris demi baris tulisan yang ada pada kertas tersebut selama beberapa saat. "Cherryl Amber Scott."
"Iya, Sir."
Kirk melanjutkan, "Jadi kamu belum selesai Sekolah Menengah Atas, dan belum pernah bekerja?" tanyanya yang dijawab dengan anggukan kecil Cherryl. "Baiklah, lalu kenapa kamu tidak meneruskan sekolah dan ingin bekerja?"
Cherryl menjawab, "Saya berasal dari keluarga yang kekurangan ...." Ia menjelaskan alasannya bekerja.
Kirk mengangguk repetitif saat mendengarkan penuturan Cherryl. Hatinya terenyuh dengan kisah Cherryl. Namun, sebagai Manajer kafe papan atas, ia tidak bisa membiarkan emosinya mengalahkan aturan yang sudah ditetapkan. "Jujur saja saya belum yakin kamu bisa bekerja di sini. Tapi Maggie adalah pegawai kepercayaan saya. Dan saya menghargai rekomendasinya." Kirk mencerna pikiran selama beberapa saat. "Begini saja ... kamu ikuti latihan di sini selama satu minggu. Kalau saya menilai pekerjaanmu baik, maka kamu dapat bekerja sebagai pegawai tetap. Tapi maaf jika sebaliknya."
Cherryl mengangguk. "Saya paham, dan akan berusaha sebaik mungkin."
"Bagus. Jika kami diterima tentu saja kita akan membicarakan upahmu. Tapi apakah masalah upah Maggie sudah memberitahumu?"
Cherryl mengangguk. "Sudah, Sir."
"Kalau begitu, besok datanglah jam segini untuk memulai latihan. Temui asistenku yang bernama Rose. Ia yang akan memberi arahan. Sayangnya hari ini Rose libur jadi aku belum bisa mengenalkannya padamu," terang Kirk, lantas melanjutkan, "Kamu sudah boleh pulang, Cherryl."
"Terima kasih, Sir. Kalau begitu saya mohon pamit," ujar Cherryl kemudian beranjak dari tempat duduk.
"Iya. Silakan."
Cherryl berlalu ke luar dari dalam kafe. Sepanjang perjalanan ia merasa bersyukur telah mendapat kesempatan itu, meski belum dipastikan akan diterima di sana. Sikap yang ditunjukkan Kirk memberi kesan bahwa ia seorang Manajer yang baik. Tidak ada gelagat buruk dan bahkan memberi tampak profesional. Tidak heran jika pada pertemuan pertama itu, Cherryl sudah menaruh respek padanya. Ia pun bertekad akan bersungguh-sungguh menjalani latihan agar diterima bekerja di Daniel's Cafe.
Cherryl berjalan menyusuri jalanan menuju stasiun. Namun, tanpa ia ketahui, seseorang mengamatinya dari kejauhan. Ia adalah seorang laki-laki tampan yang sudah tidak asing bagi Cherryl.
"Bukankah itu anak Keluarga Scott, dan adik Kimberly? Kalau tidak salah namanya Cherryl." gumam laki-laki yang ternyata adalah Perry Smith. Merasa penasaran, ia mengikuti Cherryl dari belakang. Jalanan yang hiruk pikuk membuatnya tertinggal cukup jauh.
"Permisi ... permisi ... saya terburu-buru," ucap Perry pada orang-orang yang menghalangi jalannya. Ia terus berusaha mengejar Cherryl. Namun, orang-orang tersebut tak memedulikannya, sehingga Cherryl hilang dari pandangan.
"Sial!" umpatnya kesal sembari berjalan gontai. "Kalau memang benar dia adalah Cherryl, lantas untuk aoa dia ada di London? Apakah hanya berkunjung menemui Kim? Rasanya tidak mungkin jika menilik keuangan keluarga mereka. Pasti ia datang karena ada urusan lain," gumam Perry mencoba menerka-nerka. Ia terus memikirkan hal-hal yang mungkin menjadi alasan kedatangan Cherryl di Kota London. Sampai akhirnya ia cenderung dengan satu kemungkinan. "Kimberly datang ke Kota London untuk bekerja ... mungkin Cherryl pun demikian." Ia mencerna pikirannya sejenak. "Bagus! Kalau memang ia bekerja di sini, kesempatanku mencarinya di hari lain masih besar." Perry pun menyeringai.
***