22

1058 Kata
Di dalam ruangan, Arthur tengah membaca ulang pesan dari Kimberly. Keningnya mengernyit, merasa ada yang aneh dari pesan tersebut. Gaya bahasa yang biasa digunakan Kim, sama sekali berbeda. Selain itu, alasannya tidak bisa dihubungi pun tidak masuk akal, karena seharusnya ia masih bisa meminjam charger dan mengisi baterai ponsel di kantor. Namun, ia ingin mengikuti keinginan si pengirim pesan untuk mengetahui tujuannya. Untuk sementara kecurigaannya ia tepikan, dan kembali mengalihkan pikiran pada pekerjaan. Detik berdetak, menit berganti, dan jam pun telah berlalu. Sekarang jam sudah hampir menunjukkan waktu yang diminta di dalam pesan singkat. Arthur merapikan berkas-berkas di atas meja, kemudian memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu ia berjalan ke luar dari ruangannya. Setibanya di luar pandangannya mengedar ke sekeliling. Ruangan sudah sunyi, hanya beberapa karyawan yang terlihat sedang lembur di saja. Wajar, karena sekarang sudah usai jam kerja. Begitu Arthur melintas, mereka pun menyapa. "Mr. Axton," sapa pria berbadan buncit. Arthur tersenyum, dan berhenti sebentar. "Sean, sedang lembur?" tanya Arthur. "Iya, Sir. Richard tidak bisa masuk karena sakit. Jadi saya harus mengerjakan tugasnya untuk sementara," jawab pria buncit yang bernama Sean. "Kenapa hanya kamu yang mengerjakan? Bukankah Betty bisa membantu?" tanya Arthur. "Betty tidak bisa meninggalkan anaknya pada malam hari. Maklum, Sir ... anaknya masih empat tahun. Tapi pada jam kerja ia membantu saya," terang Sean. "Ah ... jadi begitu." Arthur mengangkat kedua ujung bibirnya. "Ya sudah, kalau begitu aku pulang duluan, Sean," ucap Arthur. "Baik, Sir." Begitulah kebiasaan Arthur. Jika memiliki waktu luang, ia selalu menyempatkan diri untuk berbincang dengan karyawannya. Oleh sebab itu sikapnya yang hangat, begitu dicintai karyawan-karyawan Axton Group. Sikap Arthur kepada karyawan sebetulnya merupakan hasil sang ayah, George Phillip Axton. Tak mengherankan kalau Axton Group bisa sebesar sekarang. Tentu saja terlalu naif jika berpikir hanya dari situ saja Axton Group bisa besar. Axton Group bisa sebesar sekarang, karena banyak faktor yang memengaruhi. Kepandaian George menganalisa, intuisinya mengambil peluang, recuitment yang handal, negositor ulung yang ada di dalam Axton Group, serta masih banyak faktor lain, merupakan paket kesuksesannya. Namun, impian George membuat Axton Group menjadi yang terbesar di eropa belum tercapai. Ada satu perusahaan raksasa yang selalu menjadi penghalang terbesar. Dan perusahaan itu merupakan milik keluarga Crystal, yang bernama William Group. William Group dari dulu memang selalu menganggap Axton Group sebagai kuda hitam yang dapat membahayakan posisi mereka sebagai pemuncak. Tetapi Keluarga William tidak memiliki masalah pribadi dengan Keluarga Axton, sampai kejadian yang menimpa Crytal. Kini mereka merasa terusik, sehingga berniat menghancurkan Axton Group selamanya. Namun, mereka bukan keluarga yang naif, dan tidak segera menjalankan aksinya sampai semua rencana telah tersusun rapi. Arthur masih memiliki cukup waktu sebelum menghadapi mereka. Sayang, riak-riak dari dalam pun semakin besar. Salah satunya adalah dari sang Sekretaris .... *** Setibanya di Redhill Hotel. Arthur bergegas masuk, dan masuk ke dalam lift. Setelah pintu terbuka di lantai lima, ia berjalan menyusuri koridor, sembari mencari kamar 501. Meskipun tidak dapat menduga siapa yang mengundangnya, tetapi ia meningkatkan kewaspadaan. Akhirnya ia berhenti tepat di depan kamar 501. Tangannya menekan tombol bel pada dinding. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Baru saja melangkah masuk, Ashley yang bersembunyi di balik pintu segera menutup matanya dengan kain. "Ikuti arahanku, Sayang," bisik Ashley dengan suara dibuat-buat, lantas mendorong pelan punggung Arthur, sampai tiba di dekat ranjang. Selanjutnya ia mendorongnya hingga terhempas di atas ranjang. Tanpa membuang waktu ia menindih Arthur, dan mencecap bibirnya. Jemari Ashley berselancar di d**a Arthur yang bidang, tetapi saat hendak melepaskan kancing, tangan Arthur menahannya. "Aku tidak akan melanjutkan sebelum melihatmu," pancing Arthur. Ashley tertegun berpikir sejenak, lalu kedua ujung bibirnya terangkat tinggi. "Baiklah." Ia pun membuka kain yang menutupi pandang laki-laki pujaan hatinya. Berangsur-angsur bayangan Ashley mulai kian jelas. Meskipun tidak menaruh hati pada Ashley, tetapi keelokan dan kecantikan Ashley, tak dapat disangkal Arthur. Wajah Ashley yang oval, membingkai sepasang mata sendu yang indah, hidung mancung dan pipih, serta bibir merah yang seksi. Sementara itu, lingerie tipis yang dikenakannya mengekspos tubuhnya yang elok bagaikan gelas bertangkai. Tak urung, hasrat Arthur terpancing, sehingga cecapan Ashley pun disambutnya. Namun, tiba-tiba bayangan Kimberly melintas di kepala Arthur. Ia segera menarik wajahnya menjauh dari Ashley. Ashley terkejut, padahal sebelumnya Arthur tampak menikmati sesi mereka. "Ke-kenapa? Apakah aku kurang cantik?" tanya Ashley, merasa kecewa. Namun, Arthur tak bergeming, sehingga Ashley kembali bertanya, "Apakah aku tidak membuatmu tertarik?" Suara Ashley lirih, dan bergetar. Air mata mulai menggenang di matanya. "Sama sekali tidak." Arthur berkata lirih, seraya menghela napas. "Tapi kamu adalah anak buahku. Lagipula aku telah memiliki istri, Ash. Hal ini tidak seharusnya terjadi." "Kimberly ...." Arthur terhenyak manakala nama Kimberly disebut. "Kimberly?" "Aku tahu kalian memiliki hubungan spesial, karena itulah aku menggunakan ponsel-nya untuk memancingmu ke sini," jelas Ashley yang mulai menangis. "Kimberly sama sepertimu. Dia hanya an—" "Aku tidak bodoh. Aku tahu kalau ia adalah kekasihmu. Kamu mengatakan tidak ingin denganku karena aku anak buahmu, serta karena kamu telah memiliki istri. Tapi bagaimana dengan Kimberly?" Tangisannya semakin pecah, seiring hatinya yang seperti teriris kenyataan. "Sudah aku katakan, Ash. Aku dan Kimberly hanya atasan dan bawahan. Tidak ada hubungan spesial di antara kami. Kamu salah paham soal itu." Arthur terus berusaha menyangkal. "Oh iya? Benarkah?" Ashley tersenyum getir. "Aku melihat kalian pergi berdua ketika berada di Gloucester." "Itu hanya untuk urusan Proyek Gloucester," sanggah Arthur lagi. "Lantas kamu membatalkan tinjauan kedua ke Proyek Gloucester, apakah karena baru bermalam dengan Kimberly?" cecar Ashley. "Harus berapa kali kukatakan kalau a—" "Sudah tidak perlu kamu sangkal! Aku sudah tahu semua!!" bentak Ashley, kemudian tertunduk. "Tapi aku tidak akan membocorkannya, kalau kamu mau menjadi kekasihku. Aku tidak akan memasalahkan jika kamu memiliki perempuan lain. Hanya kumohon, terimalah aku ...." Ashley memeluk Arthur erat-erat, kemudian kembali menautkan bibirnya. Kali ini Arthur mendorong tubuh Ashley. "Jangan gila, Ash!! Cinta tidak bisa dipaksakan!! Kenapa kamu tidak juga sadar!!" bentak Arthur. "Tapi aku yakin!! Aku bisa membahagiakanmu!! Aku bisa memenuhi segala kemauanmu!! Tidak ada perempuan lain yang mencintaimu, seperti aku mencintaimu!!! Jadi—" "Kamu sudah gila!!" Arthur beranjak dari ranjang, lalu bergegas ke pintu. "Jangan pernah muncul lagi di Axton!! Mulai saat ini, kamu tidak lagi bekerja di Axton Group!!" Arthur keluar, kemudian membanting pintu. Ashley menangis sejadi-jadinya. Tidak pernah hatinya merasa sesakit ini. Bahkan jika dibandingkan ketika Paman James memperlakukannya dengan buruk. Rasa cinta yang terlalu besar, dan tak terbalaskan, seringkali menyulut dendam. Namun, apakah itu yang akan terjadi pada Ashley? Hanya waktu yang akan menjawabnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN