Pada siang hari di Staffin ....
Cherryl Amber Scott berjalan gontai menyusuri jalanan menuju rumahnya. Kendati memandang ke depan, tetapi pikirannya sedang tidak berada di tempat. Hari ini ia baru saja mendapat teguran dari kampus karena sudah beberapa bulan belum membayar. Sayangnya, kabar itu disampaikan padanya di depan beberapa temannya. Tentu saja ia merasa sangat malu. Sebenarnya sudah bukan rahasia lagi kalau keluarga Cherryl bukan keluarga mampu, tetapi tetap saja kejadian barusan membuat darah hangat merayap ke wajahnya. Namun, begitulah kondisi yang mau tak mau harus dihadapinya.
Setelah tiba di ujung jalan, Cherryl berbelok ke kanan lalu berjalan sampai tiba di sebuah rumah yang sangat sederhana. Ya, itulah rumah Keluarga Scott.
Rumah itu berukuran kecil. Dindingnya yang putih sudah hampir bersemu cokelat, begitu pula atapnya yang merah bata sebagian telah berlubang dan rusak-rusak. Kondisi pagar, pintu dan jendela pun sudah sangat tidak layak: miring dan rusak. Halaman kecil rumah tersebut ditumbuhi rumput liar. Meskipun keadaan rumah tersebut bisa lebih baik jika diurus, tetapi Keluarga Scott tak memiliki waktu yang cukup untuk mengurusnya. Mereka disibukkan mencari uang, yang bahkan masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kimberly memang sudah mengirimkan uang, tetapi baru bisa sedikit mencicil utang yang terlalu banyak.
Cherryl masuk ke dalam rumah dengan semangat memudar. Kejadian di kampus tadi, seolah-olah mengendurkan seluruh tenaganya. Keadaan Cherryl tak luput dari perhatian sang ibunda—Joanna.
"Cherryl ada apa, Nak?" Joanna menghampirinya lalu mengajaknya duduk di kursi makan. "Sepertinya ada yang mengusik pikiranmu, Sayang?" Ia mengusap-usap bahu Cherryl. "Ceritakan saja pada Ibu, supaya kamu merasa lega."
Cherryl menghela napas sebelum berkata, "Biasa, Bu. Tadi aku ditagih lagi pembayaran kampus yang sudah menunggak beberapa bulan. Dan kali ini aku ditegur di depan teman-temanku," jawab Cherryl dengan lengkung mata dan bahu terkulai.
Mendengar penuturan Cherryl, Joanna menjadi sedih. "Maafkan ayah dan Ibu karena tidak mampu membiayaimu sampai seperti ini."
"Tidak apa-apa, Bu. Ini bukan salah Ibu dan ayah." Ia berhenti sejenak, sebelum kembali berujar, "Bu, bagaimana kalau aku berhenti berkuliah, dan bekerja saja?"
"Jangan, Nak. Bagaimana nanti dengan masa depanmu kalau berhenti berkuliah?"
"Ibu, aku berkuliah pun untuk bekerja kan?! Yah, memang upah sarjana lebih besar, tetapi dengan keadaan kita sekarang sangat tidak realistis untuk melanjutkan kuliah. Aku ingin seperti Kim yang sudah bisa mengurangi sedikit utang-utang kita. Bahkan ia sudah mandiri, dan tidak membebani ayah dan Ibu."
"Tapi, Nak—"
Tiba-tiba pintu rumah terbuka dan menginterupsi perbincangan mereka. Cedric William Scott—sang ayah—masuk dengan wajah kusut, lalu duduk menyejajari Joanna. Ia menghela napas panjang lantas bersandar di pinggiran meja. Keadaan Cedric mengundang tanya Joanna dan Cherryl.
"Ayah, ada apa? Apa ada masalah?" tanya Joanna, khawatir.
Cedric tak lekas menjawab. Dipandanginya sang istri dan anaknya bergantian, dari mata yang berkaca-kaca. "Aku kehilangan pekerjaan," ujarnya dengan suara tercekat.
Kabar itu mengejutkan Joanna dan Cherryl. Baru saja mendengar berita buruk dari Cherryl, kini harus mendapat kabar yang jauh lebih buruk. Padahal baru beberapa waktu kabar diterimanya Kimberly di Axton Group membuat seluruh harapan mereka melambung, sekarang justru sebaliknya.
"Bagaimana bisa, Yah?" tanya Cherryl.
Cedric menghela napas panjang. "Ayah salah menyerahkan laporan, dan ini sudah kesekian kalinya. Seperti yang kalian tahu, setiap selesai dari kantor Ayah masih harus mencari tambahan di toko milik Andrew, dan baru pulang tengah malam. Jadi ketika di kantor Ayah dalam kondisi tidak fit karena kurang beristirahat. Yaaah, sekarang Ayah hanya mengandalkan pekerjaan sampingan dari Andrew saja," terang Cedric.
Joanna memandang nanar lantai ruangan. "Mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi."
Cedric mengangguk. "Nanti aku akan bertanya pada Andrew apakah dia memiliki perkerjaan tetap di pelabuhan."
"Iya, Yah," ujar Joanna.
"Ayah, sebenarnya tadi aku sedang berbicara dengan ibu, tentang niatku berhenti berkuliah dan mau bekerja." Cherryl memalingkan pandangan pada Joanna. "Dengan kondisi ayah yang baru saja berhenti bekerja, memang sebaiknya aku bekerja, Bu. Mungkin di London, menyusul Kim. Di sana upahnya lebih besar daripada di sini."
Joanna bergeming. Ia mencerna pikirannya. Namun, di saat ia baru mau menjawab, Cedric telah mendahuluinya.
"Iya, aku setuju. Lagipula masih ada tunggakan di kampus, kan?!" tanya Cedric.
Cherryl mengangguk. "Itulah yang tadi aku sampaikan pada ibu, tapi—"
Joanna menginterupsi, "Ya sudah aku setuju. Tapi mau bekerja di mana? Ingat beberapa waktu lalu Kim menelpon kita dan menceritakan bisnis Perry di sana. Jadi jangan sampai kamu bekerja padanya."
"Iya. Ayah pun menentangnya bila kamu bekerja di sana," sahut Cedric, setuju dengan Joanna.
Cherryl tersenyum. "Tentu saja tidak. Aku pun tidak ingin bekerja di tempat seperti itu."
"Lalu bekerja di mana?" tanya Joanna.
"Beberapa waktu lalu temanku yang ada di London mengajakku bekerja di kafe tempatnya bekerja sekarang. Kebetulan ia dekat dengan Manajer kafe tersebut. Tapi waktu itu aku menolaknya karena aku pikir masih dapat melanjutkan kuliah," terang Cherryl.
"Coba saja kamu hubungi dia lagi." Joanna berkata.
"Kamu juga hubungi Kim, supaya bisa tinggal bersamanya," timpal Cedric.
"Iya. Setelah aku pastikan pada temanku. Karena bisa saja pekerjaan itu sudah tidak tersedia lagi, kan?!" ucap Cherryl. "Kalau begitu, aku pergi menemuinya sekarang."
"Bukankah dia ada di London?" tanya Joanna, merasa heran.
Cherryl menggeleng. "Dia sedang mengambil cuti untuk menjenguk orang tuanya yang sakit."
"Oh begitu ... ya sudah, lekaslah ke sana." Cedric pun beranjak. "Sebaiknya aku juga pergi ke tempat Andrew untuk menanyakan pekerjaan di pelabuhan."
Joanna mengangguk. "Semoga hasilnya baik."
Cedrik dan Cherryl berlalu ke luar rumah. Sedikit harapan saja sudah membuat Keluarga Scott gembira, apalagi jika akhirnya tercapai. Itulah yang sedang diupayakan keduanya ketika masing-masing pergi menemui orang yang mungkin bisa memberi pekerjaan.
***
Perjalanan menuju kediaman teman Cherryl cukup jauh, sebab berada di luar Staffin. Sehingga dalam waktu kurang lebih satu setengah jam, ia baru tiba di sana.
Rumah teman Cherryl juga sederhana, tetapi masih jauh lebih baik ketimbang rumah Keluarga Scott. Rumah itu bercat putih gading dan beratap biru tua. Pada bagian halaman maupun muka bangunan tidak banyak hiasan yang mempercantik bagian depan rumah. Hanya ada sekumpulan sansivera, itu pun sebagian daun-daunnya telah kering kecokelatan. Rumput-rumputnya terpotong rapi dan memanjakan pandangan.
Saat baru tiba di sana, seorang gadis berusia sekitar awal dua puluhan tahun datang menyambut Cherryl yang sudah menghubunginya ketika di perjalanan. Gadis itu bertubuh mungil—sekitar 165 sentimeter. Rambutnya pirang dan berombak. Serta dibiarkan tergerai sepunggung. Wajahnya yang oval membingkai sepasang mata sayu, hidung mungil, serta bibir yang tebal dan seksi. Tubuhnya tergolong elok bak gelas bertangkai. Apalagi pakaian ketat yang ia kenakan kian mempertontonkan lekuk tubuhnya.
"Cherryl! Lama tidak bertemu!" sambut gadis itu seraya memeluk Cherryl.
"Hai Maggie! Sepertinya hampir genap tiga tahun kita tidak bertemu ya?" tanya Cherryl.
Teman Cherryl yang bernama Maggie mengangguk. "Ya sudah, yuk masuk ke dalam."
Sesampainya di dalam, pandangan Cherryl mengedar. Rumah Maggie tampak sepi, seperti tidak ada orang lain di sana. Melihat keadaan itu, ia pun bertanya, "Ke mana orang tuamu?"
"Ayahku masih tidur ditemani ibuku," jawab Maggie.
"Bagaimana kondisi kesehatan ayahmu?" tanya Cherryl, berempati.
Maggie memandang jari jemarinya dengan nanar. "Belum membaik. Hari ini batuk darah sudah tiga kali."
"Maaf, aku datang ke sini untuk membicarakan soal pekerjaan, justru merepotkanmu ...." Cherryl merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Cher. Aku senang kalau bisa membantu. Tapi jika melihat kondisi ayahku, aku tidak bisa mengantarmu ke London." Maggie berujar, "Nanti Mr. Kirk kalau kamu mau ke sana."
Cherryl terhenyak. Padahal ia baru saja mau menanyakan apakah lowongan pekerjaan tersebut masih tersedia, tetapi Maggie telah menduluinya. "Ja-jadi? Lowongan itu masih ada?"
"Tentu saja masih. Apalagi aku belum bisa ke London, pasti di sana lebih repot karena kekurangan tenaga." Maggie menjelaskan.
"Berarti aku tinggal menunggu kabar dari kamu kapan aku berangkat ke sana. Begitu, kan?" tanya Cherryl.
Maggie mengangguk. "Setelah aku menelpon Mr. Kirk, aku akan memberimu kabar."
Bukan main gembiranya perasaan Cherryl saat itu. Begitu pula dengan Joanna dan Cedric yang diceritakan tentang pertemuannya dengan Maggie. Kegembiraan mereka semakin lengkap karena Cedric pun mendapatkan pekerjaan di pelabuhan. Meskipun upahnya lebih kecil ketimbang pekerjaan sebelumnya, setidaknya masih lebih baik daripada tidak bekerja sama sekali.
Selang satu minggu kemudian, Cherryl pun berangkat ke London. Setibanya di sana, Kimberly telah menunggunya di stasiun. Setelah sekian lama tidak bertemu, keduanya melepaskan kerinduan.
"Cherryl, adikku!" Kimberly memeluk sang adik erat-erat, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling seraya tersenyum lebar. "Selamat datang di London."
***